Senin, 27 Februari 2012

Ibu Asti

0


Seperti biasa setiap habis beraktifitas di luar rumah ibu Asti selalu menceritakan kejadian-kejadian yang dialaminya selama mengikuti kegiatan tersebut kepada suaminya. Suaminya hanya melihatnya sesaat untuk selanjutnya asyik dengan kegiatannya sendiri yaitu mengerjakan laporan kantor di depan komputer. Walau sering kesal, tapi ibu Asti tetap saja bercerita. Walau suaminya tidak merespon. Dalam pikiran ibu Asti setidaknya dia tidak berbicara dengan tembok. Walau suaminya diam tidak menanggapi tapi telinganya tidak di tutupi headset atau headphone. Walau sedikit pasti ada yang di dengar untuk kemudian dilanjutkan ke otak.

Begitu setiap hari. Suami ibu Asti sifatnya memang seperti itu. Jarang bicara, hanya menatap sekilas lalu sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ibu Asti juga sudah putus asa untuk mengubah sifat suaminya. Dia membiarkan saja suaminya seperti itu dengan sifat diamnya yang luar biasa. Maka jadilah ibu Asti seperti kaset dalam posisi play. Tidak berhenti berbicara di samping suaminya yang hanya sekali-kali melihatnya kemudian asyik dengan kesibukannya sendiri, Entah sudah berapa puluh kisah yang ibu Asti ceritakan tanpa mendapat respon dari suaminya. Ibu Asti sudah terbiasa dengan hal itu.

Suatu siang, ibu Asti penasaran dengan apa yang sering di kerjakan suaminya di depan komputer. Kelihatan suaminya begitu asyik, sampai ibu Asti merasa dilupakan dan tidak dianggap. Tapi untuk mengoperasikan komputer ibu Asti tidak bisa walaupun sudah bertahun-tahun komputer itu mereka miliki. Ibu Asti sama sekali tidak pernah menyentuhnya karena ibu Asti takut akan mengacaukan tugas suaminya. Akhirnya ibu Asti meminta anaknya yang tertua yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, yang kebetulan baru pulang dari sekolah untuk membantunya. Anaknya kemudian membuka file-file milik ayahnya tapi sekian lama mencari yang terlihat hanya file yang berisi tugas - tugas kantor.  Tapi ibu Asti masih penasaran. Akhirnya mereka menemukan file yang berjudul “ Seribu satu macam kisah istriku”.

File dibuka. Ibu Asti lalu membaca isinya. Beberapa saat kemudian ibu Asti tersenyum tapi matanya berkaca-kaca. Dia terharu membaca tulisan-tulisan suaminya. Ternyata selama ini suaminya mencatat semua hal yang ibu Asti ceritakan dan di buat dalam suatu kumpulan cerita yang berjudul Seribu Satu Macam Kisah Istriku. Ibu Asti lalu menyruh anaknya mematikan komputer sementara ibu Asti langsung masuk ke dalam kamar.  Ibu Asti menangis di dalam kamar. Ibu Asti sedih karena selama ini sudah menganggap suaminya tidak peduli padanya. Padahal suaminya begitu penuh perhatian sampai membuatkan ibu Asti sebuah kumpulan cerita. Entah untuk apa kumpulan cerita itu. Yang pasti ibu Asti sudah merasa lega karena sudah tahu kalau selama ini ternyata suaminya tidak seperti yang ibu Asti kira. **********

0 komentar:

Posting Komentar