Adzan subuh membangunkanku. Aku mengucek
mata mencari handphoneku. Ternyata aku lupa mengaktifkan alarmnya
semalam. Untunglah tidak turun hujan jadi suara adzan dari mesjid
terdengar jelas. Aku bangun lalu duduk untuk mengembalikan kesadaranku.
Masih dalam rasa kantuk aku turun dari tempat tidur. Kuletakkan
handphone di depan meja rias. Lalu berjalan mencari tombol lampu.
Kunyalakan lampu. Jen dan Niar masih terlelap. Tapi posisi tidur mereka
saling berlawanan. Kaki Jen di dekat kepala Niar sedangkan kaki Niar di
dekat kepala Jen. Aku tersenyum. Lucu melihat posisi mereka seperti itu.
Kudekati Niar. Kusentuh bahunya. Dia bergerak. Matanya kemudian membuka
walau hanya sedikit.
“ Sudah
subuh?” tanyanya dengan suara parau. Dia mengucek matanya lalu
merenggangkan badan. Saat duduk Niar baru menyadari kalau sejak semalam
kaki Jen tepat berhadapan dengan hidungnya. Dia tertawa sambil menutup
mulutnya. Aku menarik tangannya dan berjalan keluar dari kamar. Aku
tidak ingin suara kami membangunkan Jen yang sedang lelap dalam
tidurnya. Aku tidak tahu semalam dia tidur jam berapa. Saat Niar
terbangun untuk buang air kecil tengah malam tadi kulihat dia sudah
lelap.
“ Jangan dulu bangunkan dia, dia habis nangis semalaman.” kataku didepan pintu kamar. Wajah Niar berubah sedih.
“
Kasihan Jen, dia sangat berharap sama mas Idham. Selama ini Jen tidak
yakin dengan Ardi. Ardi tidak kuliah, tidak kerja. Mending kalau
kreatif, ini kerjaannya hanya minta uang sama orang tua. Kadang-kadang
malah minta sama Jen.”
“ Kenapa bisa sih mereka pacaran?”
“ Teman
sekolah. Cinta bersemi disekolah. Tapi lama-lama Jen tidak yakin dia
akan menikah dengan Ardi” Aku tiba-tiba teringat mas Idham. Sejak
kemarin dia tidak pulang. Kubuka pintu kamarnya. Kosong. Kemana dia?
“ Mas Idham kemana ya?” tanya Niar sambil ikut melongok ke dalam kamar. Aku menutup pintu kembali.
“ Entahlah. Lebih baik kita kebelakang untuk wudhu” kataku sambil berjalan ke belakang.
***
Sepulang
kami dari kantor kelurahan kudapati kamar mas Idham masih kosong. Aku
memang memberikan satu kunci padanya jadi dia bisa membuka pintu tanpa
harus menunggu kami kembali. Perasaanku makin tidak tenang. Apa terjadi
sesuatu hingga mas Idham tidak kembali?
Suara
ketukan di pintu mengagetkan kami karena kami baru saja masuk ke dalam
rumah. Siapa itu? Apakah mas Idham?Jen segera berlari membuka pintu. Aku
tidak melihat siapa yang datang karena pintu agak menjorok ke dalam
terhalang oleh tembok. Aku hanya melihat Jen yang memanggilku.Aku
segera mendekatinya. Nampak dua orang polisi berdiri di depan pintu. Aku
kaget tidak menyangka akan kedatangan polisi. Mereka tersenyum sambil
menyapa.
“
Selamat siang mbak” Aku membalas dengan senyuman. Dalam kepalaku sudah
berkecamuk berbagai macam prasangka. Tapi kemungkinan terburuk yang ada
dalam pikiranku mengarah ke mas Idham. Apakah mas Idham sudah ditangkap?
Cepat kutepiskan pikiran seperti itu. Walau dia punya rencana jahat
tapi aku tidak tega kalau dia harus di tahan di kantor polisi.
“
Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu, pak?” tanyaku gugup. Aku tak
biasa berurusan dengan kepolisian. Sekarang mereka mendatangi kami. Ada
apa? Niar yang mendengar suara kami segera keluar dari kamar. Wajahnya
terlihat bingung. Dia ikut berdiri disampingku.
Pak polisi itu memperlihatkan sebuah foto. Foto mas Idham.
“ Iya, pak. Ini mas Idham. Ada masalah apa, pak?” tanyaku.
“ Masuk dulu, pak. Nggak enak berdiri diluar” ucap Jen.
“ Nggak usah. Biar begini saja. Terima kasih. Kami tidak lama. Oh,ya mbak orang ini tinggal disini?”
“ Benar,
pak. Sudah dua hari. Tapi sejak kemarin mas Idham tidak pulang. Ada
masalah apa, pak?” aku mengulang pertanyaanku yang tadi belum juga di
jawab.
“ Dia
target kami. Sudah lama kami mencarinya. Perusahaan kalian melaporkan
dia, karena mencoba merusak citra perusahaan. Dia bersama komplotannya
mengaku sebagai karyawan perusahaan kalian. Mereka ingin menipu warga.
Jadi kesannya nanti perusahaan kalian yang telah membuat penipuan”
Aku
terperangah. Walau kami sudah tahu tapi tetap saja berita ini membuat
kami terkejut. Niar memegang lenganku. Itukah sebabnya sejak semalam
mas Idham tidak pulang?Dia sengaja menghilang karena sudah tahu sedang
menjadi target untuk di tangkap. Lalu sekarang dia ada dimana? Apakah
dia tengah bersembunyi?
“ Kalau
kalian melihat orang ini, segera laporkan ke kami. Ini nomor yang bisa
kalian hubungi” pak polisi itu menyerahkan kertas kecil yang berisi
nomor telpon. Mereka kemudian mohon pamit lalu berjalan menuju mobil
mereka yang terparkir di halaman. Setelah pak polisi itu pergi kami
bertiga duduk di sofa.
“ Kamu yakin akan melaporkan mas Idham kalau dia muncul disini?” tanya Jen cemas.
“ Belum
tahu. Perbuatan mas Idham merusak citra perusahaan itu sama saja dengan
mengganggu perkerjaan kita. Coba kalau tiba-tiba warga datang kemari dan
memprotes. Kan kita yang ketiban sialnya” kataku. Niar hanya
menyandarkan tubuhnya di sofa. Terlihat dia merenung. Entah apa yang
sedang dia pikrikan.
“ Tapi
rasanya tidak tega kalau harus melaporkan mas Idham” lanjutku. Jen
mengangguk cepat. Aku memang tidak tega. Apa sebaiknya aku diam saja
saat dia kembali? Tidak perlu menelpon ke kantor polisi saat dia
benar-benar ada dihadapan kami? Aku berdiri. Melangkah menuju kamarnya.
Jen dan Niar ikut dibelakangku. Kami Bertiga masuk ke dalam kamar mas
Idham. Melihat kembali barang-barang mas Idham.
“ Kalau
dia ditangkap sebelum kesini, barang-barang ini bagaimana? Apa kita bawa
juga ke kantor polisi?” ucap Niar sambil jongkok memegang tas milik mas
Idham.
“ Kita antarkan. Ini kan barang-barangnya” jawabku.
“
Handphonenya bagaimana? Apa kamu mau mengaku kalau kamu yang menemukan?”
aku tidak menjawab. Mataku membelalak. Niar langsung berdiri. Bukan
karena pertanyaan itu tapi karena mas Idham sudah berdiri didepan pintu.
Jen tidak melihatnya karena dia membelakangi pintu. Apakah tadi mas
Idham mendengar kata-kata Jen? Pikirku cemas. Semoga saja dia tidak
mendengarnya.***
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar