Senin, 07 Mei 2012

[Tiga Wanita] Bimbang #10#

0

ga,bar www.google.com

Adzan subuh membangunkanku. Aku mengucek mata mencari handphoneku. Ternyata aku lupa mengaktifkan alarmnya semalam. Untunglah tidak turun hujan jadi suara adzan dari mesjid terdengar jelas. Aku bangun lalu duduk untuk mengembalikan kesadaranku. Masih dalam rasa kantuk aku turun dari tempat tidur. Kuletakkan handphone di depan meja rias. Lalu berjalan mencari tombol lampu. Kunyalakan lampu. Jen dan Niar masih terlelap. Tapi posisi tidur mereka saling berlawanan. Kaki Jen di dekat kepala Niar sedangkan kaki Niar di dekat kepala Jen. Aku tersenyum. Lucu melihat posisi mereka seperti itu. Kudekati Niar. Kusentuh bahunya. Dia bergerak. Matanya kemudian membuka walau hanya sedikit.

“ Sudah subuh?” tanyanya dengan suara parau. Dia mengucek matanya lalu merenggangkan badan. Saat duduk Niar baru menyadari kalau sejak semalam kaki Jen tepat berhadapan dengan hidungnya. Dia tertawa sambil menutup mulutnya. Aku menarik tangannya dan berjalan keluar dari kamar. Aku tidak ingin suara kami membangunkan Jen yang sedang lelap dalam tidurnya. Aku tidak tahu semalam dia tidur jam berapa. Saat Niar terbangun untuk buang air kecil tengah malam tadi kulihat dia sudah lelap.

“ Jangan dulu bangunkan dia, dia habis nangis semalaman.” kataku didepan pintu kamar. Wajah Niar berubah sedih.

“ Kasihan Jen, dia sangat berharap sama mas Idham. Selama ini Jen tidak yakin dengan Ardi. Ardi tidak kuliah, tidak kerja. Mending kalau kreatif, ini kerjaannya hanya minta uang sama orang tua. Kadang-kadang malah minta sama Jen.”

“ Kenapa bisa sih mereka pacaran?”

“ Teman sekolah. Cinta bersemi disekolah. Tapi lama-lama Jen tidak yakin dia akan menikah dengan Ardi” Aku tiba-tiba teringat mas Idham. Sejak kemarin dia tidak pulang. Kubuka pintu kamarnya. Kosong. Kemana dia?

“ Mas Idham kemana ya?” tanya Niar sambil ikut melongok ke dalam kamar. Aku menutup pintu kembali.

“ Entahlah. Lebih baik kita kebelakang untuk wudhu” kataku sambil berjalan ke belakang.

***

Sepulang kami dari kantor kelurahan kudapati kamar mas Idham masih kosong. Aku memang memberikan satu kunci padanya jadi dia bisa membuka pintu tanpa harus menunggu kami kembali. Perasaanku makin tidak tenang. Apa terjadi sesuatu hingga mas Idham tidak kembali?

Suara ketukan di pintu mengagetkan kami karena kami baru saja masuk ke dalam rumah. Siapa itu? Apakah mas Idham?Jen segera berlari membuka pintu. Aku tidak melihat siapa yang datang karena pintu agak menjorok ke dalam terhalang oleh tembok. Aku hanya melihat Jen yang memanggilku.Aku segera mendekatinya. Nampak dua orang polisi berdiri di depan pintu. Aku kaget tidak menyangka akan kedatangan polisi. Mereka tersenyum sambil menyapa.

“ Selamat siang mbak” Aku membalas dengan senyuman. Dalam kepalaku sudah berkecamuk berbagai macam prasangka. Tapi kemungkinan terburuk yang ada dalam pikiranku mengarah ke mas Idham. Apakah mas Idham sudah ditangkap? Cepat kutepiskan pikiran seperti itu. Walau dia punya rencana jahat tapi aku tidak tega kalau dia harus di tahan di kantor polisi.

“ Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu, pak?” tanyaku gugup. Aku tak biasa berurusan dengan kepolisian. Sekarang mereka mendatangi kami. Ada apa? Niar yang mendengar suara kami segera keluar dari kamar. Wajahnya terlihat bingung. Dia ikut berdiri disampingku.

Pak polisi itu memperlihatkan sebuah foto. Foto mas Idham.

“ Iya, pak. Ini mas Idham. Ada masalah apa, pak?” tanyaku.

“ Masuk dulu, pak. Nggak enak berdiri diluar” ucap Jen.

“ Nggak usah. Biar begini saja. Terima kasih. Kami tidak lama. Oh,ya mbak orang ini tinggal disini?”

“ Benar, pak. Sudah dua hari. Tapi sejak kemarin mas Idham tidak pulang. Ada masalah apa, pak?” aku mengulang pertanyaanku yang tadi belum juga di jawab.

“ Dia target kami. Sudah lama kami mencarinya. Perusahaan kalian melaporkan dia, karena mencoba merusak citra perusahaan. Dia bersama komplotannya mengaku sebagai karyawan perusahaan kalian. Mereka ingin menipu warga. Jadi kesannya nanti perusahaan kalian yang telah membuat penipuan”

Aku terperangah. Walau kami sudah tahu tapi tetap saja berita ini membuat kami terkejut. Niar memegang lenganku. Itukah sebabnya sejak semalam mas Idham tidak pulang?Dia sengaja menghilang karena sudah tahu sedang menjadi target untuk di tangkap. Lalu sekarang dia ada dimana? Apakah dia tengah bersembunyi?

“ Kalau kalian melihat orang ini, segera laporkan ke kami. Ini nomor yang bisa kalian hubungi” pak polisi itu menyerahkan kertas kecil yang berisi nomor telpon. Mereka kemudian mohon pamit lalu berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di halaman. Setelah pak polisi itu pergi kami bertiga duduk di sofa.

“ Kamu yakin akan melaporkan mas Idham kalau dia muncul disini?” tanya Jen cemas.

“ Belum tahu. Perbuatan mas Idham merusak citra perusahaan itu sama saja dengan mengganggu perkerjaan kita. Coba kalau tiba-tiba warga datang kemari dan memprotes. Kan kita yang ketiban sialnya” kataku. Niar hanya menyandarkan tubuhnya di sofa. Terlihat dia merenung. Entah apa yang sedang dia pikrikan.

“ Tapi rasanya tidak tega kalau harus melaporkan mas Idham” lanjutku. Jen mengangguk cepat. Aku memang tidak tega. Apa sebaiknya aku diam saja saat dia kembali? Tidak perlu menelpon ke kantor polisi saat dia benar-benar ada dihadapan kami? Aku berdiri. Melangkah menuju kamarnya. Jen dan Niar ikut dibelakangku. Kami Bertiga masuk ke dalam kamar mas Idham. Melihat kembali barang-barang mas Idham.

“ Kalau dia ditangkap sebelum kesini, barang-barang ini bagaimana? Apa kita bawa juga ke kantor polisi?” ucap Niar sambil jongkok memegang tas milik mas Idham.

“ Kita antarkan. Ini kan barang-barangnya” jawabku.

“ Handphonenya bagaimana? Apa kamu mau mengaku kalau kamu yang menemukan?” aku tidak menjawab. Mataku membelalak. Niar langsung berdiri. Bukan karena pertanyaan itu tapi karena mas Idham sudah berdiri didepan pintu. Jen tidak melihatnya karena dia membelakangi pintu. Apakah tadi mas Idham mendengar kata-kata Jen? Pikirku cemas. Semoga saja dia tidak mendengarnya.***

Bersambung…

0 komentar:

Posting Komentar