Selasa, 28 Februari 2012

Perjodohan

0



“Ris, tadi sepupumu yang cakep itu datang lagi.” Kata Lela ketika aku tiba  di rumah kost. Lela Sedang duduk di teras. Aku lalu duduk di sebelahnya.

“Kamu yang ajak bicara ya?”
“Bukan. Si Erni. Kamu tau kan si Erni kalau liat cowok cakep. Wow, matanya seperti mau melompat saja.” Lela tertawa.
“Erninya mana?”
“Tuh, di toko sebelah. Lagi beli pasta gigi.”

Aku melihat keseberang rumah. Tampak Erni sedang ngobrol dengan cowok-cowok yang mangkal dekat warung.

“Kalau dia balik, katakan kalau aku mencarinya.” Kataku sebelum masuk ke dalam rumah. 

Masih kulihat gelas bekas kopi yang ada di atas meja. Aku  ke kamarku, berganti pakaian. Tapi saat hendak membuka pakaian pesan sms masuk di handphoneku. Aku memang baru saja menghidupkannya. Pesan dari Iwan sepupuku.

Kalo mau ngumpet jangan begitu caranya. Hpmu juga tidak aktif. Besok kita harus ketemu. Kalau kamu kabur lagi, kamu tanggung sendiri akibatnya.

Anak itu betul-betul nekad. Dibayar berapa  sama ibu hingga dia bersikeras ingin ketemu aku?

“Risa…” Kudengar suara Erni memanggilku. 
Aku belum sempat membalas, dia sudah muncul di pintu kamarku.

“Sepupumu itu asyik juga lho Ris.” Erni berkata sambil duduk di pembaringan.
“Dia ngomong apa?”
“Nggak ngomong apa-apa. Cuma mau ketemu sama kamu dan kamu harus ada di sini besok.”
“Aku juga baru membaca pesannya.”
“Sebenarnya ada apa sih? Kamu kog nggak mau ketemu dengan sepupumu sendiri? Tapi biarlah semakin kamu menghindar, dia akan semakin sering ke sini. Aku yang akan mengajaknya ngobrol kalau kamu tidak ada waktu.” 

Erni tertawa. Aku sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. Tentulah dia ingin pedekate dengan Iwan.
__________

Tapi esoknya kebandelanku datang lagi. Selesai mandi aku berkemas hendak pergi. Erni yang melihatku langsung panik.

“Lho, Ris kamu mau kemana?” Tanyanya dengan nada cemas. Dia mengikutiku saat aku keluar dari kamar.
“Jalan-jalan. Ntar kalau si Iwan datang, katakan padanya. Aku nggak takut dengan ancamannya.” 
Aku melangkah keluar.
 Ris! Dengar dulu. Sepupumu itu pasti ngamuk. Aku takut Ris! Risa!”

Erni terus memanggilku. Tapi aku tidak peduli. Aku terus berjalan sampai ke jalan besar. Di sana aku menahan mikrolet. Sepanjang jalan aku terus memikirkan Iwan. Sepupuku itu tidak suka mencampuri urusan orang. Iwan juga tahu kalau hubunganku dengan ibu sedang bermasalah. Lalu kenapa sekarang dia menjadi aneh?

“Stop bang.” Kataku pada sopir. 

Setelah berhenti aku langsung turun. Sebenarnya aku tidak punya tujuan hari ini. Tapi karena Iwan, aku terpaksa keluar dari rumah sekedar untuk menghindarinya. Aku tersenyum. Persis didepanku ada warnet. Tempat pelarian yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.

Aku masuk ke dalam warnet. Kupilih komputer yang ada di pojok yang kebetulan sedang kosong. Baru saja aku mau memilih personal di komputer, Iwan muncul di depan mataku. Dia menggeser badanku sehingga kami duduk berdempetan di depan komputer.

“Anak bandel, nggak bisa baca pesan ya?” Katanya sambil memainkan rambutku.
“Dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?” Tanyaku. Aku tidak menyangka dia dengan mudah bisa menemukanku.
“Aku kerumah kostmu. Aku lihat kamu baru naik mikrolet. Aku buntuti saja kamu sampai disini.”
“Kenapa sih kamu ngejar-ngejar aku terus?” Iwan tertawa.
“Siapa yang ngejar kamu? Kamu tuh yang kabur terus.”
“Aku nggak kabur.”
“Tapi ngumpet. Sama aja. Lagian kenapa kamu ketakutan ketemu aku? Akukan bukan penjahat yang mau menculik kamu.”
“Trus tujuanmu ketemu aku, apa coba?” 

Iwan terdiam. Kulihat dia menatap layar komputer lumayan lama.

“Aku mau minta tolong sama kamu.” Katanya setelah beberapa menit terdiam. Aku memandangnya.
“Kamu mau minjam uang? Bilang kek dari kemarin, pake ngancam-ngancam lagi. Akukan panik. Aku kira kamu di utus ibu buat bujuk aku.”
“Siapa yang mau minjam uang? Sorry ya, biar amburadul kayak gini aku juga mahasiswa yang kreatif. Sanggar yang aku buat bareng teman-teman udah banyak terima orderan.”
“Jadi tujuannmu apa? Cepat dong, aku cemas nih.”

Iwan terdiam lagi.

“Aku dijodohkan di kampung.” Jawabnya dengan lesu.

Aku nyaris tertawa kalau saja dia tidak cepat menatapku dengan mata melotot. Aku hanya berusaha menahan tawa dengan tersenyum.

“Tuh kan, belum apa-apa kamu sudah tertawa. Ini bukan berita lucu. Ini berita duka untuk aku.”
“Kamu tahu dari mana mau dijodohkan?”
“Bapak yang beritahu. Aku panik tau. Rasanya mau menghilang di bagian dunia mana..untung aku ingat kamu.”

 Aku menatap Iwan. Rasanya aneh ketika Iwan mengingat aku.

“Kenapa dengan aku?”
“Jelas saja kamu penolongku. Aku tidak bisa menemukan solusi lain selain menemui kamu.” Aku makin tidak mengerti.
“Maksudmu apa? Kamu mau aku jadi penghubung untuk berbicara dengan paman?”
Iwan menggeleng.
“Aku minta kamu pura-pura jadi pacarku.” 

Tanganku terlepas dari mouse karena tidak bisa menahan tawaku yang sejak tadi tertahan. Iwan memegang tanganku.

“Jangan tertawa. Aku ini sedang panik. Kamu malah tertawa.”
“Apa tidak ada ide yang lain? Kenapa kita harus pura-pura pacaran? Aku tidak pernah membayangkan kita harus pura-pura pacaran.”
“Aku juga. Kamu pikir aku mau jadi pacarmu? Kalau aku ada jalan keluar yang lain, aku tidak akan menjadi pacarmu walau cuma pura-pura.” Kata Iwan sewot. Mungkin dia kesal karena aku menertawai ide yang dia usulkan.
“Kalau begitu nasib kita sama. Aku juga dijodohkan ibu.“ Aku tertawa. Sebenarnya aku menertawai nasib kami. Aku tertawa karena merasa sedih dengan masalah yang aku hadapi.
“Kamu kog tertawa, Ris? Apanya yang lucu?”
“Selama ini aku kira kamu orang yang keras. Kog begitu dengar dijodohkan kamu langsung panik”
“Jelas saja. Aku paling sayang dengan ibuku. Aku tidak mau ibuku merasa sedih karena perjodohan yang beliau usulkan aku tolak. Makanya aku mencarimu. Karena setelah aku pikir-pikir perempuan yang bisa mengalahkan pilihan ibu, hanya kamu orangnya.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Tentu saja. Coba kamu bayangkan kalau aku membawa pacarku ke hadapan ibu. Ibu pasti akan menolaknya habis-habisan sekalipun yang aku bawa itu secantik bidadari. Ibu pasti akan tetap menolak. Lain hal kalau yang aku bawa itu kamu. Ibu pasti akan senang dan menyingkirkan jauh-jauh calonnya itu.”

Aku termenung memikirkan kata-kata Iwan. Apa yang dia katakan ada benarnya juga. Tapi kalau masalah Iwan selesai bagaimana dengan masalahku?

“Jadi masalahku bagaimana? Akukan juga di jodohkan ibu?”
“Makanya aku ingin kita kerja sama. Karena akau tahu kamu juga punya masalah dengan ibumu. Kalau kita bisa pura-pura pacaran, pasti orang tua kita akan senang dan melupakan rencana perjodohan kita. Bagaimana, ideku makyus kan?”

Aku tersenyum. Iwan benar juga. Sebenarnya dia tidak menolong dirinya sendiri melainkan menolong aku juga. Kami lalu sepakat. Minggu besok kami pulang bersama-sama.
_____________

Akhirnya sejak saat itu aku dan Iwan pura-pura pacaran. Ternyata benar kata iwan. Dia bisa mencegah pertengkaran dengan orang tuanya sedangkan aku sendiri bisa berdamai lagi dengan ibu. Tapi diluar dugaan kami. Orang tua kami masing-masing ternyata menginginkan kami bertunangan. Mulanya aku menolak tapi Iwan memaksaku untuk mengikuti apa saja keinginan orang tua kami. Iwan tidak ingin rencana yang sudah dia atur matang-matang jadi berantakan. Tiba-tiba aku merasa seperti memasuki kesulitan baru yang aku sendiri tidak tahu bagaimana wujudnya. Aku hanya merasakannya.

Acara pertunangan berlangsung sukses. Aku dan Iwan mengikutinya dengan santai karena kami tahu ini hanya sandiwara.
“Wan, sampai kapan kita akan bersandiwara?” Tanyaku saat kami duduk didalam bus dalam perjalanan pulang ke kota.
“Sampai cita-cita kita tercapai. Aku jadi sarjana pertanian dan kamu jadi sarjana ekonomi.”

Aku tersenyum. Sampai cita-cita kita tercapai, batinku. Tapi apakah kamu dan aku dapat menjamin kalau suatu saat kita tidak akan saling jatuh cinta?
Aku tersenyum menyadari kalau aku berkhayal terlalu jauh.

 Tapi nggak apa-apa kog wan. Aku juga suka kog sama kamu” kataku dalam hati.

********








0 komentar:

Posting Komentar