“Ris, tadi sepupumu yang cakep itu
datang lagi.” Kata Lela ketika aku tiba di rumah kost. Lela Sedang duduk
di teras. Aku lalu duduk di sebelahnya.
“Kamu yang ajak bicara ya?”
“Bukan. Si Erni. Kamu tau kan si Erni
kalau liat cowok cakep. Wow, matanya seperti mau melompat saja.” Lela tertawa.
“Erninya mana?”
“Tuh, di toko sebelah. Lagi beli pasta
gigi.”
Aku
melihat keseberang rumah. Tampak Erni sedang ngobrol dengan cowok-cowok yang
mangkal dekat warung.
“Kalau dia balik, katakan kalau aku
mencarinya.” Kataku sebelum masuk ke dalam rumah.
Masih kulihat gelas bekas kopi
yang ada di atas meja. Aku ke kamarku, berganti pakaian. Tapi saat hendak
membuka pakaian pesan sms masuk di handphoneku. Aku memang baru saja
menghidupkannya. Pesan dari Iwan sepupuku.
Kalo
mau ngumpet jangan begitu caranya. Hpmu juga tidak aktif. Besok kita harus
ketemu. Kalau kamu kabur lagi, kamu tanggung sendiri akibatnya.
Anak
itu betul-betul nekad. Dibayar berapa sama ibu hingga dia bersikeras
ingin ketemu aku?
“Risa…” Kudengar suara Erni
memanggilku.
Aku belum sempat membalas, dia sudah muncul di pintu kamarku.
“Sepupumu itu asyik juga lho Ris.” Erni berkata sambil duduk di
pembaringan.
“Dia ngomong apa?”
“Nggak ngomong apa-apa. Cuma mau ketemu
sama kamu dan kamu harus ada di sini besok.”
“Aku juga baru membaca pesannya.”
“Sebenarnya ada apa sih? Kamu kog nggak
mau ketemu dengan sepupumu sendiri? Tapi biarlah semakin kamu menghindar, dia
akan semakin sering ke sini. Aku yang akan mengajaknya ngobrol kalau kamu tidak
ada waktu.”
Erni tertawa. Aku
sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. Tentulah dia ingin pedekate
dengan Iwan.
__________
Tapi
esoknya kebandelanku datang lagi. Selesai mandi aku berkemas hendak pergi. Erni
yang melihatku langsung panik.
“Lho, Ris kamu mau kemana?” Tanyanya
dengan nada cemas. Dia mengikutiku saat aku keluar dari kamar.
“Jalan-jalan. Ntar kalau si Iwan
datang, katakan padanya. Aku nggak takut dengan ancamannya.”
Aku melangkah keluar.
Aku melangkah keluar.
“ Ris! Dengar dulu. Sepupumu itu pasti
ngamuk. Aku takut Ris! Risa!”
Erni
terus memanggilku. Tapi aku tidak peduli. Aku terus berjalan sampai ke jalan
besar. Di sana aku menahan mikrolet. Sepanjang jalan aku terus memikirkan Iwan.
Sepupuku itu tidak suka mencampuri urusan orang. Iwan juga tahu kalau
hubunganku dengan ibu sedang bermasalah. Lalu kenapa sekarang dia menjadi aneh?
“Stop
bang.” Kataku pada sopir.
Setelah berhenti aku langsung turun. Sebenarnya aku tidak punya tujuan hari ini. Tapi karena Iwan, aku terpaksa keluar dari rumah sekedar untuk menghindarinya. Aku tersenyum. Persis didepanku ada warnet. Tempat pelarian yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.
Setelah berhenti aku langsung turun. Sebenarnya aku tidak punya tujuan hari ini. Tapi karena Iwan, aku terpaksa keluar dari rumah sekedar untuk menghindarinya. Aku tersenyum. Persis didepanku ada warnet. Tempat pelarian yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.
Aku
masuk ke dalam warnet. Kupilih komputer yang ada di pojok yang kebetulan sedang
kosong. Baru saja aku mau memilih personal di komputer, Iwan muncul di depan
mataku. Dia menggeser badanku sehingga kami duduk berdempetan di depan
komputer.
“Anak bandel, nggak bisa baca pesan
ya?” Katanya sambil memainkan rambutku.
“Dari mana kamu tahu kalau aku ada di
sini?” Tanyaku. Aku tidak
menyangka dia dengan mudah bisa menemukanku.
“Aku kerumah kostmu. Aku lihat kamu
baru naik mikrolet. Aku buntuti saja kamu sampai disini.”
“Kenapa sih kamu ngejar-ngejar aku
terus?” Iwan tertawa.
“Siapa yang ngejar kamu? Kamu tuh yang
kabur terus.”
“Aku nggak kabur.”
“Tapi ngumpet. Sama aja. Lagian kenapa
kamu ketakutan ketemu aku? Akukan bukan penjahat yang mau menculik kamu.”
“Trus tujuanmu ketemu aku, apa coba?”
Iwan terdiam. Kulihat dia menatap layar komputer lumayan lama.
Iwan terdiam. Kulihat dia menatap layar komputer lumayan lama.
“Aku mau minta tolong sama kamu.” Katanya setelah beberapa menit terdiam. Aku memandangnya.
“Kamu mau minjam uang? Bilang kek dari
kemarin, pake ngancam-ngancam lagi. Akukan panik. Aku kira kamu di utus ibu
buat bujuk aku.”
“Siapa yang mau minjam uang? Sorry ya,
biar amburadul kayak gini aku juga mahasiswa yang kreatif. Sanggar yang aku
buat bareng teman-teman udah banyak terima orderan.”
“Jadi tujuannmu apa? Cepat dong, aku
cemas nih.”
Iwan
terdiam lagi.
“Aku dijodohkan di kampung.” Jawabnya
dengan lesu.
Aku nyaris tertawa kalau saja dia tidak cepat menatapku dengan mata melotot. Aku hanya berusaha menahan tawa dengan tersenyum.
Aku nyaris tertawa kalau saja dia tidak cepat menatapku dengan mata melotot. Aku hanya berusaha menahan tawa dengan tersenyum.
“Tuh kan, belum apa-apa kamu sudah
tertawa. Ini bukan berita lucu. Ini berita duka untuk aku.”
“Kamu tahu dari mana mau dijodohkan?”
“Bapak yang beritahu. Aku panik tau.
Rasanya mau menghilang di bagian dunia mana..untung aku ingat kamu.”
Aku menatap Iwan. Rasanya aneh ketika Iwan mengingat aku.
Aku menatap Iwan. Rasanya aneh ketika Iwan mengingat aku.
“Kenapa dengan aku?”
“Jelas saja kamu penolongku. Aku tidak
bisa menemukan solusi lain selain menemui kamu.” Aku makin tidak mengerti.
“Maksudmu apa? Kamu mau aku jadi
penghubung untuk berbicara dengan paman?”
Iwan
menggeleng.
“Aku minta kamu pura-pura jadi pacarku.”
Tanganku terlepas dari mouse karena tidak bisa menahan tawaku yang sejak tadi tertahan. Iwan memegang tanganku.
Tanganku terlepas dari mouse karena tidak bisa menahan tawaku yang sejak tadi tertahan. Iwan memegang tanganku.
“Jangan tertawa. Aku ini sedang panik.
Kamu malah tertawa.”
“Apa tidak ada ide yang lain? Kenapa
kita harus pura-pura pacaran? Aku tidak pernah membayangkan kita harus
pura-pura pacaran.”
“Aku juga. Kamu pikir aku mau jadi
pacarmu? Kalau aku ada jalan keluar yang lain, aku tidak akan menjadi pacarmu
walau cuma pura-pura.” Kata Iwan
sewot. Mungkin dia kesal karena aku menertawai ide yang dia usulkan.
“Kalau begitu nasib kita sama. Aku juga
dijodohkan ibu.“ Aku tertawa. Sebenarnya aku menertawai nasib kami. Aku tertawa
karena merasa sedih dengan masalah yang aku hadapi.
“Kamu kog tertawa, Ris? Apanya yang
lucu?”
“Selama ini aku kira kamu orang yang
keras. Kog begitu dengar dijodohkan kamu langsung panik”
“Jelas saja. Aku paling sayang dengan
ibuku. Aku tidak mau ibuku merasa sedih karena perjodohan yang beliau usulkan
aku tolak. Makanya aku mencarimu. Karena setelah aku pikir-pikir perempuan yang
bisa mengalahkan pilihan ibu, hanya kamu orangnya.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Tentu saja. Coba kamu bayangkan kalau
aku membawa pacarku ke hadapan ibu. Ibu pasti akan menolaknya habis-habisan
sekalipun yang aku bawa itu secantik bidadari. Ibu pasti akan tetap menolak.
Lain hal kalau yang aku bawa itu kamu. Ibu pasti akan senang dan menyingkirkan
jauh-jauh calonnya itu.”
Aku
termenung memikirkan kata-kata Iwan. Apa yang dia katakan ada benarnya juga. Tapi kalau masalah Iwan selesai
bagaimana dengan masalahku?
“Jadi masalahku bagaimana? Akukan juga
di jodohkan ibu?”
“Makanya aku ingin kita kerja sama.
Karena akau tahu kamu juga punya masalah dengan ibumu. Kalau kita bisa
pura-pura pacaran, pasti orang tua kita akan senang dan melupakan rencana
perjodohan kita. Bagaimana, ideku makyus kan?”
Aku
tersenyum. Iwan benar juga. Sebenarnya dia tidak menolong dirinya sendiri
melainkan menolong aku juga. Kami lalu sepakat. Minggu besok kami pulang
bersama-sama.
_____________
Akhirnya
sejak saat itu aku dan Iwan pura-pura pacaran. Ternyata benar kata iwan. Dia
bisa mencegah pertengkaran dengan orang tuanya sedangkan aku sendiri bisa
berdamai lagi dengan ibu. Tapi diluar dugaan kami. Orang tua kami masing-masing
ternyata menginginkan kami bertunangan. Mulanya aku menolak tapi Iwan memaksaku
untuk mengikuti apa saja keinginan orang tua kami. Iwan tidak ingin rencana
yang sudah dia atur matang-matang jadi berantakan. Tiba-tiba aku merasa seperti
memasuki kesulitan baru yang aku sendiri tidak tahu bagaimana wujudnya. Aku
hanya merasakannya.
Acara pertunangan berlangsung sukses. Aku dan
Iwan mengikutinya dengan santai karena kami tahu ini hanya sandiwara.
“Wan, sampai kapan kita akan
bersandiwara?” Tanyaku saat kami duduk didalam bus dalam perjalanan pulang ke
kota.
“Sampai cita-cita kita tercapai. Aku
jadi sarjana pertanian dan kamu jadi sarjana ekonomi.”
Aku
tersenyum. Sampai cita-cita kita tercapai, batinku. Tapi apakah kamu dan aku
dapat menjamin kalau suatu saat kita tidak akan saling jatuh cinta?
Aku
tersenyum menyadari kalau aku berkhayal terlalu jauh.
“ Tapi nggak apa-apa kog wan. Aku juga
suka kog sama kamu” kataku dalam hati.
********



0 komentar:
Posting Komentar