Selasa, 28 Februari 2012

Gosip

0


Pagi itu Retno datang ke kantor. Seperti biasa setelah memarkir motornya dia melangkah menyusuri halaman kantor. Sambil menebar senyum ke arah teman-teman kantor yang kebetulan berpapasan, Retno melangkah masuk ke dalam gedung. Satu persatu teman-teman yang melihatnya langsung menghampiri, mencium pipi kanan kiri sambil mengucapkan selamat. Retno merasa aneh. Dia mencoba mengingat-ingat ada kejadian apa yang berkaitan dengannya hari ini. Hari ini tanggal empat Desember, bukan hari ulang tahunnya karena dia lahir 30 Juni. Dia juga tidak sedang dalam promosi jabatan. Lalu ada kejadian apa? Pikir Retno. Dia mencoba melihat ke papan pengumuman. Di papan ini biasa menempel pengumuman-pengumuman penting seputar pekerjaan. Nama-nama pegawai yang naik golongan atau jabatan akan tertempel di sini. Retno membaca satu persatu tidak ada satupun yang berkaitan dengannya. Atau mungkin ada informasi yang terlewati yang tidak diketahuinya berhubung dia baru saja balik dari kampung setelah cuti dua minggu.

“ Hai.. ngelamun!” seseorang menepuk bahunya. Retno berbalik. Teman seruangannya Dita tengah tersenyum menatapnya.

“ Selamat sayang, ya” katanya lalu cium pipi kanan kiri. Retno hanya tersenyum tipis. Dalam hati dia ingin bertanya. Tapi pertanyaannya hanya tersimpan di langit-langit hatinya. Retno masih menerka-nerka gerangan apa yang terjadi hingga pagi ini dia menerima ucapan selamat yang tiada henti?

Retno berjalan beriringan dengan Dita menuju ruangan mereka. Dita terus berbicara. Dia menceritakan kisah-kisah selama Retno pulang kampung. Retno menyimak dengan serius. Dia mencoba mencari informasi dari setiap kata yang terucap dari bibir Dita. Tapi tidak ada satupun jawaban yang bisa menjawab rasa penasarannya akan misteri ucapan selamat yang terus menyambutnya sejak datang pagi ini.

Pintu ruangan terbuka. Mata teman-temannya langsung tertuju padanya. Suara riuh membahana dalam ruangan mereka yang lumayan luas.

“ Mbak Retno… selamat datang… selamat ya” teriak salah seorang dari mereka. Ada juga beberapa yang bergerak maju menghampiri Retno.Bergantian memeluk sambil mengucapkan selamat. Retno terkesima. Seingatnya ini bukan pertama kalinya dia pulang kampung dan seingatnya juga dia tidak pernah mendapat sambutan semeriah ini setiap kali dia kembali. Retno larut dalam rasa penasaran. Tapi ada satu yang membuat Retno lebih penasaran lagi. Sejak tadi dia tidak melihat Dodi. Dodi adalah pegawai yang selama ini menjadi rekannya dalam tugas. Mereka selalu bersama-sama setiap kali ada tugas lapangan.

“ Dodi nggak masuk, Dit?” tanyanya. Dita yang sedang merapikan isi laci mejanya mendongak.

“ Dodi? Ada tuh. Tadi aku liat dia ada diruangan Yonas”

Retno melangkah menuju ruangan Yonas. Ruangan Yonas sangat kecil. Hanya ada dua kursi di ruangan itu. Retno membuka pintu. Dilihatnya Dodi sedang mengetik sesuatu di depan komputer. Dodi diam saja. Dia tidak terpengaruh dengan kehadiran Retno.

“ Lagi ngetik apa sih, Do?” tanya Retno membuka percakapan dengan Dodi. Dia merasa kikuk dengan sikap diam Dodi. Biasanya setiap dia kembali dari kampung, Dodi yang lebih dulu menyambutnya. Matanya penuh dengan sinar kebahagiaan saat melihat Retno. Tapi sekarang dia terlihat biasa-biasa saja. Tidak terlihat kegembiraan bisa bertemu lagi dengan Retno.

“ Laporan biasa, mbak” jawabnya singkat tanpa berbalik. Retno mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Diletakkannya di depan Dodi. Dodi menghentikan kegiatan mengetiknya. Diambilnya kotak pemberian Retno lalu di taruh di dalam saku celananya. Dia melanjutkan kegiatan mengetiknya.

“ Kamu tidak ingin melihat isi kotak itu?” Retno merasa aneh melihat Dodi tidak melihat oleh-oleh yang dia berikan.

“ Nanti saja. Isinya suvenir pernikahan kan?” Retno mengangguk.

“ Tapi untuk kamu suvenirnya lain. Aku memesannya sendiri. Itu khusus untuk kamu”

“ Nanti saja aku lihat” Dodi tetap tidak bergeming. Dia nyaris tak pernah menoleh untuk melihat Retno yang duduk di kursi sebelahnya. Retno mulai merasa gerah. Setahunya Dodi orangnya tidak seperti ini.

“ Kamu kenapa, Do? Apa kamu tidak senang aku sudah kembali?”

“Nggak ada pengaruhnya kan sama mbak? Aku senang atau sedih mbak juga nggak bakalan peduli”

“ Kog kamu ngomongnya gitu? Apa kamu ada masalah?” Retno masih berusaha bertahan.

“ Nggak ada. Bisa tidak mbak tinggalkan aku sendiri.Laporan ini nggak bakalan selesai kalo mbak masih disini” Retno terdiam. Dia tidak beranjak dari kursi.

“ Kamu sepertinya marah sama aku” ucapnya setelah beberapa menit mereka saling diam.

“ Aku nggak mungkin bisa marah sama mbak. Kenapa aku harus marah kalau mbak memilih menikah dengan orang lain?kita toh tidak ada hubungan apa-apa”

“ Menikah? Aku menikah? Kapan aku menikah?” tanya Retno. Dia bingung campur terkejut. Dodi menoleh melihatnya.

“ Mbak pulang kampung kan untuk menikah. Semua orang sudah tahu kecuali aku. Aku baru tahu tadi. Aku tidak ada alasan untuk marah. Aku memang pernah bilang suka sama mbak, tapi mbak belum pernah memberikan jawaban. Kalau sekarang ternyata mbak sudah menikah, maka itu bukan salah mbak”

Retno terdiam. Dia paham sekarang. Ternyata dia pulang kampung dianggap pulang menikah oleh teman-temannya di kantor. Pantas saja sejak tadi dia banyak menerima ucapan selamat. Tapi siapa yang menyebarkan gosip itu? Sedikitpun dia tidak pernah mengucapkan kata-kata tentang pernikahan. Lalu kenapa bisa berhembus gosip kalau dia sudah menikah?

“ Buka kotak itu sekarang” Retno berkata sambil memegang tangan Dodi.

“ Bukalah kalau kamu ingin tahu kenyataan sebenarnya” Dodi mengikuti kata-kata Retno. Ditariknya kotak itu dari saku celananya. Lalu perlahan tangannya membuka bungkusan kotak itu. Dia mengeluarkan sebuah suvenir berbentuk merpati. Ada kertas kecil yang menempel pada suvenir tersebut. Danang dan Rani. Dodi membaca nama itu lagi. Bukan nama Retno. Itu artinya bukan Retno yang menikah. Dipandanginya Retno yang masih menatapnya dengan tatapan penuh arti.

“ Bukan aku yang menikah. Kamu tidak marahkan sekarang? Dan merpati itu, apa kamu lupa artinya?” Dodi teringat saat dia menyatakan perasaannya pada Retno. Retno berjanji akan memberikan jawaban. Kalau jawabannya sebuah kipas itu artinya dia menolak Dodi menjadi kekasihnya. Tapi kalau Retno memberikah hadiah berbentuk merpati itu artinya dia menerima Dodi menjadi kekasihnya. Sekarang dalam genggaman Dodi ada suvenir berbentuk merpati. Berarti saat ini Retno menerimanya sebagai kekasih. Dodi tersenyum. Wajahnya kini berubah cerah. Retno juga. Walau dia masih penasaran siapa penyebar gosip yang menyebarkan berita pernikahannya. Tapi Retno bahagia. Dia jadi tahu kalau Dodi benar-benar suka padanya.******

0 komentar:

Posting Komentar