Panas matahari sangat menyengat. Membawa rasa panas ke dalam angkot yang penuh sesak. Peluh sudah berkejaran di atas kulitku. Kurasakan mereka mengalir di seluruh tubuhku. Terlihat jelas ketika lengan baju ku tekan langsung basah karena menyerap keringat dari kulitku. Kupandangi satu persatu penumpang yang sama menderitanya denganku. Wajah-wajah mereka terlihat pasrah. Kami memang harus menerima kenyataan. Cari angkutan yang murah, ya angkot. Kalau ingin nyaman ya naik taksi. Mau lebih nyaman lagi beli mobil. Tapi tidak semua orang bisa beruntung memiliki kendaraan roda empat. Terlebih untuk orang-orang seperti aku. Jangankan membeli mobil, mencari pekerjaan untuk menopang hidup saja masih susah payah.
Masih menahan rasa panas yang luar biasa ku pandangi rumah-rumah yang berjejeran di sepanjang jalan. Hayalanku terbang ke rumah. Terbayang wajah mama yang sedang menungguku. Sejak aku berangkat untuk wawancara kerja tadi pagi, wajah mama sudah terlihat cemas.
” Mudah-mudahan kali ini kamu di terima” mama mengantarku sampai di pintu pagar.
“Mudah-mudahan, ma. Doakan ya, ma” kucium tangan mama lalu pamit.Sambil melangkah menjauh dari mama aku terus berdoa. Semoga wawancara kerjaku berjalan dengan sukses. Itu doaku tadi pagi. Tapi siang ini aku bersyukur doaku tidak terkabul. Wawancara kerja yang sudah seminggu aku tunggu ternyata tidak seperti yang aku harapkan. Perusahaan yang aku datangi tidak menerima wanita berjilbab. Kalau aku mau di terima, maka aku harus membuka jilbabku. Aku langsung pamit. Intermezzo yang di berikan karyawan personalia itu sudah cukup untuk membuatku beranjak dari hadapannya. Aku belum mengikuti wawancara kerja. Mungkin karena penampilanku yang berjilbab, bagian personalia itu terlebih dulu menjelaskan tentang karyawan yang akan di terima. Dia tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk wawancara denganku sekiranya aku menolak untuk melepaskan jilbabku.
Aku heran kenapa masih ada perusahaan yang memilih-milih calon karyawannya dari pakaian yang dikenakan?. Saat ini jilbab bukan lagi masalah. Semua wanita muslim bisa memakainya saat bekerja tanpa ada larangan. Tapi kenapa perusahaan yang tadi aku datangi memberikan syarat seperti itu?
Kulihat jam di tanganku. Sudah jam dua. Aku memandang lagi ke luar jendela. Tak ada hal-hal yang menarik untuk di lihat tapi aku terus memasang mataku. Tidak mungkin aku memperhatikan orang-orang yang ada dalam angkot. Hanya akan menambah rasa putus asa dalam pikiranku. Jarak rumahku masih sangat jauh. Kalau sisa waktu yang ada ku pakai untuk memperhatikan mereka maka sisa waktu itu akan terasa sangat lama.Jadi lebih baik aku meneruskan lamunanku. Lamunan yang terus menerus mengetuk alam sadarku. Berulang kali aku menyingkirkannya tapi dia selalu datang. Memberikan kata-kata yang kadang membuat telingaku merah.Memperlihatkan gambara-gambaran yang tak mau aku lihat tapi itulah kenyataan jujur yang sebenarnya harus aku lihat.
” Sampai kapan kamu menanti seperti ini? Menanti pekerjaan datang menghampirimu?apa kamu tidak sadar kalau mencari pekerjaan sekarang ini sangat susah. Jangan bertahan dengan pikiranmu. Merantaulah. Cari kehidupan di negeri orang. Tak ada yang bisa kamu harapkan dari tempat ini” Suara itu tiba-tiba hadir di pikiranku. Aku menepiskannya lagi. Tapi kali ini tidak sekuat hari-hari kemarin. Kurasakan kekuatanku mulai melemah. Pertahananku kian hari kian menipis. Tekadku yang semula kokoh perlahan mulai terkikis dengan kenyataan yang aku lihat setiap hari. Kenyataan kalau sudah berpuluh-puluh lamaran kerja yang aku kirim. Aku juga beberapa kali ikut tes CPNS. Belum terhitung perusahaan-perusahaan swasta yang memanggilku untuk wawancara kerja. Tapi mereka hanya memanggilku untuk wawancara, tak ada yang memanggilku untuk memberikan posisi pekerjaan.
Sudah tidak terhitung berapa kali aku bolak-balik ke kampus untuk melegalisir ijazahku. Pak Aziz, bagian Tata Usaha di fakultas tempat dulu aku kuliah sampai mengenalku karena terlalu sering muncul di depan matanya. Waktu pertama kali aku datang, pak Aziz tersenyum menyambutku. Dia senang bisa bertemu dengan mantan mahasiswa yang sudah empat tahun meninggalkan kampus. Dia menitipkan doa semoga aku cepat dapat pekerjaan. Tapi itu saat pertama kali. Setelah terlalu sering muncul dengan nasib yang tidak berubah-ubah juga, wajah pak Aziz terlihat tidak bersemangat menyambutku. Mungkin dalam fikirannya betapa naas nasibku.Sementara teman-teman seangkatanku sudah nyaman dengan pekerjaan mereka, aku malah masih berkutat dengan berkas-berkas lamaran kerja. Nasibku memang menyedihkan, setiap hari aku hanya menghitung berapa lagi ijazah yang harus aku legalisir.
Teror mental juga sangat menyiksaku. Setiap kali aku belanja di warung ibu Dedeh, dia selalu menanyakan soal pekerjaan. Kalau sekedar ibu Dedeh tidak masalah. Ibu Dedeh masih santun menjaga perasaanku dengan kata-kata yang tidak memerahkan telinga dan menyakitkan hati. Tapi yang membuat kesal adalah adiknya Dipo. Dipo sudah bekerja di pelabuhan. Aku biasa bertemu kalau dia lagi off. Dipo orangnya supel, suka ceplas ceplos kalau bicara.Kata-kata yang keluar dari mulutnya kadang sangat tajam. Aku pernah pulang dengan mata berkaca-kaca saat dia mengatakan lebih baik ijazahku di bakar saja karena sampai sekarang aku belum juga mendapatkan pekerjaan.
Panggilan dari keluarga yang ada di luar daerah juga berdatangan. Mereka memintaku untuk mendaftar PNS di tempat mereka. Ada juga beberapa sahabat dan mantan teman-teman kuliah yang memberikan saran agar aku ikut ke tempat mereka. Tapi waktu itu aku masih bertahan untuk mencari kerja di kota. Baru lepas dari kampus membuatku masih bersemangat mengadu nasib. Aku tidak pernah membayangkan kalau jalan yang aku lalui begitu terjal. Banyak hambatan-hambatan yang makin lama tak bisa aku atasi. Selain itu ada mama yang harus menjadi perhatianku. Aku berusaha mencari penyelesaian dengan bertahan mencari kerja di kota. Kalau aku pergi tidak ada yang akan menemani mama. Mama meskipun belum terlalu tua tapi tinggal seorang diri tentu akan sangat kesepian. Rasanya tidak tega untuk meninggalkannya seorang diri.
” Stop, bang” teriak seseorang yang duduk disampingku. Suaranya membuyarkan lamunanku. Penumpang turun empat. Syukurlah ruangan menjadi sedikit lapang. Angin juga bisa dengan leluasa masuk untuk membantu mengurangi hawa panas yang sejak tadi menyerang kami. Belum dalam jarak yang terlalu jauh angkot berhenti lagi. Kali ini penumpangnya turun dua. Makin lapang. Aku makin menikmati hembusan angin yang mengayunkan jilbaku. Baru terasa pentingnya hembusan angin saat kita berada dalam titik kulminasi hawa panas.
Mobil berjalan lagi. Kembali aku larut dalam lamunan. Lamunan masa depanku yang belum pasti. Aku jadi teringat seseorang. Sebenarnya sejak beberapa minggu yang lalu ada tawaran dari seorang teman. Dia tinggal di Papua. Semasa kuliah dia pernah menawarkan aku untuk mencari kerja di sana. Tapi aku hanya tertawa waktu itu. Tidak terbayangkan aku harus berada jauh dari rumah. Alasanku hanya satu. Aku tidak bisa meninggalkan mama sendirian.
Tapi dengan keadaanku sekarang, masihkah aku bisa bertahan dengan keinginan untuk terus menetap di sini? Masa depanku makin tidak jelas. Setiap hari hanya melihat kehidupan sekitar rumah, mengunjungi tetangga, menonton sinetron di TV, refresing ke mall. Walau sesekali ke warnet tapi kehidupanku belum terasa bermakna. Aku membutuhkan pekerjaan sekarang! Jerit hatiku.
” Mbak mau turun di mana?” suara lelaki di depanku menghilangkan lamunanku yang masih menggantung di awang-awang. Aku tersadar. Kupandangi deretan ruko yang terlewati. Rumahku sudah dekat jaraknya. Aku harus siaga. Jangan sampai lengah dan melewati rumahku.
” Sudah dekat, pak. Di depan sana yang ada toko besar, berhentinya di situ pak” kataku. Beberapa menit kemudian sopir menghentikan mobil. Aku turun menepi ke pinggir jalan karena kendaraan yang lalu lalang tidak memberiku kesempatan untuk menyeberang dengan mudah. Untunglah ada seorang lelaki yang membantuku menyeberangi jalan yang penuh dengan kendaraan yang lalu lalang.
Tiba di rumah aku lalu duduk di teras. Masih menyisakan rasa panas di tubuh bercampur baur dengan rasa lelah dan lapar, aku melepaskan sepatu yang ku pakai. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Mataku mencari mama di seluruh ruangan tapi tak kutemukan. Aku menuju kamar mama. Kusingkap gorden pintu. Hatiku terharu. Mama habis sholat dhuhur dan sekarang sedang berdoa. Aku mendengar suaranya meskipun sangat kecil. Kudengar doa yang mama panjatkan untukku :
Ya. Allah jika rejeki anakku di kota ini, maka lapangkanlah jalannya untuk mendapatkan pekerjaan namun jika Engkau mempunyai kehendak yang lain, hamba mohon mudahkanlah jalannya untuk mendapatkan berkahmu..”
sebagian doa itu yang aku dengar. Aku berjalan kekamarku. Ku letakkan tas di atas meja lalu duduk di tempat tidur. Sejak mendengar doa mama aku merasa sedih. Bagaimana nanti tanggapan mama kalau tahu kali ini aku kembali gagal?
” Kamu sudah pulang, tin?” mama tiba-tiba membuka kain gorden. Mama menatapku lalu duduk disebelahku. Terlihat jelas mama sangat menaruh harapan akan kabar yang aku bawa.
” Gagal ma. Aku di tolak karena pakai jilbab” jawabku pelan.
” Hah? Hanya karena jilbab? Padahal sekarang dimana-mana pegawai kantoran semua sudah pakai jilbab. Apa salahnya pakai jilbab?”
” Mungkin sudah aturan mereka seperti itu. Kita bisa apa. Sudahlah ma. Mungkin belum waktunya aku dapat kerjaan” aku mengganti pakaian. Mama masih duduk merenung di tempat tidur.
” Apa temanmu yang dari Papua masih sering menghubungimu?” Aku refleks berbalik. Terkejut dengan pertanyaan mama membuatku urung melepaskan pakaian.
” Iya, ma. Kami masih sesekali bertukar kabar lewat sms. Kenapa mama menanyakan temanku?” mama terdiam beberapa saat.
” Kalau kamu masih berminat untuk ke tempat temanmu, sekarang mama menginjinkan kamu untuk kesana. Mama kasihan melihat kamu. Mungkin nasibmu tidak ada di sini. Kamu harus merantau untuk mengubah nasib” Aku terpana melihat mama. Aku bingung antara sedih dan senang. Benarkah ini keputusan mama atau mama sudah putus asa melihat aku yang belum juga mendapatkan pekerjaan?
Aku terus memikirkan kata-kata mama. Kenapa sekarang aku yang merasa ragu? Saat mama belum mengijinkan, aku malah yang bersemangat untuk pergi mencari rejeki di kampung orang. Tapi kini saat mama sudah memberi lampu hijau aku bahkan gamang dengan keinginanku. Haruskah aku merantau dan pergi jauh meninggalkan mama?
Aku belum menemukan jawabannya.
0 komentar:
Posting Komentar