Senin, 19 Desember 2011

Penghianat

0



Siang beranjak sore. Matahari masih menyisihkan sinarnya yang menyengat. Cuaca panas. Namun wajah-wajah dari balik pepohonan masih terlihat bersemangat. Wajah mereka di hiasi garis-garis hitam. Baju mereka hijau. Mereka bersenjata lengkap. Salah seorang dari mereka mengawasi dari balik pohon. Jumlah mereka enam orang. Semua terlihat serius. Wajah mereka tegang.

Gimana, dan? Kita serang mereka?” tanya seorang yang bertubuh kurus. Keringat bercucuran dari dahinya. Dihapusnya keringatnya dengan tangan.

Iya, komandan kita serang saja mereka. Terus bertahan seperti ini tidak aman. Kita pasti akan ketahuan.” si gendut ikut nimbrung. Seseorang yang sejak tadi dipanggil komandan masih dengan mimik wajah serius mengangkat tangannya.

Sabar. Menyerang itu mudah. Mereka memang banyak tapi senjata yang kita miliki lebih canggih.” katanya dengan tenang.

Jadi apa yang kita lakukan sekarang, dan. Sebentar lagi malam. Menyerang dalam gelap bisa berbahaya. Apalagi mata saya sudah rabun-rabun” kata yang kulitnya putih sambil memperbaiki kacamatanya.

Aku curiga ada mata-mata diantara kita” katanya pelan. Yang lain terperanjat. Mereka yang semula jongkok langsung duduk di tanah karena kaget.

Mata-mata?” sahut mereka berbarengan. Sang komandan mengangguk.

Ya. Ada penghianat diantara kita. Kenapa mereka selalu mengetahui tempat persembunyian kita. Kalau kebetulan, kog sering sekali? Seperti ada yang memberitahu dimana kita akan bersembunyi. Ayo mengaku saja, siapa diantara kalian berlima yang jadi mata-mata musuh?” mata komandan menatap tajam anak buahnya satu persatu. Mereka berlima langsung tertunduk.

Ayo ngaku atau kalian semua aku pecat!”

Kalau kami di pecat, yang membantu komandan siapa? Yang lain sudah sebagian bergabung dengan musuh.”

Terserah. Aku tidak sudi punya anak buah penghianat. Lebih baik sendiri daripada berteman dengan penghianat.”

Mereka terdiam. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul seseorang. Dia melangkah tanpa rasa takut. Wajahnya terlihat lugu. Dia terus masuk ke dalam persembunyian mereka. Sang komandan dan anak buahnya kaget bukan kepalang.

Hakeem? Kenapa kamu kesini? Kakak sudah bilang jangan nyusul kesini. Diam disana saja. Kita bakal ketahuan!” jerit sang komandan pada adiknya yang masih berumur empat tahun.Si adik dengan wajah lugu tanpa ekspresi langsung ikut duduk diantara mereka. Tidak ingin berlama-lama memarahi adiknya, sang komandan kemudian bertanya dengan amarah yang ditahan.

Waktu kesini ada yang liat kamu nggak?” tanyanya. Si adik mengangguk. Dia memperlihatkan permen yang banyak di dalam kantong bajunya.

Aku di beri ini kak sama mereka. Katanya kalau aku beritahu mereka di mana kakak bersembunyi ,aku dapat permen yang lebih banyak lagi” jawabnya lugu. Sang komandan terduduk lemas. Ternyata penghianatnya adiknya sendiri. Pantas saja sejak tadi mereka selalu kalah. Sekarang skor akhir dua kosong.Bisa dipastikan mereka akan kalah telak tiga kosong.****


0 komentar:

Posting Komentar