4 November 2010
Ini kisahku. Semula aku berniat menulisnya di buku harian tapi akhirnya terkirim padamu dalam bentuk surat. Mungkin bagimu surat ini tidak ada artinya tapi aku harap kamu mau meluangkan waktu untuk membacanya karena surat ini adalah ungkapan perasaanku yang terpendam selama ini.
Kamu jangan tersenyum atau tertawa membaca kertas demi kertas yang kukirimkan padamu karena itu adalah jeritan hatiku. Walaupun aku sudah jutaan kali mengatakannya (entah itu betul, tapi yang pasti sudah tidak terhitung berapa kali aku mengatakannya padamu).Dan sekarang melalui surat ini aku akan mengatakannya lagi untuk yang terakhir kali. Ini benar-benar yang terakhir kali karena saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh (rencananya mau pergi ke bulan atau setidaknya ke planet lain biar kamu tidak bisa menemukanku, padahal belum tentu kamu akan mengejarku sekiranya aku benar-benar pergi kebulan atau dimanapun itu di jagat raya).
Kamu jangan tersenyum lagi. Butuh waktu bagiku untuk mencurahkan semua isi hatiku di atas kertas ini karena sekian lama aku hanya mencari petunjuk ( dari kamus, internet bahkan aku pernah mendatangi dukun, peramal saking bingungnya) bagaimana caranya untuk mengatakan kepadamu. Bukan karena aku tidak pandai berkata-kata, tapi baru melihat bayanganmu saja aku sudah diam seperti patung. Aku bukan takut padamu. Entah perasaan apa. Tapi rasanya aneh membayangkan orang seperti kamu menyukai aku. Walaupun kulitku lumayan putih dan rambut panjangku lumayan tebal tapi wajahku biasa saja dan jika di sandingkan denganmu kita sama sekali tidak sepadan.
Aku malah pernah berpikir mungkin kamu terkena suatu penyakit yang jika di derita, seseorang akan melihat semuanya secara berlawanan. Yang jauh terlihat dekat, yang dekat terlihat jauh, yang cantik terlihat jelek, yang jelek kelihatan cantik. Karena bagiku, kamu sangat….sangat aneh. Bagiku cinta itu tidak ada persyaratan. Kalau menyukai seseorang kamu akan menerima apapun keadaannya. Aku pernah berusaha menerapkan ini, menganggap kamu merasakan cinta seperti itu dan mencintaiku apa adanya. Tapi tetap saja jika matahari terbit di pagi hari dan aku membuka mataku, aku merasa cintamu terasa aneh. Bagaimana mungkin matamu yang indah itu bisa terarah padaku dan tidak berpaling ke tempat lain? Padahal jangankan di tempat terang ditempat gelappun belum tentu ada yang tertarik padaku.
Apakah kamu tidak pernah berpikir kalau kita sangat jauh berbeda, ibarat buah kita seperti durian dan mengkudu, ibarat jagat raya kita seperti bumi dan langit. Aku bahkan tidak pernah membayangkan berjuta-juta tahun cahaya ke depan akan bertemu orang secakep kamu.Dalam kamusku aku tidak berani bermimpi. Walau ada yang mengatakan bermimpilah karena mimpi tidak dibayar. Tapi bagiku dalam mimpipun aku tetap harus kerja keras, karena dalam mimpipun impianku tidak terwujud.
Apakah kamu tersenyum lagi? Kamu memang selalu tersenyum jika melihatku. Kadang aku berpikir apakah karena kamu senang melihatku ataukah karena kamu menganggapku mahkluk lucu yang bisa membuat orang tersenyum atau tertawa. Makanya kadang aku benci melihat senyummu yang walaupun indah, lama-lama kurasakan seperti menghinaku. Jangan tersinggung, orang yang tertekan kadang perasaannya tidak bisa diatur. Jadi apapun yang aku pikirkan, itu adalah akibat dari perbuatanmu sendiri. (Aku istrahat dulu, ternyata mengeluarkan perasaan hati itu juga melelahkan. Makanya ada pendapat, No say , Talk Only.)
Sampai dimana tadi, oh,ya kenapa aku mengirimkan kertas ini dalam bentuk aslinya.Pasti kamu bertanya-tanya(ini hanya satu kali kutulis lho, tidak aku ulang-ulang, karena kalau aku ulangi, bisa-bisa aku berubah pikiran dan tidak jadi mengirimkannya padamu, padahal surat ini sangat penting, ini sama dengan benda berharga yang tidak boleh jatuh ketangan orang lain, apalagi teman-temanmu, karena aku tahu kamu suka bersama dengan kelompokmu,kamu tahu aku bahkan penasaran. Sedang dimana kamu saat membacanya, aku malah berniat mengintip kegiatanmu, tapi setelah aku pikir-pikir kapan aku perginya,kalau aku masih ingin melihatmu membaca suratku…)
Kamu masih ingat pertama kali kita bertegur sapa. Waktu itu, kalau saja kakiku tidak kamu injak dan aku tidak berteriak, mungkin kamu tidak akan menoleh untuk melihatku. Seperti slow motion, kamu berbalik dan melihatku. Aku kaget melihat kamu. Bukan karena kamu cakep, tapi ini sudah yang ketiga kalinya kamu menginjak kakiku. (apa kamu hobi menginjak kaki orang? Saat itu memang ramai, acara di Aula kampus dipadati banyak orang. Aku maklum untuk itu, tapi yang tidak aku mengerti mengapa setiap kali kakiku terinjak, orang yang menginjak kakiku itu kamu????)
Sahabatku, Reina, tersenyum disampingku sambil menatapmu.Kamu seperti mahkluk langka yang harus dipelototi sampai matanya nyaris keluar. Dia bahkan tidak peduli denganku yang masih kesakitan.(harusnya kamu bangga, Reina tidak sembarangan mengagumi orang, belum tentu dia akan mengagumimu walaupun kamu cakepnya selangit). Kamu bersuara, minta maaf, aku baru saja mau membuka mulutku untuk berbicara, tiba-tiba kamu sudah ditarik seseorang. Akhirnya kamu menghilang dengan cepat dikerumunan orang-rang yang berdesak-desakan untuk keluar.Aneh. Siapa yang menarikmu waktu itu? Harusnya dia tahu kamu baru saja menginjak kakiku! (kamu ingat sekarang?atau mungkin kamu memang tidak pernah mengingatnya, atau karena aku objek penderita jadi aku ingat betul kisah itu)
Beberapa hari kemudian aku sedang di swalayan. Tiba-tiba kamu sudah berdiri didepanku.Aku kaget bagaimana kamu bisa tiba-tiba ada di swalayan dan berdiri tepat didepanku?(kalau dikampus kita bertemu wajar saja, tapi ini diswalayan? Apa itu bukan disengaja.Jangan tertawa, wajar dong aku geer. Akukan punya perasaan juga, feeling bahasa inggrisnya) aku masih diam mematung dan kamu tiba-tiba menarik tanganku. Dalam pikiranku waktu itu, mungkin kamu mau menyelesaikan masalah menginjak kakiku waktu itu. Tapi apa sepenting itu? Sampai menganggu jadwal kunjunganku ke swalayan?. Kamu membawaku ketempat parkir, tepatnya ke mobilmu. Anehnya aku mengikuti saja langkahmu tanpa sedikitpun protes. Apa waktu itu kamu menghipnotis aku?
Kamu membukakan pintu mobil dan menyuruhku masuk kedalam mobil. Aku menurut saja.Tapi setelah kupikir-pikir sebenarnya diamnya aku waktu itu karena aku penasaran. Aku ingin tahu, apa sih sebenarnya maksud dari sikapmu yang aneh itu?. Setelah kita berdua di dalam mobil kamu tidak menjalankan mobilmu. Tapi kamu malah menatapku.Aku melihatmu tapi cuma sekilas. Mimpi apa aku semalam. Kenapa hari ini ada kejadian seperti ini?
“ Kamu sudah punya pacar?” tanyamu waktu itu yang membuat jantungku mau copot. Rasanya tsunami sudah lewat, apa ini tsunami susulan? Karena tatapanmu sangat tajam, aku jadi gugup dan menjawab diluar kesadaran.
“ Belum..”
“ Bagus, kalo begitu mulai sekarang kita pacaran…”
“ Apa??
“ Kita pacaran!”
“ Lho,kenapa bisa begitu?”
“ Pokoknya kita pacaran, apa kamu tidak suka aku jadi pacarmu?’
“ Bukan begitu..”
“ Ok, berarti tidak ada masalah. Mulai sekarang kamu pacarku” aku berusaha berbicara tapi sepertinya kamu lebih cepat mengambil keputusan.Kamui ingat, kamu langsung mengeluarkan sesuatu dari laci mobil.Sebuah kotak. Lalu kamu mengeluarkan isinya. Sebuah cincin! Kamu tahu, aku panik sekali waktu itu.Aku berpikir mungkin kamu sedang taruhan dengan teman-temanmu dan aku yang jadi objek taruhannya. Aku seperti disorot kamera dan tanggapanku sedang ditunggu bayak orang yang sedang menonton reality show.
“ Namamu siapa?” kamu ingat pertanyaanku ini membuatmu tersenyum yang makin membuatku tidak berdaya.
“ Aku tahu namamu tapi kamu sama sekali tidak tahu namaku? panggil saja aku Vilo. Panggilan ini khusus dari kamu. Jadi jangan coba-coba menyebarkannya ke orang lain. Kalau ada orang yang memanggilku dengan nama itu, maka tersangka utama adalah kamu.Mengerti?”
Itu kata-katamu waktu itu.Kamu memang bicara pelan tapi seperti ancaman yang membuat aku merinding. Kamu kemudian menarik tangan kananku lalu menaruh cincin itu ditelapak tanganku. Katamu kamu akan melihat apa besok aku memakainya atau tidak. Kalau tidak aku akan tahu sendiri akibatnya. Kamu juga memencet nomor di Handphonemu dan tiba-tiba Handphoneku berbunyi.
“ Itu no Hp ku. Jangan lupa disimpan..” katamu lagi.
Setelah itu aku keluar dari mobilmu.Kamu memintaku kembali ke swalayan dan melanjutkan aktivitasku yang tadi tertunda. Kamu tahu, waktu aku kembali ke swalayan, pikiranku sudah tidak disitu. Aku hanya berjalan-jalan mengelilingi ruangan tanpa ada niat untuk mengambil barang apapun. Hasilnya aku keluar dari swalayan tanpa satupun barang yang kubeli.
Sampai dirumah, aku langsung mandi. Kenapa? Karena aku mencoba mengembalikan kesadaranku dan kembali kedunia nyata. Aku berpikir mungkin tadi aku sedang tertidur dan bermimpi.Tapi setelah mandi aku malah melihat cincin pemberianmu, ternyata semua benar-benar nyata!.
Besok paginya, aku siap-siap kekampus. Tapi begitu aku membuka pintu pagar ternyata mobilmu sudah parkir di depan pintu. Kamu keluar dari mobil sambil tersenyum manis. Aku terdiam sesaat berharap ini hanya halusinasi saja. Tapi kamu tetap ada dan tidak menghilang. Kenapa kamu bisa tahu aku akan berangkat kuliah?
Kamu merangkulku lalu membuka pintu mobil dan menyuruhku duduk di depan. Kemudian kamu menutup pintu lalu kamu sendiri bergegas masuk kedalam mobil.
“ Cincinmu, mana? Tidak kamu pakai?” nada suaramu seperti menakutkan. Aku memperlihatkan tanganku dan kamu langsung tersenyum tipis begitu melihat cincin itu melingkar dijari manisku. Kamu tahu, sebenarnya aku tidak sengaja memakainya. Aku hanya mencobanya dan berniat melepaskannya tapi belum aku lepaskan kamu sudah muncul didepan mataku. Kenapa tiap kali aku didekatmu rasanya aku begitu ketakutan? Ada apa denganmu atau tepatnya ada apa denganku?
Sepanjang perjalanan kamu hanya diam, aku juga. Kamu memutar lagu-lagu pop riang dan asyik bernyanyi kecil mengikuti irama lagu.
“ Kamu sudah sarapan? “ Tanyamu tiba-tiba yang membuyarkan lamunanku. Sialnya aku langsung menggeleng. Aku memang aneh ,didepanmu aku sama sekali tidak bisa berbasa-basi. Langsung saja menjawab.
“ Belum..” kamu langsung menghentikan kendaraan di depan sebuah toko. Lalu kamu turun .Tidak lama kemudian kamu kembali lagi dengan kantong plastik.
“ Ini, makanlah, tidak baik kalau belum sarapan bisa mengganggu konsentrasi…”
Kamu menyerahkan bungkusan itu dan aku membukanya. Ada cake dan roti, lengkap dengan minuman teh kemasan.Kamu tahu, waktu itu aku terharu sekali, karena semua makanan dan minuman itu adalah favoritku. Kenapa kamu bisa tahu? Apa itu hanya kebetulan? Aku makan sambil sesekali melihatmu. Terus terang sejak kemarin aku tidak ingat makan sama sekali. Pikiranku hanya dipenuhi kamu.Aku belum tahu mau bersikap bagaimana karena semuanya serba tiba-tiba dan sangat mengagetkan.
Karena lapar aku menghabiskan semua makanan itu, begini rasanya baru ingat makan. Aku lupa kalau perutku juga harus di isi. Aku lihat kamu tersenyum-senyum saja melihatku menghabiskan makanan itu. Sampai di kampus,aku langsung turun. Aku tidak berharap dilihat teman-teman saat bersama kamu. Bisa terjadi kehebohan. Tapi baru berniat membuka pintu mobil kamu sudah langsung berdehem. Aku berbalik melihatmu.
“ Oh, aku lupa, terima kasih sudah di jemput, tapi nggak perlu repot-repot , aku biasa ke kampus naik angkot.” wajahmu langsung berubah.
“ Nanti selesai kuliah tunggu aku disini.” suaramu seperti bernada perintah. Aku diam saja sambil memandangmu sekilas kemudian membuka pintu. Dengan setengah berlari aku menjauh dari mobilmu. Mataku jelalatan melihat sekeliling barangkali ada teman yang melihat kedatanganku. Ternyata tidak. Aku bergegas masuk ke ruangan.Ternyata ruangan sudah setengahnya terisi. Aku langsung duduk berusaha menenangkan perasaanku.
Apa yang harus aku lakukan? Kamu tahu waktu itu aku bingung bagaimana menghadapi kamu. Karena jujur aku manusia biasa. Namanya terpesona dengan wajahmu yang cakep tentu saja ada. Tapi tetap saja ada bagian hatiku yang mengatakan kalau ini adalah kesalahan. Aku harus sadar atau setidaknya berusaha menyadarkan kamu kalau kamu telah salah dalam bersikap. Tapi bagaimana caranya membuatmu sadar?dan bagaimana caranya aku tahu kalau kamu sedang tidak sadar? Aku betul-betul bingung. Sampai disini apakah kamu mulai ingat semua kisahnya dari awal?
Sepanjang kuliah aku mulai berpikir bagaimana caranya pulang tanpa kamu ketahui. Aku jelas tidak bisa bersembunyi karena jalan keluar cuma satu. Tapi tidak mungkin juga aku pakai topeng. Pikiranku betul-betul kacau. Karena tidak bisa konsentrasi aku minta ijin ke dosen untuk ke toilet. Lumayan buat mengembalikan kesadaranku. Waktu keluar dari toilet beberapa ibu penjual dari kantin lewat. Mereka menuju arah belakang gedung. Aku heran mereka mau kemana? Di belakang gedung tidak ada kantin atau tempat untuk jualan. Aku iseng mengikuti mereka. Kudekati seorang ibu sambil bertanya kenapa mereka berjalan ke belakang gedung. Ibu itu menjawab kalau mereka mau pulang. Aku makin penasaran.Ibu itu menjawab kalau ada pintu kecil dibelakang gedung dan hanya sedikit orang yang tahu, mungkin juga cuma mereka.Aku mengikuti ibu-ibu itu sampai di pintu yang mereka maksudkan. Betul saja dibelakang gedung ada pintu kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu orang dengan ukuran kecil. Jadi ibu-ibu yang berukuran besar berusaha agar bisa melewati pintu tersebut.
Aku kembali ke kelas dengan perasaan tenang luar biasa. Mungkin ini petunjuk dari Allah karena sejak tadi aku sudah pusing bagaimana caranya melarikan diri dari kamu. Pas jam kuliah selesai aku langsung berlari ke belakang gedung. Jantungku berdetak cepat seperti seseorang yang berusaha untuk membebaskan diri. Sampai diujung lorong kebetulan ada angkot yang berhenti dan jalurnya memang melewati rumahku. Aku senang luar biasa. Aku tidak peduli apakah kamu menungguku atau tidak yang pasti sekarang aku sudah lepas. Tiba dirumahpun aku tidak lewat depan melainkan lewat belakang. Dan tiba-tiba saja aku menemukan ide bagaimana caranya setiap hari bisa kekampus tanpa kamu tahu.
Selama tiga hari berturut-turut aku menerapkan cara itu dan aman. Aku sama sekali tidak melihat wajahmu. Karena saat kuliah aku duduk paling belakang dan berusaha untuk menyembunyikan diriku. Handphoneku juga tidak aku aktifkan. Tapi besoknya jantungku rasanya mau copot. Baru saja pintu kecil dibelakang gedung itu kubuka malah kamu yang berdiri didepan pintu itu. Wajahmu aneh sangat dingin. Aku jadi mundur kebelakang saking gugupnya.Kamu tidak berbicara tapi terus mendekatiku hingga aku bersandar di tembok.(Apakah kamu ingat kenapa waktu itu ekspresimu seperti itu?)
Kelihatan sekali kamu berusaha menahan amarah. Tapi kenapa kamu harus marah? Apa aku bikin kesalahan?
Kamu memegang tanganku dan menarikku mengikutimu menyusuri gang kecil yang biasa aku lewati selama tiga hari terakhir. Caramu memegang tanganku erat sekali. Terus terang aku merasa takut melihatmu dalam kondisi seperti itu. Ternyata kamu memarkir mobilmu di ujung gang. Kamu membuka pintu mobil lalu mendorongku masuk dengan pelan. Tapi saat membanting pintu kamu membantingnya dengan keras hingga membuatku makin ketakutan.Kamu menjalankan mobil tanpa sedikitpun melihatku. Pandanganmu hanya kedepan.Aku diam saja tidak berani memulai pembicaraan. Tapi ketika kamu memutar mobilmu kearah lain tidak menuju kearah rumahku aku mulai gelisah.
“ Lho, Vilo. Rumahku udah lewat, rumahku lewat sana..”kataku.
“ Aku bukan supirmu! Terserah aku, mau kemana saja itu urusanku!”
Aku kaget dengar suaramu yang bernada tinggi.Suaraku langsung tertahan dikerongkongan. Aku bahkan tidak berani memandangmu. Akhirnya aku diam tidak berani memprotes kemanapun kamu akan membawa mobilmu.Sebenarnya aku masih bingung kenapa waktu itu kamu begitu marah?
Kamu menjalankan mobilmu tanpa sedikitpun berhenti. Dalam mobil suasana tegang sekali. Setidaknya itu yang kurasakan.Tanpa kusadari aku tertidur. Ketika terbangun dan membuka mataku kulihat kamu duduk disampingku sambil menatapku.Aku langsung memperbaiki posisi dudukku. Rasanya risih diperhatikan saat sedang tidur. Kamu juga sama sekali tidak mengalihkan pandanganmu begitu aku terbangun. Malah terus memandangiku dengan tatapan yang aneh.
“ Kamu kenapa, ada yang salah dengan aku?” pertanyaanku sama sekali tidak membuatmu berpaling ketempat lain. Malah kamu langsung memegang tanganku.
“ Jangan sekali-kali melanggar perintahku, aku bisa marah. Kalau aku marah aku bahkan tidak memperdulikan diriku. Jadi jangan ulangi lagi hal-hal yang tidak kusukai”
Begitu katamu waktu itu walau aku belum mengerti tapi aku hanya diam kelihatan mungkin bagimu aku mengerti tapi saat itu aku sama sekali tidak paham kenapa kamu bisa marah besar.
“ Aku bikin salah apa? maaf sebelumnya, tapi kamu kan bukan siapa-siapa, jadi kenapa harus mengikuti perintahmu?”
“ Apa kamu lupa? Kamu itu pacarku..”
“ Pacar? Tapi kita kan belum sepakat?”
“ Siapa bilang? Di sini tidak ada kesepakatan. Kamu tidak ada pacar, jadi kamu pacarku.”
“ Tapi aku kan belum bilang setuju…?”
“ Ok, kalo begitu sekarang aku tanya kamu, kamu tidak suka aku jadi pacar kamu?”
Aku bingung mau jawab apa. Aku suka, tapi hatiku yang lain mengatakan tempatmu bukan disampingku. Kamu pantasnya mendapat orang yang lebih dari aku..
“ Ayo jawab,kamu tidak suka kalau aku jadi pacar kamu?”
“ Bukan begitu..”
“ Intinya kamu suka kan?”
“ Aku bingung semuanya tiba-tiba, tapi…” aku tidak melanjutkan kata-kataku karena kamu langsung menaruh telunjukmu di bibirku.
“ Ini bukan tiba-tiba, sudah bertahun-tahun. Jadi jangan bertingkah yang aneh-aneh” kamu langsung memperbaiki posisi dudukmu.Aku terdiam karena kata-katamu. Tidak ada satupun yang aku mengerti. (Sebenarnya waktu itu apa maksudmu? Sampai sekarang kamu belum pernah menjelaskan apa maksud kata-katamu)
Tanpa melihatku kamu langsung menjalankan mobilmu. Kalau tadi kamu menjalankan mobilmu dengan tegang, sekarang yang kulihat kamu lebih santai. ( kamu betul-betul susah ditebak, tadi kamu begitu penuh amarah sekarang malah terlihat santai malah aku yang tidak bisa tenang memikirkan kata-katamu. Pasti sekarang ini kamu lagi tersenyum-senyum menganggap aku bodoh atau tulalit ya?)
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar