Janji
Kenangan tertatih menyusuri lorong waktu, lusuh dalam balutan ingatan yang compang camping, hanya mimpi yang terus memeluk asa, mencari janji yang kini hilang bersama keindahan musim yang lalu.
Lalu kenangan pun lelah, sejenak bersandar pada dinding-dinding harapan yang hampa, tak lelah bertanya tentang sang janji yang mungkin meninggalkan pesan, namun tak ada jawaban. Hanya sepi. Dinding-dinding harapan mungkin telah jenuh menebar asa yang semu pada hati yang setia menanti dalam rindu.
Langit membara ketika kenangan kembali melangkah, tak lagi nampak dinding harapan, hanya hamparan ilalang yang kering menguning. Gersang. Kenangan menatap mentari yang cemas,
"Jangan teruskan langkahmu,wahai kenangan. Tak tahukah kau, diujung sana,begitu banyak hati yang terluka."
"Aku hanya mencari janji, dimanakah dia kini. Apakah engakau melihatnya wahai mentari?"
"Aku tahu, semua yang bertanya padaku mencari dirinya. Terakhir kulihat dia terbang bersama siluet keemasan. Lebih baik engkau pulang, jangan lagi percaya pada janji, engkau hanya akan terluka."
Kenangan tertunduk lesu, tertatih berjalan dengan tubuh lunglai. Lalu tubuhnya melayang, jatuh terkulai, kenangan hanya bisa menatap nanar dengan butiran bening pada bola matanya,
"Aku hanya percaya pada janji, jika dia tak kembali, lalu untuk apa aku ada di dunia ini?"
Pandangan kenangan gelap, tubuhnya kaku lalu seketika berubah jadi debu dan diterbangkan angin yang tertawa riang.
# Makassar, 8 Juli 2016#
Ketika hati terasa sangat dingin......



0 komentar:
Posting Komentar