Senin, 11 Juli 2016

Kemboja

0



Musim kemarau tiba, daun daun berguguran, terbang bersama henbusan angin, menyapu tanah lalu rebah.

Pada rumah rumah berbaris rapi tanpa nafas, berdiri tegar pohon kemboja, nyaman meski hanya berteman sepi.

Kemboja tersenyum, seorang gadis bermata indah, menyandarkan tubuh, berlindung dari terik yang membakar.

"Ibu,aku datang menengokmu." Ucap si gadis lalu bersimbuh di samping makam keramik merah maron. Tangan lembutnya mengelus-elus tulisan nama yang melekat pada nisan.

Kemboja hanya menyimak. Telah terbiasa dengan kehadiran gadis itu. Ia biasa hadir seminggu setelah lebaran. Entah apa penyebabnya. Mungkin dia suka suasana sepi, ketika pemakaman bebas dari para peziarah.

Namun bukan itu saja yang membuat Kemboja heran. Kali ini  ada yang berbeda. Meski mata si gadis tetap indah namun tubuhnya kini lebih kurus dan pucat. Tidak seperti saat pertama mengunjungi makam.

Si gadis menaburkan bunga lalu menyiram air diatas makam.  Matanya basah, dia mengusapnya lalu tersenyum.

"Ibu,bagaimana keadaanmu disana? Apakah ibu baik baik saja disana? Apakah menyenangkan? Apakah ibu tidak kesepian? Aku rindu ibu tapi kasihan ayah, kalo aku tidak ada, ayah akan kesepian. Tidak ada yang akan mengurusnya. Aku pernah meminta ayah menikah lagi, bu. Tapi apa kata ayah? Kalo ayah menikah, ibumu akan cemburu dan marah hehehe.. ayah lucu ya, bu. Bagaimana mungkin ibu akan marah dan cemburu, ibu kan sudah meninggal dan ada di tempat berbeda. Maaf ya, bu. Bukan karena aku tidak sayang ibu,maka aku meminta ayah menikah. Aku ingin ada yang mengurus ayah. Setelah ibu tiada, ada aku yang merawat ayah. Tapi bagaimana kalo aku tidak ada? "

Si gadis terdiam, bibirnya bergetar berusaha menahan tangis. Lalu pada matanya yang indah, aliran basah perlahan menetes,menelusuri pipi, hidung,bibir lalu jatuh menyentuh jilbab pink yang dipakainya.

"Aku sangat rindu,ibu. Dan..mungkin tidak lama lagi kita akan bertemu,bu. Ibu, tunggu aku ya. Aku akan datang menemani ibu. Ibu tidak akan kesepian lagi..."

Kemboja tercekat. Ucapan si gadis menghadirkan tanya dalam benaknya.

"Apa gadis itu ingin berkemah disini? Apa dia tidak tahu betapa menyeramkan suasana disini saat malam hari?"

Hari berlalu. Setiap hari Kemboja menanti kehadiran gadis itu. Namun setelah seminggu, gadis itu tak juga muncul. Kemboja pun terlupa dan mulai mengisi lembaran hari hari seperti sediakala.

Dua minggu kemudian, saat pagi buta, Kemboja terusik oleh kehadiran beberapa orang. Mereka membawa cangkul, sekop dan martil. Kemboja makin terpana ketika mereka menghancurkan dan membongkar makam ibu si gadis.

"Heiiiii kenapa kalian mwnghancurkan makam itu? Apa yang kalian cari?"

Namun tak ada yang mendengar teriakan Kemboja. Mereka terus menggali makam hingga berbentuk liang, seolah hendak memguburkan seseorang.

Lalu orang-orang itu pergi. Kemboja menatap sedih kearah makam ibu si gadis yang kini tak berbentuk. Bekas keramik merah maron berserakan, bercampur dengan tanah galian kubur.

Lepas tengah hari rombongan orang muncul bersama keranda berselimut kain hijau. Isak tangis pilu terdengar. Kemboja mulai penasaran, siapa gerangan kali ini yang dimakamkan.

Mereka mengelilingi liang bersiap memulai proses menguburkan jenazah.
Seorang lelaki paruh baya nampak sangat terpukul. Dia dipapah kiri kanan. Menagis sambil menatap liang.

Kemboja tak kuasa menahan haru. Meski ini bukan kali pertama,namun setiap kali melihat tangisan orang-orang yang ditinggalkan, Kemboja ikut larut dalam kesedihan. Perpisahan memang menyedihkan...

Namun seketika Kemboja terhenyak,tak percaya apa yang tampak di depannya. Seseorang membawa foto besar berbingkai. Wajah dalam foto itu kian jelas terlihat.

"Bukahkah? Bukankah gadis itu yang beberapa waktu lalu berziarah ke makam ibunya? Apakah gadis itu yang meninggal?"

Kemboja makin penasaran. Ingatan Kemboja pun terurai. Sekarang dia paham akan ucapan si gadis terakhir kali sebelum meninggalkan makam ibunya. Ketika itu, dua minggu yang lalu,Kemboja mendengar curhatan hati si gadis pada ibunya yang telah lebih dulu menghuni makam.

"......Sarah sekarang tidak menderita lagi. Tidak merasakan sakit lagi. Semoga dia bahagia bisa bertemu ibunya. Semoga arwahnya diterima Allah SWT. Aamiin."

Mendengar ungkapan doa yang diucapkan pihak keluarga untuk Sarah, si, gadis bermata indah, Kemboja kian merasa pilu.

*****

Makassar, 12 Juli 2016







0 komentar:

Posting Komentar