
Aku bukan siapa-siapa. Hanya perempuan biasa yang sederhana. Cara berpikir dan caraku menilai sesuatu begitu sederhana. Selalu melihat segala hal dengan sisi yang positif karena itu ( mungkin) aku selalu menjadi korban dari kemunafikan. Dari sisi negatif yang tak kubiarkan hadir di hatiku.
Bagimu aku adalah peri. Dewi penolong yang selalu tulus berada di sampingmu saat mengalami kesulitan. Dulu aku bahagia menjadi seseorang yang kau butuhkan. Namun kini, aku harus mengakui. Aku tak ingin menjadi peri dalam hatimu karena aku bukan peri. Aku manusia, seorang gadis yang mempunyai rasa cinta dan keinginan untuk di cintai...
Wahai belahan jiwaku, adakah aku dalam ingatanmu? Adakah kisah kita mewarnai kenanganmu? Apakah ingatanmu tentangku serupa yang aku pikirkan saat ini? Rasaku bukan sesaat, itu adalah jejak hatimu yang baru kusadari telah lama ada dihatiku. Mungkin karena terlalu lugu, aku bahkan tak menyadari rasa yang hadir dan menemaniku selama ini.
Hadirku dalam hatimu (mungkin ) memiliki arti yang lain. Keinginanku dan keinginanmu (mungkin) juga berlainan arah. Namun kita berdiri di tempat yang sama hingga tak sadar rasa kita menyatu dengan mimpi yang berbeda. Dulu, kita memiliki pandangan yang sama. Tentang persahabatan dan cinta. Entah aku yang berubah ataukah dirimu, semua kini tak sama lagi.
Ada rasa cemburu yang kini hadir di hatiku, tak lagi seperti dulu. Genggaman tanganmu kini mampu membuat tubuhku serasa tersengat listrik yang membuatku merinding dan gemetar. Senyummu kini membuatku tak lelap dalam tidurku. Adakah kau masih seperti yang dulu? Mungkin aku yang telah berubah.
Harapku selalu dalam doa, rasaku tak salah.
----------------
0 komentar:
Posting Komentar