
Suatu pagi di kediaman mantan kades Hans.
“Udah hampir lewat bulan Februari tapi rumah ini masih belum juga
dihuni srikandi belahan jiwaku.” Gumam mas Hans dengan wajah nelangsa.
“Akankah aku jomblo selamanya? Tidakkah ada yang tertarik menjadikan aku suami atau menantu?”
Dihembuskannya nafas berat berusaha menahan beban batin yang setiap saat menghimpit hati dan pikirannya.
“Kemana perginya belahan jiwaku? Harus aku cari kemana lagi?” teriak mas Hans menumpahkan kegelisahannya.
“Aku disini mas Hans.” Sahut suara merdu namun terdengar familiar di telinga mas Hans.
Tubuhnya berbalik dan seketika matanya melotot nyaris lepas dari wajahnya.
“Dorma?!? Kamu? Kamu? Benarkah?” tatapnya tak percaya sementara Dorma terus mendekat dengan langkah anggun.
“Aku mau mengantarkan undangan rapat di balai desa, mas Hans.” Ucap
Dorma lalu menyerahkan amplop putih. Dia kemudian pamit meninggalkan mas
Hans yang masih terpaku bingung.
“Dorma, Dorma. Mengangetkanku saja...” Gumam mas Hans dengan perasaan lega.
Sementara dalam perjalanan menuju kantor desa, Dorma larut dalam lamunan.
“Mas Hans, seandainya aku belahan jiwamu...” bisiknya lirih sambil menatap birunya langit.
****
0 komentar:
Posting Komentar