Senin, 28 Mei 2012

Mentari Esok Menanti

0

 

Sejak setengah jam yang lalu aku berada di ruang tunggu keberangkatan. Duduk sendiri di kursi paling ujung sambil memandangi berbagai macam rupa orang-orang yang lalu lalang. Sekeliling kulihat sebagian calon penumpang terlelap di kursi panjang. Malam telah larut.

Aku juga mulai mengantuk. Tengah malam seperti ini, biasanya aku sedang berselimut di kamarku. Namun kejadian mendadak mengharuskan aku untuk segera berada di kotamu esok pagi. Bukan hal yang aku inginkan. Kota yang selalu aku hindari akhirnya esok menjadi awal aku menjejakkan kaki setelah sekian lama kutinggalkan.

Pulang berarti membuka kisah lama. Mengorek luka yang telah lama mengering. Mungkin tak lagi sesakit dulu, namun bekasnya masih ada dan selalu ada rasa perih manakala aku melihat luka itu. Adakah kau juga merasakannya? Mungkin tidak karena sepeninggalku ada seseorang yang menemani hari-harimu. Aku tidak perlu bertanya siapa dia, penolakanmu menjadi belati yang membuatku tak ingin kembali.

Sayang hari ini sumpahku terpaksa kubatalkan. Keinginan ayahmu untuk melihatku di akhir hidupnya membuatku melepaskan ego. Aku tak ingin menjadi anak durhaka hingga mengabaikan rasa dari orang yang telah membesarkanku. Meski terluka, aku harus kembali. Memberi kebahagiaan di akhir hayatnya mungkin adalah pengabdian terakhir yang bisa aku lakukan.

Kupandangi dinding kaca dengan air mata yang menetes perlahan. Aku tak sanggup menahan luka ini tapi aku harus bertahan. Kehadiranku sangat di harapkan. Aku tak ingin ada penyesalan yang ke dua kali. Cukup sudah aku kehilangan kesempatan bertemu ibumu, hingga amarahmu memuncak menjadi letupan emosi yang memerahkan telingaku. Aku tak ingin mengalami kejadian itu lagi.

Panggilan untuk penumpang pesawat yang akan aku tumpangi terdengar. Aku menghapus air mataku lalu berdiri menyeret koper kecilku. Kurapatkan jaket karena hawa dingin serasa menyergapku.

Samar-samar kulihat sosokmu berdiri di dekat pintu. Jantungku berdebar makin kencang. Aku tersenyum perih. Hayalanku tentangmu menghadirkan dirimu di dunia nyata. Bagaimana mungkin kau berada di sini? Aku menggerakkan kepalaku berharap kantuk hilang dan menghentikanku berhalusinasi.

Namun makin dekat, sosokmu makin nyata. Tidak menghilang meski aku beberapa kali mengerjapkan mata. Benarkah orang itu dirimu?

“Mbak, tiketnya?” petugas menegurku membuatku tersadar dari lamunan. Kau menghilang. Aku terus mencarimu ketika melewati lorong belalai menuju pesawat. Tak ada. Kantuk membuat hayalanku menjelma menjadi sosokmu.

Senyum ramah pramugari menyambutku. Aku tak ingin terjebak lamunan. Kali ini aku tak mau pikiranku di penuhi dirimu yang membuatku bingung sendiri. Semoga esok hatiku tegar saat kita bertemu. Aku tak ingin memperlihatkan luka di depanmu. Airmataku hanya milikku.  Cukup untukku saja kesedihan ini.

“ Kursi nomor berapa?” tegur pramugari ramah.

“ Enam belas.” Jawabku sambil mencari nomor kursi. Pramugari membuka jalan agar aku bisa melewatinya.

Kursi tempatku terlihat. Aku menaruh koper kecil di tempat bagasi lalu duduk. Kulirik penumpang di sebelahku. Rupanya dia kantuk berat hingga tertidur sambil menutup wajahnya dengan jaket.

Setelah pesawat tinggal landas, aku bersiap untuk tidur. Mataku sejak tadi terasa perih karena terus menahan kantuk.

Aku tersentak kaget dan membuka mata ketika kurasakan tangan seseorang menggenggam erat jemariku. Refleks kutarik tanganku namun genggaman itu tetap kuat bertahan. Aku marah karena merasa di lecehkan. Kata-kata telah siap meluncur dari mulutku ketika si penumpang membuka jaket yang menutupi wajahnya.

“Dandi?” seruku kaget. Dia hanya tertawa.

“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyaku. Dandi tersenyum lalu merapatkan jaketnya.

“Aku ingin melamarmu.”

“Apa?? Aku membelalak kaget.

“Jangan menolakku, apa kamu ingin aku terjun dari atas pesawat ini karena patah hati?”

“Tapi aku tidak mencin....” Dandi buru-buru menutup mulutku seolah dia telah tahu kalimat yang akan aku ucapkan.

“Bukan kalimat itu yang ingin aku dengar. Cukup biarkan aku dengan rencanaku. Kamu tenang saja. Aku tidak akan seperti dia yang melukai hatimu..”

Aku terpana. Untuk kesekian kali aku di buat kaget oleh sikap Dandi.

“Siapa yang kau maksudkan?” aku masih ragu akan ucapannya.

“Mirwan. Siapa lagi? Bukankah dia yang telah membuatmu terluka hingga berulang kali membatalkan tiket pulang kampung?”

“Da..da..rimana kamu tahu?” aku makin bingung. Rasa cemas mulai menghampiriku.

“Diary kecilmu. Aku tahu segalanya.” Seketika aku lemas. Kecurigaanku benar.

Tangan Dandi kembali menyentuh jemariku.

“Beri aku kesempatan. Jika aku gagal membahagiakanmu, tanpa kau minta aku yang akan pergi dari kehidupanmu.”

Ucapan dan tatapan penuh ketegasan dari Dandi membuatku terdiam dan hanya mampu membalas dengan mata berkaca-kaca. Sekuat hati aku ingin melepaskan bayang Mirwan, namun dia tetap ada di sana. Bahkan seolah sedang tersenyum menanti kehadiranku. Dandi maafkan aku, semoga waktu bisa membuatku belajar mencintaimu.***

===========


0 komentar:

Posting Komentar