![]() |
Anda biasa menerima kembalian pecahan 100
rupiah atau 200 rupiah? Apa yang biasa anda lakukan pada uang tersebut? Disimpan
hingga nilainya mencukupi untuk dipakai berbelanja? Atau disimpan dan
sewaktu-waktu digunakan untuk membayar pembelian barang yang terkadang penjual
tidak memiliki uang kecil untuk kembalian?
Saya pribadi kebanyakan hanya menyimpan
pecahan 500 di kantong tas. Sementara pecahan 100 atau 200 saya simpan atau
lebih tepatnya saya tabung untuk kemudian saya tukarkan di mini market dekat
rumah yang menjadi langganan saya dalam hal penukaran uang recehan.
Bukan tanpa alasan saya menukar uang tersebut,
karena beberapa kali berbelanja dan saya memberikan uang pecahan 100 atau 200
yang telah tersusun rapi dan saya bungkus dengan lakban, penjual menolaknya.
Alasannya, uang tersebut tidak ada yang mau menerima. Terpaksa saya
mengeluarkan selembaran uang lima ribuan untuk membayar barang yang saya beli.
Kesempatan lain saya juga pernah melihat
tetangga saya yang ingin membeli mainan mobil-mobilan di penjual mainan yang
biasa berkeliling kompleks. Saat akan membayar dan si penjual melihat uang yang
diberikan tetangga saya, dia langsung menolak. Alasannya sama dengan yang biasa
saya dengar, tidak ada yang mau menerima uang tersebut.
![]() |
Timbul pertanyaan dalam benak saya, jika
tidak ada yang mau menerima uang recehan tersebut kenapa uangnya masih beredar
di pasaran? Kenapa tidak ditarik saja? Bukankah lebih baik kita menerima
kembalian dalam bentuk uang recehan daripada sebiji atau dua biji permen yang
belum tentu kita suka? Lagipula permen tak bisa kita gunakan untuk membeli
barang lain. Apakah ada penjual yang mau menerima permen sebagai pengganti
uang? jawabannya tentu tidak.
Ini mungkin hal sepele dan terkadang tidak
terlalu ditanggapi. Mungkin anda sering menerima kembalian dalam bentuk permen
dan menganggapnya biasa saja. Menerima dan langsung menyimpan permen tersebut
yang entah kapan akan kita kunyah. Seringkali malah kita lupa jika ada permen
dalam tas kita.
Jika hal tersebut berlangsung secara terus
menerus saat kita berbelanja. Berapa
banyak permen yang tersimpan? Seperti sebuah pemaksaan agar kita membeli permen
walau dalam bentuk halus adalah menerima kembalian pembayaran kita meski dalam
bentuk permen.
Beberapa mini market nampak berupaya memberi
kembalian menggunakan uang recehan. Mungkin saat persedian uang recehan tak
ada, mereka baru memakai permen sebagai kembalian. Namun kebanyakan seperti
pengalaman saya, menerima permen atau merelakan saja kembaliannya tersimpan
dalam laci penjual karena alasan tak ada uang kecil.
Mungkin sudah saatnya pemerintah
memperhatikan hal ini. Bisa saja dengan menarik uang recehan tersebut atau memberikan
kebijakan mengenai harga-harga yang berlaku dipasaran. Patokan harga tidak
boleh tanggung seperti Rp. 3.200. Harus pas Rp. 3.500 atau Rp. 4.000.
Namun kembali lagi ke strategi pemasaran.
Para penjual merekayasa harga sebagai taktik untuk menarik pembeli. Misal
dengan mencantumkan harga Rp. 9.800. Yang terlihat oleh pembeli adalah angka
sembilan. Angka delapan ratus di belakangnya luput dari pengamatan. Dan saat di
depan kasir, jika kembalian tidak ada kembali pembeli menerima permen. Jika ada
kembalian, uang recehan tersebut tetap tidak bisa digunakan.
Ini adalah pengalaman saya, entah pembaca
mengalami hal seperti saya atau tidak. Uang recehan yang saya miliki menjadi
langganan mini market dekat rumah. Tidak pernah saya gunakan berbelanja. Jika
ada yang mengalami seperti saya, segera hubungi mini market terdekat dan
tanyakan apakan mereka membutuhkan uang recehan atau menerima pembayaran
menggunakan uang recehan?
Jika mereka menerima segera tukarkan uang
recehan anda. Ini untuk menghindari uang recehan anda bertumpuk dalam kotak dan
tidak berfungsi sama sekali. Uang recehan anda akan berubah menjadi uang kertas
dan bisa kembali digunakan untuk berbelanja. Selamat mencoba.
Makassar, 29 Desember 2015




0 komentar:
Posting Komentar