Seringkali aku meminta
suamiku untuk membelikan sebuah hiasan kupu-kupu warna perak ungu. Hiasan
yang bagiku sangat indah. Namun Mas Fandi hingga kini belum juga memenuhi
permintaanku itu. Lupa adalah alasan yang selalu menjadi jawaban ketika aku
menanyakan tentang pesananku padanya. Mungkin bagi suamiku permintaanku itu
terlalu mengada-ada. Apalagi dia seorang pria, ada rasa sungkan untuk mencari
benda yang aku pesan. Padahal aku telah menyebutkan alamat toko yang
menyediakan hiasan kupu-kupu tersebut.
Aku juga sebenarnya bisa
membeli sendiri di toko langgananku. Tapi bukan itu tujuanku. Dalam
permintaanku itu ada perwakilan asa. Sebentuk tanda cinta dari suamiku untukku.
Mengukur kadar perhatiannya padaku yang akhir-akhir ini kurasakan sangat
berkurang. Permintaan itu hanya simbol. Adakah perhatian suamiku masih sama
seperti dulu ataukah perasaannya telah berubah seperti sikapnya yang acuh
menanggapi permintaanku.
Namun sore ini kembali untuk yang kesekian kalinya,
aku harus menelan kekecewaan. Seperti biasa, lupa menjadi alasan utama yang
meluncur manis tanpa rasa bersalah dari Mas Fandi.
“Maaf, sayang. Mas kelupaan
tadi. Besok saja ya..” Ucap suamiku ketika berpapasan denganku di ruang tengah
lalu masuk ke dalam kamar. Aku hanya bisa terdiam mengamati tubuhnya yang terlihat
lesu sepulang kerja. Walau kesal namun aku maklum dengan kondisinya yang kelelahan.
****
Keesokan harinya saat
sarapan.
“Jangan lupa lagi ya,mas.”
Kataku mengingatkan. Suamiku tersenyum
lalu menggiyakkan. Dirinya paham jika yang aku maksud adalah hiasan
kupu-kupu.
Aku masih menaruh harapan.
Meski khawatir namun sepanjang hari aku tetap tidak ingin menelpon untuk
sekedar mengingatkannya kembali. Semoga kali ini dirinya tidak lupa.
Kutunggu hingga malam, namun
suamiku tidak juga kembali dari kantor. Aku akhirnya menelpon.
“Halo, mas.”
“Ini siapa?” Suara lembut
seorang perempuan mengagetkanku.
“Ini siapa?” Aku balik
bertanya dengan perasaan tak nyaman. Mendengar seorang wanita menjawab telepon
suami sendiri, wajar jika aku heran.
“Aku istrinya. Maaf ya, Mas
Fandi baru tiba dari luar kota. Baru saja istrahat. Boleh tahu dengan siapa
saya bicara?”
Aku terkejut dan bingung
hingga tak menjawab. Kuperhatikan lagi nomor handphone yang kutuju, benar ini
nomor handphone mas Fandi. Lalu wanita yang mengaku sebagai istrinya itu siapa?
Bukankah hanya aku istri Mas Fandi?
“Halo...halo...” Suara
wanita itu masih terdengar sebelum aku memutuskan sambungan telepon.
Lama aku terpaku seperti
baru saja melihat hantu. Mas Fandi dari luar kota? Sejak kapan Mas Fandi keluar
kota? Bukankah seminggu yang lalu dia baru saja kembali dari dinas luar? Lalu
mengapa ada wanita lain yang mengaku sebagai istrinya dan mengatakan Mas Fandi
baru kembali dari luar kota?
Aku teringat dengan
Blackberry yang sejak tadi aku charge dan lupa aku on kan. Aku dan suamiku
lebih sering berkomunikasi melalui BBM. Aku berlari cepat masuk ke dalam kamar.
Kuraih Blackberry lalu dengan cepat menekan tombol on. Beberapa detik terasa
lama bagiku. Kurasakan tubuhku gemetar
karena gugup menanti.
Saat sinyal pada benda putih
itu telah benar-benar sempurna, berbagai jenis suara berdesakan muncul dan
saling tumpang tindih. Tapi bukan itu yang menjadi fokus utamaku. Aku mengklik
pesan BBM yang masuk. Ada nama Mas Fandi.
Rina
sayang, mendadak mas ditugaskan keluar kota. Maaf pesananmu belum bisa mas
belikan. Nanti sekembali mas dari dinas luar ya. Sabar ya sayang. Kemungkinan
mas dua minggu dinasnya. Jaga dirimu baik-baik ya, I Love You.
Blackberry terlepas dari
genggamanku. Butiran bening dari kedua mataku menetes seketika namun segera kuhapus
dengan jemariku. Aku masih tidak percaya jika selama ini Mas Fandi memiliki
wanita lain. Kutarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannnya perlahan.
Kuyakinkan diriku untuk tetap berpikiran positif tentang suamiku. Mungkin saja
wanita itu salah sebut atau mungkin saja dia bercanda. Aku berandai-andai
berharap aku yang salah mendengar ucapan wanita itu.
Setelah menenangkan diri
beberapa saat, aku mencoba menghubungi handphone mas Fandi kembali. Namun kali
ini aku telah mempersiapkan mentalku jika yang kudengar nanti benar-benar hal
yang mengejutkan.
“Halo...” Sengaja tidak
kusebut kata mas seperti saat aku menelepon tadi.
“Halo...” Suara lembut wanita
yang tadi menerima teleponku kembali terdengar. Aku menghela nafas sebelum bicara.
“Benar ini handphone Pak
Fandi?” Suaraku sengaja kuatur senatural mungkin.
“Benar. Mbak yang tadi
menelpon ya?”
“Benar saya, bu. Cuma tadi
saya kaget. Saya kira saya salah sambung hehehehe..” Aku merasa diriku berubah
menjadi detektif saat ini.
“Tidak apa-apa, mbak. Ini
benar nomor handphone Mas Fandi. Saya istrinya. Boleh tahu mbak namanya siapa?
Nanti saya sampaikan ke suami saya. Biasanya jam sepuluh dia baru bangun untuk
makan. Maklum baru dari luar kota, masih kelelahan.”
Aku makin cemas dan gelisah.
Cara wanita itu menuturkan tentang Mas Fandi membuatku merinding. Kurasakan
telingaku panas mendengarnya. Namun aku tetap berusaha bersikap tenang meski
didera emosi yang amat sangat. Aku harus menuntaskan masalah ini jika benar
sebuah kesalahan pahaman. Bagaimanapun aku tidak boleh menuduh suamiku tanpa
bukti yang jelas.
“Saya Hesti, bu. Direktur meminta saya untuk menghubungi Pak Fandi.”
“Oh, ya. Dari kantor mana
ya?”
Otakku berpikir cepat
mencari kantor yang bisa mewakili sandiwaraku.
“PT. Cahaya Karya
Persada,bu.” Aku menyebutkan nama kantor tempat temanku Hesti bekerja. Mas Fandi
tidak mengenal Hesti karena aku juga baru bertemu beberapa minggu yang lalu
dengannya. Selama ini Hesti bekerja di
propinsi lain dan baru saja di pindahkan ke kantor cabang di kota ini.
“Begini,bu...” Aku
melanjutkan ucapanku.
“Ada titipan dari direktur kami
yang akan diberikan ke Pak Fandi. Boleh tahu alamat rumah Ibu dimana?”
Wanita itu tidak merespon
ucapanku. Kudengar suara keributan dibelakangnya seperti suara anak-anak. Saat
mendengar wanita itu menegur anak-anak tersebut
agar diam sejenak membuat jantungku berdegup kencang. Anak-anak?!?!?! Apakah
mereka anak-anak mas Fandi? Hatiku kian berkecamuk.
Tidak lama kemudian wanita
itu menyebutkan alamat rumahnya. Aku mengucapkan terima kasih kemudian menutup
telepon. Kupandangi kertas bertuliskan alamat rumah Mas Fandi versi wanita itu.
Meski bukti handphone memastikan jika suami wanita itu adalah benar Mas Fandi,
tapi aku tetap memilih berprasangka baik. Setidaknya itu adalah sebuah doa dan
harapan dariku. Semoga ini hanyalah kesalahpahaman semata.
Tanpa menunggu esok hari,
aku menelpon taksi agar bisa segera menemukan alamat rumah wanita itu. Alamat
rumah yang tidak asing lagi bagiku karena dulu saat sekolah menengah, aku sering
berkunjung ke rumah teman yang tinggal di kompleks tersebut. Aku tidak
kesulitan menemukannya. Setelah memastikan alamat tersebut, aku kembali ke
rumah dengan batin nelangsa.
Aku makin yakin jika mas
Fandi ada didalam rumah tersebut setelah melihat mobil yang biasa dia pakai terparkir di teras depan garasi. Rumah
wanita itu terlihat mewah. Berbeda sekali dengan rumah yang kami tempati
sekarang ini, type 54 dan belum di renovasi. Mas Fandi seringkali beralasan
jika saat ini dirinya sedang mengumpulkan uang agar bisa merenovasi rumah kami.
Apakah ini hanya alasan untuk menutupi perbuatannya?
Aku duduk dipembaringan
sambil menatap foto perkawinan kami yang berukuran besar dan terpajang di
dinding kamar. Lembaran kenangan kembali terbuka dalam ingatanku. Pertemuan
dengan Mas Fandi lalu dilanjutkan dengan masa pacaran yang singkat sebelum
akhirnya kami menikah. Sikapnya yang lembut dan penuh perhatian membuatku
merasa sebagai istri yang paling bahagia di dunia ini. Meski kami belum
dikaruaniai anak tidak mengurangi kebahagiaan kami sebagai pasangan suami
istri.
Namun sikap Mas Fandi
belakangan ini kurasakan sangat berbeda dari biasanya. Semula aku berpikir suamiku merindukan sosok anak kecil dalam
rumah kami. Pemikiran itu kemudian berubah setelah sikapnya berubah acuh
terhadapku. Sekarang aku baru menemukan alasan dari perubahan sikapnya itu.
Ternyata ada wanita lain selain diriku yang mengaku sebagai istrinya. Entah aku
yang di duakan ataukah wanita itu. Aku hanya tahu saat Mas Fandi menikah
denganku statusnya lajang dan belum pernah menikah. Mungkinkah Mas Fandi telah
menipu aku dan keluargaku?
Mungkin karena saat itu aku
terlalu gembira hingga menerima alasan apapun yang dikemukakan oleh suamiku. Sewaktu kami menikah, tak ada satupun rekan
karja Mas Fandi yang hadir. Alasan Mas Fandi karena kami menikah diluar kota.
Kami menikah ditempat ayahku ditugaskan jadi wajar saja jika tak ada satupun
teman kerja Mas Fandi yang datang. Selain itu tak ada keluarga yang menemani
Mas Fandi. Hanya dua orang pria yang diakui sebagai sahabatnya hadir
menyaksikan pernikahan. Kedua orang tuanya tidak bisa hadir karena mereka
berada jauh di Sumatera dan sedang sakit hingga tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan
yang jauh.
Berbeda dengan statusnya.
Soal pekerjaan sepertinya tak ada yang disembunyikan Mas Fandi dariku. Hanya
saja malam ini aku mulai merasakan keanehan yang baru aku sadari. Mas Fandi bertugas
di bagian keuangan dan sering mendapat tugas untuk mengaudit kantor cabang. Itu
pengakuannya padaku sejak kami pacaran dan kemudian menikah empat tahun yang
lalu.
Jika mendadak ditugaskan,
Mas Fandi tidak perlu kembali ke rumah untuk mengambil perlengkapan. Di
kantornya telah ada sekoper pakaian lengkap dengan semua peralatan mandi yang
memang khusus disiapkan jika mendadak akan tugas. Karena itu aku tidak menaruh
curiga sedikitpun setiap kali mas Fandi keluar kota dan hanya mengirim pesan
singkat via BBM padaku. Namun enam bulan terakhir, aku merasa aneh dengan
jadwal tugas luarkota yang rutin dua kali dalam sebulan. Jadi hampir lima belas
hari dalam sebulan, Mas Fandi tidak bersamaku. Apakah benar suamiku tugas
keluar kota?
Keanehan yang lain, Mas
Fandi tidak pernah sekalipun mengajak
aku ke kantornya. Ketika acara ulang tahun kantornya, suamiku beralasan jika
acara tersebut dirayakan secara sederhana dan hanya dihadiri oleh karyawan
kantor saja. Aku akhirnya tidak bertanya lagi saat perayaan ulang tahun kantor
Mas Fandi diadakan tahun berikutnya. Percuma menanyakan hal yang aku sudah tahu
jawabannya.
Sendirian memikirkan
masalahku membuat kepalaku panas hingga aku tidak bisa tertidur padahal telah
lewat tengah malam. Aku kemudian
mengambil air wudhu lalu sholat tahajjud
memohon petunjuk pada Allah SWT. Airmataku tak henti-hentinya mengalir jatuh
membasahi mukena dan sajadah. Aku
benar-benar merasa tak berdaya, hampa dan kehilangan semangat. Aku bersujud
sambil berlinang airmata. Memohon ampun segala dosa yang selama ini mungkin
tanpa sengaja telah aku lakukan hingga Allah memberikan ujian seberat ini. Aku bingung hendak memulai darimana
menyelesaikan masalah kami.
Lalu seperti menemukan
kekuatan. Aku bangun dari sujud lalu melepaskan mukena. Kutatap wajahku didepan
cermin. Tak ada daya tarik sama sekali karena mataku telah sembab setelah
menangis semalaman. Melihat wanita kuyu yang ada di dalam cermin,mendadak aku
merasa iba padanya. Nasehat apa yang bisa aku berikan pada wanita itu agar dia bisa
bangkit kembali dan menjadi wanita yang percaya diri? Aku tersenyum. Aku tahu
nasehat apa yang bisa aku berikan padanya.
****
Dua minggu kemudian.
“Mas, kapan-kapan kalau mas
dinas luar kota. Aku ikut ya? Aku bosan sendirian terus di rumah.” Mas Fandi nampak gusar mendengar
permintaanku.
“Lalu, bisnismu gimana
sayang?”
Aku tersenyum seraya merangkulnya dari belakang.
Aku tersenyum seraya merangkulnya dari belakang.
“Bisa kutinggal kok. Libur sesekali bersama suami ke luar kota, tidak apa-apa kan?”
Aku tidak melihat ekspresi wajah
suamiku ketika mendengar permintaanku. Tekadku sudah bulat, aku akan ikut
sandiwara yang dilakukan suamiku. Entah sampai kapan sandiwara ini akan
berakhir. Apakah secepatnya atau mungkin juga lama namun yang pasti aku akan
menikmati setiap kebersamaan kami dan mulai mempersiapkan hatiku jika kelak hal
buruk terjadi.
“Hiasan kupu-kupu pesananku,
sudah mas belikan?” Kulepaskan rangkulanku lalu duduk di sebelah Mas
Fandi.
“Astaga, sayang. Mas lupa.
Maaf, ya. Atau bagaimana kalau kamu sendiri yang membelinya? Mas seringkali
lupa.”
Aku merengut mendengar ucapan
suamiku. Ada masalah besar dikepalaku dan hanya menunggu waktu untuk
meledakkannya. Mendengar kata-kata Mas Fandi aku nyaris lepas kontrol. Ingin
rasanya aku berteriak dan bertanya siapa wanita yang menjawab teleponnya. Aneh,
seharusnya jika suamiku memeriksa handponenya, dia tentu akan melihat panggilan
masuk dariku dua minggu yang lalu. Apakah Mas Fandi sama sekali tidak mengecek
panggilan masuk dihandphonenya?
Selesai makan malam, Mas
Fandi mengajakku berbicara di ruang tengah. Kami duduk berdampingan. Aku merasa
heran saat jemarinya menyentuh lembut punggung tanganku. Walau saat ini suamiku
terlihat sangat lembut dan perhatian namun aku sama sekali tak bisa menepiskan
sosok wanita yang mengaku sebagai istri Mas Fandi. Pikiranku masih dipenuhi
suara lembut wanita itu.
“Sayang, bagaimana pendapatmu jika ada seorang
suami menikah lagi?”
Aku tak menjawab hanya tersenyum mendengar
pertanyaan suamiku. Antena curiga dikepalaku seketika muncul.
“Kok tersenyum? Mas minta
pendapatmu.”
“Tergantung suami siapa dulu
dong, mas. Kalau itu suami orang lain, ya terserah. Mungkin itu sudah kesepatan
mereka sebagai suami istri. Tapi kalau suamiku yang menikah lagi, aku tidak
setuju mas.”
“Begitu ya? Seandainya mas
yang menikah lagi, bagaimana?”
“Kenapa mas mau menikah lagi?”
tanyaku berusaha menutupi rasa panik dalam hatiku.
Mas Fandi bangkit lalu
beranjak ke dalam kamar kemudian keluar
membawa map warna kuning. Map itu diletakkan di atas meja dihadapanku lalu
duduk disampingku. Aku tak bisa menebak tujuan suamiku menyodorkan map itu.
“Bukalah, lalu baca. Aku
perlu menyampaikan hal ini agar dirimu tidak kaget.”
Aku meraih map itu lalu
membukanya. Mataku membelalak kaget saat membaca tulisan berkas perceraian pada
lembaran didalamnya. Lebih tak percaya lagi ketika melihat yang tertera adalah nama
suamiku menggugat cerai diriku. Aku tak melanjutkan membaca, kupandangi suamiku
lekat-lekat.
“Ini maksudnya apa mas? Apa
mas sedang bercanda? Kita akan bercerai?” tanyaku masih tak percaya dengan
berkas yang baru saja aku baca.
Suamiku mengangguk.
“Mas tidak sedang bercanda.
Ini serius Rina. Mas ingin kita bercerai.”
Aku seperti baru saja
mendengar dentuman keras di telingaku. Berkas itu langsung kulemparkan ke
lantai. Emosiku memuncak. Darahku benar-benar mendidih. Mataku kurasakan panas
karena tak sanggup lagi menahan amarah yang tertahan dalam dada.
“Apa salahku mas?!?!?!”
teriakku histeris. Aku tidak peduli jika seluruh kompleks mendengarnya.
“Apa karena selama empat
tahun ini kita belum juga dikaruniai anak, lalu mas berpikiran untuk
bercerai?!?!“
Airmataku mulai menetes. Mas Fandi hanya menunduk.
“Dokter sudah mengatakan, kita
berdua tidak ada masalah. Hanya Allah belum memberikan kita kesempatan menjadi
orang tua. Kita harus berusaha dan bersabar, mas. Bukan malah bercerai. Apa
karena mas sudah tidak mencintai aku lagi?”
“Maafkan mas, Rina.
Tapi beberapa bulan ini mas sudah
memikirkan dan mempertimbangkan hal ini.”
“Benarkah? Jadi karena itu
sikap mas sangat aneh belakangan ini? Ternyata mas berniat menceraikan aku?
Tapi kenapa mas? Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik bagi mas. Jika
karena aku belum hamil juga, itu bukan salahku, mas. Lagipula jika kita saling
mencintai, kita bisa mengadopsi anak. Kedua orang tuaku juga punya anak setelah
menikah selama enam tahun. Apakah mas tidak bisa bersabar sedikit lagi?”
“Ini bukan soal anak. Ini soal
lain.”
“Lalu masalahnya apa? Apakah telah ada wanita lain yang
menggantikan aku dihati mas?”
Mas Fandi tak menjawab.
“Jawab mas! Apa karena sudah ada wanita lain yang menjadi istri mas diluar sana? karena itu mas ingin
menceraikan aku?”
Suamiku menoleh kaget
melihatku.
“Apa yang kamu bicarakan?
Istri yang mana?”
“Justru itu yang ingin aku
tanyakan, mas. Mengapa ada wanita lain yang menjawab panggilan dihandphone mas
dan mengaku sebagai istrimu? Aku tidak salah dengar. Aku sudah memastikan
dengan mendatangi alamat rumah wanita itu. Dan benar di rumah itu terparkir mobil mas. Padahal mas
baru saja mengirim pesan BBM kalau akan tugas keluar kota. Ternyata tugas luar
kota itu mendatangi rumah istri mas yang lain.”
“Darimana kamu dapatkan
kabar itu Rina?” Suamiku masih berusaha berkelit namun wajahnya mulai terlihat
pucat sementara aku makin emosi.
“Mas kaget karena aku sudah
tahu kalau ternyata selama ini mas sudah memiliki istri lain? Siapa yang lebih
dulu jadi istri mas? Dia atau aku?.... Ohhh..., tentu saja dia. Mas kan sudah
punya anak dari wanita itu. Tentu saja dia yang lebih dulu. Tega sekali mas
membohongi aku dan keluargaku, mengaku sebagai bujangan saat menikahiku.”
Airmataku berderai. Aku histeris sambil menangis.
“Rina tenangkan dirimu, biar
mas jelaskan masalah yang sebenarnya. Mengambil kesimpulan sendiri tanpa
mendengar penjelasan dariku, itu hanya akan menyakiti kita berdua.”
“Aku yang sakit mas! Bukan
mas! Wanita mana yang rela suaminya memiliki wanita lain. Aku juga tidak mau!
Seandainya sejak awal aku tahu mas sudah menikah, aku tentu tidak mau pacaran
dan menikah dengan mas!”
“Status mas masih bujangan
saat menikah denganmu, Rina.” Jawaban suamiku membuatku terpana mendengarnya.
“Dan wanita yang kamu
sebutkan tadi, dia adalah Nezya, adik ipar mas. Istri dari adik kembar mas, Ervandi.”
Aku makin terperangah. Apa yang disampaikan Mas Fandi membuatku penasaran.
“Lalu kenapa wanita itu yang
mas nikahi? bukankah dia istri adikmu? Dia wanita bersuami mas.” Aku menyela
sambil tetap menangis.
“Adikku meninggal enam bulan
lalu. Nezya dan anak-anaknya juga baru pindah ke kota ini. Mas bertemu mereka
secara tak sengaja di mini market. Mas kaget ketika seorang anak laki-laki
berlari ke arah mas sambil berteriak kegirangan. Anak itu tiba-tiba memeluk mas
sambil memanggil papa. Tidak lama kemudian dua anak lain menyusulnya, anak
perempuan dan laki-laki. Keduanya juga ikut memeluk mas dan memanggil papa. Mas
mengira mereka mungkin salah orang namun ketika mas melihat Nezya, mas jadi
paham. Anak-anak itu tentu mengira jika mas adalah papa mereka.”
“Kalau adik mas sudah
meninggal kenapa harus mas yang menggantikannya? Bukankah mas sudah menikah?
Kenapa dia tidak mencari orang lain saja untuk menggantikan almarhum suaminya.
Bukan malah merusak rumah tangga saudara sendiri?” kataku penuh emosi.
“Dulu saat kita menikah. Tak
ada satupun perwakilan keluarga yang hadir. Kamu tahu kenapa? Karena mas sudah
membuang diri mas dari keluarga. Mas sakit hati karena orang yang sangat mas
cintai dan mencintai mas, justru dipilihkan orang tua mas untuk menjadi jodoh
Ervandi.”
“Maksud mas, Nezya wanita
yang mas cintai itu?” Suamiku mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Keluarga mas dan keluarga
Nezya sejak lama akrab. Karena itu tak ada yang tahu jika kami menjalin
hubungan, apalagi kami menjalaninya secara diam-diam. Mas baru selesai wisuda
dan berencana melamar Nezya ketika ayah memberitahu jika Ervandi akan menikah
dengan Nezya. Tanggal pernikahan mereka telah ditentukan. Mas tidak sanggup
bertahan di rumah saat itu. Dengan alasan ada panggilan kerja, mas pergi
merantau, mengasingkan diri. Memutuskan segala kontak hubungan dengan keluarga.
Mas tidak menyalahkan orang tua mas apalagi Ervandi yang diam-diam mencintai
Nezya. Mas menyalahkan diri sendiri karena tidak berterus terang sejak awal.
Penyesalan itu membuat mas tak ingin tahu kabar apapun tentang keluarga mas.
Bahkan ketika Ervandi meninggal, mereka tidak tahu hendak menghubungi siapa
untuk memberitahu mas.”
“Lalu apakah mbak Nezya tahu
mas sudah menikah? Apakah dia yang meminta mas menikahinya?” Suamiku
menggeleng.
“Mas yang melamarnya. Nezya
tidak tahu jika mas telah menikah ..”
“Kalau begitu biar aku saja
yang memberitahu mbak Nezya, mas. Setelah
dia tahu, terserah dia yang
memutuskan. Menerima atau menolak mas..”
“Kami sudah menikah secara agama,
Rina. Karena itu status mas adalah suaminya sekarang.” Kurasakan mataku nyaris
melompat mendengar pengakuan suamiku.
“Jadi ucapan mbak Nezya
kalau mas itu suaminya ternyata benar. Mas tidak sedang bercanda kan?”
“Mas tidak bercanda. Nezya
tahu atau tidak tentang pernikahan kita, mas tidak peduli. Mas tetap ingin kita
bercerai Rina. Mas tidak ingin menyakitimu namun kehadiran Nezya seperti
memberi kesempatan kedua bagi mas untuk mewujudkan impian mas mengarungi
bahtera kehidupan bersamanya. Apalagi disana ada anak-anak yang butuh figur
papanya. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti tentang kematian. Mereka
bahkan belum pernah mengunjungi makam papanya.”
Airmataku makin deras
mengalir saat mendengar ucapan Mas Fandi. Hatiku terluka mengetahui lelaki yang
telah menjadi suamiku selama empat tahun ini ternyata lebih mencintai wanita
lain daripada diriku. Aku beranjak dari kursi menuju kamar. Kamar yang mungkin
tak akan pernah menjadi milik kami lagi.
“Maafkan mas,Rina.”
Suara Mas Fandi menahan
langkahku. Kurasakan tubuhku tak lagi bertenaga. Kupandangi wajah Mas Fandi.
Tatapan matanya kini berbeda. Tak lagi berbinar seperti saat pertama kali kami
bertemu. Aku tidak menemukan sinar cinta lagi disana.
“Pernahkah mas mencintaiku
sepenuh hati?” tanyaku pilu.
“Pernah, sebelum kehadiran
Nezya. Sekali lagi maafkan mas, Rina.”
Aku berbalik lalu melangkah
gontai menuju kamar kami. Semua pakaian
yang ada dalam lemari aku keluarkan. Kumasukkan secara serabutan kedalam koper.
Aku tak bisa lagi mengatur dengan baik dan melihat apa saja yang telah aku
bereskan ke dalam koper. Mas Fandi tidak menyusulku ke dalam kamar. Aku tidak
peduli lagi. Dalam benak suamiku yang ada hanya berkas perceraian, hal yang
membuatku naik pitam jika mengingatnya.
“Sayang, kamu mau kemana?”
tiba-tiba Mas Fandi muncul dikamar. Aku tidak suka caranya memanggilku dengan
kalimat sayang. Sekarang kata-kata itu terdengar menggelikan.
“Aku mau pulang ke orang
tuaku.” Jawabku ketus.
“Kenapa harus pergi? Ini
rumahmu. Mas berikan padamu. Mas yang akan pergi dari rumah ini.”
“Untuk apa aku tinggal
disini, mas? Toh kita akan bercerai. Aku tidak mau tinggal di rumah ini lagi.”
“Rumah ini tetap milikmu.
Terserah apakah nanti akan kamu tinggali atau jual. Mas sudah berikan padamu.”
Aku tidak berkata-kata lagi.
Rasanya malas menanggapi perkataan mas Fandi. Kuseret koperku satu persatu
keluar dari kamar. Hanya sebagian barang yang aku bawa. Selebihnya akan aku
ambil kemudian. Aku tidak ingin berada di rumah ini lebih lama lagi dan seatap
dengan lelaki yang akan menceraikanku.
“Jangan membantuku mas!
Jangan mengantarku!” kataku saat kulihat Mas Fandi siap menyeret koperku.
“Itu tambah melukai hatiku.
Biarkan aku pergi.” Mas Fandi kemudian mundur.
Aku berjalan gontai keluar
rumah sambil menyeret kedua koperku. Setelah menelpon taksi, aku kembali masuk
ke dalam rumah terus menuju ruang tengah. Kuraih pulpen dan berkas yang tadi
disodorkan mas Fandi padaku. Tanpa ragu aku menandatangani berkas itu kemudian
kuletakkan kembali di atas meja. Kulihat mas Fandi berdiri di pintu kamar, menatapku
dengan wajah sendu.
“Aku pergi mas. Maafkan
segala tingkah lakuku yang mungkin menyakiti mas. Jika ada hal yang ingin mas
sampaikan padaku, mas tahu dimana harus mencariku.”
Kataku sebelum berbalik
melewati ruang tamu terus menuju teras. Kembali kuseret kedua koperku menuju
pintu pagar. Tubuhku benar-benar tak bertenaga. Hanya kemarahan yang
menggerakkanku saat ini. Saat membuka pintu pagar, tangisku kembali pecah. Apalagi
saat aku berbalik memandang rumah kami. Rumah yang selama empat tahun tahun ini
telah menjadi tempat kami memadu cinta. Rumah yang hanya akan jadi kenangan
cinta kami yang harus berakhir.
Ketika taksi mulai bergerak
perlahan, kulihat Mas Fandi keluar dari
rumah kami. Salah, itu bukan lagi rumah kami. Entah itu rumahku atau rumah Mas
Fandi, saat ini aku tidak memikirkan soal pembagian harta gono gini. Membenahi
perasaanku lebih penting daripada sekedar pembagian harta. Aku hanya ingin
segera tiba di rumah orang tuaku dan menumpahkan segala kesedihanku. Segera
kupalingkan wajahku dari Mas Fandi. Hatiku terluka meninggalkannya. Kupejamkan
mata agar bisa bertahan tak melihatnya.
Hatiku makin sakit jika
mengingat kedua orang tuaku. Membayangkan
wajah mereka yang murung saat melihatku membuatku semakin sedih. Empat tahun yang lalu ayah dan ibu sangat gembira
menikahkan aku, kini aku kembali sebagai istri yang akan diceraikan suaminya.
Malangnya nasibku. Sopir taksi beberapa kali menatap heran padaku. Aku yakin
siapapun itu akan miris melihat keadaanku. Meski tadi aku berusaha tegar namun
kini ketegaranku kembali runtuh.
“Pak, tolong ke toko
Souvenir Bunda di jalan Pramuka.” Ucapku pada pak sopir. Pria paruh baya itu
kemudian mengarahkan mobilnya menuju jalan pramuka.
“Kita sudah sampai, bu.” Aku
menatap ke arah toko yang masih terlihat
ramai. Tidak mungkin aku keluar dengan mata sembab seperti ini. Aku hanya akan
jadi pusat perhatian mereka.
“Pak, bisa minta tolong?
Belikan saya hiasan kupu-kupu warna perak ungu. Saya tidak bisa masuk ke toko
dengan wajah seperti ini. Bapak mengerti kan?”
“Bagaimana cara saya
menemukannya, bu?”
“Bapak tanya saja sama
karyawan toko. Mereka sudah tahu dimana bisa menemukan hiasan itu.” Kataku
sambil menyerahkan lembaran uang seratus ribu.
Pak Sopir kemudian keluar. Kusandarkan
tubuhku di jok mobil. Pandanganku
menyusuri toko Souvenir langgananku. Mas Fandi sering melewati jalan ini jika
menuju kantornya. Karena itu aku merasa sedih ketika berulangkali dia melupakan
pesanku untuk membelikan hiasan kupu-kupu. Karena tak lagi ada cinta, maka
semua hal menjadi tak berarti termasuk diriku. Permintaanku menjadi hal yang
biasa baginya.
Aku menangis sesunggukan
ketika Pak Sopir menyerahkan hiasan kupu-kupu warna perak ungu. Mobil kemudian
melaju diiringi derai tangisku. Aku tak pernah menyangka, justru lelaki lain
yang membelikanku hiasan ini. Seorang sopir taksi bukan Mas Fandi, lelaki yang
sebentar lagi akan menjadi lelaki biasa saja bagiku. Lelaki yang mencampakanku
tanpa rasa bersalah. Mencampakan cinta kami yang mungkin memang tak pernah
terbingkai dalam hatinya.
**************
Sumber gambar disini



0 komentar:
Posting Komentar