Bersamamu, aku merasa menjadi perempuan(mu),
menjadi diriku utuh, apa adanya. Aku merasa (menjadi ) perempuan(mu) sejak
lantunan syair-syair indah kau kirimkan untukku. Aku mungkin perempuan(mu) yang
entah berada di benakmu bagian mana, entah kapan aku hadir disana, entah kapan
kau ijinkan aku bermuara disana, aku tak tahu.
Aku perempuan(mu) meski kadang kau
menghilang, namun bukan kehilanganku. Kubiarkan dirimu pergi mengembara jauh
melintasi mimpi dan anganmu. Aku menanti bukan untuk menghakimi, berdiri disini
untuk menyambutmu, menyeka peluh didahimu, memadamkan gelisah dihatimu, karena
aku adalah penyejukmu.
Aku perempuan (mu) telah terbiasa ikhlas tanpa
balas. Aku perempuan (mu) apa adanya tanpa titik, koma apalagi seru. Meski
hadirmu tanpa mahkota kebesaran, aku tak akan bersembunyi. Kau bisa hadir
sesuka hatimu, jika butuh ada aku yang siaga, jika tidak aku terbuang di sudut
ruang hampa hatimu, seperti itukah aku yang merasa (menjadi ) perempuan(mu)?
Aku perempuan(mu) yang juga butuh sandaran
saat gundah, butuh suara lembut penyejuk jiwa, butuh penyeimbang kala raga
limbung tak bertenaga. Aku juga manusia biasa, bisa sakit dan terluka, bukan
sekedar penyangga waktu kala dirimu susah.
Aku juga (mungkin) perempuan(mu) yang bisa
melepas amarah dalam diam yang tak pernah kau sangka, tapi amarahku hanya sebatas
diam, karena meragu apakah aku (mungkin) adalah perempuan(mu ). Aku hanya
ingin, di antara hatiku dan hatimu bernama, bukan penanda biasa yang membuat
orang masih bertanya.
Aku perempuan(mu) butuh jawaban tegas bukan
berliku dan berkelas. Aku hanya ingin jawaban putih atau hitam, bukan abu-abu
yang menyesatkan asaku ke belantara keraguan. Ataukah itu hanya rasa yang sengaja
kau lukiskan di langit mimpiku, agar aku terbenam dalam nuansa abu-abu,
membingkai mimpi yang hanya bergambar diriku?
Dirimu membiarkan aku sendiri, menyusuri
kehidupanku sendiri, membiasakan diriku sendiri, itu bukan melatihku mandiri
tapi tidak peduli. Kini jika aku merasa sendiri adalah surgaku, salahkah jika
aku tak merasa (menjadi )perempuan(mu)?
Salahkah jika aku lebih nyaman berada dalam
kesendirianku tanpamu yang telah merawat rasa sunyi dalam hatiku? Bukankah
dirimu pemilik pupuk yang menyuburkan rasa sepi itu? Lalu mengapa saat hendak
memanennya dirimu terlihat gundah? Bukankah gembira adalah jawaban terbaik saat
ini? bahagia karena bibit yang telah kau taburkan subur dan merona pandangan?
Ruang indah dalam hatiku runtuh perlahan
bersama sepi yang bernyanyi sendu, langit tak lagi melukis pelangi senyummu, hanya
ruang temaram bernama luka dan sepi bertahta indah dibalik senyum tawa yang
kini jadi penghias wajah, aku berusaha tampak bahagia, seperti sediakala,
seperti tanpa luka.
Kau menggiring sepi kelam masa laluku kembali
dalam pelukku, kini aku enggan melepasnya kembali seperti saat lalu dirimu
hadir bersama senyum seindah mentari yang hapus embun di mata dan hatiku, hanya dia sandaran jiwaku tanpamu yang kini hanya bernama dulu....
*******
Sumber gambar disini



0 komentar:
Posting Komentar