Jumat, 06 Maret 2015

Aku Merasa (Menjadi) Perempuan(mu)

0


Bersamamu, aku merasa menjadi perempuan(mu), menjadi diriku utuh, apa adanya. Aku merasa (menjadi ) perempuan(mu) sejak lantunan syair-syair indah kau kirimkan untukku. Aku mungkin perempuan(mu) yang entah berada di benakmu bagian mana, entah kapan aku hadir disana, entah kapan kau ijinkan aku bermuara disana, aku tak tahu.

Aku perempuan(mu) meski kadang kau menghilang, namun bukan kehilanganku. Kubiarkan dirimu pergi mengembara jauh melintasi mimpi dan anganmu. Aku menanti bukan untuk menghakimi, berdiri disini untuk menyambutmu, menyeka peluh didahimu, memadamkan gelisah dihatimu, karena aku adalah penyejukmu.

Aku perempuan (mu) telah terbiasa ikhlas tanpa balas. Aku perempuan (mu) apa adanya tanpa titik, koma apalagi seru. Meski hadirmu tanpa mahkota kebesaran, aku tak akan bersembunyi. Kau bisa hadir sesuka hatimu, jika butuh ada aku yang siaga, jika tidak aku terbuang di sudut ruang hampa hatimu, seperti itukah aku yang merasa (menjadi ) perempuan(mu)?

Aku perempuan(mu) yang juga butuh sandaran saat gundah, butuh suara lembut penyejuk jiwa, butuh penyeimbang kala raga limbung tak bertenaga. Aku juga manusia biasa, bisa sakit dan terluka, bukan sekedar penyangga waktu kala dirimu susah.

Aku juga (mungkin) perempuan(mu) yang bisa melepas amarah dalam diam yang tak pernah kau sangka, tapi amarahku hanya sebatas diam, karena meragu apakah aku (mungkin) adalah perempuan(mu ). Aku hanya ingin, di antara hatiku dan hatimu bernama, bukan penanda biasa yang membuat orang masih bertanya.

Aku perempuan(mu) butuh jawaban tegas bukan berliku dan berkelas. Aku hanya ingin jawaban putih atau hitam, bukan abu-abu yang menyesatkan asaku ke belantara keraguan. Ataukah itu hanya rasa yang sengaja kau lukiskan di langit mimpiku, agar aku terbenam dalam nuansa abu-abu, membingkai mimpi yang hanya bergambar diriku?

Dirimu membiarkan aku sendiri, menyusuri kehidupanku sendiri, membiasakan diriku sendiri, itu bukan melatihku mandiri tapi tidak peduli. Kini jika aku merasa sendiri adalah surgaku, salahkah jika aku  tak merasa (menjadi )perempuan(mu)?

Salahkah jika aku lebih nyaman berada dalam kesendirianku tanpamu yang telah merawat rasa sunyi dalam hatiku? Bukankah dirimu pemilik pupuk yang menyuburkan rasa sepi itu? Lalu mengapa saat hendak memanennya dirimu terlihat gundah? Bukankah gembira adalah jawaban terbaik saat ini? bahagia karena bibit yang telah kau taburkan subur dan merona pandangan?

Ruang indah dalam hatiku runtuh perlahan bersama sepi yang bernyanyi sendu, langit tak lagi melukis pelangi senyummu, hanya ruang temaram bernama luka dan sepi bertahta indah dibalik senyum tawa yang kini jadi penghias wajah, aku berusaha tampak bahagia, seperti sediakala, seperti tanpa luka.

Kau menggiring sepi kelam masa laluku kembali dalam pelukku, kini aku enggan melepasnya kembali seperti saat lalu dirimu hadir bersama senyum seindah mentari yang hapus embun di mata dan hatiku,  hanya dia sandaran jiwaku tanpamu yang kini hanya bernama dulu....

*******  
Sumber gambar disini

0 komentar:

Posting Komentar