
Maluku Utara terkenal dengan sebutan kota seribu pulau maka tidak heran jika berkunjung ke daerah ini utamanya di pelosok, kita akan menggunakan berbagai macam sarana transportasi. Mulai dari pesawat, mobil, ojek atau bentor, kemudian speed atau kapal kecil dan besar seperti Ferry. Kali ini daerah yang saya kunjungi adalah Pulau Moti Kota Ternate dan Jailolo Halmahera Barat. Dua kabupaten yang dipisahkan oleh lautan.
Hari Senin tanggal 9 Maret pukul 13.30 saya berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dengan menumpang pesawat Sriwijaya Air, selama kurang lebih 1 jam 40 menit. Pesawat mendarat tepat pukul 16.30 di Bandara Sultan Baabullah Ternate. Karena perbedaan waktu antara Makassar dan Ternate maka ada penambahan waktu 1 jam. Pelayanan di bandara Ternate kali ini terasa berbeda. Penumpang tidak perlu menunggu lama untuk mengambil bagasi mereka.
Saya segera mengambil tas ransel lalu melangkah keluar dari bandara.
Beberapa pria menawarkan rental mobil dan ojek tapi saya tolak dan terus saja
berjalan menuju pos keamanan dekat pintu masuk bandara. Dari kejauhan dua orang pria
mengacungkan tangan dengan gerakan mulut yang terbaca ojek. Jelas sekali
tawaran mereka mengarah pada saya. Saya membalas dengan anggukan.
Saya kemudian mengikuti salah seorang dari mereka setelah sepakat dengan
biaya ke Pelabuhan Dufa-Dufa yaitu 30 ribu. Di Kota Ternate ada beberapa
pelabuhan tergantung daerah yang akan kita tuju. Jika hendak ke Jailolo maka kita harus mengambil speed di
pelabuhan tersebut. Saat tiba kebetulan ada speed yang akan segera berangkat. Setelah
membayar biaya speed 100 ribu, saya lalu bergegas naik ke speed yang tidak
terlalu penuh.
Saya memilih duduk di deretan kursi bagian depan. Ada rasa lega karena speed tersebut tidak
penuh sesak seperti yang sering saya alami. Namun rasa lega saya kemudian
berubah cemas ketika speed telah meninggalkan pelabuhan. Ombak yang tidak
bersahabat berulangkali menghempas speed yang melaju kencang. Teriakan
ketakutan dari beberapa penumpang wanita serta ucapan beberapa pria membuat
saya dilanda kecemasan.
Setelah menempuh perjalanan laut yang menegangkan selama lebih kurang 1
jam, kami akhirnya tiba di pelabuhan Jailolo. Saya bersyukur dan bernafas lega
karena tiba dengan selamat. Baru kali ini saya naik speed dan tegang sepanjang
perjalanan. Biasanya saya akan tertidur namun kali ini meski mata terpejam saya
tidak bisa tidur.
Turun dari speed, saya kemudian mencari ojek lalu menanyakan lokasi Desa Gamnyial di kecamatan Sahu Timur
yang akan saya datangi. Ojek itu menyebutkan
jarak yang tidak terlalu jauh, saya kemudian memilih untuk menginap dulu di
penginapan dan baru esok hari mengunjungi desa tersebut.
Berdasarkan rekomendasi teman yang sering berkunjung ke Jailolo,
dibelakang hotel satu-satunya yang ada di kota Jailolo, ada penginapan yang
lumayan bagus. Namanya penginapan Luwes. Penginapan ini bisa jadi rekomendasi
bagi yang ingin mencari penginapan yang bersih, murah dan aman. Saat malam
pemilik penginapan akan mengunci pagar dan pintu besi. Saya benar-benar merasa
nyaman menginap di penginapan tersebut.
Setelah mendapatkan data dan
info saya kemudian berkeliling melihat kondisi Desa Gamnyial yang terdiri dari 2 dusun yaitu dusun 1 dan dusun 2, dengan jumlah kepala keluarga mencapai hampir 100 KK. Saya menemui warga dan
mengobrol tentang banyak hal menyangkut kehidupan mereka di desa. Hal-hal apa
saja yang menjadi harapan mereka dan butuh perhatian dari pemerintah untuk
segera diwujudkan.
Sarana listrik dan air bersih menjadi masalah utama bagi warga di desa
yang berpenduduk mayoritas beragama kristen protestan ini. Pasokan listrik yang
terbatas jelas mempengaruhi hidup mereka. Mereka kesulitan mengikuti perkembangan
daerah maupun nasional karena siaran televisi dan media elektronik lainnya tidak
leluasa mereka saksikan. Mata pencaharian warga desa beragam. Ada yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS), petani, wiraswasta, tukang ojek motor atau becak motor (bentor).
Jelang jam 5 sore saya kembali ke penginapan dan segera berkemas untuk
melanjutkan perjalanan kembali ke Ternate. Tiba di pelabuhan saya segera
membeli karcis dengan harga yang berbeda saat kedatangan yaitu 70 ribu.
Beberapa PNS yang baru selesai bekerja telah ada di dalam speed. Rupanya PNS
yang bertugas di Jailolo ada yang menetap di Ternate. Mereka memilih pulang
pergi dengan speed setiap harinya daripada harus menyewa rumah di Jailolo meski
cost yang harus mereka keluarkan tentu tidak sedikit.
Setelah meletakkan barang saya kemudian berkeliling di sekitar
penginapan mencari warung makan. Pantai yang biasanya ramai dengan pedagang
kaki lima, kali ini sepi. Tempat mangkal warung tenda yang biasa saya datangi
kini berpagar seng. Entah saat ini mereka berjualan dimana Saya tidak lama
berkeliling kemudian kembali ke penginapan, menyelesaikan tugas lalu tidur
karena esok subuh saya akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Moti.
Jam empat subuh waktu Ternate, saya terbangun lalu segera berkemas untuk
melanjutkan perjalanan. Setelah shalat subuh saya kemudian menumpang ojek
menuju pelabuhan Bastiong. Hari masih gelap ketika saya tiba di pelabuhan. Saya
segera menerobos keramaian para calon penumpang dan pedagang asongan yang
berderet di sepanjang jembatan kayu. Dalam situasi seperti ini, kita sebagai
penumpang harus kreatif bertanya jika tidak ingin ketinggalan speed atau kapal.
Jam 7.30 speed merapat di pelabuhan kota Moti. Saya turun lalu menumpang
ojek menuju kelurahan Tadenas yang berjarak sekitar 2 km dari pelabuhan. Saat
tiba Pak Lurah tengah mengadakan kerja bakti membangun mesjid bersama warga.
Ini kali kedua saya berkunjung ke pulau Moti dan saya tidak heran lagi
melihat kehidupan warga di pulau Moti. Menurut saya kehidupan mereka tergolong sejahtera. Kelihatan dari bangunan mesjid dan perumahan yang seluruhnya terbuat
dari batu.
Seperti yang saya lakukan di desa Gamnyial, saya juga mengadakan
bincang-bincang dengan warga tentang permasalahan yang mereka hadapi. Listrik
tetap menjadi topik utama selain air bersih karena di kelurahan ini listrik
yang digunakan adalah genset dengan jadwal menyala sejak maghrib hingga jam 11
malam. Instalasi dari PLN telah terpasang hanya belum berfungsi. Menurut Pak
Lurah, tidak lama lagi warga akan menikmati listrik murni dari PLN.
Sumber air warga berasal dari mata air pegunungan. Ada yang menggunakan
mesin pompa air, ada juga yang membuat sumur di sumber mata air. Disekitar mata
air warga membuat kamar mandi dan sarana untuk mencuci. Ini tampak ketika saya
memasuki RT 3 yang letaknya sekitar 1 km dari RT 2. Posisinya yang berada
di pinggir pantai membuat warga sangat kesulitan dengan air bersih.
Sinyal telekomunikasi juga menjadi permasalahan bagi warga. Ini saya
alami sendiri karena sinyal yang hilang timbul membuat komunikasi terganggu.
Pemancar telekomunikasi belum sepenuhnya berfungsi hingga dapat melayani warga
secara sempurna. Warga harus ke pantai untuk mendapat sinyal yang lebih baik
ketika akan menelpon.
Jam 5 sore saya kembali ke rumah Pak Lurah. Jelang maghrib listrik
mulai menyala. Warga bisa menonton televisi dan melakukan segala aktivitas yang
menggunakan listrik. Setelah mandi dan sholat maghrib saya kemudian
berbincang-bincang dengan Pak Lurah. Kami kemudian makan malam lalu saya
mengerjakan tugas dan mengemasi barang-barang karena esok pagi saya akan
kembali ke Ternate. Malam mulai merambat, saya lelap dalam kegelapan.
Akhirnya, tibalah saat kepulangan saya ke Makassar. Pagi tanggal 12 Maret, mendekati angka jam 8 pagi, saya kemudian meninggalkan Pulau Moti. Dengan
menggunakan Speed menuju Kota Ternate untuk selanjutnya ke Bandara Sultan
Baabullah dan kembali ke Makassar. Pengalaman perjalanan kali ini sangat
mengesankan. Semoga di lain waktu bisa kembali lagi ke Maluku Utara dengan
daerah yang berbeda.
Sumber gambar : dokumentasi pribadi









0 komentar:
Posting Komentar