Senin, 16 Maret 2015

Perjalanan Mengesankan ke Pulau Moti dan Jailolo

0





Maluku Utara terkenal dengan sebutan kota seribu pulau maka tidak heran jika berkunjung ke daerah ini utamanya di pelosok, kita akan menggunakan berbagai macam sarana transportasi. Mulai dari pesawat, mobil, ojek atau bentor, kemudian speed atau kapal kecil dan besar seperti Ferry. Kali ini daerah yang saya kunjungi adalah Pulau Moti Kota Ternate dan Jailolo Halmahera Barat. Dua kabupaten yang dipisahkan oleh lautan.

Hari Senin tanggal 9 Maret pukul 13.30 saya berangkat dari  Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dengan menumpang pesawat Sriwijaya Air, selama kurang lebih 1 jam 40 menit. Pesawat mendarat  tepat pukul 16.30 di Bandara Sultan Baabullah Ternate. Karena perbedaan waktu antara Makassar dan Ternate maka ada penambahan waktu 1 jam. Pelayanan di bandara Ternate kali ini terasa berbeda. Penumpang tidak perlu menunggu lama untuk mengambil bagasi mereka.

Saya segera mengambil tas ransel lalu melangkah keluar dari bandara. Beberapa pria menawarkan rental mobil dan ojek tapi saya tolak dan terus saja berjalan menuju pos keamanan dekat pintu masuk bandara. Dari kejauhan dua orang pria mengacungkan tangan dengan gerakan mulut yang terbaca ojek. Jelas sekali tawaran mereka mengarah pada saya. Saya membalas dengan anggukan.

Saya kemudian mengikuti salah seorang dari mereka setelah sepakat dengan biaya ke Pelabuhan Dufa-Dufa yaitu 30 ribu. Di Kota Ternate ada beberapa pelabuhan tergantung daerah yang akan kita tuju. Jika hendak  ke Jailolo maka kita harus mengambil speed di pelabuhan tersebut. Saat tiba kebetulan ada speed yang akan segera berangkat. Setelah membayar biaya speed 100 ribu, saya lalu bergegas naik ke speed yang tidak terlalu penuh.

Saya memilih duduk di deretan kursi bagian depan.  Ada rasa lega karena speed tersebut tidak penuh sesak seperti yang sering saya alami. Namun rasa lega saya kemudian berubah cemas ketika speed telah meninggalkan pelabuhan. Ombak yang tidak bersahabat berulangkali menghempas speed yang melaju kencang. Teriakan ketakutan dari beberapa penumpang wanita serta ucapan beberapa pria membuat saya dilanda kecemasan.

Ternyata jumlah penumpang berpengaruh terhadap kekuatan speed menghalau ombak.  Makin sedikit jumlah penumpang maka speed akan semakin ringan dan mudah dihempas ombak. Hal itu saya ketahui dari ucapan seorang pria yang terus mengatakan dalam logat bahasa Ternate.



Setelah menempuh perjalanan laut yang menegangkan selama lebih kurang 1 jam, kami akhirnya tiba di pelabuhan Jailolo. Saya bersyukur dan bernafas lega karena tiba dengan selamat. Baru kali ini saya naik speed dan tegang sepanjang perjalanan. Biasanya saya akan tertidur namun kali ini meski mata terpejam saya tidak bisa tidur.

Turun dari speed, saya kemudian mencari ojek lalu menanyakan  lokasi Desa Gamnyial di kecamatan Sahu Timur yang akan saya datangi.  Ojek itu menyebutkan jarak yang tidak terlalu jauh, saya kemudian memilih untuk menginap dulu di penginapan dan baru esok hari mengunjungi desa tersebut.

Berdasarkan rekomendasi teman yang sering berkunjung ke Jailolo, dibelakang hotel satu-satunya yang ada di kota Jailolo, ada penginapan yang lumayan bagus. Namanya penginapan Luwes. Penginapan ini bisa jadi rekomendasi bagi yang ingin mencari penginapan yang bersih, murah dan aman. Saat malam pemilik penginapan akan mengunci pagar dan pintu besi. Saya benar-benar merasa nyaman menginap di penginapan tersebut.

Keesokan harinya dengan menumpang ojek saya mengunjungi Desa Gamnyial di Kecamatan Sahu Timur. Biaya bentor ke Desa tersebut adalah 30 ribu. Menurut saya wajar karena ternyata jaraknya lumayan jauh. Menembus pagi yang dingin bentor melaju menyusuri jalanan yang masih sepi. Lebih kurang setengah jam, saya akhirnya tiba di Desa Gamnyial dan langsung menemui kepala desa karena kantor desa belum terbuka meski jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.





Setelah mendapatkan data dan info saya kemudian berkeliling melihat kondisi  Desa Gamnyial yang terdiri dari 2 dusun yaitu dusun 1 dan dusun 2, dengan jumlah kepala keluarga mencapai hampir 100 KK. Saya menemui warga dan mengobrol tentang banyak hal menyangkut kehidupan mereka di desa. Hal-hal apa saja yang menjadi harapan mereka dan butuh perhatian dari pemerintah untuk segera diwujudkan.

Sarana listrik dan air bersih menjadi masalah utama bagi warga di desa yang berpenduduk mayoritas beragama kristen protestan ini. Pasokan listrik yang terbatas jelas mempengaruhi hidup mereka. Mereka kesulitan mengikuti perkembangan daerah maupun nasional karena siaran televisi dan media elektronik lainnya tidak leluasa mereka saksikan. Mata pencaharian warga desa beragam. Ada yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS), petani, wiraswasta, tukang ojek motor atau becak motor (bentor).

Jelang jam 5 sore saya kembali ke penginapan dan segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Ternate. Tiba di pelabuhan saya segera membeli karcis dengan harga yang berbeda saat kedatangan yaitu 70 ribu. Beberapa PNS yang baru selesai bekerja telah ada di dalam speed. Rupanya PNS yang bertugas di Jailolo ada yang menetap di Ternate. Mereka memilih pulang pergi dengan speed setiap harinya daripada harus menyewa rumah di Jailolo meski cost yang harus mereka keluarkan tentu tidak sedikit.

Saat tiba di penginapan Ternate, adzan Maghrib telah berkumandang dari Mesjid Muhajirin. Penginapan yang saya tempati letaknya dibelakang mesjid Muhajirin, nama penginapan tersebut penginapan Mutiara. Saya terbiasa menginap di tempat ini dan merasa nyaman. Penginapan ini juga bisa jadi rekomendasi bagi yang ingin berkunjung ke Ternate dan mencari penginapan yang bersih, murah dan aman.



Setelah meletakkan barang saya kemudian berkeliling di sekitar penginapan mencari warung makan. Pantai yang biasanya ramai dengan pedagang kaki lima, kali ini sepi. Tempat mangkal warung tenda yang biasa saya datangi kini berpagar seng. Entah saat ini mereka berjualan dimana Saya tidak lama berkeliling kemudian kembali ke penginapan, menyelesaikan tugas lalu tidur karena esok subuh saya akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Moti.

Jam empat subuh waktu Ternate, saya terbangun lalu segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Setelah shalat subuh saya kemudian menumpang ojek menuju pelabuhan Bastiong. Hari masih gelap ketika saya tiba di pelabuhan. Saya segera menerobos keramaian para calon penumpang dan pedagang asongan yang berderet di sepanjang jembatan kayu. Dalam situasi seperti ini, kita sebagai penumpang harus kreatif bertanya jika tidak ingin ketinggalan speed atau kapal.

Lima belas menit kemudian, speed bergerak. Sejak naik speed saya memilih untuk tidur karena rasa pusing mendadak muncul apalagi kondisi speed yang bergoyang. Ombak yang kuat selama dalam perjalanan tidak mengurangi kantuk berat yang saya rasakan. Saya tertidur dan tidak peduli ketika speed terombang ambing dan para penumpang berteriak ketakutan. Saya lebih fokus mencegah kepala saya tidak tambah pusing dan muntah.



Jam 7.30 speed merapat di pelabuhan kota Moti. Saya turun lalu menumpang ojek menuju kelurahan Tadenas yang berjarak sekitar 2 km dari pelabuhan. Saat tiba Pak Lurah tengah mengadakan kerja bakti membangun mesjid bersama warga. Ini kali kedua saya berkunjung ke pulau Moti dan saya  tidak heran lagi melihat kehidupan warga di pulau Moti. Menurut saya kehidupan mereka tergolong sejahtera. Kelihatan dari bangunan mesjid dan perumahan yang seluruhnya terbuat dari batu.

Setelah bertemu dengan Pak Lurah, saya kemudian berkeliling meninjau kelurahan Tadenas yang terdiri dari 3 RT. Masing-masing RT jumlah kepala keluarga hampir mencapai 40 KK. Mayoritas warga di kelurahan ini adalah muslim dengan mata pencaharian  sebagian besar adalah petani dan nelayan. Ada juga yang berprofesi sebagai PNS, pedagang, wiraswasta,dll. Gedung sekolah juga lengkap di pulau ini, mulai dari TK hingga SMA. Bagi warga yang anaknya telah lulus SMA, pilihan mereka melanjutkan kuliah ke Sulawesi atau ke Jawa.



Seperti yang saya lakukan di desa Gamnyial, saya juga mengadakan bincang-bincang dengan warga tentang permasalahan yang mereka hadapi. Listrik tetap menjadi topik utama selain air bersih karena di kelurahan ini listrik yang digunakan adalah genset dengan jadwal menyala sejak maghrib hingga jam 11 malam. Instalasi dari PLN telah terpasang hanya belum berfungsi. Menurut Pak Lurah, tidak lama lagi warga akan menikmati listrik murni dari PLN.

Sumber air warga berasal dari mata air pegunungan. Ada yang menggunakan mesin pompa air, ada juga yang membuat sumur di sumber mata air. Disekitar mata air warga membuat kamar mandi dan sarana untuk mencuci. Ini tampak ketika saya memasuki RT 3 yang letaknya sekitar 1 km dari RT 2. Posisinya yang berada di pinggir pantai membuat warga sangat kesulitan dengan air bersih.

Sinyal telekomunikasi juga menjadi permasalahan bagi warga. Ini saya alami sendiri karena sinyal yang hilang timbul membuat komunikasi terganggu. Pemancar telekomunikasi belum sepenuhnya berfungsi hingga dapat melayani warga secara sempurna. Warga harus ke pantai untuk mendapat sinyal yang lebih baik ketika akan menelpon.


Jam 5 sore saya kembali ke rumah Pak Lurah. Jelang maghrib listrik mulai menyala. Warga bisa menonton televisi dan melakukan segala aktivitas yang menggunakan listrik. Setelah mandi dan sholat maghrib saya kemudian berbincang-bincang dengan Pak Lurah. Kami kemudian makan malam lalu saya mengerjakan tugas dan mengemasi barang-barang karena esok pagi saya akan kembali ke Ternate. Malam mulai merambat, saya lelap dalam kegelapan.



Akhirnya, tibalah saat kepulangan saya ke Makassar. Pagi tanggal 12 Maret, mendekati angka jam 8 pagi, saya kemudian meninggalkan Pulau Moti. Dengan menggunakan Speed menuju Kota Ternate untuk selanjutnya ke Bandara Sultan Baabullah dan kembali ke Makassar. Pengalaman perjalanan kali ini sangat mengesankan. Semoga di lain waktu bisa kembali lagi ke Maluku Utara dengan daerah yang berbeda.




-------------------------------------
Sumber gambar : dokumentasi pribadi


0 komentar:

Posting Komentar