![]() |
Namanya Vika. Dulu dia gadis cantik yang ceria dan jenaka. Namun malang, Ayahnya yang kaya raya meninggal seketika. Vika berduka, senyum dan bahagia hilang dari wajahnya. Hanya mendung yang betah berlama-lama.
Vika kini serasa tinggal di neraka. Bukan karena kehilangan ayahnya saja, tapi karena orang tua itu meninggalkan warisan yang menjadi sumber malapetaka. Keluarga ayahnya saling berebut dan beradu logika. Tujuan mereka hanya ingin mengambil harta yang jadi hak Vika.
“Vika, sayanggggggg.” Suara penuh muslihat menyambut Vika ketika keluar dari kamarnya. Perempuan dengan dandanan menor memeluknya lalu cium pipi kanan kiri. Senyumnya terkembang namun terlihat jelas matanya menyelidik sesuatu.
“Tumben, tante Rosita kemari. Ada apa?”
Vika terus melangkah menuju ruang makan. Selera makannya mendadak hilang. Dia hanya meneguk segelas air dan mencomot roti kering.
“Kok tumben? Jangan sinis begitu dong, sayang. Tante perhatian banget loh sama kamu.”
Tantenya menarik kursi dan duduk disamping Vika yang acuh dan terus saja mengunyah roti kering. Matanya melirik pada map yang sejak tadi dalam genggaman tantenya.
Menyadari pandangan Vika, tantenya langsung menyodorkan map yang telah terbuka ke hadapan Vika.
“Tante tidak ingin membuatmu sengsara apalagi menderita. Karena itu tante ingin membantu. Kamu tinggal tanda tangan saja disini, dan semua urusan ayahmu, tante yang wakilkan. Kasihan kamu kehilangan ayahmu padahal kamu belum tujuh belas tahun. Kamu belum mengerti apapun urusan bisnis apalagi soal perusahaan ayahmu.”
Vika meneguk air lalu menarik kertas yang terselip dalam map. Membacanya dengan serius sambil manggut-manggut membuat wanita disampingnya girang bukan kepalang. Sudah terbayang dia bakal kecipratan harta yang tak terbilang jumlahnya.
“Jangan, Vika. Jangan tanda tangani apapun.!”
Mendadak suara lain muncul di ruangan. Vika menoleh, tampak saudari ayahnya yang tertua, muncul dengan dandanan tak kalah menornya. Tubuhnya dipenuhi perhiasan yang berbunyi gemerincing ketika dia melangkah.
“Mbak Masita apa-apaan, sih? Kok melarang Vika tanda tangan?”
Rosita terlihat geram dan sewot dengan kehadiran wanita itu. Apalagi ketika Masita menarik kertas dari tangan Vika lalu melemparnya ke lantai.
“Kamu kurang kerjaan, ya? Punya hak apa kamu? Pagi-pagi datang kemari hanya untuk membujuk anak ingusan ini? Kamu ingin merampas hartanya ya?”
“Enak aja! Mbak Masita tuh yang ngapain kemari? Mbak pasti ingin harta itu juga kan? Jangan munafik!”
Kedua wanita itu berdiri berhadapan dan saling beradu mulut. Vika menutup kedua telinganya. Lama kelamaan, kedua wanita yang sedang bertengkar tersebut menghentikan perang mereka lalu kompak memandang Vika. Vika hanya tersenyum masam.
“Tante berdua pulang saja. Aku tidak akan tanda tangani apapun. Jika harta ayah membuat kalian saling benci, lebih baik harta itu aku sumbangkan saja ke yayasan sosial.”
“Jangannnnnnnnn!!!!” Masita dan Rosita berteriak histeris mendengar ancaman Vika.
“Kamu bakal miskin dan sengsara, Vika. Apa kamu tidak takut hidup melarat?” Ucap Rosita dengan wajah pucat.
“Kan aku bisa numpang di rumah tante Rosita atau tante Masita. Kalian kan sangat menyayangi aku. Atau jangan-jangan selama ini kalian hanya perhatian dan sayang padaku karena hartaku saja?”
Ucapan Vika yang menohok membuat kedua tantenya kikuk dan salah tingkah. Keduanya tercekat dan hanya bisa saling melotot.
“Kalau tante berdua terus membujukku, maka aku akan langsung meminta Pak Danang menyumbangkan semua warisan ayah lalu aku akan tinggal di rumah kalian. Terserah rumah yang mana.”
“Baiklah, kalau kamu tidak suka. Tante pamit pulang. Kapan-kapan tante kemari lagi.”
Masita mencium pipi ponakannya itu lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan. Demikian pula dengan Rosita. Vika memandang sinis dan hanya bisa menarik nafas lega.
“Om Aditya, keluarlah. Aku tahu Om ada di balik tembok.”
Seorang lelaki gondrong dan tampangnya acak-acakan keluar dari balik tembok sambil cengar cengir.
“Kenapa Om sembunyi dan tidak menyapa tante Masita dan tante Rosita? Mereka kan saudara Om.”
Lelaki bernama Aditya itu duduk dihadapan Vika. Tangannya mencomot roti yang sisa seiris diatas piring.
“Om malas berurusan dengan mereka. Keliatannya mereka rajin kemari. Pantang menyerah. Tidak patah semangat menghadapimu yang teguh pendirian. Kamu mirip dengan ayahmu.”
“Aku baru melihat sifat asli saudara-saudara ayah ketika ayah meninggal. Selama ini semuanya terlihat ramah dan baik, ternyata ada udang dibalik batu.”
Vika terdiam dan menatap tajam pada Aditya.
“Apa Om Aditya juga mengincar harta ayah?”
Aditya tersedak dan buru-buru menyambar gelas minuman Vika yang masih berisi air. Nafasnya tersengal. Lelaki itu mengusap air disudut bibirnya.
“Kamu jangan berfikir karena tampang Om yang seperti gelandangan ini maka Om akan ikut-ikutan antri meminta warisan ayahmu. Sama sekali tidak. Sejak dulu Om suka dengan penampilan seperti ini. Bebas tanpa tekanan. Tapi jangan salah mengira, Om punya usaha yang mampu menghidupi keluarga Om, hanya saja selama ini Om tidak terbuka dan pamer ke saudara. Biar saja saudara-saudaraku yang mata duitan itu mengira Om melarat. Om hanya ingin tahu apakah mereka masih menghargaiku atau tidak. Buktinya, mana ada yang mencariku? Dimata mereka Om lebih dulu mati daripada ayahmu, hanya saja raga Om masih gentayangan.”
“Tapi aku lihat Om dulu sering minta uang ke ayah.”
“Om hanya menguji ayahmu. Apakah saudaraku itu masih peduli padaku. Tidak malu memiliki saudara seperti Om. Ternyata ayahmu memang luar biasa baik. Ayahmu tidak pernah marah atau melarang Om datang ke kantornya padahal dandanan Om seperti ini. Sama seperti kamu. Tidak pernah mengusir Om dari rumah ini.”
“Apa benar hidup Om berkecukupan? Jangan-jangan Om hanya bersandiwara.”
Aditya tertawa.
“Vika, Vika... Harta bagi Om hanya titipan Allah. Takkan dibawa mati karena itu kehidupan Om seperti ini. Om tidak suka pamer harta. Kebetulan Om dapat istri yang sama sikapnya dengan Om. Tantemu itu sederhana orangnya. Nantilah kalau ada waktu, Om ajak kamu ke rumah Om. Rumah rahasia yang belum pernah didatangi satupun saudara Om.”
“Keluarga kita benar-benar aneh ya Om. Om juga termasuk aneh.”
Kembali Aditya tertawa.
“Hanya ayahmu yang normal, mungkin karena itu Allah menyayanginya. Allah tidak ingin ayahmu terkena keanehan seperti kami.” Aditya terlihat sedih.
“Kami sekeluarga tidak mendapat pendidikan moral yang baik sejak kecil. Jangan heran kalau keluarga besar kita terlihat aneh semuanya. Beruntung ayahmu bertemu ibumu yang luar bisa hebat hingga ayahmu tidak ikut aneh.”
“Karena menurut Om, aku ini seperti ayah. Karena itu aku tidak akan menyerahkan perwalian pada siapapun termasuk Om sampai aku benar-benar paham dan mengerti dengan keadaanku. Aku akan sekolah dan belajar dengan baik hingga aku bisa menjaga warisan ayah dan meneruskan usahanya.”
Aditya terdiam. Jika tadi matanya berbina-binar sekarang yang tampak hanya gurat kekecewaan. Vika tidak tahu jika lelaki itu menyimpan map di balik bajunya. Map berisi surat kuasa yang ingin Ia perlihatkan pada Vika. Vika tidak menyadari jika lelaki didepannya ternyata sama saja dengan kedua tantenya yang lebih dulu hadir tadi pagi.
***



0 komentar:
Posting Komentar