Senin, 28 Desember 2015

Terdampar di Desa Wayamli

0

Hari Sabtu, tanggal 14 November 2015, saya dan teman-teman mendapat tugas untuk mengunjungi Kecamatan Maba Utara, Halmahera Timur. Seperti biasa, kami mendatangi pemilik perahu yang akan kami sewa. Setelah berunding kami akhirnya sepakat dan akan di jemput jam 3 dini hari. Sesuai waktu yang telah disepakati, pemilik perahu menelpon dan mengabarkan jika  jadwal molor dari jam 3 menjadi  jam 6 pagi dengan alasan bahan bakar belum tersedia. Meski kesal kami terpaksa menerima dan menunggu.



Dok. Pribadi

Pagi harinya, pesan sms datang dari pemilik perahu agar kami bersiap-siap. Kami kemudian bergegas menuju pinggir pantai dengan menumpang bentor. Letak pantai itu di Pertamina Tua atau di jalan Lestari. Namun kesabaran kami kembali di uji. Kami harus menunggu karena ada beberapa perbaikan yang dilakukan pada perahu yang akan kami tumpangi. Dalam hati kami semakin cemas mengingat jadwal molor sangat jauh dari yang kami harapkan.

Akhirnya kami berangkat juga tepat ketika jam menunjukkan pukul 8 pagi. Perahu yang kami tumpangi  perlahan meninggalkan pantai Buli.  Saya dan teman-teman tak lupa memotret keindahan pantai. Belum setengah jam melaju, perahu telah dua kali berhenti karena mesin yang mati. Kami saling pandang dan berbicara pelan. Dalam hati timbul rasa was-was akan nasib perjalanan kami selanjutnya.

Di tengah perjalanan kami singgah di desa Wayamli kecamatan Maba Tengah, Halmahera Timur,  karena seorang teman memerlukan sesuatu. Ketika baru beberapa menit meninggalkan pantai,  perahu yang kami tumpangi mengalami kebocoran tepat di tengah laut. Syukurlah dalam kepanikan sebuah perahu melintas. Kami bergerak cepat menaiki perahu tersebut.

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi


Banyak kejadian lucu selama di atas perahu. Di tengah musibah yang menimpa kami, rejeki tetap juga mengalir untuk kami. Dibawah terik matahari yang membakar kulit, seorang teman sempat nyelutuk, berandai-andai jika ada es kelapa. Tidak butuh beberapa menit, seorang bapak mengeluarkan beberapa butir kelapa muda dari bagian bawah perahu. Sontak teman-teman kegirangan termasuk saya tentunya. Kamipun menikmati kelapa muda dengan suka cita.

Kami kemudian beristrahat di sebuah rumah panggung yang dihuni para nelayan yang berasal dari Bicoli. Para nelayan tersebut menempati sebuah rumah secara bersama-sama. Rumah tersebut mereka sewa 500 ribu perbulan. Mereka membawa istri dan anak-anak yang terlihat lucu dan menggemaskan.



Do. Pribadi



Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi


Sementara menunggu perahu pengganti, kami mengisi waktu luang sambil mengabadikan moment tersebut. Salah seorang dari kami berfoto bersama dengan anak-anak yang awalnya terlihat malu-malu namun lama kelamaan mulai berani untuk difoto.

Anak-anak tersebut mengikuti orang tua mereka hingga kegiatan menangkap ikan selama lebih kurang 2 bulan  selesai. Lalu bagaimana dengan sekolah mereka?  Untuk urusan sekolah anak-anak tersebut diijinkan menumpang pada sekolah yang ada didesa Wayamli, jadi mereka masih tetap bisa mengikuti kegiatan belajar dan tidak perlu khawatir ketinggalan mata pelajaran.

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi


Setelah perahu yang akan kami tumpangi siap, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Ada beberapa warga yang ikut dalam rombongan kami. Dari kejauhan awan mendung terlihat mulai berarak mendekati kami.  Menaburkan butiran bening air dari langit. Pulau dimana Desa Wayamli berada kian hilang dari pandangan, hujanpun semakin deras membasahi kami.

Demikian kisah singkat perjalananan kami saat terdampar di Desa Wayamli,  Maba Tengah, Halmahera Timur. Sampai jumpa di kisah berikutnya.

================
Makassar, 29 Desember 2015


0 komentar:

Posting Komentar