Ucapan
selamat pagi menyambut Reno saat memasuki ruangan. Ia membalas sapa lalu menuju
meja kerjanya yang dibatasi sekat sebatas dada dengan karyawan lain. Sebelum
duduk lelaki itu masih menyempatkan diri memandang sekeliling. Pandangannya
mengitari ruangan lalu terhenti pada sebuah meja kerja tanpa penghuni.
“Utari tidak
masuk hari ini, pak.” Mika muncul dan seolah tahu apa yang tengah dipikirkan
atasannya. Reno akhirnya duduk lalu meraih kertas yang disodorkan Mika.
“Alasannya
apa tidak masuk kerja?” Reno bertanya sembari membaca lembaran kertas
didepannya.
“Menjemput
saudara perempuannya yang sakit untuk di rawat disini.”
“Dia punya
saudara? Dari berkas data diri, statusnya kan anak tunggal?”
“Benar, pak.
Saudaranya itu diadopsi. Karena kedua orang tua angkatnya meninggal dalam
kecelakaan, saudaranya itu kembali ke keluarga Utari.”
“Kamu
sepertinya tahu banyak tentang Utari. Apa dia sering curhat?”
“Tidak juga
pak. Hanya waktu dia ijin saya sempat menanyakan karena penasaran seperti yang
bapak tanyakan tadi.”
Reno
kemudian menandatangani berkas-berkas tanpa bertanya lagi. Namun setelah Mika
pergi, lelaki itu hanya termenung menatap layar smartphone miliknya. Membaca sebuah pesan berulang-ulang sejak
semalam seolah butuh pemahaman untuk mengerti maksud pesan tersebut.
Kak Reno, bagaimana kabarmu? Sejak enam bulan lalu, tak ada
satupun pesanku yang kakak balas. Bagaimana hubungan kita? Apakah penolakan
keluarga kakak terhadapku membuat kakak bimbang? Jika benar, aku akan ikhlas
melepas kakak. Yang merindukanmu, Larasati.
Larasati,
nama itu terlintas kembali dalam benak Reno setelah susah payah melupakan
sosoknya. Reno harus meninggalkan kota dimana dia dan Larasati tinggal demi
melupakan gadis itu. Ayah dan ibunya tidak memberikan restu ketika Reno
menyampaikan niat melamar Larasati. Entah apa alasannya, hingga kini Reno juga
tidak tahu. Kedua orang tuanya tidak membahas lebih jauh selain menolak gadis
yang diajukan Reno.
Sejak
kepergiaannya, tak pernah sekalipun Reno mengirim pesan atau menelpon. Nomor
handphone sengaja dinonaktifkan. Dirinya benar-benar ingin menenangkan diri
sebelum mengambil keputusan. Melupakan gadis yang sangat dicintai tentu bukan
hal mudah. Bagi Reno, Larasati adalah cinta pertamanya dan selalu hadir niat
dalam hatinya untuk menyunting gadis lembut itu.
Namun, entah
darimana Larasati mendapatkan info nomor handphonenya. Tiba-tiba saja, gadis
itu mengirim pesan sms padanya. Rasa bimbangnya makin bertambah ketika suatu
hari, kantor menerima karyawan baru bernama Utari. Wajahnya yang bagai pinang
dibelah dua dengan Larasati makin memesona dalam pikiran Reno. Utari gadis yang
sangat percaya diri. Sikapnya yang supel dan ramah membuatnya cepat meraih
simpati di kantor. Perlahan, sosok Larasati dalam hati Reno mulai tergantikan
oleh Utari. Dan sepertinya, perhatian Reno mendapat balasan dari Utari.
Terkadang gadis itu sengaja memberi ruang agar ada percakapan antara dirinya
dan Reno.
Smartphonenya
berdering membuat lamunan Reno buyar.
“Halo..”
“Pak Reno, maaf
mengganggu. Tadi saya belum sempat ijin. Saya tidak masuk tiga hari ini karena
menjemput saudara yang sakit.”
“Oh, iya.
Jika butuh bantuan jangan sungkan memberitahu ya..”
Reno menutup
smartphone lalu kembali tercenung membaca pesan singkat dari Larasati. Suara
merdu Utari dan pesan Larasati bergantian hadir memenuhi benaknya. Rasa
penasaran membuat batinnya tak tenang sejak mengetahui Utari memiliki saudara
perempuan. Apakah saudari Utari itu Larasati? Batin Reno tak henti bertanya.
****
Pagi ini Reno nampak tak bersemangat memasuki
kantor meski dia tahu hari ini Utari akan bekerja kembali setelah ijin tiga hari.
Entah mengapa, perasaannya tidak tenang sejak mengetahui Utari ternyata
memiliki saudara perempuan. Bayangan Larasati terus menggelayut dalam benaknya.
“
Utari belum masuk, Pak. Tadi dia sempat mampir lalu ijin menjaga saudaranya di
rumah sakit.”
Reno terpaku sejenak sebelum melangkah menuju
meja kerjanya. Dia lalu duduk dengan perasaan gelisah. Karena terus menerus di
dera rasa penasaran akan sosok saudara Utari, Reno akhirnya memutuskan ke rumah
sakit untuk memastikan sesuatu.
Sekitar lima belas menit, Reno menunggu Utari
di ruang tunggu. Dia sengaja menghubungi gadis itu untuk menjemputnya. Utari
muncul dengan senyum manis namun Reno tak lagi merasakan getaran seperti biasa.
Dia bahkan lupa jika senyum itu yang selalu membuatnya ingin selalu bertemu
dengan Utari.
“Ruangannya disini, Pak.” Utari membuka pintu
kamar Paviliun 4 namun Reno tak segera melangkah, lelaki itu hanya berdiri sementara
matanya tertuju pada sosok yang tengah terbaring di pembaringan.
“Pak.” Teguran Utari menyadarkan Reno untuk
segera masuk.
Makin dekat, debar didada Reno kian berpacu
cepat mengalirkan aliran dingin keseluruh sendi-sendi tubuhnya. Saat kedua
matanya menatap jelas wajah pucat yang tengah terbaring, kedua tungkai kakinya
mendadak lemah, Reno nyaris terkulai. Syukurlah tangan kanannya sigap memegang
sisi tempat tidur, sementara tangan kirinya meraih kursi kosong yang belum diduduki
Utari.
“Larasati.” Gumamnya dengan mata
berkaca-kaca.
Tangan Reno yang gemetar bergerak perlahan
mendekati wajah Larasati. Menyentuh dahinya lalu mengelus rambut perempuan yang
belum juga terbangun dari tidurnya. Reno tak menyadari jika sikapnya membuat
Utari heran. Gadis itu kemudian pindah ke sisi sebelah kiri pembaringan.
“Ternyata dia saudaramu.” Ucap Reno tanpa
berpaling. Suaranya yang nyaris berbisik tak terdengar oleh Utari. Gadis itu
kian bingung menghadapi sikap bosnya itu.
Lama Reno terdiam menatap wajah Larasati.
Lalu seolah tersadar tengah ada yang menunggunya, mata gadis itu perlahan
terbuka. Ketika pandangannya bertemu dengan Reno, bening mata itu mendadak
dipenuhi embun.
Jemari Reno refleks menyentuh pipi gadis itu
lalu dengan lembut mengusap air mata yang menetes disudut matanya.
“Maafkan aku.” Ucap Reno dengan mata basah.
Jarak wajah keduanya sangat dekat. Utari yang menyaksikan hanya bisa terpana
dalam kebingungan. Tak ada suara selain isak yang memenuhi ruangan.
***
Kilas balik
sebelum Reno ke rumah sakit.
Pagi itu, saat Reno berbincang dengan Mika,
pandangannya tertuju pada sebuah lukisan yang terpajang di dinding belakang
meja kerja Utari. Reno terpaku sesaat menatap lukisan itu.
“Siapa yang
memasang lukisan ini?”
Mika yang mendengar
bergegas mendekat.
“Utari, pak.
Katanya ini lukisan saudaranya yang sakit itu.”
“Dia
membelinya?” Wajah Reno nampak cemas.
“Tidak. Katanya
saudaranya itu melukisnya sendiri. Nama lukisan ini Lukisan Janji..”
Reno makin
tercekat mendengarnya lalu tanpa berkata lagi dia meninggalkan Mika menuju meja
kerjanya. Wajahnya pucat dan tangannya gemetar menahan dingin yang tiba-tiba
hadir disekujur tubuhnya. Lukisan itu pernah dikirimkan Larasati untuknya namun
segera Ia kembalikan karena tidak ingin menyimpan kenangan apapun tentangnya.
Lukisan
bernama Lukisan Janji itu adalah ungkapan perasaan Larasati padanya. Lukisan
yang sengaja dibuat Larasati untuk mengingatkan Reno akan janji-janji yang
pernah Reno ucapkan. Melihat lukisan itu seolah mengingatkan Reno akan berbagai
mimpi yang pernah dia hadirkan dalam kehidupan Larasati. Mimpi mereka akan masa
depan.
Kini, saat
dia telah melupakan kebersamaannya dengan Larasati, lukisan itu kembali hadir
di depan matanya. Berada dalam dekapan Utari, gadis yang wajahnya sangat mirip
dengan Larasati. Seandainya dia menyadari hal tersebut tentu dia akan
memikirkan matang-matang sebelum memberikan tempat istimewa di hatinya untuk
Utari.
****
Dua bulan
kemudian.
“Bagaimana
sayang, pemandangannya indah bukan?” Reno merangkul Larasati yang duduk di
kursi roda. Keduanya tengah menatap pegunungan hijau berhiaskan awan putih yang berderet indah menghiasi langit.
“Sangat
indah, Mas.” Jawab Larasati seraya menyentuh jemari Reno. Reno membalas dengan
menggenggam jemari Larasati lalu dengan lembut lelaki itu mencium keningnya.
“Selamat
ulang tahun, Istriku. I Love You.” Suara Reno bergetar menahan haru. Lelaki itu
teringat dengan kedua orang tuanya yang tak merestui pernikahan mereka. Reno
tak lagi peduli akibat dari sikap membangkang yang dilakukannya. Ia hanya ingin
menikmati kebahagiaan bersama Larasati di sisa waktu yang entah kapan akan
berakhir.
==================
* Makassar, 13 Juli 2015
Sumber gambar disini



0 komentar:
Posting Komentar