Minggu, 12 Juli 2015

Lukisan Janji

0



Ucapan selamat pagi menyambut Reno saat memasuki ruangan. Ia membalas sapa lalu menuju meja kerjanya yang dibatasi sekat sebatas dada dengan karyawan lain. Sebelum duduk lelaki itu masih menyempatkan diri memandang sekeliling. Pandangannya mengitari ruangan lalu terhenti pada sebuah meja kerja tanpa penghuni.
“Utari tidak masuk hari ini, pak.” Mika muncul dan seolah tahu apa yang tengah dipikirkan atasannya. Reno akhirnya duduk lalu meraih kertas yang disodorkan Mika.
“Alasannya apa tidak masuk kerja?” Reno bertanya sembari membaca lembaran kertas didepannya.
“Menjemput saudara perempuannya yang sakit untuk di rawat disini.”
“Dia punya saudara? Dari berkas data diri, statusnya kan anak tunggal?”
“Benar, pak. Saudaranya itu diadopsi. Karena kedua orang tua angkatnya meninggal dalam kecelakaan, saudaranya itu kembali ke keluarga Utari.”
“Kamu sepertinya tahu banyak tentang Utari. Apa dia sering curhat?”
“Tidak juga pak. Hanya waktu dia ijin saya sempat menanyakan karena penasaran seperti yang bapak tanyakan tadi.”
Reno kemudian menandatangani berkas-berkas tanpa bertanya lagi. Namun setelah Mika pergi, lelaki itu hanya termenung menatap layar smartphone miliknya. Membaca sebuah pesan berulang-ulang sejak semalam seolah butuh pemahaman untuk mengerti maksud pesan tersebut.
Kak Reno, bagaimana kabarmu? Sejak enam bulan lalu, tak ada satupun pesanku yang kakak balas. Bagaimana hubungan kita? Apakah penolakan keluarga kakak terhadapku membuat kakak bimbang? Jika benar, aku akan ikhlas melepas kakak. Yang merindukanmu, Larasati.
Larasati, nama itu terlintas kembali dalam benak Reno setelah susah payah melupakan sosoknya. Reno harus meninggalkan kota dimana dia dan Larasati tinggal demi melupakan gadis itu. Ayah dan ibunya tidak memberikan restu ketika Reno menyampaikan niat melamar Larasati. Entah apa alasannya, hingga kini Reno juga tidak tahu. Kedua orang tuanya tidak membahas lebih jauh selain menolak gadis yang diajukan Reno.
Sejak kepergiaannya, tak pernah sekalipun Reno mengirim pesan atau menelpon. Nomor handphone sengaja dinonaktifkan. Dirinya benar-benar ingin menenangkan diri sebelum mengambil keputusan. Melupakan gadis yang sangat dicintai tentu bukan hal mudah. Bagi Reno, Larasati adalah cinta pertamanya dan selalu hadir niat dalam hatinya untuk menyunting gadis lembut itu.
Namun, entah darimana Larasati mendapatkan info nomor handphonenya. Tiba-tiba saja, gadis itu mengirim pesan sms padanya. Rasa bimbangnya makin bertambah ketika suatu hari, kantor menerima karyawan baru bernama Utari. Wajahnya yang bagai pinang dibelah dua dengan Larasati makin memesona dalam pikiran Reno. Utari gadis yang sangat percaya diri. Sikapnya yang supel dan ramah membuatnya cepat meraih simpati di kantor. Perlahan, sosok Larasati dalam hati Reno mulai tergantikan oleh Utari. Dan sepertinya, perhatian Reno mendapat balasan dari Utari. Terkadang gadis itu sengaja memberi ruang agar ada percakapan antara dirinya dan Reno.
Smartphonenya berdering membuat lamunan Reno buyar.
“Halo..”
“Pak Reno, maaf mengganggu. Tadi saya belum sempat ijin. Saya tidak masuk tiga hari ini karena menjemput saudara yang sakit.”
“Oh, iya. Jika butuh bantuan jangan sungkan memberitahu ya..”
Reno menutup smartphone lalu kembali tercenung membaca pesan singkat dari Larasati. Suara merdu Utari dan pesan Larasati bergantian hadir memenuhi benaknya. Rasa penasaran membuat batinnya tak tenang sejak mengetahui Utari memiliki saudara perempuan. Apakah saudari Utari itu Larasati? Batin Reno tak henti bertanya.
****
Pagi ini Reno nampak tak bersemangat memasuki kantor meski dia tahu hari ini Utari akan bekerja kembali setelah ijin tiga hari. Entah mengapa, perasaannya tidak tenang sejak mengetahui Utari ternyata memiliki saudara perempuan. Bayangan Larasati terus menggelayut dalam benaknya.
 “ Utari belum masuk, Pak. Tadi dia sempat mampir lalu ijin menjaga saudaranya di rumah sakit.”
Reno terpaku sejenak sebelum melangkah menuju meja kerjanya. Dia lalu duduk dengan perasaan gelisah. Karena terus menerus di dera rasa penasaran akan sosok saudara Utari, Reno akhirnya memutuskan ke rumah sakit untuk memastikan sesuatu.
Sekitar lima belas menit, Reno menunggu Utari di ruang tunggu. Dia sengaja menghubungi gadis itu untuk menjemputnya. Utari muncul dengan senyum manis namun Reno tak lagi merasakan getaran seperti biasa. Dia bahkan lupa jika senyum itu yang selalu membuatnya ingin selalu bertemu dengan Utari.
“Ruangannya disini, Pak.” Utari membuka pintu kamar Paviliun 4 namun Reno tak segera melangkah, lelaki itu hanya berdiri sementara matanya tertuju pada sosok yang tengah terbaring di pembaringan.
“Pak.” Teguran Utari menyadarkan Reno untuk segera masuk.
Makin dekat, debar didada Reno kian berpacu cepat mengalirkan aliran dingin keseluruh sendi-sendi tubuhnya. Saat kedua matanya menatap jelas wajah pucat yang tengah terbaring, kedua tungkai kakinya mendadak lemah, Reno nyaris terkulai. Syukurlah tangan kanannya sigap memegang sisi tempat tidur, sementara tangan kirinya meraih kursi kosong yang belum diduduki Utari.
“Larasati.” Gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Tangan Reno yang gemetar bergerak perlahan mendekati wajah Larasati. Menyentuh dahinya lalu mengelus rambut perempuan yang belum juga terbangun dari tidurnya. Reno tak menyadari jika sikapnya membuat Utari heran. Gadis itu kemudian pindah ke sisi sebelah kiri pembaringan.
“Ternyata dia saudaramu.” Ucap Reno tanpa berpaling. Suaranya yang nyaris berbisik tak terdengar oleh Utari. Gadis itu kian bingung menghadapi sikap bosnya itu.
Lama Reno terdiam menatap wajah Larasati. Lalu seolah tersadar tengah ada yang menunggunya, mata gadis itu perlahan terbuka. Ketika pandangannya bertemu dengan Reno, bening mata itu mendadak dipenuhi embun.
Jemari Reno refleks menyentuh pipi gadis itu lalu dengan lembut mengusap air mata yang menetes disudut matanya.
“Maafkan aku.” Ucap Reno dengan mata basah. Jarak wajah keduanya sangat dekat. Utari yang menyaksikan hanya bisa terpana dalam kebingungan. Tak ada suara selain isak yang memenuhi ruangan.
***
Kilas balik  sebelum Reno ke rumah sakit.
Pagi itu, saat Reno berbincang dengan Mika, pandangannya tertuju pada sebuah lukisan yang terpajang di dinding belakang meja kerja Utari. Reno terpaku sesaat menatap lukisan itu.
“Siapa yang memasang lukisan ini?”
Mika yang mendengar bergegas mendekat.
“Utari, pak. Katanya ini lukisan saudaranya yang sakit itu.”
“Dia membelinya?” Wajah Reno nampak cemas.
“Tidak. Katanya saudaranya itu melukisnya sendiri. Nama lukisan ini Lukisan Janji..”
Reno makin tercekat mendengarnya lalu tanpa berkata lagi dia meninggalkan Mika menuju meja kerjanya. Wajahnya pucat dan tangannya gemetar menahan dingin yang tiba-tiba hadir disekujur tubuhnya. Lukisan itu pernah dikirimkan Larasati untuknya namun segera Ia kembalikan karena tidak ingin menyimpan kenangan apapun tentangnya.
Lukisan bernama Lukisan Janji itu adalah ungkapan perasaan Larasati padanya. Lukisan yang sengaja dibuat Larasati untuk mengingatkan Reno akan janji-janji yang pernah Reno ucapkan. Melihat lukisan itu seolah mengingatkan Reno akan berbagai mimpi yang pernah dia hadirkan dalam kehidupan Larasati. Mimpi mereka akan masa depan.
Kini, saat dia telah melupakan kebersamaannya dengan Larasati, lukisan itu kembali hadir di depan matanya. Berada dalam dekapan Utari, gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Larasati. Seandainya dia menyadari hal tersebut tentu dia akan memikirkan matang-matang sebelum memberikan tempat istimewa di hatinya untuk Utari.
****
Dua bulan kemudian.
“Bagaimana sayang, pemandangannya indah bukan?” Reno merangkul Larasati yang duduk di kursi roda. Keduanya tengah menatap pegunungan hijau berhiaskan awan  putih yang berderet indah menghiasi langit.
“Sangat indah, Mas.” Jawab Larasati seraya menyentuh jemari Reno. Reno membalas dengan menggenggam jemari Larasati lalu dengan lembut lelaki itu mencium keningnya.
“Selamat ulang tahun, Istriku. I Love You.” Suara Reno bergetar menahan haru. Lelaki itu teringat dengan kedua orang tuanya yang tak merestui pernikahan mereka. Reno tak lagi peduli akibat dari sikap membangkang yang dilakukannya. Ia hanya ingin menikmati kebahagiaan bersama Larasati di sisa waktu yang entah kapan akan berakhir.  

==================  

* Makassar, 13 Juli 2015
Sumber gambar disini

0 komentar:

Posting Komentar