Kisah sebelumnya disini
Sesuai
rencana, saat mereka tiba di rumah sakit, Pak Rahmat yang menemui Cecil.
Sementara Randi dan Dicky menunggu di dalam mobil. Namun selang setengah jam kemudian
terlihat pak Rahmat keluar menghampiri mereka.
“Ada
apa Pak Rahmat? Mana gadis itu?” sambut Dicky penasaran.
“Begini
mas Dicky, nona Cecil tidak mau ikut. Selain tak ada yang menggantikannya
menjaga pasien, dia juga tidak percaya dengan ucapan saya. Sepertinya harus mas
Devin yang kedalam untuk menemuinya.”
“Baiklah,
biar aku saja yang kedalam.” Randi bersiap membuka pintu mobil ketika tangan
Dicky menyentuh lengannya.
“Jangan
kesana dengan tampilan seperti sekarang. Sama saja kamu mengundang orang untuk
mendekatimu.”
“Ya ampun, aku baru sadar! Bagaimana caranya
masuk kesana tanpa ketahuan?” tanya Randi bingung.
“Begini saja..” Dicky bergerak cepat menata
rambut Randi dengan model berponi yang menutupi bagian atas dari wajahnya. Kemudian
memasangkan topi dan kacamata. Meski tidak terlalu drastis namun dengan
tampilan baru ini, Randi terlihat berbeda.
“Lumayan,
orang-orang tidak akan mengenalimu.” Ujarnya.
“Mas
Dicky yakin?”
“Iya.”
Randi
kemudian keluar dari mobil lalu tergesa-gesa menuju ruangan dimana Cecil
berada. Langkahnya cepat mengikuti pak Rahmat yang berjalan didepannya.
Ternyata dugaan Dicky benar, perjalanan Randi mulus tanpa gangguan. Tak ada
seorangpun yang mengenalinya.
“Ini
ruangannya, Mas Devin.”
Pak Rahmat berhenti di depan ruang ICU. Randi terlihat
ragu membuka pintu.
“Ada
banyak orang nggak didalam?”tanya Randi sambil berusaha mengintip melalui celah
pintu.
“Hanya
beberapa, masing-masing pasien dibatasi tirai. Jadi mas Devin tidak usah cemas
bakal ketahuan.”
“Kita
berdua bisa masuk nggak?apa diijinkan? Inikan ruang ICU.”
“Mas
Devin saja yang menemui nona itu, saya
nunggu disini. Posisinya disudut sebelah kiri, memakai baju pink dan celana
coklat. Rambutnya sebahu.” Jelas Pak Rahmat.
Randi
tersenyum mendengar penjelasan pak Rahmat tentang sosok Cecil namun dia maklum.
Saat ini yang ada dihadapan Pak Rahmat adalah Devin bukan Randi. Wajar jika
lelaki itu menjelaskan seperti apa gadis yang akan dia temui.
Randi
akhirnya mendorong pintu perlahan lalu masuk setelah sebelumnya melepaskan
sepatu. Dia terus melangkah mendekati sudut ruangan sesuai arahan pak Rahmat.
Makin dekat, debar jantung Randi semakin kencang. Pemuda itu mulai gugup nyaris
takut. Dia tiba-tiba merasa khawatir tak bisa mengendalikan perasaannya saat
berhadapan dengan Cecil. Bagaimana jika Cecil mengenalinya? tapi bukankah saat
ini dia adalah Devin? Mustahil Cecil menganggapnya sebagai Randi.
Randi
menghela nafas sebelum akhirnya berdiri tepat didekat Cecil. Gadis itu rupanya
belum melihat Randi yang muncul dalam wujud Devin. Randi terpaku menatap sosok
dirinya yang terbaring koma lengkap dengan peralatan medis yang menempel
ditubuhnya. Sesaat dia tertegun hingga tak menyadari jika Cecil tengah
menatapnya.
“Kamu
siapa?”tegur Cecil mengagetkan Randi.
Buru-buru
pemuda itu mengulurkan tangan untuk salaman.
“Saya
Devin.”
Cecil
balas mengulurkan tangan meski terpancar keraguan dari wajahnya.
“Devin
siapa?”
“Devin.
Devin yang artis, idola kamu.”
Randi
sengaja mengecilkan suaranya. Dia tak ingin kehadirannya diketahui seisi
ruangan.
“Ohh,
bapak yang datang tadi sudah menyampaikan pesan. Cuma apa benar kamu Devin?
Kenapa beda?”
Cecil
mengamati dengan sorot mata ragu.
Randi
kemudian duduk dikursi lalu melepaskan topi dan kacamata serta menata poninya
agar Cecil percaya jika dia adalah Devin. Benar saja, Cecil terperangah,
matanya membelalak, shock. Gadis itu bahkan tak sanggup berkata-kata.
Randi
meraih tangan Cecil, menggenggamnya erat.
“Saya
kemari setelah membaca surat dari Randi. Saya minta maaf jika terlambat
menanggapi suratnya. Terlebih lagi suratmu. Saya harap kehadiran saya saat ini
bisa menebus kesalahan saya.” Randi lalu memperlihatkan surat yang ditulisnya
sendiri.
Mata
Cecil mulai basah. Bibirnya bergetar menahan haru.
“Jadi
mas Randi juga mengirim surat? Dia tahu kalau aku sangat mengidalakan mas
Devin...”
Airmata
Cecil tak terbendung. Gadis itu menangis sembari membaca surat yang telah
dikirimkan Randi untuk Devin. Dia tak tahu betapa pemuda didepannya tengah
berusaha keras untuk tidak memeluknya. Randi bersikap sebagai Devin. Akan aneh
jika tiba-tiba saja di memeluk Cecil seperti kebiasaannya jika gadis itu sedang
bersedih.
“Mas
Randi salah paham. Kenapa dia begitu bodoh mempercayai jika aku jatuh cinta
dengan mas Devin. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Mas Randi sedang koma,
bagaimana aku menjelaskan jika sebenarnya orang yang aku cintai itu dia bukan
mas Devin.”
Randi
terpana mendengar ucapan Cecil. Benarkah jika selama ini dia telah salah paham
terhadap sikap Cecil? Pemuda itu seolah tak percaya dengan apa yang baru saja
dia dengarkan. Perasaannya campur aduk. Dia ingin segera memeluk Cecil dan
memberitahu jika saat ini dirinya berada dalam tubuh Devin.
Namun
jika hal itu dia lakukan, Cecil justru akan menganggapnya gila karena saat ini
yang tampak dihadapannya adalah Devin bukan dirinya. Satu hal lagi, saat ini
mereka sedang ada di ruang ICU. Jika tak bisa mengendalikan perasaannya maka
pasien lain akan terganggu.
“Maafkan
saya mas Devin. Maaf jika karena kesalahpahaman ini, mas Devin jadi ikut
terlibat dalam masalah. Sebenarnya saya sudah melupakan surat itu dan sama
sekali tidak berharap bertemu dengan mas Devin.”
“Saya
yang minta maaf karena mengabaikan surat kalian..” Ucap Randi seraya mengusap
bening embun dimatanya. Ungkapan perasaan Cecil tentang dirinya membuat pemuda
itu terharu. Cecil takjub melihatnya.
“Mas
Devin menangis?”
“Maaf,
saya terharu melihat kalian.”
Randi
memalingkan wajahnya lalu mengusap kembali airmatanya.
“Mas
Randi juga orangnya sensitif. Kadang saat kami nonton film sedih, dia langsung
menangis..”
Cecil
menyentuh tangan Randi yang belum siuman,
mengusapnya dengan lembut. Perhatian penuh kasih yang ditunjukkan Cecil makin
membuat Randi tersentuh. Meski yang terbaring koma adalah dirinya namun ada
rasa bahagia mengetahui bahwa Cecil ternyata mencintainya.
“Oh,
iya mas Devin. Mengenai pesan di surat mas Randi, saya harap mas Devin tidak
terbebani. Terima kasih sudah datang hari ini menemui saya sekalian menjenguk
mas Randi. Saya tahu mas Devin sangat sibuk tapi masih berusaha meluangkan
waktu untuk kami. Kehadiran mas saat ini sangat berarti bagi saya.”
“Bukan
begitu, sebenarnya karena merasa bersalah, saya ingin menebusnya dengan bersama
Cecil selama dua hari ini. Kalau Cecil tidak keberatan.” Ucap Randi sembari
berdoa semoga Cecil tidak menolak rencananya.
“Dengan
kondisi mas Randi seperti ini, saya tidak bisa kemana-mana. Saya ingin terus
berada disini menjaganya. Apalagi di kota ini mas Randi hanya seorang diri.
Keluarganya ada di kampung dan belum bisa hadir dalam beberapa hari ini karena
mereka jauh dan terkendala biaya. Saya harap mas Devin mengerti.”
“Bukan
seperti itu, Cecil. Ijnkan besok dan lusa, saya menemani Cecil, ikut menjaga
Randi.”
Randi
menatap penuh harap. Dia sangat ingin terus berdekatan dengan Cecil setelah
mengetahui perasaan gadis itu terhadapnya. Tanpa Cecil jelaskan tentang keadaan
Randi, pemuda itu lebih dulu mengetahuinya. Tapi karena saat ini dia adalah
Devin, kembali dia harus maklum jika mendapat penjelasan lebih rinci tentang
keadaan Randi.
“Tapi
mas Devin kan sibuk? Bagaimana bisa ikut menemani saya menjaga mas Randi?”
“Oh,
itu sudah diatur. Saya sudah mengosongkan jadwal saya untuk dua hari ini.
Khusus menemani Cecil. Kalau Cecil tidak keberatan. Itung-itung menebus
kesalahan saya.”
Randi
terus berdoa dalam hati.
“Baiklah
kalau itu keinginan mas Devin. Hanya saja penampilan mas Devin harus seperti
tadi ya, karena kalau ada yang melihat pasti kita tidak akan nyaman.”
“Oke,
oke, Saya setuju.” Ucap Randi seraya mengubah kembali tampilannya seperti saat
pertama datang.
“Oh,
ya Cecil, saya mau pamit. Sampai ketemu besok ya..”
Cecil
mengangguk sambil tersenyum.
Randi
kemudian bergegas keluar dari ruang ICU. Saat diluar Pak Rahmat segera
mendekatinya.
“Kita
harus cepat pulang mas Devin. Kakak mas Devin sudah ada dirumah. Baru saja mas
Dicky menelpon.”
***
Dalam
perjalanan menuju rumah Devin, Randi dilanda kecemasan. Dia tidak tahu
bagaimana rupa kakak Devin yang bernama Laras. Keluarga Devin yang lain, Randi
juga tidak pernah melihat mereka.
“Kamu
kenapa?” tanya Dicky saat Randi terlihat gusar.
“Tidak
apa-apa..”
Dicky
tersenyum.
“Aku
tahu, kamu paling takut ketemu dengan mbak Laras. Orangnya memang menyeramkan
hehehehe tapi dia itu kakakmu. Sebagai kakak tertua, jelas dia sangat
mengontrol kehidupanmu setelah kedua orang tuamu tiada.”
Randi
tersenyum sekaligus bersyukur dalam hati. Tebakan Dicky terhadapnya meleset
jauh. Padahal sejak tadi Randi ingin mengorek keterangan tentang keluarga
Devin. Hanya saja dia khawatir Dicky akan menyebutnya amnesia karena lupa
dengan keluarga sendiri.
“Syukurlah
masih ada saudarimu yang lembut. Ehm, si kembar Vina dan Yanti. Andai aku masih
bujangan, ingin rasanya melamar salah satu dari mereka. Siapapun yang terpilih,
kecantikan dan kelembutannya sama...hehehehehe.”
Dicky
tertawa tapi sejurus kemudian tawanya terhenti lalu menatap heran kearah Randi.
“Mas
Dicky kenapa?” Randi balas memandang.
Dicky
menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya kedepan.
“Sepertinya
ada kabel ditubuhmu yang putus. Hari ini kamu benar-benar aneh. Biasanya saat
aku menyebut tentang saudarimu yang kembar, kamu akan langsung memotong ucapanku
dengan kalimat-kalimat mengerikan. Apa sekarang kamu tidak peduli lagi dengan
saudarimu?"
“Aku
sudah bosan mas Dicky..”
“Nah,
itu lagi! Kamu tidak pernah merasa bosan akan sesuatu. Selama berkaitan dengan
keluargamu. Aneh...”
Dicky
masih terus mengoceh tentang kelakuan Devin yang menurutnya berubah drastis.
Sikapnya malah membuat Randi semakin khawatir membayangkan akan bertemu dengan saudara-saudara
Devin. Randi merasa belum siap untuk bertemu dengan mereka.
Rasa
khawatir membuat Randi gugup. Hingga saat mobil berhenti tepat didepan teras
rumah Devin, dia tak juga beranjak turun.
“Mas
Devin, kita sudah tiba.” Dicky mengingatkan Randi yang tampak enggan keluar
dari mobil.
Randi
dengan langkah gontai melangkah memasuki rumah. Matanya mengitari ruangan
dengan perasaan was-was.
(Bersambung ) Part 1 2 3 4 5
sumber gambar disini



0 komentar:
Posting Komentar