Rabu, 18 Februari 2015

Cecil Part 2

0



Kisah sebelumnya disini

Sesuai rencana, saat mereka tiba di rumah sakit, Pak Rahmat yang menemui Cecil. Sementara Randi dan Dicky menunggu di dalam mobil. Namun selang setengah jam kemudian terlihat pak Rahmat keluar menghampiri mereka.

“Ada apa Pak Rahmat? Mana gadis itu?” sambut Dicky penasaran.

“Begini mas Dicky, nona Cecil tidak mau ikut. Selain tak ada yang menggantikannya menjaga pasien, dia juga tidak percaya dengan ucapan saya. Sepertinya harus mas Devin yang kedalam untuk menemuinya.”

“Baiklah, biar aku saja yang kedalam.” Randi bersiap membuka pintu mobil ketika tangan Dicky menyentuh lengannya.

“Jangan kesana dengan tampilan seperti sekarang. Sama saja kamu mengundang orang untuk mendekatimu.”

 “Ya ampun, aku baru sadar! Bagaimana caranya masuk kesana tanpa ketahuan?” tanya Randi bingung.

 “Begini saja..” Dicky bergerak cepat menata rambut Randi dengan model berponi yang menutupi bagian atas dari wajahnya. Kemudian memasangkan topi dan kacamata. Meski tidak terlalu drastis namun dengan tampilan baru ini, Randi terlihat berbeda.

“Lumayan, orang-orang tidak akan mengenalimu.” Ujarnya.

“Mas Dicky yakin?”

“Iya.”

Randi kemudian keluar dari mobil lalu tergesa-gesa menuju ruangan dimana Cecil berada. Langkahnya cepat mengikuti pak Rahmat yang berjalan didepannya. Ternyata dugaan Dicky benar, perjalanan Randi mulus tanpa gangguan. Tak ada seorangpun yang mengenalinya.

“Ini ruangannya, Mas Devin.” 

Pak Rahmat berhenti di depan ruang ICU. Randi terlihat ragu membuka pintu.

“Ada banyak orang nggak didalam?”tanya Randi sambil berusaha mengintip melalui celah pintu.

“Hanya beberapa, masing-masing pasien dibatasi tirai. Jadi mas Devin tidak usah cemas bakal ketahuan.”

“Kita berdua bisa masuk nggak?apa diijinkan? Inikan ruang ICU.”

“Mas Devin  saja yang menemui nona itu, saya nunggu disini. Posisinya disudut sebelah kiri, memakai baju pink dan celana coklat. Rambutnya sebahu.” Jelas Pak Rahmat.

Randi tersenyum mendengar penjelasan pak Rahmat tentang sosok Cecil namun dia maklum. Saat ini yang ada dihadapan Pak Rahmat adalah Devin bukan Randi. Wajar jika lelaki itu menjelaskan seperti apa gadis yang akan dia temui.

Randi akhirnya mendorong pintu perlahan lalu masuk setelah sebelumnya melepaskan sepatu. Dia terus melangkah mendekati sudut ruangan sesuai arahan pak Rahmat. Makin dekat, debar jantung Randi semakin kencang. Pemuda itu mulai gugup nyaris takut. Dia tiba-tiba merasa khawatir tak bisa mengendalikan perasaannya saat berhadapan dengan Cecil. Bagaimana jika Cecil mengenalinya? tapi bukankah saat ini dia adalah Devin? Mustahil Cecil menganggapnya sebagai Randi.

Randi menghela nafas sebelum akhirnya berdiri tepat didekat Cecil. Gadis itu rupanya belum melihat Randi yang muncul dalam wujud Devin. Randi terpaku menatap sosok dirinya yang terbaring koma lengkap dengan peralatan medis yang menempel ditubuhnya. Sesaat dia tertegun hingga tak menyadari jika Cecil tengah menatapnya.

“Kamu siapa?”tegur Cecil mengagetkan Randi.

Buru-buru pemuda itu mengulurkan tangan untuk salaman.

“Saya Devin.”

Cecil balas mengulurkan tangan meski terpancar keraguan dari wajahnya.

“Devin siapa?”

“Devin. Devin yang artis, idola kamu.”

Randi sengaja mengecilkan suaranya. Dia tak ingin kehadirannya diketahui seisi ruangan.

“Ohh, bapak yang datang tadi sudah menyampaikan pesan. Cuma apa benar kamu Devin? Kenapa beda?”

Cecil mengamati dengan sorot mata ragu.

Randi kemudian duduk dikursi lalu melepaskan topi dan kacamata serta menata poninya agar Cecil percaya jika dia adalah Devin. Benar saja, Cecil terperangah, matanya membelalak, shock. Gadis itu bahkan tak sanggup berkata-kata.

Randi meraih tangan Cecil, menggenggamnya erat.

“Saya kemari setelah membaca surat dari Randi. Saya minta maaf jika terlambat menanggapi suratnya. Terlebih lagi suratmu. Saya harap kehadiran saya saat ini bisa menebus kesalahan saya.” Randi lalu memperlihatkan surat yang ditulisnya sendiri.

Mata Cecil mulai basah. Bibirnya bergetar menahan haru.

“Jadi mas Randi juga mengirim surat? Dia tahu kalau aku sangat mengidalakan mas Devin...”

Airmata Cecil tak terbendung. Gadis itu menangis sembari membaca surat yang telah dikirimkan Randi untuk Devin. Dia tak tahu betapa pemuda didepannya tengah berusaha keras untuk tidak memeluknya. Randi bersikap sebagai Devin. Akan aneh jika tiba-tiba saja di memeluk Cecil seperti kebiasaannya jika gadis itu sedang bersedih.

“Mas Randi salah paham. Kenapa dia begitu bodoh mempercayai jika aku jatuh cinta dengan mas Devin. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Mas Randi sedang koma, bagaimana aku menjelaskan jika sebenarnya orang yang aku cintai itu dia bukan mas Devin.”

Randi terpana mendengar ucapan Cecil. Benarkah jika selama ini dia telah salah paham terhadap sikap Cecil? Pemuda itu seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan. Perasaannya campur aduk. Dia ingin segera memeluk Cecil dan memberitahu jika saat ini dirinya berada dalam tubuh Devin.

Namun jika hal itu dia lakukan, Cecil justru akan menganggapnya gila karena saat ini yang tampak dihadapannya adalah Devin bukan dirinya. Satu hal lagi, saat ini mereka sedang ada di ruang ICU. Jika tak bisa mengendalikan perasaannya maka pasien lain akan terganggu.

“Maafkan saya mas Devin. Maaf jika karena kesalahpahaman ini, mas Devin jadi ikut terlibat dalam masalah. Sebenarnya saya sudah melupakan surat itu dan sama sekali tidak berharap bertemu dengan mas Devin.”

“Saya yang minta maaf karena mengabaikan surat kalian..” Ucap Randi seraya mengusap bening embun dimatanya. Ungkapan perasaan Cecil tentang dirinya membuat pemuda itu terharu. Cecil takjub melihatnya.

“Mas Devin menangis?”

“Maaf, saya terharu melihat kalian.”

Randi memalingkan wajahnya lalu mengusap kembali airmatanya.

“Mas Randi juga orangnya sensitif. Kadang saat kami nonton film sedih, dia langsung menangis..”

Cecil menyentuh tangan  Randi yang belum siuman, mengusapnya dengan lembut. Perhatian penuh kasih yang ditunjukkan Cecil makin membuat Randi tersentuh. Meski yang terbaring koma adalah dirinya namun ada rasa bahagia mengetahui bahwa Cecil ternyata mencintainya.

“Oh, iya mas Devin. Mengenai pesan di surat mas Randi, saya harap mas Devin tidak terbebani. Terima kasih sudah datang hari ini menemui saya sekalian menjenguk mas Randi. Saya tahu mas Devin sangat sibuk tapi masih berusaha meluangkan waktu untuk kami. Kehadiran mas saat ini sangat berarti bagi saya.”

“Bukan begitu, sebenarnya karena merasa bersalah, saya ingin menebusnya dengan bersama Cecil selama dua hari ini. Kalau Cecil tidak keberatan.” Ucap Randi sembari berdoa semoga Cecil tidak menolak rencananya.

“Dengan kondisi mas Randi seperti ini, saya tidak bisa kemana-mana. Saya ingin terus berada disini menjaganya. Apalagi di kota ini mas Randi hanya seorang diri. Keluarganya ada di kampung dan belum bisa hadir dalam beberapa hari ini karena mereka jauh dan terkendala biaya. Saya harap mas Devin mengerti.”

“Bukan seperti itu, Cecil. Ijnkan besok dan lusa, saya menemani Cecil, ikut menjaga Randi.”

Randi menatap penuh harap. Dia sangat ingin terus berdekatan dengan Cecil setelah mengetahui perasaan gadis itu terhadapnya. Tanpa Cecil jelaskan tentang keadaan Randi, pemuda itu lebih dulu mengetahuinya. Tapi karena saat ini dia adalah Devin, kembali dia harus maklum jika mendapat penjelasan lebih rinci tentang keadaan Randi.

“Tapi mas Devin kan sibuk? Bagaimana bisa ikut menemani saya menjaga mas Randi?”

“Oh, itu sudah diatur. Saya sudah mengosongkan jadwal saya untuk dua hari ini. Khusus menemani Cecil. Kalau Cecil tidak keberatan. Itung-itung menebus kesalahan saya.”

Randi terus berdoa dalam hati.

“Baiklah kalau itu keinginan mas Devin. Hanya saja penampilan mas Devin harus seperti tadi ya, karena kalau ada yang melihat pasti kita tidak akan nyaman.”

“Oke, oke, Saya setuju.” Ucap Randi seraya mengubah kembali tampilannya seperti saat pertama datang.

“Oh, ya Cecil, saya mau pamit. Sampai ketemu besok ya..”

Cecil mengangguk sambil tersenyum.

Randi kemudian bergegas keluar dari ruang ICU. Saat diluar Pak Rahmat segera mendekatinya.

“Kita harus cepat pulang mas Devin. Kakak mas Devin sudah ada dirumah. Baru saja mas Dicky menelpon.”

***

Dalam perjalanan menuju rumah Devin, Randi dilanda kecemasan. Dia tidak tahu bagaimana rupa kakak Devin yang bernama Laras. Keluarga Devin yang lain, Randi juga tidak pernah melihat mereka.

“Kamu kenapa?” tanya Dicky saat Randi terlihat gusar.

“Tidak apa-apa..”

Dicky tersenyum.

“Aku tahu, kamu paling takut ketemu dengan mbak Laras. Orangnya memang menyeramkan hehehehe tapi dia itu kakakmu. Sebagai kakak tertua, jelas dia sangat mengontrol kehidupanmu setelah kedua orang tuamu tiada.”

Randi tersenyum sekaligus bersyukur dalam hati. Tebakan Dicky terhadapnya meleset jauh. Padahal sejak tadi Randi ingin mengorek keterangan tentang keluarga Devin. Hanya saja dia khawatir Dicky akan menyebutnya amnesia karena lupa dengan keluarga sendiri.

“Syukurlah masih ada saudarimu yang lembut. Ehm, si kembar Vina dan Yanti. Andai aku masih bujangan, ingin rasanya melamar salah satu dari mereka. Siapapun yang terpilih, kecantikan dan kelembutannya sama...hehehehehe.”

Dicky tertawa tapi sejurus kemudian tawanya terhenti lalu menatap heran kearah Randi.

“Mas Dicky kenapa?” Randi balas memandang.

Dicky menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya kedepan.

“Sepertinya ada kabel ditubuhmu yang putus. Hari ini kamu benar-benar aneh. Biasanya saat aku menyebut tentang saudarimu yang kembar, kamu akan langsung memotong ucapanku dengan kalimat-kalimat mengerikan. Apa sekarang kamu tidak peduli lagi dengan saudarimu?"

“Aku sudah bosan mas Dicky..”

“Nah, itu lagi! Kamu tidak pernah merasa bosan akan sesuatu. Selama berkaitan dengan keluargamu. Aneh...”

Dicky masih terus mengoceh tentang kelakuan Devin yang menurutnya berubah drastis. Sikapnya malah membuat Randi semakin khawatir membayangkan akan bertemu dengan saudara-saudara Devin. Randi merasa belum siap untuk bertemu dengan mereka.

Rasa khawatir membuat Randi gugup. Hingga saat mobil berhenti tepat didepan teras rumah Devin, dia tak juga beranjak turun.

“Mas Devin, kita sudah tiba.” Dicky mengingatkan Randi yang tampak enggan keluar dari mobil.

Randi dengan langkah gontai melangkah memasuki rumah. Matanya mengitari ruangan dengan perasaan was-was.



(Bersambung )  Part  1  2  3  4  5

sumber gambar disini

0 komentar:

Posting Komentar