
Saat semuanya bukan lagi tentang
hal-hal baru dan hanya berisi potongan-potongan kenangan masa silam. Ada
saatnya mungkin kita akan berhenti berbincang dan hanya bisa terdiam. Lidah
kita bukan kelu namun rangkaian kata dari otak mendadak hilang dan kita ragu
atau bahkan takut untuk memulai tanya.
Saat seperti ini mungkin sebaiknya aku
beranjak meski hatiku tak rela. Berada dalam keheningan sungguh menyesakkan
terlebih karena aku tak mampu menahan debaran jantung yang berpacu cepat.
Sementara dirimu hanya diam terpaku. Apa yang tengah engkau pikirkan? Akukah
ataukah seseorang yang lain?
Aku bukan peramal yang bisa menebak
hati seseorang. Aku manusia biasa yang bisa saja salah menafsirkan “sikap baik”
dari lawan jenis. Hal yang wajar bukan jika aku sangat berhati-hati menilai
perhatian yang diberikan padaku? Karena seperti mereka, aku juga tak ingin
sikapku disalah artikan oleh mereka yang belum mengenalku dengan baik.
Ini tentang seseorang yang jelas dan
nyata menunjukkan ketertarikan padaku. Untuk mereka saja aku sangat
berhati-hati membaca niat mereka apalagi untuk yang diam-diam dan hanya
memendam rasa dalam hati? Apa yang bisa aku jabarkan?
Padamu yang mungkin merindukanku dan
hanya merajut mimpi dalam hayalmu, keluarlah sekiranya benar ada niat suci
dalam hatimu. Jangan mendekam dalam sarang kebekuan dan hanya berselimut malu.
Tidakkah kau tahu, rasaku mungkin saja sama atau beda denganmu. Maka keluarlah
agar kita saling melihat warna kita masing-masing dan tidak lagi sibuk menebak
dalam hayalan. Bergegaslah karena pada akhirnya, aku akan memilih lelaki yang
benar-benar peduli dan sayang padaku bukan hanya berhayal dan memimpikanku
diam-diam.

0 komentar:
Posting Komentar