Jumat, 22 November 2013

[Jelang Pilkades Rangkat] Pilkades VS Piljodoh

0



 

Menjelang tengah hari, waktunya istrahat makan siang. Satu persatu staf kantor desa meninggalkan kantor menuju kediaman masing-masing. Hanya Pak Kades Ibay dan Wakades Asih yang tinggal dalam ruangan. Mereka masih membahas soal PILKADES yang akan diselenggarakan di desa.



“Kondisi terakhir bagaimana, mbak Asih?” tanya pak Kades Ibay.



“Spanduk-spanduk, umbul-umbul, poster, semuanya  sudah terpasang, pak Kades.”



“Poster calon kades maksud mbak Asih?” Asih menggiyakkan.



“Ada beberapa calon yang dipilih warga untuk ikut dalam bursa Pilkades kali ini, pak Kades. Menurut saya, semua calonnya mantap dan pas untuk memimpin desa rangkat.”



Pak Kades ibay manggut-manggut.



“Siapa aja calonnya?”



Asih membuka lembaran kertas ditangannya.



“Berdasarkan survey yang dilakukan Lembaga Survey Desa Rangkat pada 683 responden...” Alis pak kades terangkat.



“Survey? Sejak kapan? Dan kantor itu, kok aku baru dengar namanya?” pak kades memotong ucapan Asih.



“Oh, lembaga ini baru saja dibentuk, pak Kades. Kang Inin, mas Pongky, mas El, dan mbak Fitri yang memprakarsai dibentuknya lembaga ini. Beberapa desa tetangga sudah menerapkan model seperti ini  untuk mengetahui aspirasi dari masyarakat. Dengan adanya survey ini, kita tidak akan kesulitan menentukan siapa saja calon yang diinginkan masyarakat menjadi kades berikutnya.” Jelas Asih. 

 Kades Ibay kembali manggut-manggut.



“Ide yang cemerlang. Trus hasilnya gimana?”



“Nama-nama yang banyak disebutkan warga, yaitu....”



Asih tak melanjutkan membaca kertas di tangannya karena mendadak dari arah luar terdengar suara gaduh.



“Suara apa itu?” pak kades Ibay bergegas keluar ruangan disusul Asih yang masih memegang lembaran kertas ditangannya. Keduanya terkejut ketika tiba di teras kantor desa.



“Pokoknya aku sebagai bunda nggak setuju Ranti dipinang Jeng Marla untuk anaknya si Bocing..” mbak Yety meluapkan kekesalannya di hadapan pak Kades yang hanya bisa melongo melihat barisan perempuan yang mengantar mereka.



Nampak Oma Eni, mbak Yuli, mbak Fitri, miss Rochma, mbak Mini, Kembang, Acik, Aya, Vianna, Ranti, El Fietry, Mahar. Jizan malah masih mengenakan seragam sekolah. Si imut itu menggapit lengan kakaknya si Ranti. Dia nampak ketakutan. Tak ketinggalan Dorma dengan pentungannya, hadir pula mas Pongky, pasangan El dan istrinya Zaa.



“Lho siapa yang maksa? Ini keinginan putrimu sendiri, Jeng Yety. Ranti udah setuju kok!” Balas mbak Marla, emak Bocing tak kalah sengitnya.



Mbak Yety makin emosi.



“Pokoknya pak Kades harus menyelesaikan masalah ini. Aku tetap tidak setuju besanan ama Jeng Marla, apalagi kalo ingat bakal punya menantu seperti  Bocing....”



“Emang kenapa si Bocing? Anakku itu satu-satunya calon tebaik untuk anakmu si Ranti. Mereka sangat serasi jika bersanding di pelaminan. Yang satu ganteng, satunya cantik. Udah pas mereka. Kenapa jeng Yety masih nggak setuju?”



Mbak Yety menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata untuk meredam emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun. Bibirnya gemetar karena tak sanggup lagi menahan gejolak amarah.



“Ganteng?? Anakmu ganteng?? Ngaca dulu sana..”



“Sudah, sudah, jangan berantem lagi! Urusan jodoh selesaikan di KUA bukan disini..” ucap Pak Kades Ibay akhirnya. Mbak Yety melotot kaget.



“Nah, tuh kan? Pak kades aja setuju kita selesaikan di KUA. Jadi tunggu apa lagi, terima aja anakku yang ganteng si Bocing..”



“Enak aja! Aku tetap nggak setuju!!!” teriak mbak Yety sambil memegang tangan Ranti, membawa putrinya itu meninggalkan kantor desa.



==============

 

____________________________________________________________________
DESA RANGKAT  menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda,  datang, bergabung  dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)
13018350631199293075

0 komentar:

Posting Komentar