Kamis, 21 November 2013

Ketika Aku Kehilangan Kata-kata

0








Aku tak tahu harus memulai darimana. Jari jemariku hanya diam di atas tuts-tus laptop, tak mampu mengetikkan huruf-huruf yang berjejal antri dalam otakku. Tak seperti biasanya, kali ini otak dan tanganku tak mampu menjalin kerja sama yang apik. Apa yang seharusnya ada dalam pikiranku tak mampu terbaca pada layar laptop di depanku.



Ada apa denganku? Berhari-hari pertanyaan ini hadir dan mengusik jiwaku. Semangat menulisku entah menghilang di sisi dunia bagian mana. Aku terus mencoba mencari tahu namun semakin aku mencari terkesan seperti alasan yang tak seharusnya menjadi tameng bagiku. Aku makin gelisah. Ini bukan diriku yang sebenarnya.



Aku bukan mahkluk sempurna, aku juga pernah berkali-kali terjatuh. Bahkan aku pernah melakukan hal yang memalukan, jatuh di tempat yang sama berulang-ulang. Namun meski berkali-kali merasakan getirnya kehidupan, aku tetap bisa bangkit dengan satu tekad tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi sepertinya hal itu terulang kembali. Aku memang belum terjatuh, hanya tanda-tanda ke arah itu semakin jelas terlihat.



Kupejamkan mata sambil merenung. Kemana diriku yang tegar? Kemana diriku yang bisa memilah rasa? Kemana diriku yang mudah bangkit dari keterpurukan? Haruskah aku menghakimi diriku? Bukankah aku juga manusia yang punya sisi kelemahan? Punya hati wanita yang mudah luluh oleh sesuatu? Tapi apakah harus seperti ini aku menghadapinya?



Memberi nasehat terkadang mudah terutama karena bukan kita yang mengalami kesulitan dan harus menjalani. Mungkin itulah yang kini aku rasakan. Saat orang lain mengalami kemalangan atau peristiwa menyedihkan, mudah saja kita memberi nasehat. Meminta bersikap tegar, meminta bersikap sabar, meminta bersikap ikhlas. Itu untuk orang lain. Bagaimana jika yang mengalami adalah kita sendiri? Ternyata bicara memang mudah.



Dalam hidup peristiwa bahagia dan menyedihkan datang silih berganti. Kehilangan yang kita miliki, entah itu harta atau seseorang yang kita cintai. Semuanya menimbulkan kesedihan yang mendalam. Dan yang bisa merasakan itu adalah kita sendiri. Orang lain meski turut menangis bersama kita, mereka bukanlah diri kita yang benar-benar kehilangan. Hanya kita sendiri yang tahu betapa beratnya rasa itu.



Kehilangan. Yah, kehilangan. Aku merasa inilah kunci keresahanku. Mungkin lebih tepat saat ini yang aku rasakan. Sedih karena kehilangan. Saat kutelusuri makin dalam. Sedihku karena kehilangan hati yang tak pernah kumiliki. Sedihku karena aku berusaha menghindari rasa itu. Aneh bukan? Seharusnya aku tak perlu bersedih karena hati itu bukan milikku bahkan tak pernah menjadi milikku. Tapi mengapa aku merasa kehilangan dan sedih yang membuat lelah jiwa dan raga?



Aku menghela nafas berulang-ulang. Haruskah kubenamkan diriku berlama-lama dalam kubangan rasa ini? terus terang aku tak suka terus terpuruk terutama karena minat menulisku mendadak lenyap sementara tumpukan draft-draft masih antri menanti perhatianku. Aku harus memaksa diriku keluar dari lingkaran keresahan yang membuat semangatku membeku.



Aku harus memulai semuanya kembali. Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat yang akan menjadi rangkuman paragraf. Pelan-pelan saja, itu terapi terbaik saat ini dibanding jika aku hanya merenung memikirkan seseorang yang sama sekali tak pernah mengingatku. Ucapan pak Mario Teguh memang benar,



“Cinta itu tentang perhatian. Bagaimana mungkin kamu yang cerdas, bisa mencintai orang yang mengabaikanmu?”



Terima kasih pak Mario Teguh. Perlahan kurasakan hatiku mulai tenang. Inilah duniaku, dunia tulis menulis. Aku hanya punya kata-kata untuk kutuliskan mewakili rasa dalam hati dan pikiranku. Kehilangan hati yang tak pernah kumiliki biarlah waktu yang akan mengobati. Aku tak sanggup membayangkan jika harus kehilangan kata-kata. Semoga hingga di akhir hidupku, aku tetap tak kehilangan mereka hingga aku bisa mengurai rasa yang memeluk jiwaku. Amin.



( November Rain )

0 komentar:

Posting Komentar