Aku tak tahu harus memulai darimana.
Jari jemariku hanya diam di atas tuts-tus laptop, tak mampu mengetikkan
huruf-huruf yang berjejal antri dalam otakku. Tak seperti biasanya, kali ini
otak dan tanganku tak mampu menjalin kerja sama yang apik. Apa yang seharusnya
ada dalam pikiranku tak mampu terbaca pada layar laptop di depanku.
Ada apa denganku? Berhari-hari
pertanyaan ini hadir dan mengusik jiwaku. Semangat menulisku entah menghilang
di sisi dunia bagian mana. Aku terus mencoba mencari tahu namun semakin aku
mencari terkesan seperti alasan yang tak seharusnya menjadi tameng bagiku. Aku
makin gelisah. Ini bukan diriku yang sebenarnya.
Aku bukan mahkluk sempurna, aku juga
pernah berkali-kali terjatuh. Bahkan aku pernah melakukan hal yang memalukan,
jatuh di tempat yang sama berulang-ulang. Namun meski berkali-kali merasakan
getirnya kehidupan, aku tetap bisa bangkit dengan satu tekad tak akan
mengulangi kesalahan yang sama. Tapi sepertinya hal itu terulang kembali. Aku
memang belum terjatuh, hanya tanda-tanda ke arah itu semakin jelas terlihat.
Kupejamkan mata sambil merenung.
Kemana diriku yang tegar? Kemana diriku yang bisa memilah rasa? Kemana diriku
yang mudah bangkit dari keterpurukan? Haruskah aku menghakimi diriku? Bukankah aku
juga manusia yang punya sisi kelemahan? Punya hati wanita yang mudah luluh oleh
sesuatu? Tapi apakah harus seperti ini aku menghadapinya?
Memberi nasehat terkadang mudah
terutama karena bukan kita yang mengalami kesulitan dan harus menjalani.
Mungkin itulah yang kini aku rasakan. Saat orang lain mengalami kemalangan atau
peristiwa menyedihkan, mudah saja kita memberi nasehat. Meminta bersikap tegar,
meminta bersikap sabar, meminta bersikap ikhlas. Itu untuk orang lain.
Bagaimana jika yang mengalami adalah kita sendiri? Ternyata bicara memang
mudah.
Dalam hidup peristiwa bahagia dan menyedihkan
datang silih berganti. Kehilangan yang kita miliki, entah itu harta atau
seseorang yang kita cintai. Semuanya menimbulkan kesedihan yang mendalam. Dan
yang bisa merasakan itu adalah kita sendiri. Orang lain meski turut menangis
bersama kita, mereka bukanlah diri kita yang benar-benar kehilangan. Hanya kita
sendiri yang tahu betapa beratnya rasa itu.
Kehilangan. Yah, kehilangan. Aku
merasa inilah kunci keresahanku. Mungkin lebih tepat saat ini yang aku rasakan.
Sedih karena kehilangan. Saat kutelusuri makin dalam. Sedihku karena kehilangan
hati yang tak pernah kumiliki. Sedihku karena aku berusaha menghindari rasa itu.
Aneh bukan? Seharusnya aku tak perlu bersedih karena hati itu bukan milikku
bahkan tak pernah menjadi milikku. Tapi mengapa aku merasa kehilangan dan sedih
yang membuat lelah jiwa dan raga?
Aku menghela nafas berulang-ulang.
Haruskah kubenamkan diriku berlama-lama dalam kubangan rasa ini? terus terang
aku tak suka terus terpuruk terutama karena minat menulisku mendadak lenyap
sementara tumpukan draft-draft masih antri menanti perhatianku. Aku harus
memaksa diriku keluar dari lingkaran keresahan yang membuat semangatku membeku.
Aku harus memulai semuanya kembali.
Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat yang akan menjadi
rangkuman paragraf. Pelan-pelan saja, itu terapi terbaik saat ini dibanding
jika aku hanya merenung memikirkan seseorang yang sama sekali tak pernah
mengingatku. Ucapan pak Mario Teguh memang benar,
“Cinta
itu tentang perhatian. Bagaimana mungkin kamu yang cerdas, bisa mencintai orang
yang mengabaikanmu?”
Terima kasih pak Mario Teguh. Perlahan
kurasakan hatiku mulai tenang. Inilah duniaku, dunia tulis menulis. Aku hanya
punya kata-kata untuk kutuliskan mewakili rasa dalam hati dan pikiranku. Kehilangan
hati yang tak pernah kumiliki biarlah waktu yang akan mengobati. Aku tak
sanggup membayangkan jika harus kehilangan kata-kata. Semoga hingga di akhir
hidupku, aku tetap tak kehilangan mereka hingga aku bisa mengurai rasa yang
memeluk jiwaku. Amin.
( November Rain )
0 komentar:
Posting Komentar