Tetap Lantunkan larik kata,seiring detak nadi, selembut jiwa diantara sejumput damai, biarlah sang waktu tak pernah menghentikan, Selamanya.... (harapku)
Sesaat mata kami saling menatap dalam
diam. Aku sengaja memperlihatkan dengan jelas kantong belanja berisi gaun yang
akan aku kembalikan pada mas Rivan. Aku ingin tahu ekspresi mbak Tiara saat
melihatnya. Namun sikap mbak Tiara datar-datar saja. Sama sekali tak tertarik dengan
kantong belanja yang bertuliskan logo nama toko tempat gaun itu dibeli.
Mungkinkah bukan dia yang telah
membelinya? Lalu siapa, mas Rivan? Aku bingung hendak menbak siapa diantara
mereka yang mengirim gaun ini. Melihat mbak Tiara berada di rumah mas Rivan
seolah membuka layar besar didepanku. Cuplikan adegan demi adegan dari masa
lalu hingga kini seperti memberi jawaban rasa ragu yang hadir dalam hatiku.
Benarkah yang aku pikirkan? Ataukah aku salah paham kali ini?
“Apa kabar, Dena? Silahkan masuk..” mbak
Tiara tersenyum sumringah tak lagi grogi seperti awal melihatku. Aku masih
berdiri mematung, tak percaya dengan kenyataan yang tampak didepanku.
Benarkah
aku hanya salah paham?
Batinku lagi.
“Inilah rumahku, Dena. Jangan sungkan,
anggap seperti rumah sendiri.”
Aku melangkah masuk sambil terus
memperhatikan mbak Tiara yang
menggerakkan kursi roda. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman. Pertemuan kami
seharusnya tidak seperti ini. Aku selalu berhayal, jika bertemu kembali dengan
mbak Tiara, kami akan berteriak histeris lalu berpelukan layaknya saudara yang
lama tak bertemu. Tapi kenyataan yang terjadi sekarang sungguh jauh dari
impianku. Aku tak bisa memaksakan diriku bersikap seolah-olah tak ada masalah.
“Silahkan duduk, Dena. Mbak senang
bertemu denganmu. Sudah lama sekali ya...”
“Bagaimana kabar mbak Tiara? Maaf, no
hape yang mbak berikan terhapus, karena itu aku tidak bisa menghubungi mbak.”
“Aku baik-baik saja, Dena. Mbak juga
minta maaf. Sejak kita berpisah di rumah sakit, banyak hal yang terjadi, Dena.
Masalah keluargaku, masalah diriku, masalah perusahaan yang ditinggalkan papa.
Semuanya menyita perhatianku. Aku kehilangan waktu saat itu bahkan untuk diriku
sendiri.”
Aku meraih kantong belanjaan dan
sengaja kuletakkan tepat disampingku. Aku masih penasaran dengan ekspresi wajah
mbak Tiara. Jika benar dia yang telah mengirimnya, tentu hal aneh jika dia tak
peduli.
“Tadinya aku kemari untuk bertemu
dengan mas Rivan, mbak. Aku terkejut melihat mbak tinggal di rumah ini.” mbak
Tiara nampak kikuk mendengar ucapanku.
“Apa kalian berdua telah menikah?”
lanjutku. Aku tidak ingin memendam rasa penasaran berlama-lama.
“O, itu. Soal mas Rivan, kami sudah menikah
tapi hanya formalitas, Dena.”
Aku terperangah.
“Saat aku keluar dari rumah sakit dan
menghadapi kenyataan sepeninggal kedua orang tuaku, tak ada orang lain yang
bisa aku andalkan selain mas Rivan. Jadi meski aku menolak lamarannya tapi aku
ingin dia membantuku, menjagaku. Saat itu aku sulit percaya pada siapapun
kecuali mas Rivan. Perusahaan papa butuh kehadiranku tapi tak ada yang bisa aku
lakukan karena keterbatasanku. Akhirnya, aku meminta mas Rivan untuk mengelola
perusahaan papa.”
“Apa karena itu mas Rivan menghilang
tanpa jejak?” mbak Tiara mengangguk. Pantas saja mas Rivan seperti hilang
ditelan bumi meski aku terus mencarinya.
“Aku mencoba menghindarinya, namun
kenyataan yang kuhadapi memaksaku untuk menghubunginya. Perusahaan papa harus
diselamatkan secepatnya karena terlalu banyak pihak yang mencoba mengambil
keuntungan dari musibah yang kami alami. Tiba-tiba begitu banyak orang yang
mengaku sebagai keluargaku, mengaku sebagai pamanku, sebagai sepupuku. Namun
tak ada diantara mereka yang benar-benar peduli padaku selain hanya memikirkan
bagaimana caranya mendepakku dari perusahaan papa. Syukurlah mas Rivan tidak
sebodoh itu hingga akhirnya perusahaan papa bisa bertahan sampai sekarang.”
Mbak Tiara tak kuasa menahan
bulir-bulir bening dari matanya.
“Tapi untuk memasukkan mas Rivan kedalam
perusahaan papa juga tidak mudah, Dena. Aku terpaksa menikah dengannya meski
hanya di atas kertas, karena tak ada yang bisa melarang seorang suami
menyelamatkan perusahaan istrinya. Meski awalnya banyak cobaan tapi lama
kelamaan orang-orang yang menyulitkan kami perlahan mundur dan tak lagi
mengganggu kami.”
“Kenapa kalian menikah hanya di atas kertas
saja. Tidak menikah sungguh-sungguh
dalam kehidupan? Kenapa mesti berbohong?”
“Meski awalnya aku menganggap
pernikahan kami hanya formalitas, tapi lama kelamaan aku mulai menyadari jika
aku tak ingin kehilangannya. Dalam hatiku sebenarnya ingin menjadi istri mas
Rivan yang sesungguhnya, Dena. Hanya saja....” mbak Tiara terisak tak kuasa
melanjutkan kisahnya. Aku sabar menantinya menetralisir perasaan.
“Musibah yang lain menimpaku. Ada
tumor di rahimku, hingga aku terpaksa harus merelakan diriku tak lagi memiliki
rahim. Jika hanya tak memiliki kaki, aku masih percaya diri menjadi istrinya.
Tapi kehilangan rahimku, bagaimana aku bisa menjadi istri yang sempurna bagi mas
Rivan dengan kondisi seperti itu? Aku tidak ingin menjadi penghalang mas Rivan memiliki
keturunan. Akan dilema baginya jika menikah denganku sementara dia berhak untuk
memiliki penerus. Karena itu akan lebih baik jika mas Rivan memiliki istri lain
yang sempurna memberikan keturunan.”
“Tapi bagaimana dengan mas Rivan?
apakah dia setuju?”
“Hingga sekarang mas Rivan tidak
setuju. Tapi aku terus bertahan karena tanpa memiliki anak, bagaimana masa
depan perusahaan papa? Siapa yang akan menjadi penerus mas Rivan? Dimata hukum,
mas Rivan suamiku, Dena. Jadi jika dia menikah, kemungkinan istri nya menjadi
istri kedua dimata hukum. Tapi itu tidak berlaku dengan kami. Karena itu aku
meminta mas Rivan mencarimu. Lebih baik dia menikah denganmu karena aku telah
mengenalmu dengan baik. Tentu untuk menjelaskan masalah yang aku hadapi tidak
akan sesulit jika harus berhadapan dengan orang lain yang sama sekali buta
tentang masa laluku.”
“Jadi karena itu mas Rivan ingin
menikah denganku?” Aku tidak suka dengan pertanyaan ini. Rasanya sakit
mengetahuinya. Seperti ada ruang kosong yang memenuhi hatiku. Perlahan ruang
kosong itu dipenuhi luka yang berdarah. Sakit sekali.
Mbak Tiara mendekatiku. Dia meraih
tanganku, menggenggamnya erat.
“Aku harap kamu tidak tersinggung,
Dena. Ini bukan tidak menghargaimu, hanya saja seperti yang terjadi ketika aku
meminta mas Rivan menjaga dan menolongku. Kali ini juga sama. Aku berharap kamu
bersedia menolongku, menolong kami. Aku tetap akan menjadi istri mas Rivan di
atas kertas sementara kamu adalah istri yang sebenar-benarnya istri. Apakah
kamu bersedia, Dena?”
Mbak Tiara menatapku penuh harap.
Matanya berkaca-kaca. Aku tak kuasa menahan kesedihan yang memenuhi hatiku. Aku
sedih dan terluka. Betapa menyedihkannya diriku. Bertahun-tahun memimpikan mas
Rivan, ternyata lelaki itu sama sekali tak merindukanku. Selama ini dia malah
hidup bersama dengan perempuan yang sangat dicintainya.
“Apa tidak lebih baik mbak Tiara
mengadopsi anak?”
“Itu bukan ide yang baik, Dena. Anak
adopsi itu hanya akan jadi sasaran empuk bagi keluargaku yang ingin merebut
perusahaan papa.”
“Lalu apa bedanya seandainya mas Rivan
memiliki anak dari perempuan lain? Bukankah sama saja dengan anak adopsi?”
“Setidaknya dia anak kandung mas
Rivan.”
Aku menghela nafas. Kutarik tanganku
dari genggaman mbak Tiara. Aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah keadaan mbak
Tiara baik-baik saja? Aku sulit menerima alasannya memintaku menikah dengan mas
Rivan. Mana ada perempuan di dunia ini yang rela berbagi dengan perempuan lain?
Aku juga tidak ingin mengalaminya, terlebih karena mas Rivan sama sekali tidak
mencintaiku.
Lalu apa gunanya aku ada diantara
mereka, berada diantara dua orang yang saling mencintai. Aku bahkan akan
terlihat bodoh jika mengikuti rencana mbak Tiara demi mendapatkan keturunan
dari mas Rivan.
“Maafkan aku mbak, sepertinya rencana
mbak Tiara terlalu berlebihan dan sangat mustahil untuk aku ikuti.”
“Pikirkan dulu, Dena. Jangan
terburu-buru memutuskan..”
“Aku tidak ingin menjadi hiasan dalam
kehidupan orang lain mbak. Aku ingin punya kehidupanku sendiri. Dimana aku bisa
berbagi rasa dengan seseorang yang aku cintai dan mencintaiku. Untuk mas Rivan,
itu sama sekali tidak berlaku.”
“Bagaimanapun, aku tetap berharap kamu
akan menerima permintaanku ini. Karena itu kumohon pikirkan baik-baik...”
Aku tak menjawab. Kuraih kantong
belanja lalu kuletakkan di depan mbak Tiara.
“Gaun ini aku kembalikan. Entah siapa
diantara kalian yang telah mengirimnya, aku merasa tidak pantas menerima hadiah
ini..”
“Aku yang mengirimnya..”
“Aku sudah curiga saat pertama kali
melihat mbak dirumah ini. Terima kasih karena gaun ini aku akhirnya bisa menemukan mbak Tiara. Aku akhirnya bisa
mengetahui tujuan mas Rivan mendekatiku selama ini.......” kembali mataku
berkaca-kaca.
“Kami tidak pernah berniat
mempermainkanmu, Dena. Aku bahkan ingin melihat kalian bahagia..”
“Tidak akan mungkin bahagia, mbak.
Bagaimana aku bisa bahagia sementara hati mas Rivan jelas-jelas untuk mbak?”
“Aku akan pergi..” ucapan mbak Tiara
membuatku terhenyak.
“Sepertinya itu jalan terbaik. Kalau
aku ada, mas Rivan akan sulit menerimamu..”
“Mbak Tiara sadar dengan ucapan mbak
barusan? Justru aku yang harus pergi bukan mbak. Sudahlah mbak, aku rasa makin
lama berada disini, pikiranku makin tidak normal. Aku tidak ingin melakukannya.
Aku permisi..”
Aku beranjak berdiri lalu melangkah
menuju pintu. Kulihat mbak Tiara tidak bergeming sama sekali. Dia duduk kaku di
atas kursi rodanya. Maafkan aku mbak Tiara, permintaanmu terlalu berat untuk
aku kabulkan.
Baru saja kakiku menyentuh lantai
teras, suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatianku. Aku menoleh
dan debaran jantungku kian cepat ketika melihat mas Rivan turun dari mobil.
Rupanya dia belum melihatku. Lelaki itu masih sibuk memberi intruksi pada
supirnya. Mbak Tiara muncul dari dalam rumah. Sekilas kulihat mbak Tiara,
wajahnya pucat. Entah apa yang tengah bergelayut dalam pikirannya saat ini.
Dan hal yang mendebarkan kembali
terjadi. Saat tubuh mas Rivan berbalik dan dia melangkah mendekati teras.
Seolah baru menyadari kehadiranku, pandangannya langsung tertuju padaku.
Langkahnya terhenti tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan dari wajahnya. Aku
menatapnya dengan air mata yang nyaris tumpah. Kualihkan pandanganku karena tak
sanggup menahan air mataku. Aku menghela nafas mencoba menenangkan diriku agar
bisa bertahan dalam situasi ini.
Dan lelaki itu akhirnya mendekat.
Tubuhku merinding gemetaran. Aku tahu ini bukan getaran cinta tapi getaran
kekecewaan yang menuntut penjelasan.
“De..De..na? kenapa tidak menelpon
kalau mau datang? Kita bisa berangkat sama-sama dari kantor.” Ucapnya seraya
menyentuh bahuku. Aku tercengang melihat sikap mas Rivan yang sangat tenang
bahkan ketika dia dengan santainya merangkulku. Aku juga tidak menyangka dia
akan bersikap seperti itu di depan mbak Tiara. Namun yang kulihat bukan
ekspresi datar dari mbak Tiara melainkan wajah yang muram. Dia berbalik,
bersiap menjalankan kursi rodanya.
Mas Rivan sigap melepas rangkulannya
lalu memegang kursi roda, menahannya agar tak bergerak.
“Silahkan masuk, Dena. Anggap rumah
sendiri.” Aku tersenyum pedih saat jemari
mas Rivan dengan lembut menepuk-nepuk bahu mbak Tiara. Terkesan seolah
ingin menenangkan. Aku makin gamang. Hatiku makin sakit melihat sikap keduanya.
“Aku baru saja hendak pulang mas..”
kataku.
“Jangan pulang dulu.” Mas Rivan maju memegang
tanganku lalu menggiringku menuju ruang tamu.
“Duduklah..” mas Rivan mempersilahkan aku
duduk sementara dirinya menghampiri mbak Tiara yang terlihat masih shock.
“Aku benar-benar terkejut..” kataku akhirnya.
Mereka berdua menatapku.
“Aku baru sadar kalau aku ini
benar-benar bodoh...” embun mulai menggenang dimataku. Bibirku bergetar
sementara aku berusaha menahan airmata yang siap mengalir dari kedua mataku.
“Melihat kalian sekarang, aku tidak
tahu harus bersikap bagaimana. Seharusnya aku berhak untuk marah pada kalian.
Tapi untuk apa?apa gunanya?”
“Dena...” Mas Rivan menyela. Kuseka
kedua mataku dengan jemariku.
“Mas Rivan tidak perlu menjelaskan
apapun. Aku datang kemari ingin mengembalikan gaun ini sekaligus mencari tahu
mengapa aku selalu cemas memikirkan perasaanku pada mas Rivan. Aku sudah
menemukan jawabannya.”
“Maafkan aku Dena, maafkan kami. Tapi
ini semua tetap butuh penjelasan. Aku akan menjelaskan padamu mengapa semuanya
bisa seperti ini.”
“Tidak perlu mas, mbak Dena sudah
menceritakan semuanya..” aku bersiap beranjak dari kursi.
“Aku lelah. Aku tidak sanggup lagi bertahan, Dena.
Kamu adalah harapanku satu-satunya untuk membuat Tiara membuka hati, tapi jika
dirimu tak bisa melunakkan hati Tiara. Aku tak tahu harus berusaha apa lagi
agar Tiara mengerti dan tidak memaksaku menjadi suamimu.”
Aku terhenyak mendengar ucapan mas
Rivan. Apa maksudnya berkata demikian?
“Jadi...jadi selama ini mas Rivan
hanya memperalat aku untuk mendapatkan hati mbak Tiara kembali? Apa benar
seperti itu?” mas Rivan hanya menunduk tak menjawab pertanyaanku.
“Jawab mas Rivan! Apa benar seperti
itu? Lalu ucapan-ucapan mas saat di restoran? Apakah itu hanya pura-pura untuk
memancing perhatian mbak Tiara..” air mataku tumpah kali ini. Perasaan marah,
sedih, sakit hati campur aduk dalam hatiku. Lelaki yang kurindukan
bertahun-tahun ternyata hanya menipuku.
“Maafkan aku, Dena. Aku terpaksa
melakukan itu karena aku tidak punya cara lain lagi untuk memaksa Tiara
mengakui perasaannya. Tiara terus bertahan dengan ide menjadikan kita sepasang
suami istri.. Aku tertekan. Meski berada didekatnya, menjadi suaminya tapi aku
hanya dianggap kakak olehnya. Padahal aku sangat mencintainya...”
“Ide mendekatimu hadir karena aku
benar-benar frustasi tapi apa yang aku katakan tempo hari tidak semuanya
berpura-pura. Seandainya..seandainya Tiara terus memaksaku, aku akhirnya akan
memilihmu..”
Aku makin tercengang mendengar
penuturan mas Rivan. Nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.
Dengan kata lain, dia sama sekali tak mengharapkanku. Hanya karena tak ada
pilihan lain maka dia akan meminangku menjadi istrinya. Keterlaluan!
0 komentar:
Posting Komentar