Senin, 09 Desember 2013

Impian Dena #27

0



  El Cuento by Elena Dudina

Sesaat mata kami saling menatap dalam diam. Aku sengaja memperlihatkan dengan jelas kantong belanja berisi gaun yang akan aku kembalikan pada mas Rivan. Aku ingin tahu ekspresi mbak Tiara saat melihatnya. Namun sikap mbak Tiara datar-datar saja. Sama sekali tak tertarik dengan kantong belanja yang bertuliskan logo nama toko tempat gaun itu dibeli.


Mungkinkah bukan dia yang telah membelinya? Lalu siapa, mas Rivan? Aku bingung hendak menbak siapa diantara mereka yang mengirim gaun ini. Melihat mbak Tiara berada di rumah mas Rivan seolah membuka layar besar didepanku. Cuplikan adegan demi adegan dari masa lalu hingga kini seperti memberi jawaban rasa ragu yang hadir dalam hatiku. Benarkah yang aku pikirkan? Ataukah aku salah paham kali ini?


“Apa kabar, Dena? Silahkan masuk..” mbak Tiara tersenyum sumringah tak lagi grogi seperti awal melihatku. Aku masih berdiri mematung, tak percaya dengan kenyataan yang tampak didepanku.


Benarkah aku hanya salah paham? Batinku lagi.


“Inilah rumahku, Dena. Jangan sungkan, anggap seperti rumah sendiri.”


Aku melangkah masuk sambil terus memperhatikan mbak Tiara  yang menggerakkan kursi roda. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman. Pertemuan kami seharusnya tidak seperti ini. Aku selalu berhayal, jika bertemu kembali dengan mbak Tiara, kami akan berteriak histeris lalu berpelukan layaknya saudara yang lama tak bertemu. Tapi kenyataan yang terjadi sekarang sungguh jauh dari impianku. Aku tak bisa memaksakan diriku bersikap seolah-olah tak ada masalah.


“Silahkan duduk, Dena. Mbak senang bertemu denganmu. Sudah lama sekali ya...”


“Bagaimana kabar mbak Tiara? Maaf, no hape yang mbak berikan terhapus, karena itu aku tidak bisa menghubungi mbak.”


“Aku baik-baik saja, Dena. Mbak juga minta maaf. Sejak kita berpisah di rumah sakit, banyak hal yang terjadi, Dena. Masalah keluargaku, masalah diriku, masalah perusahaan yang ditinggalkan papa. Semuanya menyita perhatianku. Aku kehilangan waktu saat itu bahkan untuk diriku sendiri.”


Aku meraih kantong belanjaan dan sengaja kuletakkan tepat disampingku. Aku masih penasaran dengan ekspresi wajah mbak Tiara. Jika benar dia yang telah mengirimnya, tentu hal aneh jika dia tak peduli.


“Tadinya aku kemari untuk bertemu dengan mas Rivan, mbak. Aku terkejut melihat mbak tinggal di rumah ini.” mbak Tiara nampak kikuk mendengar ucapanku.


“Apa kalian berdua telah menikah?” lanjutku. Aku tidak ingin memendam rasa penasaran berlama-lama.


“O, itu. Soal mas Rivan, kami sudah menikah tapi hanya formalitas, Dena.”


Aku terperangah.


“Saat aku keluar dari rumah sakit dan menghadapi kenyataan sepeninggal kedua orang tuaku, tak ada orang lain yang bisa aku andalkan selain mas Rivan. Jadi meski aku menolak lamarannya tapi aku ingin dia membantuku, menjagaku. Saat itu aku sulit percaya pada siapapun kecuali mas Rivan. Perusahaan papa butuh kehadiranku tapi tak ada yang bisa aku lakukan karena keterbatasanku. Akhirnya, aku meminta mas Rivan untuk mengelola perusahaan papa.”


“Apa karena itu mas Rivan menghilang tanpa jejak?” mbak Tiara mengangguk. Pantas saja mas Rivan seperti hilang ditelan bumi meski aku terus mencarinya.


“Aku mencoba menghindarinya, namun kenyataan yang kuhadapi memaksaku untuk menghubunginya. Perusahaan papa harus diselamatkan secepatnya karena terlalu banyak pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari musibah yang kami alami. Tiba-tiba begitu banyak orang yang mengaku sebagai keluargaku, mengaku sebagai pamanku, sebagai sepupuku. Namun tak ada diantara mereka yang benar-benar peduli padaku selain hanya memikirkan bagaimana caranya mendepakku dari perusahaan papa. Syukurlah mas Rivan tidak sebodoh itu hingga akhirnya perusahaan papa bisa bertahan sampai sekarang.”


Mbak Tiara tak kuasa menahan bulir-bulir bening dari matanya.


“Tapi untuk memasukkan mas Rivan kedalam perusahaan papa juga tidak mudah, Dena. Aku terpaksa menikah dengannya meski hanya di atas kertas, karena tak ada yang bisa melarang seorang suami menyelamatkan perusahaan istrinya. Meski awalnya banyak cobaan tapi lama kelamaan orang-orang yang menyulitkan kami perlahan mundur dan tak lagi mengganggu kami.”


“Kenapa kalian menikah hanya di atas kertas saja. Tidak  menikah sungguh-sungguh dalam kehidupan? Kenapa mesti berbohong?”


“Meski awalnya aku menganggap pernikahan kami hanya formalitas, tapi lama kelamaan aku mulai menyadari jika aku tak ingin kehilangannya. Dalam hatiku sebenarnya ingin menjadi istri mas Rivan yang sesungguhnya, Dena. Hanya saja....” mbak Tiara terisak tak kuasa melanjutkan kisahnya. Aku sabar menantinya menetralisir perasaan.


“Musibah yang lain menimpaku. Ada tumor di rahimku, hingga aku terpaksa harus merelakan diriku tak lagi memiliki rahim. Jika hanya tak memiliki kaki, aku masih percaya diri menjadi istrinya. Tapi kehilangan rahimku, bagaimana aku bisa menjadi istri yang sempurna bagi mas Rivan dengan kondisi seperti itu? Aku tidak ingin menjadi penghalang mas Rivan memiliki keturunan. Akan dilema baginya jika menikah denganku sementara dia berhak untuk memiliki penerus. Karena itu akan lebih baik jika mas Rivan memiliki istri lain yang sempurna memberikan keturunan.”


“Tapi bagaimana dengan mas Rivan? apakah dia setuju?”


“Hingga sekarang mas Rivan tidak setuju. Tapi aku terus bertahan karena tanpa memiliki anak, bagaimana masa depan perusahaan papa? Siapa yang akan menjadi penerus mas Rivan? Dimata hukum, mas Rivan suamiku, Dena. Jadi jika dia menikah, kemungkinan istri nya menjadi istri kedua dimata hukum. Tapi itu tidak berlaku dengan kami. Karena itu aku meminta mas Rivan mencarimu. Lebih baik dia menikah denganmu karena aku telah mengenalmu dengan baik. Tentu untuk menjelaskan masalah yang aku hadapi tidak akan sesulit jika harus berhadapan dengan orang lain yang sama sekali buta tentang masa laluku.”


“Jadi karena itu mas Rivan ingin menikah denganku?” Aku tidak suka dengan pertanyaan ini. Rasanya sakit mengetahuinya. Seperti ada ruang kosong yang memenuhi hatiku. Perlahan ruang kosong itu dipenuhi luka yang berdarah. Sakit sekali.


Mbak Tiara mendekatiku. Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat.


“Aku harap kamu tidak tersinggung, Dena. Ini bukan tidak menghargaimu, hanya saja seperti yang terjadi ketika aku meminta mas Rivan menjaga dan menolongku. Kali ini juga sama. Aku berharap kamu bersedia menolongku, menolong kami. Aku tetap akan menjadi istri mas Rivan di atas kertas sementara kamu adalah istri yang sebenar-benarnya istri. Apakah kamu bersedia, Dena?”


Mbak Tiara menatapku penuh harap. Matanya berkaca-kaca. Aku tak kuasa menahan kesedihan yang memenuhi hatiku. Aku sedih dan terluka. Betapa menyedihkannya diriku. Bertahun-tahun memimpikan mas Rivan, ternyata lelaki itu sama sekali tak merindukanku. Selama ini dia malah hidup bersama dengan perempuan yang sangat dicintainya.


“Apa tidak lebih baik mbak Tiara mengadopsi anak?”


“Itu bukan ide yang baik, Dena. Anak adopsi itu hanya akan jadi sasaran empuk bagi keluargaku yang ingin merebut perusahaan papa.”


“Lalu apa bedanya seandainya mas Rivan memiliki anak dari perempuan lain? Bukankah sama saja dengan anak adopsi?”


“Setidaknya dia anak kandung mas Rivan.”


Aku menghela nafas. Kutarik tanganku dari genggaman mbak Tiara. Aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah keadaan mbak Tiara baik-baik saja? Aku sulit menerima alasannya memintaku menikah dengan mas Rivan. Mana ada perempuan di dunia ini yang rela berbagi dengan perempuan lain? Aku juga tidak ingin mengalaminya, terlebih karena mas Rivan sama sekali tidak mencintaiku.


Lalu apa gunanya aku ada diantara mereka, berada diantara dua orang yang saling mencintai. Aku bahkan akan terlihat bodoh jika mengikuti rencana mbak Tiara demi mendapatkan keturunan dari mas Rivan.


“Maafkan aku mbak, sepertinya rencana mbak Tiara terlalu berlebihan dan sangat mustahil untuk aku ikuti.”


“Pikirkan dulu, Dena. Jangan terburu-buru memutuskan..”


“Aku tidak ingin menjadi hiasan dalam kehidupan orang lain mbak. Aku ingin punya kehidupanku sendiri. Dimana aku bisa berbagi rasa dengan seseorang yang aku cintai dan mencintaiku. Untuk mas Rivan, itu sama sekali tidak berlaku.”


“Bagaimanapun, aku tetap berharap kamu akan menerima permintaanku ini. Karena itu kumohon pikirkan baik-baik...”


Aku tak menjawab. Kuraih kantong belanja lalu kuletakkan di depan mbak Tiara.


“Gaun ini aku kembalikan. Entah siapa diantara kalian yang telah mengirimnya, aku merasa tidak pantas menerima hadiah ini..”


“Aku yang mengirimnya..”


“Aku sudah curiga saat pertama kali melihat mbak dirumah ini. Terima kasih karena gaun ini aku akhirnya bisa  menemukan mbak Tiara. Aku akhirnya bisa mengetahui tujuan mas Rivan mendekatiku selama ini.......” kembali mataku berkaca-kaca.


“Kami tidak pernah berniat mempermainkanmu, Dena. Aku bahkan ingin melihat kalian bahagia..”


“Tidak akan mungkin bahagia, mbak. Bagaimana aku bisa bahagia sementara hati mas Rivan jelas-jelas untuk mbak?”


“Aku akan pergi..” ucapan mbak Tiara membuatku terhenyak.


“Sepertinya itu jalan terbaik. Kalau aku ada, mas Rivan akan sulit menerimamu..”


“Mbak Tiara sadar dengan ucapan mbak barusan? Justru aku yang harus pergi bukan mbak. Sudahlah mbak, aku rasa makin lama berada disini, pikiranku makin tidak normal. Aku tidak ingin melakukannya. Aku permisi..”


Aku beranjak berdiri lalu melangkah menuju pintu. Kulihat mbak Tiara tidak bergeming sama sekali. Dia duduk kaku di atas kursi rodanya. Maafkan aku mbak Tiara, permintaanmu terlalu berat untuk aku kabulkan.


Baru saja kakiku menyentuh lantai teras, suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatianku. Aku menoleh dan debaran jantungku kian cepat ketika melihat mas Rivan turun dari mobil. Rupanya dia belum melihatku. Lelaki itu masih sibuk memberi intruksi pada supirnya. Mbak Tiara muncul dari dalam rumah. Sekilas kulihat mbak Tiara, wajahnya pucat. Entah apa yang tengah bergelayut dalam pikirannya saat ini.


Dan hal yang mendebarkan kembali terjadi. Saat tubuh mas Rivan berbalik dan dia melangkah mendekati teras. Seolah baru menyadari kehadiranku, pandangannya langsung tertuju padaku. Langkahnya terhenti tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan dari wajahnya. Aku menatapnya dengan air mata yang nyaris tumpah. Kualihkan pandanganku karena tak sanggup menahan air mataku. Aku menghela nafas mencoba menenangkan diriku agar bisa bertahan dalam situasi ini.


Dan lelaki itu akhirnya mendekat. Tubuhku merinding gemetaran. Aku tahu ini bukan getaran cinta tapi getaran kekecewaan yang menuntut penjelasan.


“De..De..na? kenapa tidak menelpon kalau mau datang? Kita bisa berangkat sama-sama dari kantor.” Ucapnya seraya menyentuh bahuku. Aku tercengang melihat sikap mas Rivan yang sangat tenang bahkan ketika dia dengan santainya merangkulku. Aku juga tidak menyangka dia akan bersikap seperti itu di depan mbak Tiara. Namun yang kulihat bukan ekspresi datar dari mbak Tiara melainkan wajah yang muram. Dia berbalik, bersiap menjalankan kursi rodanya.


Mas Rivan sigap melepas rangkulannya lalu memegang kursi roda, menahannya agar tak bergerak.


“Silahkan masuk, Dena. Anggap rumah sendiri.” Aku tersenyum pedih saat jemari  mas Rivan dengan lembut menepuk-nepuk bahu mbak Tiara. Terkesan seolah ingin menenangkan. Aku makin gamang. Hatiku makin sakit melihat sikap keduanya.


“Aku baru saja hendak pulang mas..” kataku.


“Jangan pulang dulu.” Mas Rivan maju memegang tanganku lalu menggiringku menuju ruang tamu.


 “Duduklah..” mas Rivan mempersilahkan aku duduk sementara dirinya menghampiri mbak Tiara yang terlihat masih shock.


 “Aku benar-benar terkejut..” kataku akhirnya. Mereka berdua menatapku.


“Aku baru sadar kalau aku ini benar-benar bodoh...” embun mulai menggenang dimataku. Bibirku bergetar sementara aku berusaha menahan airmata yang siap mengalir dari kedua mataku.


“Melihat kalian sekarang, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Seharusnya aku berhak untuk marah pada kalian. Tapi untuk apa?apa gunanya?”


“Dena...” Mas Rivan menyela. Kuseka kedua mataku dengan jemariku.


“Mas Rivan tidak perlu menjelaskan apapun. Aku datang kemari ingin mengembalikan gaun ini sekaligus mencari tahu mengapa aku selalu cemas memikirkan perasaanku pada mas Rivan. Aku sudah menemukan jawabannya.”


“Maafkan aku Dena, maafkan kami. Tapi ini semua tetap butuh penjelasan. Aku akan menjelaskan padamu mengapa semuanya bisa seperti ini.”


“Tidak perlu mas, mbak Dena sudah menceritakan semuanya..” aku bersiap beranjak dari kursi.


 “Aku lelah. Aku tidak sanggup lagi bertahan, Dena. Kamu adalah harapanku satu-satunya untuk membuat Tiara membuka hati, tapi jika dirimu tak bisa melunakkan hati Tiara. Aku tak tahu harus berusaha apa lagi agar Tiara mengerti dan tidak memaksaku menjadi suamimu.”


Aku terhenyak mendengar ucapan mas Rivan. Apa maksudnya berkata demikian?


“Jadi...jadi selama ini mas Rivan hanya memperalat aku untuk mendapatkan hati mbak Tiara kembali? Apa benar seperti itu?” mas Rivan hanya menunduk tak menjawab pertanyaanku.


“Jawab mas Rivan! Apa benar seperti itu? Lalu ucapan-ucapan mas saat di restoran? Apakah itu hanya pura-pura untuk memancing perhatian mbak Tiara..” air mataku tumpah kali ini. Perasaan marah, sedih, sakit hati campur aduk dalam hatiku. Lelaki yang kurindukan bertahun-tahun ternyata hanya menipuku.


“Maafkan aku, Dena. Aku terpaksa melakukan itu karena aku tidak punya cara lain lagi untuk memaksa Tiara mengakui perasaannya. Tiara terus bertahan dengan ide menjadikan kita sepasang suami istri.. Aku tertekan. Meski berada didekatnya, menjadi suaminya tapi aku hanya dianggap kakak olehnya. Padahal aku sangat mencintainya...”


“Ide mendekatimu hadir karena aku benar-benar frustasi tapi apa yang aku katakan tempo hari tidak semuanya berpura-pura. Seandainya..seandainya Tiara terus memaksaku, aku akhirnya akan memilihmu..”


Aku makin tercengang mendengar penuturan mas Rivan. Nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Dengan kata lain, dia sama sekali tak mengharapkanku. Hanya karena tak ada pilihan lain maka dia akan meminangku menjadi istrinya. Keterlaluan!


( Bersambung )


____________________________________________________________________
DESA RANGKAT  menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda,  datang, bergabung  dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)
13018350631199293075
 


 


0 komentar:

Posting Komentar