Sabtu, 12 Oktober 2013

Tafamutu Pulau Moti

0




Beberapa hari yang lalu saya ditugaskan ke Ternate. Meski trauma masih menggelayut namun saya menguatkan hati dan berdoa semoga kejadian serupa tidak terulang lagi. Pasalnya, saat bulan ramadhan lalu, pesawat Garuda yang saya tumpangi menuju Ternate tidak bisa mendarat karena cuaca buruk. Pesawat kemudian dialihkan ke Menado untuk sementara waktu menunggu cuaca membaik.

Setelah menanti sekian lama di bandara Sam Ratulangi Menado, kami akhirnya naik kembali ke pesawat untuk melanjutkan penerbangan ke Ternate. Tak dinyana, ternyata cuaca di Ternate kembali memburuk. Pilot kemudian mengarahkan pesawat ke Makassar. Seluruh penumpang ketika itu terlihat lemas mendengar pemberitahuan dari pilot. Terlebih bagi mereka yang telah memiliki jadwal kerja atau rapat dengan klien.

Tapi tak ada yang bisa kami perbuat selain pasrah menanti di bandara. Kabar terbaru ketika itu, penumpang diusahakan terbang sore hari. Namun hingga menjelang sore, tak ada tanda-tanda perubahan cuaca di Ternate. Para penumpang kemudian diberi kompensasi untuk menginap di hotel atau di antar pulang kerumah masing-masing. Transport juga seluruhnya di tanggung pihak maskapai. Hal ini yang membuat saya merasa nyaman bila terbang dengan pesawat Garuda. Mereka benar-benar memberi perhatian extra kepada para penumpang.

Baru keesokan harinya, saya di jemput dengan taksi pesanan maskapai Garuda. Penerbangan berjalan mulus dan kami tiba dengan selamat di kota Ternate. Lelah jangan ditanya lagi. Terutama karena saat itu bulan puasa. Sejak dini hari menanti dibandara lalu seharian berada di pesawat dengan suhu dingin yang menggigit serasa menyerap seluruh persedian air dalam tubuh. Badan rasanya remuk redam sementara saya masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan speed dan mobil.

Sempat trauma hingga tugas berikutnya saya digantikan oleh teman. Baru senin lalu saya bersemangat kembali untuk menerima tugas tersebut. Tapi kali ini saya menumpang pesawat Sriwijaya bukan pesawat Garuda seperti waktu yang lalu. Tentu saja sambil terus berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang membuat penebangan tertunda hingga saya harus menanti lama di bandara.

Sebenarnya tugas secara tim untuk Maluku Utara telah kelar beberapa bulan yang lalu karena itu saya sama sekali tidak menaruh harapan bakal balik lagi ke kota ini. Kedatangan saya bulan puasa lalu kemudian dilanjutkan dengan kali ini, jelas membuat hati saya gembira tak terkira. Serasa balik ke kampung halaman jika harus ke Ternate. Kota ini terasa sangat dekat dalam hati dan perasaan. Wajar jika ada tugas, saya menyambutnya dengan suka cita.

Kecamatan Moti adalah daerah tujuan saya saat ini. Karena letaknya di pulau Moti maka harus di tempuh menggunakan satu-satunya sarana transportasi yaitu speed. Setelah cemas menanti, syukurlah di pagi yang masih gelap saat itu, ada speed yang merapat di pelabuhan. Saya kemudian menumpang speed tersebut.

Sepanjang perjalanan, laut sama sekali tidak bersahabat. Ombak mengguncang speed hingga para penumpang berteriak histeris terutama para wanita. Di tengah kantuk yang mendera saya harus merelakan kepala saya terbentur di jendela karena guncangan yang sangat kuat. Namun rupanya kantuk lebih mendominasi. Saya tak bisa lagi menahannya dan mengabaikan kekhawatiran yang dirasakan para penumpang. Alhasil, saya baru terbangun ketika tiba di pelabuhan  Kota Moti.

Sembari memanggul tas ransel, saya terus berjalan menyusuri pelabuhan sambil melihat-lihat situasi sekitar. Berdasarkan informasi dari petugas pelabuhan Bastiong bahwa ada ojek yang akan mengantar saya menuju lokasi tujuan saya yaitu Desa Tafamutu. Pada seorang bapak yang tengah duduk di gardu, saya menanyakan dimana saya bisa menemukan ojek. Beliau lalu meminta saya menunggu kemudian berteriak pada seseorang menggunakan bahasa asli daerah ini. Si lelaki kemudian menghampiri kami dengan motornya.

Dengan dibonceng bapak tersebut kami lalu menuju Desa Tafamutu. Belum jauh meninggalkan  kota Moti, saya di suguhi pemandangan yang membuat miris. Sebagian jalan dalam kondisi rusak kemungkinan disebabkan longsor dari bukit. Ini nampak pada sisi bukit yang telah hilang. Jalan yang terjal dan berbatu membuat pergerakan kendaraan agak melambat.

Setelah menempuh jarak sekitar 20 km dari kota Moti, saya kemudian tiba di desa Tafamutu. Ternyata daerah ini bukan lagi berbentuk desa melainkan kelurahan. Pak Lurah yang langsung menerima saya dan memberi keterangan seputar kelurahan Tafamutu. Sejak memasuki pintu gerbang, saya sempat terperangah melihat tempat ini. Pemandangan yang ada sungguh diluar perkiraan saya.

Perumahan yang tertata rapi
Kondisi jalan aspal yang memudahkan transportasi

Rumah-rumah warga sebagian besar telah permanen dan tertata rapi. Jalan poros yang beraspal serta jalan setapak terbuat  dari campuran semen makin menambah kesan keteraturan di kelurahan  ini. Fasilitas sekolah telah tersedia lengkap mulai dari TK hingga menengah atas semuanya ada. Warga juga telah paham akan kesehatan dengan menyediakan sarana sanitasi di rumah-rumah mereka.

Hanya saja, setelah berbincang dengan pak Lurah saya baru tahu jika fasilitas listrik belum tersedia utuh di daerah ini. Listrik yang ada merupakan swadaya masyarakat berupa genset dan dipergunakan hanya pada malam hari saja. Demikian pula ketika saya berbincang dengan beberapa warga, listrik merupakan sarana utama yang diperlukan untuk melancarkan segala aktivitas selain bantuan modal usaha bagi warga yang membutuhkan.

Latar gunung yang diselimuti awan


Tak terasa hari telah beranjak sore. Saya lalu melangkah menuju pantai. Menanti sunset merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan dan selalu saya lakukan jika berkunjung ke daerah-daerah lain. Laut dan sekitarnya seperti menawarkan misteri yang membuat perasaan selalu ingin mengabadikan setiap hal yang saya alami. 

Anak-anak asyik bermain tanpa rasa takut

Makin senja makin banyak anak-anak yang bergabung untuk berenang

Sedang asyik memotret tiba-tiba dari arah belakang saya, muncul gerombolan anak-anak lelaki dan perempuan. Mereka berlarian di atas jembatan balok kayu yang menjorok ke tengah laut. Mereka lalu menceburkan diri di antara derasnya ombak yang menggulung. Tak ada kesan takut yang terpancar dari wajah-wajah mereka selain keceriaan dan kebahagiaan karena bisa bermain bersama teman-teman mereka.

Makin lama jumlah mereka makin banyak dan saling bergantian melompat ke laut. Saya yang melihat hanya bisa merinding. Mungkin bagi mereka ombak tak lagi menakutkan sementara saya hanya berani melihat mereka dari kejauhan. Saya ingin mendekat dan memotret atraksi mereka namun membayangkan berdiri sambil memegang hape di antara balok-balok kayu yang masih tersedia ruang kosong sekitar beberapa centi membuat saya bergidik. Bagaimana jika handphone saya tiba-tiba terlepas dan terjatuh ke laut? Saya gemetar dan urung melangkah. Hanya berani berdiri di bibir pantai.

Walau begitu saya merasa puas karena bisa berkunjung ke daerah ini, mengetahui kehidupan warga, menikmati sunset dan melihat atraksi anak-anak yang dengan berani bermain di laut menembus ombak yang tak bersahabat. Ini akan jadi kenangan yang takkan mungkin terlupakan sepanjang hidup saya. Bertugas sekaligus melihat-lihat daerah lain yang tersebar diseluruh Indonesia merupakan anugerah yang tak ternilai harganya.


======= Sekian =========

0 komentar:

Posting Komentar