Selama ini
aku mengira, langgengnya suatu hubungan di dasari pada pertemuan yang sering
dilakukan sepasang kekasih. Aku mengira, jika sering bertemu akan terjalin
saling pengertian dan rasa cinta yang semakin dalam. Karena itu aku sangat
memperhatikan hal tersebut jika ingin membina hubungan dengan seseorang. Aku
takut mengalami kegagalan.
Bagiku tak
ada hubungan yang tak serius. Saat aku memutuskan menjalin kasih, maka
kekasihku itu adalah calon suamiku. Tidak heran hingga usiaku menginjak angka dua puluh lima, aku
belum juga memiliki kekasih. Aku trauma dengan berbagai kegagalan yang terjadi
disekitarku terutama kedua orang tuaku.
Papa dan
mama bercerai karena satu sama lain tak lagi bisa menjaga ikatan cinta mereka.
Kekuatan ego di atas segalanya. Tak ada yang mau mengalah ketika karir
sama-sama menempati posisi penting dibandingkan hati. Menyelamatkan rumah
tangga seolah akan menghancurkan karir mereka berdua. Keputusan akhir yang
menjadikan aku kesepian. Tak satupun dari mereka yang benar-benar utuh memperhatikanku.
Aku sejak
smp terbiasa sibuk dengan berbagai les dan kursus. Bukan keinginanku tapi
keinginan mama. Mama ingin aku seperti
dirinya yang sukses karena terampil dan cerdas dalam segala hal. Ucapan mama
membuatku sering merenung.
Mama pintar
masak, tapi apa gunanya jika aku sebagai anaknya tak pernah merasakan makanan
hasil racikan tangan mama?
Mama pandai
berdandan, tapi apa gunanya jika tak pernah sekalipun mama mengajarkanku cara
berdandan?
Mama pandai
berbicara, tapi apa gunanya jika semua nasehat yang aku terima hanya dari Ibu
Yuni, pembantu yang mengasuhku sejak aku kecil.
Aku jarang
bertemu mama. Kami hanya berkomunikasi melalui BB yang mama hadiahkan untukku
ketika aku protes tentang kesibukannya. Bahkan ulang tahunku berlalu begitu
saja hanya dengan ucapan selamat via bbm. Menyedihkan bukan? Setidaknya itu
yang kurasakan.
“Ada apa denganmu? Sejak tadi murung?” tegur
Rama, lelaki yang kini menjadi seseorang yang spesial bagiku. Spesial meski
belum kekasih. Sejak awal aku ragu untuk menerimanya menjadi kekasihku.
Seringkali kudapati dia melamun sendiri atau menatapku diam-diam. Aku kasihan
juga melihatnya. Tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi dirinya untuk
menanti. Meski dalam penantian itu, sosoknya tak ada bedanya seorang kekasih.
“Aku merindukan
papa.”jawabku. Ia lalu pindah duduk di sebelahku.
“Perasaan
yang wajar. Kenapa tidak menelpon saja?” aku menggeleng.
“Aku pernah
menelpon papa tapi hanya beberapa detik. Jawaban papa singkat, papa sibuk
sayang.. kata-kata yang membuatku serasa ingin membanting hapeku saat itu.” Aku
mendengus kesal.
“Maaf, Rina.
Kalau boleh aku memberi saran, sudah waktunya kamu melepaskan ke dua orang
tuamu. Melepaskan mereka dari ikatan yang membuat mereka merasa terbebani.”
“Aku
membebani mereka? Bagaimana bisa mas Rama berpikiran seperti itu? Aku anak
mereka, pada siapa lagi aku harus berbagi jika bukan dengan mereka? Aku tidak
minta dilahirkan. Mengapa aku menjadi beban bagi mereka?”
Mataku
kurasakan memanas. Baru kali ini aku merasa kesal mendengar ucapan Rama.
“Maksudku
bukan seperti itu, Rina. Memang benar bukan kamu penyebab semua masalah yang
terjadi tapi hadirnya dirimu
mengingatkan kedua orang tuamu akan ikatan di antara mereka. Ikatan yang hadir
melalui dirimu. Jika melihat dirimu, mamamu teringat akan papamu demikian pula
sebaliknya. Mereka tidak membencimu tapi membenci keadaan yang membuat mereka
harus terpisahkan.”
“Tapi apa
salahku? mengapa aku yang harus menanggung semuanya?” bening air itu akhirnya
menetes dari kedua mataku. Rama merengkuh bahuku. Menepuk-nepuk tanpa
mengucapkan sepatah kata.
“Aku
merindukan mereka berdua. Merindukan kehidupanku yang dulu. Bagaimanapun aku
tetap anak mereka yang butuh kasih sayang dari mereka berdua. Bagaimana bisa
mereka mengabaikanku begitu saja?”
“Bolehkah aku
mengungkap perasaanku, Rina? Apa yang aku rasakan selama tiga tahun kebersamaan
kita?”
Aku menoleh
menatap Rama. Lelaki itu menarik tangannya dari bahuku lalu duduk menghadap
meja.
“Apa yang
ingin mas katakan?”
Rama
menatapku lembut.
“Tidakkah
kau merasa selama tiga tahun ini kehadiranku sama sekali tak pernah kau anggap?”
Aku
terperangah. Kuseka air mata dengan kedua tanganku.
“Keadaan
kita sama, Rina. Kamu merindukan kedua orang tuamu sementara aku merindukan
dirimu. Kita memang dekat, selalu bersama, tapi dalam hatimu tak ada aku sama
sekali. Hatimu hanya dipenuhi papa dan mamamu. Aku bukan melarangmu memikirkan
mereka tapi tolong pikirkan aku. Aku juga punya perasaan seperti dirimu. Dirimu
dekat tapi jauh bukankah itu lebih menyiksa daripada merindukan seseorang yang
memang jauh darimu?”
Aku terdiam.
Kurasakan kerongokonganku kering tak mampu membalas kata-kata Rama.
“Apakah
tidak lebih baik, mulai sekarang kamu benahi hatimu. Belajarlah untuk membangun
kebahagiaanmu sendiri tanpa harus bergantung pada kedua orang tuamu. Usiamu
sudah matang untuk membina rumah tangga. Mengapa kita tidak menikah saja dan memulai
kebahagiaan kita sendiri. Andai benar dirimu mau menganggap diriku ada. Tapi
jika tidak, aku akan mengundurkan diri dari kehidupanmu.”
“A..a..pa? mas
ingin pergi?”
“Iya. Aku
juga manusia biasa yang punya keterbatasan,Rina. Kedua orang tuaku sudah mendesak
agar aku menikah mengingat usiaku menginjak kepala tiga. Jika dirimu belum juga
memberi harapan padaku, lebih baik aku pergi. Lebih cepat lebih baik sebelum
aku menyesali keadaan yang terlanjur terjadi.”
Aku terpaku
di tempatku. Hanya bisa membeku mendengar pengakuan Rama. Ucapannya membuatku
terkejut. Selama ini aku mengira keadaannya baik-baik saja. Alasanku untuk
terus menunda status hubungan di antara kami kukira tak menjadi masalah
baginya. Ternyata aku salah. Sekarang dia telah siap melepaskan aku. Lalu aku? Sanggupkah
aku kehilangannya?
“Mas tega
meninggalkan aku?” bibirku bergetar menahan tangis.
“Aku tidak
tega, Rina. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan harapan kedua orang tuaku
terutama ayahku. Saat ini beliau sakit-sakitan. Ayah khawatir, ajal
menjemputnya saat dia belum menyaksikan pernikahanku. Aku juga ingin ayah bisa
bermain dengan cucunya jika aku benar-benar telah menikah.”
Kupejamkan
mataku, bulir-bulir bening mengalir dipipiku. Batinku bergolak. Apa yang harus
aku katakan sekarang pada Rama? Apakah sudah waktunya aku menentukan pilihan? Lalu
pilihanku apa?
“Apa
jawabanmu, Rina? Aku ingin mendengar keputusanmu sekarang.”
Aku
terhenyak. Rasa panik menyeruak membuatku makin gelisah dan bingung.
Mendadak
Rama beranjak berdiri sambil menghembuskan nafas berat.
“Baiklah,
aku tahu jawabanmu. Sekarang hubungan tak jelas di antara kita benar-benar berakhir.” Katanya pelan.
Sejenak Rama masih berdiri di sampingku lalu perlahan langkahnya mulai menapak
satu-satu meninggalkanku.
“Jangan
tinggalkan aku, mas Rama. Ku mohon jangan pergi.” Kutatap punggungnya dengan
airmata berlinang. Langkahnya terhenti tanpa berbalik.
“Aku
bersedia menjadi istrimu..” kataku sambil menangis. Rama berbalik namun tak
segera mendekatiku. Di wajahnya masih membias keraguan. Tak ada kata-kata hanya
tatapan matanya yang menanti kepastian.
“Aku ingin
bersamamu, jangan tinggalkan aku..” ucapku sekali lagi.
Dan lelaki
yang kukenal sejak lima tahun lalu itu berlari mendekapku. Sangat erat hingga
aku merasa dia hendak meleburkan diriku dalam tubuhnya. Aku pasrah meski
mungkin tubuhku hancur bersamanya. Aku kini yakin, tanpa dirinya, aku
benar-benar akan hancur seperti buih-buih dilautan.
Ucapan Rama
terngiang kembali. Kini saatnya aku harus memulai kebahagiaanku sendiri tanpa
harus terkungkung dengan masa lalu kedua orang tuaku. Tidak seharusnya aku
terus menyalahkan kedua orang tuaku atas ketidak bahagiaanku menjalani hidup.
Sudah waktunya aku memilih kebahagiaanku sendiri.
Dan
kebahagiaan itu ada pada Rama. Lelaki yang sekian lama begitu setia menemani
hari-hariku. Suka dan duka telah kami lewati bersama. Aku tidak ingin
membuatnya menunggu dan merasakan kesedihan sepertiku. Semoga dia adalah lelaki
terakhir hingga ajal memisahkan kami.

0 komentar:
Posting Komentar