Minggu, 13 Oktober 2013

Merengkuh Bahagia

0




Selama ini aku mengira, langgengnya suatu hubungan di dasari pada pertemuan yang sering dilakukan sepasang kekasih. Aku mengira, jika sering bertemu akan terjalin saling pengertian dan rasa cinta yang semakin dalam. Karena itu aku sangat memperhatikan hal tersebut jika ingin membina hubungan dengan seseorang. Aku takut mengalami kegagalan.

Bagiku tak ada hubungan yang tak serius. Saat aku memutuskan menjalin kasih, maka kekasihku itu adalah calon suamiku. Tidak heran  hingga usiaku menginjak angka dua puluh lima, aku belum juga memiliki kekasih. Aku trauma dengan berbagai kegagalan yang terjadi disekitarku terutama kedua orang tuaku.

Papa dan mama bercerai karena satu sama lain tak lagi bisa menjaga ikatan cinta mereka. Kekuatan ego di atas segalanya. Tak ada yang mau mengalah ketika karir sama-sama menempati posisi penting dibandingkan hati. Menyelamatkan rumah tangga seolah akan menghancurkan karir mereka berdua. Keputusan akhir yang menjadikan aku kesepian. Tak satupun dari mereka yang benar-benar utuh memperhatikanku.

Aku sejak smp terbiasa sibuk dengan berbagai les dan kursus. Bukan keinginanku tapi keinginan mama.  Mama ingin aku seperti dirinya yang sukses karena terampil dan cerdas dalam segala hal. Ucapan mama membuatku sering merenung.

Mama pintar masak, tapi apa gunanya jika aku sebagai anaknya tak pernah merasakan makanan hasil racikan tangan mama?

Mama pandai berdandan, tapi apa gunanya jika tak pernah sekalipun mama mengajarkanku cara berdandan?

Mama pandai berbicara, tapi apa gunanya jika semua nasehat yang aku terima hanya dari Ibu Yuni, pembantu yang mengasuhku sejak aku kecil.

Aku jarang bertemu mama. Kami hanya berkomunikasi melalui BB yang mama hadiahkan untukku ketika aku protes tentang kesibukannya. Bahkan ulang tahunku berlalu begitu saja hanya dengan ucapan selamat via bbm. Menyedihkan bukan? Setidaknya itu yang kurasakan.

 “Ada apa denganmu? Sejak tadi murung?” tegur Rama, lelaki yang kini menjadi seseorang yang spesial bagiku. Spesial meski belum kekasih. Sejak awal aku ragu untuk menerimanya menjadi kekasihku. Seringkali kudapati dia melamun sendiri atau menatapku diam-diam. Aku kasihan juga melihatnya. Tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi dirinya untuk menanti. Meski dalam penantian itu, sosoknya tak ada bedanya seorang kekasih.

“Aku merindukan papa.”jawabku. Ia lalu pindah duduk di sebelahku.

“Perasaan yang wajar. Kenapa tidak menelpon saja?” aku menggeleng.

“Aku pernah menelpon papa tapi hanya beberapa detik. Jawaban papa singkat, papa sibuk sayang.. kata-kata yang membuatku serasa ingin membanting hapeku saat itu.” Aku mendengus kesal.

“Maaf, Rina. Kalau boleh aku memberi saran, sudah waktunya kamu melepaskan ke dua orang tuamu. Melepaskan mereka dari ikatan yang membuat mereka merasa terbebani.”

“Aku membebani mereka? Bagaimana bisa mas Rama berpikiran seperti itu? Aku anak mereka, pada siapa lagi aku harus berbagi jika bukan dengan mereka? Aku tidak minta dilahirkan. Mengapa aku menjadi beban bagi mereka?”

Mataku kurasakan memanas. Baru kali ini aku merasa kesal mendengar ucapan Rama.

“Maksudku bukan seperti itu, Rina. Memang benar bukan kamu penyebab semua masalah yang terjadi  tapi hadirnya dirimu mengingatkan kedua orang tuamu akan ikatan di antara mereka. Ikatan yang hadir melalui dirimu. Jika melihat dirimu, mamamu teringat akan papamu demikian pula sebaliknya. Mereka tidak membencimu tapi membenci keadaan yang membuat mereka harus terpisahkan.”

“Tapi apa salahku? mengapa aku yang harus menanggung semuanya?” bening air itu akhirnya menetes dari kedua mataku. Rama merengkuh bahuku. Menepuk-nepuk tanpa mengucapkan sepatah kata.

“Aku merindukan mereka berdua. Merindukan kehidupanku yang dulu. Bagaimanapun aku tetap anak mereka yang butuh kasih sayang dari mereka berdua. Bagaimana bisa mereka mengabaikanku begitu saja?”

“Bolehkah aku mengungkap perasaanku, Rina? Apa yang aku rasakan selama tiga tahun kebersamaan kita?”

Aku menoleh menatap Rama. Lelaki itu menarik tangannya dari bahuku lalu duduk menghadap meja.

“Apa yang ingin mas katakan?”

Rama menatapku lembut.

“Tidakkah kau merasa selama tiga tahun ini kehadiranku sama sekali tak pernah kau anggap?”

Aku terperangah. Kuseka air mata dengan kedua tanganku.

“Keadaan kita sama, Rina. Kamu merindukan kedua orang tuamu sementara aku merindukan dirimu. Kita memang dekat, selalu bersama, tapi dalam hatimu tak ada aku sama sekali. Hatimu hanya dipenuhi papa dan mamamu. Aku bukan melarangmu memikirkan mereka tapi tolong pikirkan aku. Aku juga punya perasaan seperti dirimu. Dirimu dekat tapi jauh bukankah itu lebih menyiksa daripada merindukan seseorang yang memang jauh darimu?”

Aku terdiam. Kurasakan kerongokonganku kering tak mampu membalas kata-kata Rama.

“Apakah tidak lebih baik, mulai sekarang kamu benahi hatimu. Belajarlah untuk membangun kebahagiaanmu sendiri tanpa harus bergantung pada kedua orang tuamu. Usiamu sudah matang untuk membina rumah tangga. Mengapa kita tidak menikah saja dan memulai kebahagiaan kita sendiri. Andai benar dirimu mau menganggap diriku ada. Tapi jika tidak, aku akan mengundurkan diri dari kehidupanmu.”

“A..a..pa? mas ingin pergi?”

“Iya. Aku juga manusia biasa yang punya keterbatasan,Rina. Kedua orang tuaku sudah mendesak agar aku menikah mengingat usiaku menginjak kepala tiga. Jika dirimu belum juga memberi harapan padaku, lebih baik aku pergi. Lebih cepat lebih baik sebelum aku menyesali keadaan yang terlanjur terjadi.”

Aku terpaku di tempatku. Hanya bisa membeku mendengar pengakuan Rama. Ucapannya membuatku terkejut. Selama ini aku mengira keadaannya baik-baik saja. Alasanku untuk terus menunda status hubungan di antara kami kukira tak menjadi masalah baginya. Ternyata aku salah. Sekarang dia telah siap melepaskan aku. Lalu aku? Sanggupkah aku kehilangannya?

“Mas tega meninggalkan aku?” bibirku bergetar menahan tangis.

“Aku tidak tega, Rina. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan harapan kedua orang tuaku terutama ayahku. Saat ini beliau sakit-sakitan. Ayah khawatir, ajal menjemputnya saat dia belum menyaksikan pernikahanku. Aku juga ingin ayah bisa bermain dengan cucunya jika aku benar-benar telah menikah.”

Kupejamkan mataku, bulir-bulir bening mengalir dipipiku. Batinku bergolak. Apa yang harus aku katakan sekarang pada Rama? Apakah sudah waktunya aku menentukan pilihan? Lalu pilihanku apa?

“Apa jawabanmu, Rina? Aku ingin mendengar keputusanmu sekarang.”

Aku terhenyak. Rasa panik menyeruak membuatku makin gelisah dan bingung.

Mendadak Rama beranjak berdiri sambil menghembuskan nafas berat.

“Baiklah, aku tahu jawabanmu. Sekarang hubungan tak jelas  di antara kita benar-benar berakhir.” Katanya pelan. Sejenak Rama masih berdiri di sampingku lalu perlahan langkahnya mulai menapak satu-satu meninggalkanku.

“Jangan tinggalkan aku, mas Rama. Ku mohon jangan pergi.” Kutatap punggungnya dengan airmata berlinang. Langkahnya terhenti tanpa berbalik.

“Aku bersedia menjadi istrimu..” kataku sambil menangis. Rama berbalik namun tak segera mendekatiku. Di wajahnya masih membias keraguan. Tak ada kata-kata hanya tatapan matanya yang menanti kepastian.

“Aku ingin bersamamu, jangan tinggalkan aku..” ucapku sekali lagi.

Dan lelaki yang kukenal sejak lima tahun lalu itu berlari mendekapku. Sangat erat hingga aku merasa dia hendak meleburkan diriku dalam tubuhnya. Aku pasrah meski mungkin tubuhku hancur bersamanya. Aku kini yakin, tanpa dirinya, aku benar-benar akan hancur seperti buih-buih dilautan.

Ucapan Rama terngiang kembali. Kini saatnya aku harus memulai kebahagiaanku sendiri tanpa harus terkungkung dengan masa lalu kedua orang tuaku. Tidak seharusnya aku terus menyalahkan kedua orang tuaku atas ketidak bahagiaanku menjalani hidup. Sudah waktunya aku memilih kebahagiaanku sendiri.

Dan kebahagiaan itu ada pada Rama. Lelaki yang sekian lama begitu setia menemani hari-hariku. Suka dan duka telah kami lewati bersama. Aku tidak ingin membuatnya menunggu dan merasakan kesedihan sepertiku. Semoga dia adalah lelaki terakhir hingga ajal memisahkan kami.



 

 


0 komentar:

Posting Komentar