![]() |
Beban di hatiku
ini hendak aku curahkan pada siapa? Gelisahku, kegundahan hatiku. Curhat pada
malam dengan tangis, tak mampu lagi kuhitung. Sepertinya malam pun telah jenuh
mendengar kesedihanku. Tiap kali
menyingkap tirai jendela dan menatap kegelapan, aku hanya bisa menyeka airmata.
Mentari mungkin merasa iba hingga enggan tersenyum. Hanya padaku mendung betah
berlama-lama, meski kemarau telah merambat dan menebarkan aroma kekeringan.
Aku tak boleh seperti
ini. Hatiku akan terus terpenjara,
suara hatiku berbisik.
Aku bangkit dari pembaringan ketika pesan BBM
berbunyi. Rasa penasaran membuatku bergegas menghampiri handphoneku yang
tergeletak di depan meja rias. Kubuka pesannya. Pesan BBM broadcast! Bukan dari
seseorang yang kuharapkan mengirim ucapan rindu. Aku mulai kesal.
Selesai mandi dan berdandan ala kadarnya, aku
melangkah menuju dapur. Baru kusadari rumahku benar-benar sepi. Kupandangi
komputer dan kertas-kertas yang berserakan disekitarnya, ternyata aku lupa
merapikan setelah semalam mencoba menuntaskan naskah drama.
Naskah drama?!? Aku terlonjak kaget. Deadlinenya
hari ini! Fetty pasti sebentar lagi akan menelponku. Segera kunyalakan
komputer. Rasa cemas menjalar keseluruh tubuhku. Andai aku ingat, tentu aku tak
akan menghabiskan waktu di tempat tidur dan melamun tak karuan.
Aneh, kenapa aku lupa jika naskah ini belum tuntas?
Apakah karena mimpi dini hari yang mengoyak perasaanku hingga aku betah
melamun? Mimpi yang menyakitkan dan membuatku terbangun sambil menangis.
Dalam mimpiku, Mas Aditya terlihat melangkah pergi
meninggalkanku, tanpa senyuman apalagi ucapan perpisahan. Aku menangis
menyadari keadaan kami serupa mimpiku. Hubunganku dan Mas Aditya serasa berada
dalam ruang hampa. Kebahagiaan sepertinya makin jauh dari kami.
Sesekali kuseka airmataku karena naskah yang aku
ketik kisahnya mirip dengan kisahku. Penulis
cengeng, itu julukan Mas Aditya untukku. Dulu, ketika kami masih memiliki
waktu berdiskusi. Ia sering memberi masukan dalam cerpen-cerpen yang aku
buat.Terkadang saat aku memaparkan ide dalam kepalaku, aku menangis larut dalam
kisah yang baru ada dalam pikiranku.
“Jangan menangis, selesaikan dulu naskahnya.
Airmatamu lebih banyak dari naskah yang akan kamu ketik. Penulis cengeng..” Ucapnya
lalu mencubit hidungku sambil tertawa. Mas Aditya heran mengapa aku menangis.
Ia tak paham jika aku membayangkan diriku saat membuat sebuah kisah.
Aku menghela nafas, menatap kosong layar komputer.
Rasa sakit dihatiku kembali hadir. Setahun
belakangan ini, hubunganku dengan Mas
Aditya kurasakan tak seperti dulu. Entahlah, aku merasa diriku tak berubah. Aku
tetap orang rumahan dengan kesibukan sebagai penulis.
Aku juga tak ingin menganggap Mas Aditya yang telah
berubah. Karena sejak kami berkenalan dan berpacaran, Ia tergolong gila kerja.
Jika sekarang dia sangat sibuk, bukan hal aneh lagi. Lalu apa masalahnya?
Entahlah. Aku sendiri bingung menamai hubungan kami
saat ini. Aku takut memulai tanya yang berujung pada kalimat pamungkas yang
mengerikan.
Kita sebaiknya
putus saja..
Aku bergidik lalu menggelengkan kepalaku. Aku tak
ingin mendengar kalimat itu diucapkan Mas Aditya. Aku takut. Aku tak bisa
membayangkan diriku jika kehilangannya. Beban menyelesaikan naskah dan cemas dengan
masalahku membuatku tak bisa konsentrasi. Aku menghentikan kegiatanku di depan
komputer. Percuma saja mengetik jika deretan kalimat yang telah
tersusun rapi dalam paragraf akhirnya aku hapus. Pekerjaan sia-sia. Sebaiknya
aku rehat dan menenangkan diri.
Saat beranjak dari kursi dan berbalik, aku
tersentak kaget. Mas Aditya tengah duduk di sofa. Sejak kapan Ia masuk? Mengapa
aku tak menyadari kehadirannya?
“Mas Aditya? Kapan datang?” Tanyaku seraya
menghampirinya.
“Belum lama. Pintunya tidak terkunci jadi aku langsung
masuk.” Ucapnya datar. Tanpa senyuman.
“Oh, aku lupa mengunci semalam. Aku langsung masuk
kamar dan tidur..” Kataku dengan senyum miris sambil mengutuk diriku yang
kurang teliti.
Mas Aditya tak berkata-kata lagi hanya menghisap
rokoknya. Aku makin kikuk.
“Aku sediakan minum ya Mas?” Tawarku mencoba
mencairkan situasi yang terasa sangat kaku.
“Tidak usah. Aku tidak lama. Aku ada kegiatan
sekitar sini bersama teman-teman?”
“Kegiatan apa mas? Apa aku boleh ikut?”
“Awalnya aku ingin mengajakmu, tapi melihat sikapmu
saat mengetik tadi. Aku berubah pikiran. Aku datang pada saat yang salah meski
ini hari minggu. Kamu pasti deadline lagi ya?”
Aku termangu. Rupanya Mas Aditya mendengar ocehanku
tentang deadline naskah yang aku ketik. Ocehan tak terkendali karena aku yakin
hanya sendirian di dalam rumah. Mana aku tahu Mas Aditya ternyata telah duduk
manis dan mendengar semua ungkapan kecemasanku?
“Aku bisa menundanya, Mas..”
“Bisa? Sudahlah, aku paham kebiasaanmu. Jangan memaksakan
diri kalau tidak bisa. Aku juga tidak ingin bersamamu, jika pikiranmu hanya tertuju
pada naskah deadline padahal tengah bersamaku.” Ucapnya seraya berdiri.
Dulu, jika mendengar ucapan yang sama dari Mas
Aditya, aku akan langsung merangkul lengannya dan membujuk agar dia mengerti
dan tak marah padaku. Namun kali ini kurasakan kakiku seolah melekat pada
lantai. Tubuhku juga seolah menyatu dengan sofa hingga sulit kugerakkan.
Teringat mimpiku semalam dan hubungan kami yang
terasa hampa akhir-akhir ini membuatku tersadar. Aku harus berbicara!
“Mas Aditya, apakah kita masih pacaran?”
Pertanyaanku membuat mas Aditya urung melangkah. Ia
menatapku heran.
“Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Apakah
kita masih sepasang kekasih?”
Pandangan kami bertemu. Aku mencari kebenaran dari
pancaran matanya. Hal yang entah kapan terakhir kali aku lakukan. Aku lupa.
Kembali aku merutuki diriku. Apakah aku yang telah mengabaikan Mas Aditya
selama ini?
Mas Aditya kembali duduk di sofa.
“Kenapa Mas berpikiran seperti itu?”
“Lalu dirimu, mengapa menanyakan status hubungan
kita?”
Aku tergagap tak bisa menjawab.
“Itu..itu..karena aku merasa sikap Mas sangat acuh.
Terkadang kalau bukan aku yang bbm atau
telepon, berhari-hari tak ada kabar dari Mas.” Ucapku dengan bibir bergetar.
Kurasakan mataku mulai panas dan berair.
“Lalu menurutmu, aku yang tidak peduli?”
Aku mengusap air mataku. Mungkin sudah saatnya aku
curhat pada orang yang tepat. Pada lelaki yang membuatku resah dan
uring-uringan karena cemas dengan sikapnya.
“Itu yang aku rasakan, Mas. Maafkan aku tapi aku
merasa hubungan kita tak seperti dulu lagi. Sikap Mas setahun ini sangat berbeda. Aku bahkan berpikir hal yang
buruk, mungkin saja telah ada penggantiku yang membuat Mas berpaling.”
Aku terisak. Dulu, kembali aku mengingat hal yang
dulu. Jika aku menangis, Mas Aditya akan langsung merangkulku, mendekapku erat
hingga tangisku reda. Namun kini, tubuhnya tak bergerak bahkan Ia sama sekali
tak memandangku. Aku makin yakin telah terjadi sesuatu yang mengubah ikatan di
antara kami.
“Aku tidak ingin kita saling menyalahkan. Kita
nikmati saja keadaan ini. Entah akan berakhir seperti apa, kita juga tidak
tahu..” Aku tertegun mendengar ucapan Mas Aditya.
“Apa maksud mas? Hubungan kita akhirnya tak jelas?”
Tanyaku bingung. Mengapa sekarang Mas Aditya tak menyinggung pernikahan?
padahal saat memulai pacaran tiga tahun yang lalu, hal pertama yang diinginkan
Mas Aditya adalah menikah denganku. Lalu mengapa sekarang berubah?
“Iya. Karena tak ada yang bisa menebak apa yang
akan terjadi di masa depan. Melihatmu sekarang, aku bukan ragu, hanya mulai
menata kembali tujuan hidupku. Benarkah kita bisa menjalaninya hingga akhir?”
Aku tercekat.
“Mas menganggap aku yang terlalu sibuk? Aku yang
telah mengabaikan Mas?”
“Sudah aku katakan. Kita jangan saling menyalahkan.
Sebaiknya kita koreksi diri kita masing-masing. Kita kan sudah komitmen sejak
awal, pekerjaan atau aktivitas kita sebelum pacaran tetap akan terus berjalan
meski kita pacaran. Tidak ada yang bisa disalahkan. Kita belum menikah. Wajar
jika kita berusaha lebih semangat untuk semakin maju.”
“Tapi perasaanku tidak tenang, Mas. Aku merasa kita
makin jauh. Kita tidak seperti dulu lagi. Apakah itu hanya perasaanku saja. Aku
merasa seperti kehilangan Mas. ”
“Kamu hanya belum terbiasa. Aku tak ingin hubungan
kita seperti menjalani rutinitas. Kadang dalam dalam suatu hubungan, kita perlu
saling menjaga jarak, agar kita tidak kehilangan jati diri. Aku malah ingin,
hubungan kita berjalan secara alami. Tidak dibuat-buat demi menjaga status
kita. Terlihat bahagia tapi menipu hati kita. Kita butuh waktu untuk menyepi
agar kita bisa kembali menemukan rasa yang menurutmu telah hilang.”
Aku menyimak meski tetap tak bisa memahami ucapan Mas
Aditya.
“Baiklah, lanjutkan kegiatanmu. Aku juga akan
melanjutkan kegiatanku.”
Aku berdiri lalu melangkah menemani Mas Aditya
hingga ke pintu pagar. Pantas saja aku tak mendengar kedatangannya karena Ia
tidak menggunakan mobil seperti biasa. Kali ini Ia mengendarai motor. Hatiku
terenyuh saat melihat helm yang tergantung di motornya. Ternyata Ia telah
menyiapkan dua helm. Benarkah aku yang telah salah menilai sikapnya selama ini?
menganggapnya tak peduli?
Malamnya, setelah Fetty mengambil draft naskah. Aku
kembali menikmati keheningan rumahku. Aku malas mendengarkan musik apalagi
menonton televisi. Biasanya aku menikmati kesepianku dengan duduk di teras
belakang rumah. Menghadap kolam, menikmati gemericik air dari pancuran bambu.
Sejak kepergiaannya tadi siang, belum ada telepon
atau bbm dari Mas Aditya. Percuma kupandangi handphone yang tak juga berdering.
Benarkah aku yang belum terbiasa? Lalu aku harus membiasakan diri pada hal apa?
Selama dua tahun hubungan kami sangat manis. Tak ada waktu yang terlewatkan
tanpa mengetahui kabar kami masing-masing.
Setiap pagi hingga menjelang tidur, kami saling
telepon atau saling BBM an hingga tertidur. Lalu jika kebiasaan itu mulai
jarang kami lakukan, hal wajar bukan jika aku bertanya-tanya apa gerangan yang
menyebabkan kami berubah? Apakah kami telah sama-sama jenuh atau bosan?Aku
bergidik ngeri. Semoga saja tidak.
Teringat kata Fetty, saat berkunjung tadi. Kami
terlalu lama pacaran. Sudah waktunya untuk menikah. Tiga tahun tergolong lama
untuk kami yang telah sama-sama mapan dalam pekerjaan. Biasanya kendala dalam memulai
pernikahan, jika salah satu pihak masih ada beban atau hal yang ingin
diselesaikan sebelum mengikatkan diri satu sama lain. Lalu kami? Kendala kami
apa?
Ucapan Fetty menyadarkanku akan usiaku yang hampir
mendekati angka tigapuluh. Mungkin sudah saatnya aku meminta ketegasan Mas
Aditya agar kami segera menikah. Apalagi hubungan kami saat ini seperti hambar.
Aku takut jika kemudian hilang, lenyap tak membekas.
Dering telepon membuyarkan lamunananku. Aku
terlonjak, dari Mas Aditya.
“Tolong buka pintu, aku di depan.”
Aku tak membalas ucapannya tapi segera berlari
menuju ruang tamu kemudian membuka pintu. Senyum yang hadir di wajah Mas Aditya
menggetarkan hatiku. Serasa kembali ke masa-masa awal pacaran kami. Apalagi saat Ia menyerahkan seikat bunga mawar merah. Aku
terharu hingga meneteskan airmata. Kuraih bunga pemberiannya lalu memeluknya. Aku
merasa sangat merindukannya.
“Terima kasih, Mas.” Ucapku sambil terisak.
“Kita menikah, ya. Apa kamu masih mau jadi istriku?”
Aku melepaskan pelukanku lalu menatapnya. Mencari
kesungguhan dari ucapannya.
“Mas melamarku?” Tanyaku. Dan lelaki yang selama
tiga tahun ini menghiasi mimpi indahku, mengangguk sambil tersenyum.
“Kamu setuju?”
Aku langsung mengangguk sembari memeluknya dengan perasaan
bahagia.



0 komentar:
Posting Komentar