Minggu, 17 April 2016

Suara Hatiku

0



Beban di hatiku ini hendak aku curahkan pada siapa? Gelisahku, kegundahan hatiku. Curhat pada malam dengan tangis, tak mampu lagi kuhitung. Sepertinya malam pun telah jenuh mendengar kesedihanku.  Tiap kali menyingkap tirai jendela dan menatap kegelapan, aku hanya bisa menyeka airmata. Mentari mungkin merasa iba hingga enggan tersenyum. Hanya padaku mendung betah berlama-lama, meski kemarau telah merambat dan menebarkan aroma kekeringan.

Aku tak boleh seperti ini. Hatiku akan terus terpenjara, suara hatiku berbisik.

Aku bangkit dari pembaringan ketika pesan BBM berbunyi. Rasa penasaran membuatku bergegas menghampiri handphoneku yang tergeletak di depan meja rias. Kubuka pesannya. Pesan BBM broadcast! Bukan dari seseorang yang kuharapkan mengirim ucapan rindu. Aku mulai kesal.

Selesai mandi dan berdandan ala kadarnya, aku melangkah menuju dapur. Baru kusadari rumahku benar-benar sepi. Kupandangi komputer dan kertas-kertas yang berserakan disekitarnya, ternyata aku lupa merapikan setelah semalam mencoba menuntaskan naskah drama.

Naskah drama?!? Aku terlonjak kaget. Deadlinenya hari ini! Fetty pasti sebentar lagi akan menelponku. Segera kunyalakan komputer. Rasa cemas menjalar keseluruh tubuhku. Andai aku ingat, tentu aku tak akan menghabiskan waktu di tempat tidur dan melamun tak karuan.

Aneh, kenapa aku lupa jika naskah ini belum tuntas? Apakah karena mimpi dini hari yang mengoyak perasaanku hingga aku betah melamun? Mimpi yang menyakitkan dan membuatku terbangun sambil menangis.

Dalam mimpiku, Mas Aditya terlihat melangkah pergi meninggalkanku, tanpa senyuman apalagi ucapan perpisahan. Aku menangis menyadari keadaan kami serupa mimpiku. Hubunganku dan Mas Aditya serasa berada dalam ruang hampa. Kebahagiaan sepertinya makin jauh dari kami.

Sesekali kuseka airmataku karena naskah yang aku ketik kisahnya mirip dengan kisahku. Penulis cengeng, itu julukan Mas Aditya untukku. Dulu, ketika kami masih memiliki waktu berdiskusi. Ia sering memberi masukan dalam cerpen-cerpen yang aku buat.Terkadang saat aku memaparkan ide dalam kepalaku, aku menangis larut dalam kisah yang baru ada dalam pikiranku.

“Jangan menangis, selesaikan dulu naskahnya. Airmatamu lebih banyak dari naskah yang akan kamu ketik. Penulis cengeng..” Ucapnya lalu mencubit hidungku sambil tertawa. Mas Aditya heran mengapa aku menangis. Ia tak paham jika aku membayangkan diriku saat membuat sebuah kisah.

Aku menghela nafas, menatap kosong layar komputer. Rasa sakit dihatiku kembali hadir.  Setahun  belakangan ini, hubunganku dengan Mas Aditya kurasakan tak seperti dulu. Entahlah, aku merasa diriku tak berubah. Aku tetap orang rumahan dengan kesibukan sebagai penulis.

Aku juga tak ingin menganggap Mas Aditya yang telah berubah. Karena sejak kami berkenalan dan berpacaran, Ia tergolong gila kerja. Jika sekarang dia sangat sibuk, bukan hal aneh lagi. Lalu apa masalahnya?

Entahlah. Aku sendiri bingung menamai hubungan kami saat ini. Aku takut memulai tanya yang berujung pada kalimat pamungkas yang mengerikan.

Kita sebaiknya putus saja..

Aku bergidik lalu menggelengkan kepalaku. Aku tak ingin mendengar kalimat itu diucapkan Mas Aditya. Aku takut. Aku tak bisa membayangkan diriku jika kehilangannya. Beban menyelesaikan naskah dan cemas dengan masalahku membuatku tak bisa konsentrasi. Aku menghentikan kegiatanku di depan komputer. Percuma saja mengetik jika deretan kalimat yang telah tersusun rapi dalam paragraf akhirnya aku hapus. Pekerjaan sia-sia. Sebaiknya aku rehat dan menenangkan diri.

Saat beranjak dari kursi dan berbalik, aku tersentak kaget. Mas Aditya tengah duduk di sofa. Sejak kapan Ia masuk? Mengapa aku tak menyadari kehadirannya?

“Mas Aditya? Kapan datang?” Tanyaku seraya menghampirinya.

“Belum lama. Pintunya tidak terkunci jadi aku langsung masuk.” Ucapnya datar. Tanpa senyuman.

“Oh, aku lupa mengunci semalam. Aku langsung masuk kamar dan tidur..” Kataku dengan senyum miris sambil mengutuk diriku yang kurang teliti.

Mas Aditya tak berkata-kata lagi hanya menghisap rokoknya. Aku makin kikuk.

“Aku sediakan minum ya Mas?” Tawarku mencoba mencairkan situasi yang terasa sangat kaku.

“Tidak usah. Aku tidak lama. Aku ada kegiatan sekitar sini bersama teman-teman?”

“Kegiatan apa mas? Apa aku boleh ikut?”

“Awalnya aku ingin mengajakmu, tapi melihat sikapmu saat mengetik tadi. Aku berubah pikiran. Aku datang pada saat yang salah meski ini hari minggu. Kamu pasti deadline lagi ya?”

Aku termangu. Rupanya Mas Aditya mendengar ocehanku tentang deadline naskah yang aku ketik. Ocehan tak terkendali karena aku yakin hanya sendirian di dalam rumah. Mana aku tahu Mas Aditya ternyata telah duduk manis dan mendengar semua ungkapan kecemasanku?

“Aku bisa menundanya, Mas..”

“Bisa? Sudahlah, aku paham kebiasaanmu. Jangan memaksakan diri kalau tidak bisa. Aku juga tidak ingin bersamamu, jika pikiranmu hanya tertuju pada naskah deadline padahal tengah bersamaku.” Ucapnya seraya berdiri.

Dulu, jika mendengar ucapan yang sama dari Mas Aditya, aku akan langsung merangkul lengannya dan membujuk agar dia mengerti dan tak marah padaku. Namun kali ini kurasakan kakiku seolah melekat pada lantai. Tubuhku juga seolah menyatu dengan sofa hingga sulit kugerakkan.

Teringat mimpiku semalam dan hubungan kami yang terasa hampa akhir-akhir ini membuatku tersadar. Aku harus berbicara!

“Mas Aditya, apakah kita masih pacaran?”

Pertanyaanku membuat mas Aditya urung melangkah. Ia menatapku heran.

“Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Apakah kita masih sepasang kekasih?”

Pandangan kami bertemu. Aku mencari kebenaran dari pancaran matanya. Hal yang entah kapan terakhir kali aku lakukan. Aku lupa. Kembali aku merutuki diriku. Apakah aku yang telah mengabaikan Mas Aditya selama ini?

Mas Aditya kembali duduk di sofa.

“Kenapa Mas berpikiran seperti itu?”

“Lalu dirimu, mengapa menanyakan status hubungan kita?”

Aku tergagap tak bisa menjawab.

“Itu..itu..karena aku merasa sikap Mas sangat acuh. Terkadang kalau bukan aku yang  bbm atau telepon, berhari-hari tak ada kabar dari Mas.” Ucapku dengan bibir bergetar. Kurasakan mataku mulai panas dan berair.

“Lalu menurutmu, aku yang tidak peduli?”

Aku mengusap air mataku. Mungkin sudah saatnya aku curhat pada orang yang tepat. Pada lelaki yang membuatku resah dan uring-uringan karena cemas dengan sikapnya.

“Itu yang aku rasakan, Mas. Maafkan aku tapi aku merasa hubungan kita tak seperti dulu lagi. Sikap Mas setahun ini  sangat berbeda. Aku bahkan berpikir hal yang buruk, mungkin saja telah ada penggantiku yang membuat Mas berpaling.”

Aku terisak. Dulu, kembali aku mengingat hal yang dulu. Jika aku menangis, Mas Aditya akan langsung merangkulku, mendekapku erat hingga tangisku reda. Namun kini, tubuhnya tak bergerak bahkan Ia sama sekali tak memandangku. Aku makin yakin telah terjadi sesuatu yang mengubah ikatan di antara kami.

“Aku tidak ingin kita saling menyalahkan. Kita nikmati saja keadaan ini. Entah akan berakhir seperti apa, kita juga tidak tahu..” Aku tertegun mendengar ucapan Mas Aditya.

“Apa maksud mas? Hubungan kita akhirnya tak jelas?” Tanyaku bingung. Mengapa sekarang Mas Aditya tak menyinggung pernikahan? padahal saat memulai pacaran tiga tahun yang lalu, hal pertama yang diinginkan Mas Aditya adalah menikah denganku. Lalu mengapa sekarang berubah?

“Iya. Karena tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Melihatmu sekarang, aku bukan ragu, hanya mulai menata kembali tujuan hidupku. Benarkah kita bisa menjalaninya hingga akhir?”

Aku tercekat.

“Mas menganggap aku yang terlalu sibuk? Aku yang telah mengabaikan Mas?”

“Sudah aku katakan. Kita jangan saling menyalahkan. Sebaiknya kita koreksi diri kita masing-masing. Kita kan sudah komitmen sejak awal, pekerjaan atau aktivitas kita sebelum pacaran tetap akan terus berjalan meski kita pacaran. Tidak ada yang bisa disalahkan. Kita belum menikah. Wajar jika kita berusaha lebih semangat untuk semakin maju.”

“Tapi perasaanku tidak tenang, Mas. Aku merasa kita makin jauh. Kita tidak seperti dulu lagi. Apakah itu hanya perasaanku saja. Aku merasa seperti kehilangan Mas. ”

“Kamu hanya belum terbiasa. Aku tak ingin hubungan kita seperti menjalani rutinitas. Kadang dalam dalam suatu hubungan, kita perlu saling menjaga jarak, agar kita tidak kehilangan jati diri. Aku malah ingin, hubungan kita berjalan secara alami. Tidak dibuat-buat demi menjaga status kita. Terlihat bahagia tapi menipu hati kita. Kita butuh waktu untuk menyepi agar kita bisa kembali menemukan rasa yang menurutmu telah hilang.”

Aku menyimak meski tetap tak bisa memahami ucapan Mas Aditya.

“Baiklah, lanjutkan kegiatanmu. Aku juga akan melanjutkan kegiatanku.”

Aku berdiri lalu melangkah menemani Mas Aditya hingga ke pintu pagar. Pantas saja aku tak mendengar kedatangannya karena Ia tidak menggunakan mobil seperti biasa. Kali ini Ia mengendarai motor. Hatiku terenyuh saat melihat helm yang tergantung di motornya. Ternyata Ia telah menyiapkan dua helm. Benarkah aku yang telah salah menilai sikapnya selama ini? menganggapnya tak peduli?

Malamnya, setelah Fetty mengambil draft naskah. Aku kembali menikmati keheningan rumahku. Aku malas mendengarkan musik apalagi menonton televisi. Biasanya aku menikmati kesepianku dengan duduk di teras belakang rumah. Menghadap kolam, menikmati gemericik air dari pancuran bambu.

Sejak kepergiaannya tadi siang, belum ada telepon atau bbm dari Mas Aditya. Percuma kupandangi handphone yang tak juga berdering. Benarkah aku yang belum terbiasa? Lalu aku harus membiasakan diri pada hal apa? Selama dua tahun hubungan kami sangat manis. Tak ada waktu yang terlewatkan tanpa mengetahui kabar kami masing-masing.

Setiap pagi hingga menjelang tidur, kami saling telepon atau saling BBM an hingga tertidur. Lalu jika kebiasaan itu mulai jarang kami lakukan, hal wajar bukan jika aku bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan kami berubah? Apakah kami telah sama-sama jenuh atau bosan?Aku bergidik ngeri. Semoga saja tidak.

Teringat kata Fetty, saat berkunjung tadi. Kami terlalu lama pacaran. Sudah waktunya untuk menikah. Tiga tahun tergolong lama untuk kami yang telah sama-sama mapan dalam pekerjaan. Biasanya kendala dalam memulai pernikahan, jika salah satu pihak masih ada beban atau hal yang ingin diselesaikan sebelum mengikatkan diri satu sama lain. Lalu kami? Kendala kami apa?

Ucapan Fetty menyadarkanku akan usiaku yang hampir mendekati angka tigapuluh. Mungkin sudah saatnya aku meminta ketegasan Mas Aditya agar kami segera menikah. Apalagi hubungan kami saat ini seperti hambar. Aku takut jika kemudian hilang, lenyap tak membekas.

Dering telepon membuyarkan lamunananku. Aku terlonjak, dari Mas Aditya.

“Tolong buka pintu, aku di depan.”

Aku tak membalas ucapannya tapi segera berlari menuju ruang tamu kemudian membuka pintu. Senyum yang hadir di wajah Mas Aditya menggetarkan hatiku. Serasa kembali ke masa-masa awal pacaran kami. Apalagi  saat Ia  menyerahkan seikat bunga mawar merah. Aku terharu hingga meneteskan airmata. Kuraih bunga pemberiannya lalu memeluknya. Aku merasa sangat merindukannya.

“Terima kasih, Mas.” Ucapku sambil terisak.

“Kita menikah, ya. Apa kamu masih mau jadi istriku?”

Aku melepaskan pelukanku lalu menatapnya. Mencari kesungguhan dari ucapannya.

“Mas melamarku?” Tanyaku. Dan lelaki yang selama tiga tahun ini menghiasi mimpi indahku, mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu setuju?”


Aku langsung mengangguk sembari memeluknya dengan perasaan bahagia.

***** 

Sumber gambar disini


0 komentar:

Posting Komentar