Alarm hape kembali berdering untuk ke dua puluh kalinya, namun Rizal
alias mas Reporter tidak juga bergerak dari balik selimutnya. Rupanya
cuaca mendung dan hujan yang masih setia turun hingga pagi ini,
menghadirkan rasa nyaman yang membuat lelap si empunya hape.
“Assalamu
Alaikum mas Rizal..” teriakan lembut seseorang terdengar lamat-lamat.
Mata Rizal bergerak seolah terhubung dengan mimpinya. Sekonyong-konyong
dia melihat bayangan gadis cantik menghampirinya, mengelus rambutnya
dengan penuh kelembutan. Rizal tersenyum bahagia.
“Assalamu Alaikum mas Rizal!!!” kali ini suara lembut itu berubah keras dan tegas.
Rizal
terbangun, matanya membelalak kaget, melihat sekeliling lalu
mengusap-usap matanya. Sadar tadi hanya mimpi, dia bermaksud tidur
kembali.
“Mas Rizal!!!!! Buka pintunyaaaaaaa!!!!!”
Kali
ini Rizal terlonjak. Bangkit dari pembaringan lalu tergopoh-gopoh
memperbaiki posisi sarungnya. Dia yakin kini kalau yang berteriak sejak tadi
adalah suara manusia di alam nyata bukan mimpi seperti dugaannya.
Sambil
menahan kantuk, lelaki lajang itu berlari menuju pintu ruang tamu.
Namun sebelum membuka pintu, dia sempatkan untuk merapikan rambut dan
melihat sekilas dirinya di depan cermin.
“Mantap! Bangun
tidur pun, aku tetap keliatan cakep. Alhamdulillah, pagi-pagi udah
dibangunkan suara perempuan. Tapi siapa ya? Kok terdengar seperti
Kembang? Whattt Kembang?”
Rizal membuka pintu dengan penuh
semangat. Memasang senyum pepsodent meski belum cuci muka. Di depannya
wajah Kembang yang tersenyum sangat manis seolah meluruhkan bekuan es
kerinduan yang selama ini bersemayam dalam hati mas Reporter.
“Hai
Kembang..” sapanya. Bintang-bintang menari melingkari kepala mas
Reporter. Melihat mata Kembang yang berbinar, Rizal seperti melihat
mata air yang menghapus dahaganya.
“Mas Rizal, aku mau minta tolong..”
“O, bisa, bisa, mau minta tolong apa?”
“Titip bayiku..”
“Apa?
Bayi apa? Kembang ngomong apa tadi?” Jantung Rizal berdentang seperti
jam raksasa. Bergetar seperti getaran kereta yang lewat.
“Bayiku..” jawab Kembang kalem seperti belum menyadari keadaan Rizal.
“Kembang
sudah punya bayi? Jadi gosip tempo hari benar ya?” suara Rizal lemas
menyusul sarungnya yang mendadak nyaris terjatuh. Syukurlah tangannya
sigap menyambar lalu menggulung kembali sarung itu di pinggangnya.
“Bukan mas Rizal, mas salah paham. Aduh, aku kok bisa salah ngomong begini? Bukan bayi anakku, tapi bayi kelinci..”
“Owwwwwwww.” Gumam Rizal dengan perasaan lega.
“Mana bayi kelincinya? Kok di titip Kembang? Emang Kembang mau kemana sih?”
Kembang keluar sebentar lalu membawa keranjang berisi dua ekor kelinci yang sangat cantik.
“Ini
mas kelincinya, tolong di jaga ya. Kembang tau, mas Rizal sangat
sayang sama binatang karena itu Kembang titip di sini. Kembang mau
pulang kampung beberapa hari, cuma sebentar kok, ada keluarga yang
nikah.”
Rizal menatap gemas dua ekor kelinci yang juga menatapnya dengan mata yang bening.
“kilik kilik kilikkk kilik...” jemarinya menyentuh bulu-bulu kelinci yang halus.
“Tolong
jaga dengan baik ya mas Rizal, nih saya bawain juga wortel kesukaan
mereka. Jangan lupa di beri makan.” Pesan Kembang lalu pamit
meninggalkan rumah Rizal.
Beberapa jam kemudian, Rizal
sudah mandi dan berpakaian rapi, siap berangkat beraktivitas di studio
fotonya yang semakin hari terlihat redup. Bukan rahasia umum lagi jika
semua staf-staf Rizal terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan hingga
lupa merawat studio foto mereka.
“Mas Rizal, tolongin aku
dong!” mendadak Vianna, putri Wakades, muncul dan memasang wajah penuh
belas kasihan. Gadis itu memegang lengan Rizal yang merinding, tak
menyangka gadis pujaannya juga hadir pagi ini.
“Neng Vianna kenapa? mau di bantu apa?”
“Cariin aku kelinci.”
“Untuk apa?”
“Kelinci
itu bukan buat Vianna mas Rizal, tapi untuk seseorang yang sangat suka
dengan kelinci. Mas Rizal bisa cariin Vianna nggak? Tolong ya, aku tuh
udah cari kemana-mana, kang Inin juga udah nyari tapi sampai sekarang
belum ada kabar beritanya. Entah dia nyari kemana.”
Rizal
tersenyum. Mendadak dia teringat dengan kelinci milik Kembang yang
dititipkan padanya. Tapi bagaimana jika Kembang pulang dan mendapati
kelinci keesayangannya lenyap? Bisa layu sebelum berkembang cintanya
pada gadis itu karena tidak mendapat balasan. Tapi demi melihat wajah
ayu putri wakades yang mirip pinang dibelah-belah dengan bundanya :)
Reporter akhirnya luluh.
Dia kembali masuk ke dalam rumah
dan keluar menenteng keranjang berisi kelinci. Rupanya si kelinci
sedang tertidur lelap setelah tadi sarapan wortel dan susu. Rizal
sengaja menyisihkan susu jatah sarapannya pagi ini khusus untuk si
kelinci tersayang milik Kembang.
“Ini neng Vianna, kelinci untuk neng Vianna, nggak usah di beli, gratissss.”
Vianna
melonjak kegirangan, dia sangat senang hingga tak sadar memeluk Rizal.
Lelaki itu tertegun sejenak, tubuhnya kaku, hanya matanya yang
mendelik kaget.
“Makasihhhhhh mas Rizall, Vianna sayang
banget sama mas Rizal..” sekali lagi gadis itu memeluk tubuh Rizal yang
tegang bagai tembok Berlin sebelum runtuh. Bahkan hingga Vianna
menghilang di ujung jalan, Rizal masih belum sadar dari komanya.
Tiba dirumah pamannya, kepala Desa Rangkat, Vianna berteriak nyaring.
“Assaamu alaikum, uncle Ibay, ini Vianna bawain pesanannya!”
Tergopoh-gopoh Ibay muncul. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
“Dapat kelincinya? syukurlah. Hampir aja pamanmu ini tidak masuk kantor gara-gara kelinci ini.”
Vianna
menyerahkan keranjang berisi kelinci. Ibay suka cita menerimanya,
senyum matahari pagi mendadak hadir di wajahnya. Dia kemudian masuk ke
dalam kamar menemui istrinya, Jingga yang tidur memeluk guling
membelakanginya.
“Sayangku, Jingga. Ini abang bawain kelinci yang cantik seperti permintaanmu sayang.”
Jingga
berbalik. Wajahnya seketika berubah cerah setelah tadi manyun menunggu
kelinci yang belum datang juga padahal permintaannya itu sejak minggu
lalu dia utarakan pada suami tercintanya. Namun karena kesibukannya
sebagai kepala desa hingga Ibay lupa untuk memenuhi keinginan istrinya
itu. Baru tadi pagi setelah Jingga mengamuk dengan ulekan yang siap
melayang, akhirnya Ibay sadar, jika istrinya itu benar-benar serius
ingin memelihara kelinci.
Jingga bangun dari pembaringan lalu memegang keranjang kelinci.
“Kelincinya
cantik banget, bang. Jingga makin sayang sama abang.” Ucap Jingga
penuh keharuan. Matanya berkaca-kaca, dia mengusapnya lalu menyentuh
lembut kelinci yang masih terlelap, tak sadar sedang terjadi penculikan
atas dirinya.
Sementara Ibay tersipu-sipu bahagia. Jauh
dilubuk hatinya dia merasa lega. Hanya saja ada yang aneh pada kelinci
itu. Mengapa dia merasa tak asing lagi dengan mereka berdua? Kok mirip kelinci yang aku hadiahkan pada Kembang ya? Batin Ibay penasaran. Namun kemudian dia tersenyum, dimana-mana bayi kelinci ya sama saja modelnya, batinnya lagi.
Sekarang
Kembang nggak bisa sombong lagi, emang hanya dia yang punya kelinci
cantik? aku juga punya. Tunggu aja ya kelinci sayang, kita jalan-jalan ke rumah tante Kembang, batin Jingga dengan senyum kemenangan.
( Silahkan di lanjutkan :) )


0 komentar:
Posting Komentar