Sabtu, 31 Agustus 2013

[ECR] Kelinci Kembang

0

 
Alarm hape kembali berdering untuk ke dua puluh kalinya, namun Rizal alias mas Reporter tidak juga bergerak dari balik selimutnya. Rupanya cuaca mendung dan hujan yang masih setia turun hingga pagi ini, menghadirkan rasa nyaman yang membuat lelap si empunya hape.

“Assalamu Alaikum mas Rizal..” teriakan lembut seseorang terdengar lamat-lamat. Mata Rizal bergerak seolah terhubung dengan mimpinya. Sekonyong-konyong dia melihat bayangan gadis cantik menghampirinya, mengelus rambutnya dengan penuh kelembutan. Rizal tersenyum bahagia.

“Assalamu Alaikum mas Rizal!!!” kali ini suara lembut itu berubah keras dan tegas.

Rizal terbangun, matanya membelalak kaget, melihat sekeliling lalu mengusap-usap matanya. Sadar tadi hanya mimpi, dia bermaksud tidur kembali.

“Mas Rizal!!!!! Buka pintunyaaaaaaa!!!!!”

Kali ini Rizal terlonjak. Bangkit dari pembaringan lalu tergopoh-gopoh memperbaiki posisi sarungnya. Dia yakin kini kalau yang berteriak sejak tadi adalah suara manusia di alam nyata bukan mimpi seperti dugaannya.

Sambil menahan kantuk, lelaki lajang itu berlari menuju pintu ruang tamu. Namun sebelum membuka pintu, dia sempatkan untuk merapikan rambut dan melihat sekilas dirinya di depan cermin.

“Mantap! Bangun tidur pun, aku tetap keliatan cakep. Alhamdulillah, pagi-pagi udah dibangunkan suara perempuan. Tapi siapa ya? Kok terdengar seperti Kembang? Whattt Kembang?”

Rizal membuka pintu dengan penuh semangat. Memasang senyum pepsodent meski belum cuci muka. Di depannya wajah Kembang yang tersenyum sangat manis seolah meluruhkan bekuan es kerinduan yang selama ini bersemayam dalam hati mas Reporter.

“Hai Kembang..” sapanya. Bintang-bintang menari melingkari kepala mas Reporter. Melihat mata Kembang yang berbinar, Rizal seperti melihat mata air yang menghapus dahaganya.

“Mas Rizal, aku mau minta tolong..”

“O, bisa, bisa, mau minta tolong apa?”

“Titip bayiku..”

“Apa? Bayi apa? Kembang ngomong apa tadi?” Jantung Rizal berdentang seperti jam raksasa. Bergetar seperti getaran kereta yang lewat.

“Bayiku..” jawab Kembang kalem seperti belum menyadari keadaan Rizal.

“Kembang sudah punya bayi? Jadi gosip tempo hari benar ya?” suara Rizal lemas menyusul sarungnya yang mendadak nyaris terjatuh. Syukurlah tangannya sigap menyambar lalu menggulung kembali sarung itu di pinggangnya.

“Bukan mas Rizal, mas salah paham. Aduh, aku kok bisa salah ngomong begini? Bukan bayi anakku, tapi bayi kelinci..”

“Owwwwwwww.” Gumam Rizal dengan perasaan lega.

“Mana bayi kelincinya? Kok di titip Kembang? Emang Kembang mau kemana sih?”

Kembang keluar sebentar lalu membawa keranjang berisi dua ekor kelinci yang sangat cantik.

“Ini mas kelincinya, tolong di jaga ya. Kembang tau, mas Rizal sangat sayang sama binatang karena itu Kembang titip di sini. Kembang mau pulang kampung beberapa hari, cuma sebentar kok, ada keluarga yang nikah.”

Rizal menatap gemas dua ekor kelinci yang juga menatapnya dengan mata yang bening.

“kilik kilik kilikkk kilik...”  jemarinya menyentuh bulu-bulu kelinci yang halus.

“Tolong jaga dengan baik ya mas Rizal, nih saya bawain juga wortel kesukaan mereka. Jangan lupa di beri makan.” Pesan Kembang lalu pamit meninggalkan rumah Rizal.

Beberapa jam kemudian, Rizal sudah mandi dan berpakaian rapi, siap berangkat beraktivitas di studio fotonya yang semakin hari terlihat redup. Bukan rahasia umum lagi jika semua staf-staf Rizal terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan hingga lupa merawat studio foto mereka.

“Mas Rizal, tolongin aku dong!” mendadak Vianna, putri Wakades, muncul dan memasang wajah penuh belas kasihan. Gadis itu memegang lengan Rizal yang merinding, tak menyangka gadis pujaannya juga hadir pagi ini.

“Neng Vianna kenapa? mau di bantu apa?”

“Cariin aku kelinci.”

“Untuk apa?”

 “Kelinci itu bukan buat Vianna mas Rizal, tapi untuk seseorang yang sangat suka dengan kelinci. Mas Rizal bisa cariin Vianna nggak? Tolong ya, aku tuh udah cari kemana-mana, kang Inin juga udah nyari tapi sampai sekarang belum ada kabar beritanya. Entah dia nyari kemana.”

Rizal tersenyum. Mendadak dia teringat dengan kelinci milik Kembang yang dititipkan padanya. Tapi bagaimana jika Kembang pulang dan mendapati kelinci keesayangannya lenyap? Bisa layu sebelum berkembang cintanya pada gadis itu karena tidak mendapat balasan. Tapi demi melihat wajah ayu putri wakades yang mirip pinang dibelah-belah dengan bundanya :) Reporter akhirnya luluh.

Dia kembali masuk ke dalam rumah dan keluar menenteng keranjang berisi kelinci. Rupanya si kelinci sedang tertidur lelap setelah tadi sarapan wortel dan susu. Rizal sengaja menyisihkan susu jatah sarapannya pagi ini khusus untuk si kelinci tersayang milik Kembang.

“Ini neng Vianna, kelinci untuk neng Vianna, nggak usah di beli, gratissss.”

Vianna melonjak kegirangan, dia sangat senang hingga tak sadar memeluk Rizal. Lelaki itu tertegun sejenak, tubuhnya kaku, hanya matanya yang mendelik kaget.

“Makasihhhhhh mas Rizall, Vianna sayang banget sama mas Rizal..” sekali lagi gadis itu memeluk tubuh Rizal yang tegang bagai tembok Berlin sebelum runtuh. Bahkan hingga Vianna menghilang di ujung jalan, Rizal masih belum sadar dari komanya.

Tiba dirumah pamannya, kepala Desa Rangkat, Vianna berteriak nyaring.

“Assaamu alaikum, uncle Ibay, ini Vianna bawain pesanannya!”

Tergopoh-gopoh Ibay muncul. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

“Dapat kelincinya? syukurlah. Hampir aja pamanmu ini tidak masuk kantor gara-gara kelinci ini.”

Vianna menyerahkan keranjang berisi kelinci.  Ibay suka cita menerimanya, senyum matahari pagi mendadak hadir di wajahnya. Dia kemudian masuk ke dalam kamar menemui istrinya, Jingga yang tidur memeluk guling membelakanginya.

“Sayangku, Jingga. Ini abang bawain kelinci yang cantik seperti permintaanmu sayang.”

Jingga berbalik. Wajahnya seketika berubah cerah setelah tadi manyun menunggu kelinci yang belum datang juga padahal permintaannya itu sejak minggu lalu dia utarakan pada suami tercintanya. Namun karena kesibukannya sebagai kepala desa hingga  Ibay lupa untuk memenuhi keinginan istrinya itu. Baru tadi pagi setelah Jingga mengamuk dengan ulekan yang siap melayang, akhirnya Ibay sadar, jika istrinya itu benar-benar serius ingin memelihara kelinci.

Jingga bangun dari pembaringan lalu memegang keranjang kelinci.

“Kelincinya cantik banget, bang. Jingga makin sayang sama abang.” Ucap Jingga penuh keharuan. Matanya berkaca-kaca, dia mengusapnya lalu menyentuh lembut kelinci yang masih terlelap, tak sadar sedang terjadi penculikan atas dirinya.

Sementara Ibay tersipu-sipu bahagia. Jauh dilubuk hatinya dia merasa lega. Hanya saja ada yang aneh pada kelinci itu. Mengapa dia merasa tak asing lagi dengan mereka berdua? Kok mirip kelinci yang aku hadiahkan pada Kembang ya? Batin Ibay penasaran. Namun kemudian dia tersenyum, dimana-mana bayi kelinci ya sama saja modelnya, batinnya lagi.

Sekarang Kembang nggak bisa sombong lagi, emang hanya dia yang punya kelinci cantik? aku juga punya. Tunggu aja ya kelinci sayang, kita jalan-jalan ke rumah tante Kembang, batin Jingga dengan senyum kemenangan.



( Silahkan di lanjutkan :)  )


 


0 komentar:

Posting Komentar