Aku pulang telat malam ini karena
lembur. Saat kutinggalkan tempat kerjaku jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Ku percepat langkah menyusuri pertokoan yang sepi dan remang-remang karena hanya
lampu jalan yang menerangi beberapa tempat.
Ketika berbelok di jalan Kemboja. Aku
tertegun sejenak. Memandang ujung lorong yang lumayan jauh jika harus di tempuh
dengan jalan kaki. Belum lagi kondisi jalannya yang gelap. Tiba-tiba hadir
perasaan takut dan ngeri dalam hatiku. Selain takut menjadi korban kejahatan,
aku juga takut dengan makhluk halus.
Bukan rahasia lagi jika jalan ini
terkenal angker dan sering terlihat penampakan. Namanya saja jalan kemboja. Di
beri nama Kemboja karena ada makam di jalan ini. Makam atau nama lain dari
kuburan tentu saja identik dengan hal-hal menakutkan. Aku terbiasa melewati
tempat ini siang hari. Tentu saja siang hari tidak menyeramkan. Tapi ini malam
hari! Bukankah cerita horor selalu dikisahkan malam hari?
Tadi saat di minta membantu bos, aku
lupa jika pulang harus melewati jalan ini. Begitu juga ketika di tawari untuk
di antar pulang, aku menolak. Kasihan bos jika harus mengantarku. Sopir yang
biasa bekerja mendadak sakit sementara aku tidak berani untuk mengendarai
motor.
Kutarik nafas sambil berfikir. Malam
ini tak ada becak yang mangkal di ujung jalan. Mungkin karena hujan, para abang
becak lebih memilih untuk pulang dan istrahat di rumah. Hatiku tarik ulur,
bimbang antara hendak maju ataukah mundur saja. Tapi mundur kemana? Kembali ke
rumah bos? bukankah tadi aku sudah menolak tawarannya? Aku makin nelangsa.
Akhirnya setelah beberapa saat berdiri
dengan pikiran gamang. Aku mengucapkan doa dalam hati. Aku harus berani.
Mahkluk apapun namanya tidak akan muncul dihadapanku jika aku berani. Aku
melangkah sambil terus membaca doa. Bulu kudukku merinding tapi aku tidak
peduli. Ini pasti efek dari pikiranku yang dihiasi hal-hal mengerikan.
Suara hujan menemaniku melangkah. Di
jalan ini bukan tak ada rumah, hanya saja lingkungan perumahan serba tertutup
dengan tembok dan gerbang yang sama tingginya. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
Siapa yang akan menolongku jika terjadi sesuatu? Aku makin ngeri
membayangkannya.
Setapak demi setapak langkahku kian
jauh dari tempatku berdiri tadi. Aku bernafas lega ketika dari kejauhan kulihat
seseorang sedang berjalan ke arahku. Dia memakai payung hingga tak jelas apakah
wanita atau pria. Aku makin mempercepat langkahku. Semakin cepat aku melangkah
maka semakin cepat aku tiba di ujung jalan.
Tiba-tiba angin berhembus kencang,
payungku terlepas dari peganganku. Sekilas aku masih melihat sosok berpayung
itu semakin dekat denganku. Ku raih payung lalu memakainya kembali. Aku
terpaku. Kemana orang tadi? Bukankah dia hampir mendekatiku? Apakah dia masuk
ke salah satu rumah? Tapi yang mana? Jarak terdekat dari tempatku berdiri tidak
ada pintu gerbang. Lagi pula aku tidak lama meraih payung yang terjatuh di
jalan. Hanya beberapa detik, mustahil dia menghilang secepat itu.
Aku berusaha menepiskan hal menakutkan
dalam kepalaku. Semoga yang tadi bukan mahkluk halus dan sejenisnya. Aku tidak
bisa membayangkan bagaimana keadaanku jika kami benar-benar di pertemukan. Aku
makin merinding. Kurasakan tenagaku makin menipis karena rasa takut.
Sambil berlari aku terus berdoa. Lebih
cepat berlari lebih baik. Toh tidak ada yang memperhatikanku di jalan ini.
Sial, karena terlalu cepat aku tidak menyadari jika air genangan yang aku lalui
adalah lubang. Aku terjatuh dengan mulus. Terjerembab sementara payungku
terlempar beberapa meter.
Aku meringis. Tak sadar aku menangis.
Ya, Tuhan semoga ini bukan nasib sialku yang pertama malam ini. Jangan tambah
lagi dengan hal-hal lain yang aku sendiri tidak sanggup menerimanya. Akhirnya
aku sukses basah kuyup. Dengan langkah terseok aku mencari payungku. Dimana
payungku?!?
Aneh. Mengapa payungku juga ikut
menghilang? Aku melihat dengan jelas jika payungku terlempar tidak terlalu jauh
dariku. Payungku juga tidak punya kaki, bagaimana mungkin dia pergi
meninggalkanku? Tidak mungkin angin membawanya terbang. Aku tidak merasakan
perubahan cuaca selain hujan yang makin deras mengguyur bumi. Lalu payungku
kemana?
Aku mencari kemana-mana, bahkan ke
saluran air yang tidak jelas kelihatan. Aku berdiri tegak. Kurentangkan
tanganku lalu menarik nafas berulang-ulang. Terlanjur basah ya sudah. Payungku
hilang juga tidak mengapa. Aku masih bisa membelinya lagi. Sekarang aku harus
fokus mengambil langkah seribu agar segera terbebas dari tempat ini.
Aku berbalik siap untuk berlari.
Namun..
“Kamu mencari payungmu?!?” seraut
wajah tampan berdiri persis dibelakangku. Sangat dekat hingga aku nyaris
menabraknya.
“Sisisi...apa kamu? Kamu bukan hantu
kan?” tanyaku panik. Aku tidak menunggu jawabannya. Kucubit lengan pria itu hingga
dia menjerit.
“Kamu apa-apaan, sih? Kasar amat jadi
perempuan! Ini payungmu..” katanya sambil meringis mengelus lengannya yang aku
cubit. Cubitanku mungkin sangat menyakitkan, aku tidak menyadarinya.
“Maaf, aku ketakutan di tempat ini.
Aku kira kamu hantu.”
Pria itu terbahak.
“Aku bukan hantu, nona. Kamu ketakutan
ya, ayo aku antar kamu. Aku tinggal di sekitar sini kok. Aku biasa melihatmu
lewat saat sore sepulang kerja. Hari ini aku sengaja menunggu. Aneh saja karena
kamu belum melintas. Ternyata kamu pulang jam segini ya? Tumben kok telat?”
Aku tersipu lalu melangkah bersamanya.
Sepanjang jalan kami berbincang sambil tertawa. Tentu saja menertawai tingkahku
yang lucu malam ini. Saat ini kurasakan penderitaanku berganti kebahagiaan. Aku
bersyukur, rasa takutku berbuah manis. Aku berkenalan dengan seorang
cowok yang ternyata diam-diam suka memperhatikanku. Ternyata aku punya pengagum
rahasia juga. Jalan Kemboja bagiku namamu tidak mengerikan lagi.
=============


0 komentar:
Posting Komentar