Sabtu, 22 Juni 2013

Jalan Kemboja

0





Aku pulang telat malam ini karena lembur. Saat kutinggalkan tempat kerjaku jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ku percepat langkah menyusuri pertokoan yang sepi dan remang-remang karena hanya lampu jalan yang menerangi beberapa tempat.

Ketika berbelok di jalan Kemboja. Aku tertegun sejenak. Memandang ujung lorong yang lumayan jauh jika harus di tempuh dengan jalan kaki. Belum lagi kondisi jalannya yang gelap. Tiba-tiba hadir perasaan takut dan ngeri dalam hatiku. Selain takut menjadi korban kejahatan, aku juga takut dengan makhluk halus.

Bukan rahasia lagi jika jalan ini terkenal angker dan sering terlihat penampakan. Namanya saja jalan kemboja. Di beri nama Kemboja karena ada makam di jalan ini. Makam atau nama lain dari kuburan tentu saja identik dengan hal-hal menakutkan. Aku terbiasa melewati tempat ini siang hari. Tentu saja siang hari tidak menyeramkan. Tapi ini malam hari! Bukankah cerita horor selalu dikisahkan malam hari?

Tadi saat di minta membantu bos, aku lupa jika pulang harus melewati jalan ini. Begitu juga ketika di tawari untuk di antar pulang, aku menolak. Kasihan bos jika harus mengantarku. Sopir yang biasa bekerja mendadak sakit sementara aku tidak berani untuk mengendarai motor.

Kutarik nafas sambil berfikir. Malam ini tak ada becak yang mangkal di ujung jalan. Mungkin karena hujan, para abang becak lebih memilih untuk pulang dan istrahat di rumah. Hatiku tarik ulur, bimbang antara hendak maju ataukah mundur saja. Tapi mundur kemana? Kembali ke rumah bos? bukankah tadi aku sudah menolak tawarannya? Aku makin nelangsa.

Akhirnya setelah beberapa saat berdiri dengan pikiran gamang. Aku mengucapkan doa dalam hati. Aku harus berani. Mahkluk apapun namanya tidak akan muncul dihadapanku jika aku berani. Aku melangkah sambil terus membaca doa. Bulu kudukku merinding tapi aku tidak peduli. Ini pasti efek dari pikiranku yang dihiasi hal-hal mengerikan.

Suara hujan menemaniku melangkah. Di jalan ini bukan tak ada rumah, hanya saja lingkungan perumahan serba tertutup dengan tembok dan gerbang yang sama tingginya. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Siapa yang akan menolongku jika terjadi sesuatu? Aku makin ngeri membayangkannya.

Setapak demi setapak langkahku kian jauh dari tempatku berdiri tadi. Aku bernafas lega ketika dari kejauhan kulihat seseorang sedang berjalan ke arahku. Dia memakai payung hingga tak jelas apakah wanita atau pria. Aku makin mempercepat langkahku. Semakin cepat aku melangkah maka semakin cepat aku tiba di ujung jalan.

Tiba-tiba angin berhembus kencang, payungku terlepas dari peganganku. Sekilas aku masih melihat sosok berpayung itu semakin dekat denganku. Ku raih payung lalu memakainya kembali. Aku terpaku. Kemana orang tadi? Bukankah dia hampir mendekatiku? Apakah dia masuk ke salah satu rumah? Tapi yang mana? Jarak terdekat dari tempatku berdiri tidak ada pintu gerbang. Lagi pula aku tidak lama meraih payung yang terjatuh di jalan. Hanya beberapa detik, mustahil  dia menghilang secepat itu.

Aku berusaha menepiskan hal menakutkan dalam kepalaku. Semoga yang tadi bukan mahkluk halus dan sejenisnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanku jika kami benar-benar di pertemukan. Aku makin merinding. Kurasakan tenagaku makin menipis karena rasa takut.

Sambil berlari aku terus berdoa. Lebih cepat berlari lebih baik. Toh tidak ada yang memperhatikanku di jalan ini. Sial, karena terlalu cepat aku tidak menyadari jika air genangan yang aku lalui adalah lubang. Aku terjatuh dengan mulus. Terjerembab sementara payungku terlempar beberapa meter.

Aku meringis. Tak sadar aku menangis. Ya, Tuhan semoga ini bukan nasib sialku yang pertama malam ini. Jangan tambah lagi dengan hal-hal lain yang aku sendiri tidak sanggup menerimanya. Akhirnya aku sukses basah kuyup. Dengan langkah terseok aku mencari payungku. Dimana payungku?!?

Aneh. Mengapa payungku juga ikut menghilang? Aku melihat dengan jelas jika payungku terlempar tidak terlalu jauh dariku. Payungku juga tidak punya kaki, bagaimana mungkin dia pergi meninggalkanku? Tidak mungkin angin membawanya terbang. Aku tidak merasakan perubahan cuaca selain hujan yang makin deras mengguyur bumi. Lalu payungku kemana?

Aku mencari kemana-mana, bahkan ke saluran air yang tidak jelas kelihatan. Aku berdiri tegak. Kurentangkan tanganku lalu menarik nafas berulang-ulang. Terlanjur basah ya sudah. Payungku hilang juga tidak mengapa. Aku masih bisa membelinya lagi. Sekarang aku harus fokus mengambil langkah seribu agar segera terbebas dari tempat ini.

Aku berbalik siap untuk berlari. Namun..

“Kamu mencari payungmu?!?” seraut wajah tampan berdiri persis dibelakangku. Sangat dekat hingga aku nyaris menabraknya.

“Sisisi...apa kamu? Kamu bukan hantu kan?” tanyaku panik. Aku tidak menunggu jawabannya. Kucubit lengan pria itu hingga dia menjerit.

“Kamu apa-apaan, sih? Kasar amat jadi perempuan! Ini payungmu..” katanya sambil meringis mengelus lengannya yang aku cubit. Cubitanku mungkin sangat menyakitkan, aku tidak menyadarinya.

“Maaf, aku ketakutan di tempat ini. Aku kira kamu hantu.”

Pria itu terbahak.

“Aku bukan hantu, nona. Kamu ketakutan ya, ayo aku antar kamu. Aku tinggal di sekitar sini kok. Aku biasa melihatmu lewat saat sore sepulang kerja. Hari ini aku sengaja menunggu. Aneh saja karena kamu belum melintas. Ternyata kamu pulang jam segini ya? Tumben kok telat?”

Aku tersipu lalu melangkah bersamanya. Sepanjang jalan kami berbincang sambil tertawa. Tentu saja menertawai tingkahku yang lucu malam ini. Saat ini kurasakan penderitaanku berganti kebahagiaan. Aku bersyukur, rasa takutku berbuah manis. Aku berkenalan dengan seorang cowok yang ternyata diam-diam suka memperhatikanku. Ternyata aku punya pengagum rahasia juga. Jalan Kemboja bagiku namamu tidak mengerikan lagi.
 ============= 


 

0 komentar:

Posting Komentar