Kamis, 20 Juni 2013

Impian Dena #20

0





Waktu serasa terhenti saat mata kami saling bertemu dan jemari kami saling berjabat. Aku mencari di kedalaman mata mas Rivandy, sesuatu yang mengingatkanku akan sosoknya yang dulu. Tapi semuanya sia-sia. Mata yang dingin itu tak lagi hadir. Saat jabat tangan kami terlepas, aku makin yakin. Pemuda yang ada di depanku ini, bukanlah sosok mas Rivandy yang aku kenal dulu.

Hatiku makin pedih, semua telah berubah. Sekarang lelaki ini terlihat berwibawa. Tubuhnya kini padat berisi. Dalam balutan kemeja berwarna hijau stabillo, dia terlihat sangat tampan. Senyumnya lebih sering menghiasai wajah, tak lagi pelit seperti dulu. Tawanya sangat lepas saat berbincang dengan mas Damar. Sayangnya, meski yang kulihat berbeda, aku tetap tak bisa meredam debaran jantungku yang semakin kencang.

Rasanya aku ingin segera meninggalkan tempat ini. Aku ingin segera keluar dari kebekuan ini. Sandiwara yang menurutku sangat memuakkan. Aku dan mas Rivandy rupanya sama-sama menutupi keadaan kami dari mas Damar. Hingga mobil yang kami tumpangi meninggalkan rumah mas Damar, kakakku itu tetap tak tahu kalau kami berdua telah saling mengenal sebelumnya.

Hujan deras yang turun malam ini seperti mewakili perasaanku. Hatiku sejak tadi telah menangis walau mataku tak di penuhi embun. Senyum di wajahku mendadak lenyap berganti beku ketika masuk ke dalam mobil mas Rivandy. Lelaki itu duduk menyetir tanpa berbicara sepatah katapun. Kami hanya terdiam. Ada banyak yang ingin aku ungkapkan tapi lidahku terasa kelu. Pandanganku hanya sejurus menatap ke depan, tak meliriknya sedikitpun.

Ketika mobil berhenti di perempatan lampu merah, kesunyian ini benar-benar menyiksa. Hanya lalu lalang kendaraan yang lewat di depan kami yang menjadi pelarian. Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku lupa untuk menyetel silent sebelum berangkat tadi. Segera ku buka tas lalu mengambil handphone, namun saat melihat layar hape dan membaca nama yang tertera di sana, aku langsung menekan tombol warna merah.

“Kenapa tidak di terima? Mungkin saja itu hal penting..”

Aku menoleh melihat wajah di sampingku. Sejak tadi terdiam akhirnya dia bersuara juga.

“Tidak penting.” Jawabku.

Aku berniat menaruh kembali handphone di dalam tas ketika terdengar bunyi panggilan lagi. Di layar handphone tertera nama yang sama dengan yang tadi menelponku.

“Jangan dimatikan. Terima saja. Anggap aku tidak ada. Jangan jadikan aku alasan untuk menolak telpon yang masuk..”

Aku menatap lelaki itu sekilas sebelum menekan tombol terima.

“Aku melihatmu, Dena. Aku membuntutimu dari belakang..” Suara Farhan terdengar dari seberang.

Kumatikan hape lalu buru-buru menaruhnya di dalam tas. Pikiranku makin berkecamuk. Ingin rasanya menoleh kebelakang dan melihat apakah benar yang dikatakan Farhan bahwa dia tengah menguntitku. Andai benar berarti dia bandel juga. Hujan deras seperti ini masih juga nekad mengikutiku.

“Telpon dari siapa? Kok langsung dimatikan?”

“Tidak apa-apa, hanya telpon biasa.”

“ Kok nggak di jawab? Dari pacar ya?”

Aku tak menjawab hanya melihatnya. Dalam hati aku merasa kecewa. Sejak tadi mas Rivandy tidak bertanya tentang keadaanku. Bagaimana aku melewati masa-masa setelah dia tinggalkan. Apakah ekspresi wajahku sama seperti masa yang lalu? Sangat mudah terbaca jika aku sangat mengharapkan kehadirannya?

Aku kembali menatap lurus ke depan sambil berusaha bersikap tenang. Padahal aku terus memikirkan Farhan. Pemuda itu, apa yang akan dia lakukan? Semoga dia tidak kalap dan membuat keributan. Aku terus berdoa dalam hati. Andai bisa berbicara, aku akan memintanya untuk pulang saja. Entah apa maksudnya mengikuti kami.

Mas Rivandy mengarahkan mobil memasuki halaman sebuah restoran dan memarkir persis di dekat jalan masuk. Aku segera membuka pintu mobil. Sama sekali tak mengharapkan mas Rivandy membukanya untukku. Aku ingin segera melihat kebelakang, mencari sosok Farhan.

Setengah berlari aku menapak di tangga batu restoran lalu berdiri di teras. Dari sana aku menatap halaman restoran. Mataku terus mengitari hingga ke jalan raya. Namun sosok Farhan tak aku temukan. Kemana pemuda itu? Apakah ucapannya di telpon hanya bercanda?

“Ayo, kita ke dalam..” ajak mas Rivandy.

Aku masih berdiri sambil terus mencari keberadaan Farhan. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada sosok yang sedang berdiri dengan mantel hujan. Tepat di bawah pohon di pinggir jalan raya, sosok yang tak jelas dalam keremangan lampu jalan itu, seolah menatapku. Aku berusaha menajamkan pandanganku. Sesekali kilatan lampu mobil menyambar hingga wajahnya terlihat jelas. Dia Farhan!

Jadi benar yang dikatakannya di telpon, jika dia mengikuti kami. Aku ingin berlari mendatanginya dan memintanya pulang. Aku tidak tega melihatnya kehujanan. Dalam hati aku menyesal telah memberitahu rencana mas Damar. Andai Farhan tidak mengetahuinya, mungkin dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini.

“Dena, ada apa? Ayo kita ke dalam. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Aku akhirnya mengikuti langkah mas Rivandy memasuki restoran. Aku masih berbalik melihat kebelakang, namun hanya sekali. Aku tak ingin mas Rivandy curiga karena sikapku yang tidak tenang.

Seorang pelayan mengantarkan kami di ruang khusus dekat taman. Rupanya mas Rivandy telah memesan tempat ini sebelumnya. Cahaya lampu yang temaram dengan air hujan yang menitik dari atap daun rumbia, makin memberi kesan romantis tempat ini.

Aku mengeluh dalam hati, seharusnya tempat ini sangat romantis jika kami tempati beberapa tahun yang lalu. Sekarang kesan romantis di hatiku mendadak hilang. Bahkan keingingan untuk tahu alasan mengapa mas Rivandy meninggalkanku, entah menguap kemana.

Aku tak lagi peduli dengannya. Yang ada dibenakku saat ini hanya Farhan. Apakah lelaki itu masih berdiri di bawah guyuran hujan? Semoga dia mencari tempat berteduh dan tidak menjadi bodoh membiarkan dirinya basah kedinginan terkena hujan. Meski menggunakan mantel, rasa dingin pasti menjalar keseluruh tubuhnya.

Aku terus saja gelisah memikirkan Farhan dan terus menatap pintu keluar hingga tak menyadari ketika mas Rivandy menanyakan sesuatu.

“Mau pesan apa, Dena?” tegurnya entah yang keberapa kali. Aku terkesiap.

“Iya, mas?” tanyaku bingung tersadar dari rasa khawatir akan Farhan.

Mas Rivandy meletakkan buku daftar menu di depannya  lalu menatapku.

“Dena, aku minta maaf, maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahanku di masa lalu. Aku tahu telah melakukan kesalahan karena telah salah paham padamu. Salah yang lebih parah, aku tidak mencoba mencarimu untuk segera meminta maaf. Dan sekarang setelah melewati banyak waktu dan masalah, aku akhirnya bisa bertemu denganmu. Proses yang unik karena ternyata setelah bekerja sekian lama dengan mas Damar. Aku baru tahu jika dia adalah kakakmu. Sayang aku tidak mengetahui itu sebelumnya.”

Aku menyimak perkataan mas Rivandy.

“Sayangnya lagi, setelah kita bertemu dan aku bermaksud meluruskan apa yang dulu terjadi, aku malah menyadari satu hal. Kamu sebenarnya tidak benar-benar peduli padaku. Pada masa lalu. Bahkan pada pertemuan kita malam ini. Maafkan aku, mungkin Dena merasa terpaksa ikut denganku malam ini.”

Aku terkesima. Ungkapan hati akhirnya meluncur juga dari mas Rivandy. Wajah lelaki itu terlihat penuh rasa penyesalan. Hal yang dulu sangat aku impikan. Namun kini tak berarti lagi karena hatiku mungkin telah jenuh. Aku jenuh menanti. Kutarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara. Aku ingin setenang mungkin mengungkapkan isi hatiku pada mas Rivandy.

“Mas Rivandy, aku tidak pernah berniat mengabaikan atau tidak peduli pada mas. Sejak dulu hingga sebelum pertemuan kita. Keinginan dalam hatiku sangat banyak. Aku ingin mendapat penjelasan dari mas mengapa dulu mendadak menghilang tanpa kabar yang jelas. Aku ingin mas tahu keadaanku yang sangat menyedihkan di waktu lalu. Bagaimana aku terpaksa menjalani hari-hari yang menurutku tak lagi ada artinya.

Aku bahkan terus terkurung dalam duniaku yang hampa. Segala hal menyakitkan di masa lalu tidak ada gunanya kita ungkit lagi. Membicarakannya berarti kita masuk kembali ke dalam luka yang sebenarnya tidak kita inginkan. Malam ini aku juga menyadari satu hal. Tidak penting apa yang terjadi di masa lalu. Yang penting bagaimana kita menjalani hari ini dengan rasa bahagia dan tidak mengulang kesalahan yang sama di waktu yang lalu. Ini yang akan aku lakukan sekarang.”

“Maksudmu?” mas Rivandy menatapku.

“Aku terus menuntut keadaan agar bisa bertemu mas dan mendapat penjelasan. Tapi sekarang semuanya tidak penting lagi bagiku. Bahkan aku yakin mas juga bersikap seperti ini padaku, pasti bukan murni karena rasa cinta. Mas hanya merasa bersalah karena dulu membuatku terluka. Jadi mulai sekarang, mas hiduplah dengan tenang. Jangan berpikir bahwa telah melakukan kesalahan. Anggap saja itu takdir yang telah digariskan yang maha kuasa pada kita. Aku juga akan berpikiran yang sama. Jadi kita impas. Tak ada yang perlu minta maaf karena saat itu kita sama-sama tak tahu siapa di antara kita yang melakukan kesalahan.”

Tiba-tiba aku merasa beban dihatiku mendadak lenyap. Rasa yang sekian lama membelenggu dan mengikatku pada mas Rivandy, kini seolah sirna. Mungkin ini namanya ikhlas. Aku harus rela melepaskan semuanya agar bisa menikmati kehidupanku selanjutnya. Kebahagiaan itu tak akan datang dengan sendirinya jika bukan aku yang menjalin dan merangkainya sendiri dalam hatiku.

( Bersambung )


Sumber gambar  disini



 

0 komentar:

Posting Komentar