Waktu serasa terhenti saat mata kami
saling bertemu dan jemari kami saling berjabat. Aku mencari di kedalaman mata
mas Rivandy, sesuatu yang mengingatkanku akan sosoknya yang dulu. Tapi semuanya
sia-sia. Mata yang dingin itu tak lagi hadir. Saat jabat tangan kami terlepas,
aku makin yakin. Pemuda yang ada di depanku ini, bukanlah sosok mas Rivandy
yang aku kenal dulu.
Hatiku makin pedih, semua telah
berubah. Sekarang lelaki ini terlihat berwibawa. Tubuhnya kini padat berisi. Dalam
balutan kemeja berwarna hijau stabillo, dia terlihat sangat tampan. Senyumnya lebih
sering menghiasai wajah, tak lagi pelit seperti dulu. Tawanya sangat lepas saat
berbincang dengan mas Damar. Sayangnya, meski yang kulihat berbeda, aku tetap
tak bisa meredam debaran jantungku yang semakin kencang.
Rasanya aku ingin segera meninggalkan
tempat ini. Aku ingin segera keluar dari kebekuan ini. Sandiwara yang menurutku
sangat memuakkan. Aku dan mas Rivandy rupanya sama-sama menutupi keadaan kami
dari mas Damar. Hingga mobil yang kami tumpangi meninggalkan rumah mas Damar,
kakakku itu tetap tak tahu kalau kami berdua telah saling mengenal sebelumnya.
Hujan deras yang turun malam ini
seperti mewakili perasaanku. Hatiku sejak tadi telah menangis walau mataku tak
di penuhi embun. Senyum di wajahku mendadak lenyap berganti beku ketika masuk
ke dalam mobil mas Rivandy. Lelaki itu duduk menyetir tanpa berbicara sepatah
katapun. Kami hanya terdiam. Ada banyak yang ingin aku ungkapkan tapi lidahku
terasa kelu. Pandanganku hanya sejurus menatap ke depan, tak meliriknya
sedikitpun.
Ketika mobil berhenti di perempatan
lampu merah, kesunyian ini benar-benar menyiksa. Hanya lalu lalang kendaraan
yang lewat di depan kami yang menjadi pelarian. Tiba-tiba handphoneku
berdering. Aku lupa untuk menyetel silent sebelum berangkat tadi. Segera ku
buka tas lalu mengambil handphone, namun saat melihat layar hape dan membaca
nama yang tertera di sana, aku langsung menekan tombol warna merah.
“Kenapa tidak di terima? Mungkin saja
itu hal penting..”
Aku menoleh melihat wajah di
sampingku. Sejak tadi terdiam akhirnya dia bersuara juga.
“Tidak penting.” Jawabku.
Aku berniat menaruh kembali handphone
di dalam tas ketika terdengar bunyi panggilan lagi. Di layar handphone tertera
nama yang sama dengan yang tadi menelponku.
“Jangan dimatikan. Terima saja. Anggap
aku tidak ada. Jangan jadikan aku alasan untuk menolak telpon yang masuk..”
Aku menatap lelaki itu sekilas sebelum
menekan tombol terima.
“Aku melihatmu, Dena. Aku membuntutimu
dari belakang..” Suara Farhan terdengar dari seberang.
Kumatikan hape lalu buru-buru
menaruhnya di dalam tas. Pikiranku makin berkecamuk. Ingin rasanya menoleh
kebelakang dan melihat apakah benar yang dikatakan Farhan bahwa dia tengah
menguntitku. Andai benar berarti dia bandel juga. Hujan deras seperti ini masih
juga nekad mengikutiku.
“Telpon dari siapa? Kok langsung
dimatikan?”
“Tidak apa-apa, hanya telpon biasa.”
“ Kok nggak di jawab? Dari pacar ya?”
Aku tak menjawab hanya melihatnya.
Dalam hati aku merasa kecewa. Sejak tadi mas Rivandy tidak bertanya tentang
keadaanku. Bagaimana aku melewati masa-masa setelah dia tinggalkan. Apakah
ekspresi wajahku sama seperti masa yang lalu? Sangat mudah terbaca jika aku
sangat mengharapkan kehadirannya?
Aku kembali menatap lurus ke depan sambil
berusaha bersikap tenang. Padahal aku terus memikirkan Farhan. Pemuda itu, apa
yang akan dia lakukan? Semoga dia tidak kalap dan membuat keributan. Aku terus
berdoa dalam hati. Andai bisa berbicara, aku akan memintanya untuk pulang saja.
Entah apa maksudnya mengikuti kami.
Mas Rivandy mengarahkan mobil memasuki
halaman sebuah restoran dan memarkir persis di dekat jalan masuk. Aku segera
membuka pintu mobil. Sama sekali tak mengharapkan mas Rivandy membukanya
untukku. Aku ingin segera melihat kebelakang, mencari sosok Farhan.
Setengah berlari aku menapak di tangga
batu restoran lalu berdiri di teras. Dari sana aku menatap halaman restoran.
Mataku terus mengitari hingga ke jalan raya. Namun sosok Farhan tak aku temukan.
Kemana pemuda itu? Apakah ucapannya di telpon hanya bercanda?
“Ayo, kita ke dalam..” ajak mas
Rivandy.
Aku masih berdiri sambil terus mencari
keberadaan Farhan. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada sosok yang sedang berdiri dengan
mantel hujan. Tepat di bawah pohon di pinggir jalan raya, sosok yang tak jelas
dalam keremangan lampu jalan itu, seolah menatapku. Aku berusaha menajamkan
pandanganku. Sesekali kilatan lampu mobil menyambar hingga wajahnya terlihat
jelas. Dia Farhan!
Jadi benar yang dikatakannya di
telpon, jika dia mengikuti kami. Aku ingin berlari mendatanginya dan memintanya
pulang. Aku tidak tega melihatnya kehujanan. Dalam hati aku menyesal telah
memberitahu rencana mas Damar. Andai Farhan tidak mengetahuinya, mungkin dia
tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini.
“Dena, ada apa? Ayo kita ke dalam. Ada
banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Aku akhirnya mengikuti langkah mas
Rivandy memasuki restoran. Aku masih berbalik melihat kebelakang, namun hanya
sekali. Aku tak ingin mas Rivandy curiga karena sikapku yang tidak tenang.
Seorang pelayan mengantarkan kami di
ruang khusus dekat taman. Rupanya mas Rivandy telah memesan tempat ini
sebelumnya. Cahaya lampu yang temaram dengan air hujan yang menitik dari atap
daun rumbia, makin memberi kesan romantis tempat ini.
Aku mengeluh dalam hati, seharusnya
tempat ini sangat romantis jika kami tempati beberapa tahun yang lalu. Sekarang
kesan romantis di hatiku mendadak hilang. Bahkan keingingan untuk tahu alasan
mengapa mas Rivandy meninggalkanku, entah menguap kemana.
Aku tak lagi peduli dengannya. Yang
ada dibenakku saat ini hanya Farhan. Apakah lelaki itu masih berdiri di bawah
guyuran hujan? Semoga dia mencari tempat berteduh dan tidak menjadi bodoh
membiarkan dirinya basah kedinginan terkena hujan. Meski menggunakan mantel,
rasa dingin pasti menjalar keseluruh tubuhnya.
Aku terus saja gelisah memikirkan
Farhan dan terus menatap pintu keluar hingga tak menyadari ketika mas Rivandy
menanyakan sesuatu.
“Mau pesan apa, Dena?” tegurnya entah
yang keberapa kali. Aku terkesiap.
“Iya, mas?” tanyaku bingung tersadar
dari rasa khawatir akan Farhan.
Mas Rivandy meletakkan buku daftar
menu di depannya lalu menatapku.
“Dena, aku minta maaf, maaf yang
sebesar-besarnya atas kesalahanku di masa lalu. Aku tahu telah melakukan
kesalahan karena telah salah paham padamu. Salah yang lebih parah, aku tidak
mencoba mencarimu untuk segera meminta maaf. Dan sekarang setelah melewati
banyak waktu dan masalah, aku akhirnya bisa bertemu denganmu. Proses yang unik
karena ternyata setelah bekerja sekian lama dengan mas Damar. Aku baru tahu
jika dia adalah kakakmu. Sayang aku tidak mengetahui itu sebelumnya.”
Aku menyimak perkataan mas Rivandy.
“Sayangnya lagi, setelah kita bertemu
dan aku bermaksud meluruskan apa yang dulu terjadi, aku malah menyadari satu
hal. Kamu sebenarnya tidak benar-benar peduli padaku. Pada masa lalu. Bahkan
pada pertemuan kita malam ini. Maafkan aku, mungkin Dena merasa terpaksa ikut
denganku malam ini.”
Aku terkesima. Ungkapan hati akhirnya
meluncur juga dari mas Rivandy. Wajah lelaki itu terlihat penuh rasa
penyesalan. Hal yang dulu sangat aku impikan. Namun kini tak berarti lagi
karena hatiku mungkin telah jenuh. Aku jenuh menanti. Kutarik nafas dalam-dalam
sebelum berbicara. Aku ingin setenang mungkin mengungkapkan isi hatiku pada mas
Rivandy.
“Mas Rivandy, aku tidak pernah berniat
mengabaikan atau tidak peduli pada mas. Sejak dulu hingga sebelum pertemuan
kita. Keinginan dalam hatiku sangat banyak. Aku ingin mendapat penjelasan dari
mas mengapa dulu mendadak menghilang tanpa kabar yang jelas. Aku ingin mas tahu
keadaanku yang sangat menyedihkan di waktu lalu. Bagaimana aku terpaksa menjalani
hari-hari yang menurutku tak lagi ada artinya.
Aku bahkan terus terkurung dalam duniaku
yang hampa. Segala hal menyakitkan di masa lalu tidak ada gunanya kita ungkit
lagi. Membicarakannya berarti kita masuk kembali ke dalam luka yang sebenarnya
tidak kita inginkan. Malam ini aku juga menyadari satu hal. Tidak penting apa
yang terjadi di masa lalu. Yang penting bagaimana kita menjalani hari ini
dengan rasa bahagia dan tidak mengulang kesalahan yang sama di waktu yang lalu.
Ini yang akan aku lakukan sekarang.”
“Maksudmu?” mas Rivandy menatapku.
“Aku terus menuntut keadaan agar bisa
bertemu mas dan mendapat penjelasan. Tapi sekarang semuanya tidak penting lagi
bagiku. Bahkan aku yakin mas juga bersikap seperti ini padaku, pasti bukan
murni karena rasa cinta. Mas hanya merasa bersalah karena dulu membuatku
terluka. Jadi mulai sekarang, mas hiduplah dengan tenang. Jangan berpikir bahwa
telah melakukan kesalahan. Anggap saja itu takdir yang telah digariskan yang
maha kuasa pada kita. Aku juga akan berpikiran yang sama. Jadi kita impas. Tak
ada yang perlu minta maaf karena saat itu kita sama-sama tak tahu siapa di
antara kita yang melakukan kesalahan.”
Tiba-tiba aku merasa beban dihatiku
mendadak lenyap. Rasa yang sekian lama membelenggu dan mengikatku pada mas
Rivandy, kini seolah sirna. Mungkin ini namanya ikhlas. Aku harus rela
melepaskan semuanya agar bisa menikmati kehidupanku selanjutnya. Kebahagiaan
itu tak akan datang dengan sendirinya jika bukan aku yang menjalin dan
merangkainya sendiri dalam hatiku.


0 komentar:
Posting Komentar