Kami terdiam. Hanya suara hujan yang
melengkapi kesunyian. Seperti iringan melodi tanpa syair. Terlihat indah meski
terasa pedih. Ketegaran di atas rasa luka yang coba aku lakukan ternyata terasa
sulit. Aku berusaha tak mengingat tentang masa lalu bersama mas Rivandy. Kehidupanku
kini bersama Farhan. Lelaki itu yang kuharap bisa menemani setiap waktu yang
aku miliki saat ini.
Kupandangi mas Rivandy yang masih
termenung. Aku masih menunggu tanggapannya meski ragaku ingin berlari keluar
mencari Farhan.
“Kamu benar-benar tidak ingin
mendengar penjelasanku? Kejadian waktu itu sudah tidak menarik minatmu lagi?” akhirnya
mas Rivandy bersuara.
Aku mengiyakkan.
“Kamu tidak ingin tahu mengapa aku
baru menemuimu sekarang?”
Aku kembali mengangguk. Mas Rivandy
menghela nafas dalam-dalam sambil menatapku.
“Mas Rivandy, aku minta maaf. Jika
tidak ada pembicaraan lagi, aku ingin pamit.” Kataku sambil beranjak berdiri.
Mas Rivandy tak menjawab. Aku menunggu beberapa saat sebelum pergi namun dia
kembali terdiam. Akhirnya aku berjalan perlahan menjauhi lelaki itu.
“Kamu tidak ingin tahu kabar Tiara?” ucapan
mas Rivandy mengangetkanku. Aku berbalik melihatnya. Posisi mas Rivandy tetap
membelakangiku.
“Mas mengenal Tiara?” tanyaku heran.
Aku tentu saja tidak bisa melupakan nama Tiara. Nama itu melekat di kepalaku
seperti nama mas Rivandy.
“Karena dulu dia kekasihku..”
Aku terperangah. Bergegas aku
menghampirinya.Tubuhku mendadak lemas hingga aku memilih duduk di kursi yang
tadi aku tempati.
“Mengapa mbak Tiara tidak bercerita
tentang mas? Dia malah mengajarkan aku cara mendekati mas?” aku mendadak
teringat pandangan mata Tiara yang menerawang jauh saat aku menyebutkan nama
mas Rivandy. Pantas saja dia berlaku demikian. Lelaki yang aku sebutkan namanya
adalah kekasihnya!
“Karena dia ingin aku mencari
penggantinya. Dia frustasi karena kakinya tidak ada lagi. Dia merasa tidak
pantas menjadi kekasihku meski aku berulang-ulang mengatakan akan menerima dia
apapun keadaannya. Tapi dia tetap tidak percaya diri. Aku kan sudah bertanya
padamu, siapa yang menyuruhmu mendekatiku? Aku marah padamu, aku pikir
keinginanmu hanya atas suruhan Tiara bukan datang dari hatimu. Intinya aku
marah pada kalian berdua. Begitu tega mempermainkan hati seseorang.”
“Darimana mas tahu mbak Tiara
menyuruhku mendekati mas?”
“Karena cara-cara yang kamu pakai, itu
sama persis dan hanya seorang Tiara yang seperti itu. Aku makin curiga hingga
terus mengikuti permainan yang kalian ciptakan. Aku tahu jawabannya saat tak
sengaja aku berniat menjenguk Tiara di rumah sakit. Aku melihatmu duduk
berbincang dengannya. Kebetulan yang pas. Aku makin yakin, ada sesuatu yang
kalian rencanakan.”
“Tapi kejadiannya tidak seperti itu,
mas! Aku sama sekali tidak tahu kalau mbak Tiara adalah kekasih mas.”
“Siapa yang peduli? Saat Tiara ngotot
ingin berpisah denganku dan memintaku mencari gadis lain sebagai penggantinya,
kamu hadir dengan kemiripan yang sempurna dengan Tiara. Kehadiranmu
mengingatkanku pada Tiara. Bagaimana aku bisa melupakannya dan berpikir kamu
tidak ikut dalam rencananya?”
Tak sadar bulir-bulir bening dari mataku mengalir di pipiku.
“Tapi sumpah, mas. Aku benar-benar
tidak tahu..”
“Dan yang lebih membuatku marah padamu
adalah... kamu tidak datang dengan sifatmu yang asli. Kamu berubah menjadi
Tiara bukan Dena. Padahal aku memberi kesempatan untuk melihat perubahan itu
tapi sampai detik terakhir ketika kesabaranku benar-benar habis, kamu masih
menjadi Tiara bukan Dena.”
“Waktu itu aku benar-benar menyukaimu,
mas...” bahkan hingga kini, lanjutku
dalam hati.
“Aku tak pernah berniat mempermainkan
mas. Andai mas melihat bagaimana aku menjalani hari-hari setelah mas
tinggalkan. Hidup dengan rasa kehilangan yang terus menghantui. Mungkin mas akan
percaya kalau rasa itu benar, bukan sandiwara seperti yang mas pikirkan.”
“Aku juga terluka. Saat itu, aku telah
menyiapkan hati untuk menerimamu, menggantikan Tiara yang tak lagi memberi
ruang hatinya untukku. Kecelakaan menutup seluruh hatinya. Pembicaraan kami
hanya berujung pertengkaran jika aku mengungkit keinginan untuk terus menemaninya.
Andai aku tidak pernah melihatmu di rumah sakit bersamanya, mungkin aku tidak
akan pergi dan terus menganggap kemiripan kalian hanya faktor kebetulan semata.
Walau begitu, aku masih memberimu kesempatan untuk menjadi dirimu sendiri,
hanya saja tidak kamu lakukan.”
“Aku tidak pernah berniat untuk
menipu, mas. Apa yang ada dalam benak anak sma seperti aku waktu itu, mas?
Bagaimana aku bisa memikirkan hal licik dengan pikiranku yang polos? Aku bahkan
terlalu bahagia ketika mas mengajakku jalan-jalan. Bagaimana mas bisa
menganggap aku ikut merencanakan semuanya?”
Airmataku mengalir deras. Sangat
menyakitkan telah dituduh melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas
dalam pikiranku. Rasa cinta yang belum beranjak pergi dari hatiku, ternyata tak
mendapat pengakuan malah diragukan kebenarannya. Aku tak sanggup lagi menyeka
air mataku. Jemariku hanya bisa bertumpu pada meja. Rasanya tenagaku telah
habis.
Mas Rivandy mengulurkan tangan
memegang jemariku yang gemetar di atas meja. Aku terisak sambil memandangnya.
“Awalnya aku tak berniat menemuimu.
Bukan karena lupa atau tak lagi menyukaimu, hanya saja...aku ragu apakah
perasaanmu masih sama seperti dulu. Sewaktu aku bertemu Tiara, dia bercerita
tentang kamu. Aku hanya berpikir, pasti kamu sudah punya pacar atau bahkan
sudah menikah. Aku melewaktkan waktu begitu saja hingga aku melihat fotomu di
ruang kerja mas Damar. Semangatku yang dulu hilang akhirnya kembali. Niatku
hanya satu, menikahimu.”
Aku menutup mataku. Kuncup bunga yang
kuanggap telah hilang dan terabaikan ternyata masih di tempatnya. Ada rasa
bahagia meski diselimuti kekecewaan karena semuanya sangat terlambat.
“Kita mulai lagi dari awal, Dena. Aku
dengan hatiku tanpa kehadiran Tiara di dalamnya demikian juga denganmu, menjadi
Dena yang seutuhnya tanpa bayang-bayang orang lain.”
Kupandangi mas Rivandy dengan mata
berkaca-kaca. Aku melepaskan tanganku. Sesaat aku bingung mendengar ucapannya.
“Bagaimana harus memulainya? Kita
menjadi teman? Begitu maksud mas?”
“Bukan. Menjadi sepasang kekasih.
Merangkai kembali apa yang dulu hilang dan tidak sempat kita wujudkan. Aku
ingin kita segera menikah.”
Aku terdiam.
“Kamu masih memiliki rasa cinta itu
kan, Dena? Atau aku yang telah salah menilai?”
Aku mendengar kidung cinta mengalun
dari gemericik air hujan. Gelapnya malam tiba-tiba di penuhi bintang-bintang
dan kunang-kunang yang beterbangan di sekitarku. Terlihat kami berdua berjalan
bergandengan tangan, melintasi awan. Gaun putih yang aku kenakan melambai
teritup angin. Sementara dalam balutan jas putih, mas Rivandy terlihat tampan.
Kami seperti sepasang pengantin yang sedang melangkah menuju altar. Sempurna,
namun suara Farhan tiba-tiba terdengar memanggil namaku.
Aku terhenyak. Tersadar dari
lamunanku. Suara Farhan yang aku dengar bukan hayalan. Pemuda itu nyata berdiri
tidak jauh dari kami. Mas Rivandy menoleh kaget sementara aku hanya bisa
terpaku di tempatku.
“Farhan?”
Dia melangkah mendekati kami lalu
memegang tanganku.
“Ikut denganku. Walau aku hanya
memiliki motor, tapi aku akan mengantarmu hingga ke rumah.” Ucap Farhan sambil
menatapku.
“Maaf, anda siapa? Kami berdua sedang
berbincang.” Mas Rivandy menyela. Dia terlihat
bingung dengan kehadiran Farhan. Terlebih diriku yang tak menyadari tindakan
nekad Farhan.
“Aku pacarnya. Terus terang, aku
cemburu mendengar ada yang melamar kekasihku.” Suara Farhan bergetar menahan
emosi. Aku makin bingung. Berada di antara mereka berdua menghadirkan rasa
bimbang dalam hatiku. Aku tak tahu harus memulai darimana untuk mengendalikan
keadaan.
Pandangan mas Rivandy beralih padaku.
“Dena, ada apa ini? Apa benar pria ini
pacarmu?”
Aku menunduk. Tak kuasa menatap mata
mas Rivandy. Aku tak tahu apa yang ada dalam benaknya saat ini, sorot matanya menyiratkan tanya.
“Aku pacarnya.” Farhan yang menjawab.
“Maaf, aku bukan bertanya pada anda,
tapi pada Dena. Jawab Dena, siapa lelaki ini? Jika benar dia kekasihmu, aku
tidak akan mengusikmu lagi. Tapi..jika perasaanmu masih sama seperti dulu, aku
tidak akan berhenti mengejarmu hingga kita menikah.”
Aku terhenyak. Demikian pula dengan
Farhan. Pemuda itu berusaha menahan amarahnya. Tangannya kurasakan tegang saat
memegang jemariku.
“Aku ini pacarnya, harus berapa kali
aku katakan!” ucap Farhan sengit.
“Tapi Dena tidak menjawab.” Balas mas
Rivandy tak mau kalah. Aku tak pernah membayangkan mengalami kejadian seperti
saat ini. Berada di antara dua pria yang menunggu kepastian perasaanku.
Farhan melihatku.
“Dena, katakan dengan jujur. Walau
kita sudah pacaran, tapi jika hatimu ternyata tidak mencintaiku, aku terpaksa
akan melepasmu...”
Ucapan Farhan membuat hatiku luluh.
Teringat kebersamaan kami selama ini. Kebaikannya padaku. Apakah semuanya akan
hilang begitu saja? aku tidak tega untuk melukai hatinya. Tapi rasa iba apakah
sama dengan cinta?
“Benar. Dia pacarku dan aku
mencintainya..” jawabku pelan. Mas Rivandy menyandarkan tubuhnya di kursi. Aku
tak berani menatap wajahnya.
“Ayo, Dena. Ikut denganku..”
Farhan menarik tanganku, membawaku
keluar dari ruangan. Aku masih sempat menoleh melihat mas Rivandy. Lelaki itu
tak melihatku, dia hanya menunduk menatap lantai. Mata dan hatiku menangis
melihat keadaannya. Seluruh ragaku kurasakan ikut terluka dan merasakan
kepedihanku.
( Bersambung )
Sumber gambar disini


0 komentar:
Posting Komentar