Kamis, 27 Juni 2013

Impian dena #21

0




Kami terdiam. Hanya suara hujan yang melengkapi kesunyian. Seperti iringan melodi tanpa syair. Terlihat indah meski terasa pedih. Ketegaran di atas rasa luka yang coba aku lakukan ternyata terasa sulit. Aku berusaha tak mengingat tentang masa lalu bersama mas Rivandy. Kehidupanku kini bersama Farhan. Lelaki itu yang kuharap bisa menemani setiap waktu yang aku miliki saat ini.

Kupandangi mas Rivandy yang masih termenung. Aku masih menunggu tanggapannya meski ragaku ingin berlari keluar mencari Farhan.

“Kamu benar-benar tidak ingin mendengar penjelasanku? Kejadian waktu itu sudah tidak menarik minatmu lagi?” akhirnya mas Rivandy bersuara.

Aku mengiyakkan.

“Kamu tidak ingin tahu mengapa aku baru menemuimu sekarang?”

Aku kembali mengangguk. Mas Rivandy menghela nafas dalam-dalam sambil menatapku.

“Mas Rivandy, aku minta maaf. Jika tidak ada pembicaraan lagi, aku ingin pamit.” Kataku sambil beranjak berdiri. Mas Rivandy tak menjawab. Aku menunggu beberapa saat sebelum pergi namun dia kembali terdiam. Akhirnya aku berjalan perlahan menjauhi lelaki itu.

“Kamu tidak ingin tahu kabar Tiara?” ucapan mas Rivandy mengangetkanku. Aku berbalik melihatnya. Posisi mas Rivandy tetap membelakangiku.

“Mas mengenal Tiara?” tanyaku heran. Aku tentu saja tidak bisa melupakan nama Tiara. Nama itu melekat di kepalaku seperti nama mas Rivandy.

“Karena dulu dia kekasihku..”

Aku terperangah. Bergegas aku menghampirinya.Tubuhku mendadak lemas hingga aku memilih duduk di kursi yang tadi aku tempati.

“Mengapa mbak Tiara tidak bercerita tentang mas? Dia malah mengajarkan aku cara mendekati mas?” aku mendadak teringat pandangan mata Tiara yang menerawang jauh saat aku menyebutkan nama mas Rivandy. Pantas saja dia berlaku demikian. Lelaki yang aku sebutkan namanya adalah kekasihnya!

“Karena dia ingin aku mencari penggantinya. Dia frustasi karena kakinya tidak ada lagi. Dia merasa tidak pantas menjadi kekasihku meski aku berulang-ulang mengatakan akan menerima dia apapun keadaannya. Tapi dia tetap tidak percaya diri. Aku kan sudah bertanya padamu, siapa yang menyuruhmu mendekatiku? Aku marah padamu, aku pikir keinginanmu hanya atas suruhan Tiara bukan datang dari hatimu. Intinya aku marah pada kalian berdua. Begitu tega mempermainkan hati seseorang.”

“Darimana mas tahu mbak Tiara menyuruhku mendekati mas?”

“Karena cara-cara yang kamu pakai, itu sama persis dan hanya seorang Tiara yang seperti itu. Aku makin curiga hingga terus mengikuti permainan yang kalian ciptakan. Aku tahu jawabannya saat tak sengaja aku berniat menjenguk Tiara di rumah sakit. Aku melihatmu duduk berbincang dengannya. Kebetulan yang pas. Aku makin yakin, ada sesuatu yang kalian rencanakan.”

“Tapi kejadiannya tidak seperti itu, mas! Aku sama sekali tidak tahu kalau mbak Tiara adalah kekasih mas.”

“Siapa yang peduli? Saat Tiara ngotot ingin berpisah denganku dan memintaku mencari gadis lain sebagai penggantinya, kamu hadir dengan kemiripan yang sempurna dengan Tiara. Kehadiranmu mengingatkanku pada Tiara. Bagaimana aku bisa melupakannya dan berpikir kamu tidak ikut dalam rencananya?”

Tak sadar bulir-bulir bening  dari mataku mengalir di pipiku.

“Tapi sumpah, mas. Aku benar-benar tidak tahu..”

“Dan yang lebih membuatku marah padamu adalah... kamu tidak datang dengan sifatmu yang asli. Kamu berubah menjadi Tiara bukan Dena. Padahal aku memberi kesempatan untuk melihat perubahan itu tapi sampai detik terakhir ketika kesabaranku benar-benar habis, kamu masih menjadi Tiara bukan Dena.”

“Waktu itu aku benar-benar menyukaimu, mas...” bahkan hingga kini, lanjutku dalam hati.

“Aku tak pernah berniat mempermainkan mas. Andai mas melihat bagaimana aku menjalani hari-hari setelah mas tinggalkan. Hidup dengan rasa kehilangan yang terus menghantui. Mungkin mas akan percaya kalau rasa itu benar, bukan sandiwara seperti yang mas pikirkan.”

“Aku juga terluka. Saat itu, aku telah menyiapkan hati untuk menerimamu, menggantikan Tiara yang tak lagi memberi ruang hatinya untukku. Kecelakaan menutup seluruh hatinya. Pembicaraan kami hanya berujung pertengkaran jika aku mengungkit keinginan untuk terus menemaninya. Andai aku tidak pernah melihatmu di rumah sakit bersamanya, mungkin aku tidak akan pergi dan terus menganggap kemiripan kalian hanya faktor kebetulan semata. Walau begitu, aku masih memberimu kesempatan untuk menjadi dirimu sendiri, hanya saja tidak kamu lakukan.”

“Aku tidak pernah berniat untuk menipu, mas. Apa yang ada dalam benak anak sma seperti aku waktu itu, mas? Bagaimana aku bisa memikirkan hal licik dengan pikiranku yang polos? Aku bahkan terlalu bahagia ketika mas mengajakku jalan-jalan. Bagaimana mas bisa menganggap aku ikut merencanakan semuanya?”

Airmataku mengalir deras. Sangat menyakitkan telah dituduh melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Rasa cinta yang belum beranjak pergi dari hatiku, ternyata tak mendapat pengakuan malah diragukan kebenarannya. Aku tak sanggup lagi menyeka air mataku. Jemariku hanya bisa bertumpu pada meja. Rasanya tenagaku telah habis.

Mas Rivandy mengulurkan tangan memegang jemariku yang gemetar di atas meja. Aku terisak sambil memandangnya.

“Awalnya aku tak berniat menemuimu. Bukan karena lupa atau tak lagi menyukaimu, hanya saja...aku ragu apakah perasaanmu masih sama seperti dulu. Sewaktu aku bertemu Tiara, dia bercerita tentang kamu. Aku hanya berpikir, pasti kamu sudah punya pacar atau bahkan sudah menikah. Aku melewaktkan waktu begitu saja hingga aku melihat fotomu di ruang kerja mas Damar. Semangatku yang dulu hilang akhirnya kembali. Niatku hanya satu, menikahimu.”

Aku menutup mataku. Kuncup bunga yang kuanggap telah hilang dan terabaikan ternyata masih di tempatnya. Ada rasa bahagia meski diselimuti kekecewaan karena semuanya sangat terlambat.

“Kita mulai lagi dari awal, Dena. Aku dengan hatiku tanpa kehadiran Tiara di dalamnya demikian juga denganmu, menjadi Dena yang seutuhnya tanpa bayang-bayang orang lain.”

Kupandangi mas Rivandy dengan mata berkaca-kaca. Aku melepaskan tanganku. Sesaat aku bingung mendengar ucapannya.

“Bagaimana harus memulainya? Kita menjadi teman? Begitu maksud mas?”

“Bukan. Menjadi sepasang kekasih. Merangkai kembali apa yang dulu hilang dan tidak sempat kita wujudkan. Aku ingin kita segera menikah.”

Aku terdiam.

“Kamu masih memiliki rasa cinta itu kan, Dena? Atau aku yang telah salah menilai?”

Aku mendengar kidung cinta mengalun dari gemericik air hujan. Gelapnya malam tiba-tiba di penuhi bintang-bintang dan kunang-kunang yang beterbangan di sekitarku. Terlihat kami berdua berjalan bergandengan tangan, melintasi awan. Gaun putih yang aku kenakan melambai teritup angin. Sementara dalam balutan jas putih, mas Rivandy terlihat tampan. Kami seperti sepasang pengantin yang sedang melangkah menuju altar. Sempurna, namun suara Farhan tiba-tiba terdengar memanggil namaku.

Aku terhenyak. Tersadar dari lamunanku. Suara Farhan yang aku dengar bukan hayalan. Pemuda itu nyata berdiri tidak jauh dari kami. Mas Rivandy menoleh kaget sementara aku hanya bisa terpaku di tempatku.

“Farhan?”

Dia melangkah mendekati kami lalu memegang tanganku.

“Ikut denganku. Walau aku hanya memiliki motor, tapi aku akan mengantarmu hingga ke rumah.” Ucap Farhan sambil menatapku.

“Maaf, anda siapa? Kami berdua sedang berbincang.”  Mas Rivandy menyela. Dia terlihat bingung dengan kehadiran Farhan. Terlebih diriku yang tak menyadari tindakan nekad Farhan.

“Aku pacarnya. Terus terang, aku cemburu mendengar ada yang melamar kekasihku.” Suara Farhan bergetar menahan emosi. Aku makin bingung. Berada di antara mereka berdua menghadirkan rasa bimbang dalam hatiku. Aku tak tahu harus memulai darimana untuk mengendalikan keadaan.

Pandangan mas Rivandy  beralih padaku.

“Dena, ada apa ini? Apa benar pria ini pacarmu?”

Aku menunduk. Tak kuasa menatap mata mas Rivandy. Aku tak tahu apa yang ada dalam benaknya saat ini,  sorot matanya menyiratkan tanya.

“Aku pacarnya.” Farhan yang menjawab.

“Maaf, aku bukan bertanya pada anda, tapi pada Dena. Jawab Dena, siapa lelaki ini? Jika benar dia kekasihmu, aku tidak akan mengusikmu lagi. Tapi..jika perasaanmu masih sama seperti dulu, aku tidak akan berhenti mengejarmu hingga kita menikah.”

Aku terhenyak. Demikian pula dengan Farhan. Pemuda itu berusaha menahan amarahnya. Tangannya kurasakan tegang saat memegang jemariku.

“Aku ini pacarnya, harus berapa kali aku katakan!” ucap Farhan sengit.

“Tapi Dena tidak menjawab.” Balas mas Rivandy tak mau kalah. Aku tak pernah membayangkan mengalami kejadian seperti saat ini. Berada di antara dua pria yang menunggu kepastian perasaanku.

Farhan melihatku.

“Dena, katakan dengan jujur. Walau kita sudah pacaran, tapi jika hatimu ternyata tidak mencintaiku, aku terpaksa akan melepasmu...”

Ucapan Farhan membuat hatiku luluh. Teringat kebersamaan kami selama ini. Kebaikannya padaku. Apakah semuanya akan hilang begitu saja? aku tidak tega untuk melukai hatinya. Tapi rasa iba apakah sama dengan cinta?

“Benar. Dia pacarku dan aku mencintainya..” jawabku pelan. Mas Rivandy menyandarkan tubuhnya di kursi. Aku tak berani menatap wajahnya.

“Ayo, Dena. Ikut denganku..”

Farhan menarik tanganku, membawaku keluar dari ruangan. Aku masih sempat menoleh melihat mas Rivandy. Lelaki itu tak melihatku, dia hanya menunduk menatap lantai. Mata dan hatiku menangis melihat keadaannya. Seluruh ragaku kurasakan ikut terluka dan merasakan kepedihanku.


( Bersambung )

Sumber gambar  disini

 

0 komentar:

Posting Komentar