Senin, 08 Juli 2013

Impian Dena #22

0





Hujan masih mengguyur deras ketika kami berlari menuju ruko yang ada di dekat restoran. Farhan memarkir motornya di tempat itu. Kukibaskan air di lenganku ketika kami tiba sementara Farhan menaruh mantel di atas motornya lalu melihatku.

“Maafkan aku sudah ikut campur masalah kalian.” Ucapnya seraya berdiri di sampingku.

“Tapi aku ingin jawaban yang jujur, Dena. Aku tahu apa yang kamu ucapkan tadi bukan yang sebenarnya. Perkataanmu hanya untuk menyelamatkan harga diriku di depan lelaki itu.”

Kupejamkan mataku. Ucapan Farhan benar, aku tidak ingin mempermalukan dirinya di depan mas Rivandy.

“Itu benar perasaanku”

“Aku meragukannya. Sejak awal menjadi pacarmu, aku tahu perasaanmu. Jangan berpura-pura mencintaiku, Dena. Terlihat baik tapi menyakitkan..”

Kulirik Farhan yang termangu memandang jalan raya. Ada rasa sedih yang merasuk dalam hatiku. Melihat pakaiannya yang basah serta tatapannya yang menerawang, aku benar-benar tidak tega melukai hatinya.

Kualihkan pandanganku. Aku makin bingung. Pikiranku berkecamuk.

“Andai aku jadi dirimu, aku akan memilihnya. Memilih berada disamping orang yang kamu cintai akan lebih membahagiakan..”

Aku tercengang. Ucapan Farhan terdengar seperti nasehat namun ada nada putus asa dibaliknya.

“Farhan, aku sudah memilihmu. Aku tidak ingin kamu cemas atau meragukan perasaanku..”

Pemuda itu tersenyum.

“Oh,ya? Hanya Tuhan yang tahu, kemana hati akan berlabuh, Dena. Hanya Tuhan. Aku bahkan dirimu, tak bisa menentukan sebelum akad terucap..”

“Jadi aku harus bagaimana? Apa kamu rela kalau aku memilihnya tadi? Apa itu yang kamu inginkan?” tanyaku kesal. Aku tidak suka mendengar ucapannya.

“Aku hanya ingin kamu jujur dengan hatimu. Perbuatanmu tadi sama saja melukaiku..”

“Aku memilihmu. Apa itu belum cukup?” mataku mulai dipenuhi embun.

“Jawab aku. Apa benar kamu mencintaiku?”

Aku tak mampu menjawabnya. Saat didepan mas Rivandy, aku begitu yakin dan bersemangat mengungkapkan perasaanku. Tapi sekarang seolah ada beban berat yang menghimpit dadaku untuk mengucapkan kata-kata itu.

“Yang terjadi tadi, kamu bukan memikirkan diriku tapi ingin membuktikan bahwa dirimu bisa melupakan lelaki itu. Benarkan? Kamu tidak ingin mengakui perasaan yang masih ada dalam hatimu. Jangan marah, sebagai orang luar aku bisa melihat jelas hal itu..”

“Sekian lama masih mengingatnya, mustahil karena diriku kamu kehilangan rasa cinta padanya. Aku bukan merendahkan diriku, Dena. Jika aku dirimu, akan sulit melupakan orang yang benar-benar kamu cintai.”

Aku terenyuh. Dalam hati aku berharap Farhan tak meneruskan kata-katanya. Aku tidak sanggup jika harus meninggalkannya.

“Jangan mendesakku. Saat ini aku hanya memikirkanmu, bukan mas Rivandy. Jangan memintaku meninggalkanmu..” kuseka airmataku. Farhan merangkulku. Mendekapku erat. Airmataku kian deras mengalir.

“Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Dena. Aku sangat takut andai kamu benar-benar menerima lamaran lelaki itu. Aku juga tidak bisa memaksakan keadaan kalau memang kamu tidak mencintaiku. Tapi aku berjanji jika diberi kesempatan, aku akan membuatmu melupakan lelaki itu. ”

Aku tidak berkata-kata lagi. Ucapan Farhan membuatku tersentuh. Setelah dua hari mengabaikanku, pemuda ini hadir dengan sikap yang lembut. Aku merasa nyaman berada di sampingnya. Hatiku masih terasa sakit bila mengingat mas Rivandy. Bagaimana keadaannya? Baru sekejap berpisah, aku sudah merindukannya...

***

Pagi ini aku masuk kerja tanpa semangat seperti biasanya. Kejadian semalam masih membekas dan membuatku tidak nyenyak tidur. Ucapan mas Rivandy dan Farhan hadir bergantian dan terus terngiang dalam benakku. Aku tak bisa memberitahu mas Rivandy tentang perasaaanku begitu juga terhadap Farhan.  Aku masih bingung dengan keputusanku meski semalam aku memilih bersama Farhan.

“Semua terserah Dena. Mas tidak ingin Dena terpaksa menerima Rivan, kalau tidak setuju katakan saja.”

Teringat kata-kata mas Damar sebelum aku berangkat kerja. Kakakku itu benar-benar telah berubah. Sangat bijak dan pengertian. Tapi sikapnya ini justru membuatku semakin gelisah. Bagaimana jika dia tahu aku benar-benar menolak lamaran mas Rivandy? Masihkah dia sebijak ini?

“Kamu baik-baik aja?” terdengar suara yang sangat aku kenal.

Aku menoleh. Farhan menyodorkan gelas berisi teh. Aku menerimanya. Masih hangat, sangat pas dengan tubuhku yang dingin saat ini. Hujan semalam masih menyisakan hawa dingin.

“Makasih..”

“Tidurmu nyenyak semalam?” Farhan duduk di sebelahku.

“Aku tidak bisa tidur..”

“Sama. Aku juga gelisah sepanjang malam. Aku memikirkan hubungan kita..Ehmm bagaimana kalau kita menikah saja?”

“Apa? Menikah?” tanyaku kaget. Farhan menggiyakkan dengan matanya yang berbinar.

“Kalau kita menikah, tidak ada lagi yang akan mengusik hubungan kita. Bagaimana?”

“Kenapa harus menikah?”

“Tentu saja kita akan menikah, bukan? Atau jangan-jangan kamu tidak berniat menikah denganku. Apa benar seperti itu?”

“Kamu yakin menikahi aku? Tidak ragu dengan perasaanku saat ini?”

“Justru karena itu kita harus menikah secepatnya atau paling tidak aku melamarmu. Seperti ini kita tidak akan tenang apalagi ada seseorang yang nekad untuk terus mengejarmu...”

Aku meletakkan gelas di atas meja. Perasaanku makin kacau mendengar ide mendadak dari Farhan. Pemuda itu ternyata belum paham juga. Bagaimana aku bisa menikah saat ini jika hatiku masih bimbang? Aku bahkan tak tahu kemana perasaanku ini hendak berlabuh.

****

Malamnya, mas Damar memanggilku ke ruang kerjanya. Sejak tiba di rumah dan mendapat pesan dari mbak Mia, aku makin gelisah. Apakah mas Rivandy sudah memberitahu kejadian semalam pada mas Damar? Aku makin panik.

Tapi senyuman mas Damar mengendurkan rasa cemas dalam hatiku. Kakakku itu terlihat sangat bahagia. Tak ada sedikitpun gurat kemarahan terpancar dari wajahnya. Aku bernafas lega.

“Tadi siang mas ketemu sama Rivan. Sepertinya dia benar-benar menyukaimu. Mas berharap kamu juga mempunyai perasaan yang sama dengannya.”

Aku menelan ludah. Kata pembuka yang membuatku khawatir.

“Kami ngobrol lama tentang kamu, tentang pekerjaan. Mas tiba-tiba kepikiran untuk menjadikanmu karyawan di perusahaan mas. Begini Dena, karena perusahaan mas dan Rivan terlibat dalam satu proyek, gimana kalau kamu yang mewakili perusahaan untuk mengawasi jalannya proyek itu. Tidak ada orang lain yang mas anggap pantas untuk menduduki posisi itu selain dirimu. Bagaimana? Kamu setuju?”

Aku terdiam. Aku tidak keberatan untuk keluar dari tempat kerjaku yang sekarang lalu bekerja di tempat mas Damar, tapi itu artinya aku akan sering bertemu dengan mas Rivandy. Bukankah ini sama saja dengan memancing kemarahan Farhan? Pemuda itu jelas tidak setuju jika aku sering bertemu dengan mas Rivandy. Aku juga tidak ingin menimbulkan masalah lagi di antara kami.

“Apa tidak ada orang lain mas, yang bisa mas tunjuk selain aku?” tanyaku hati-hati. Aku tidak ingin kakakku itu tersinggung lalu marah padaku. Mas Damar menatap heran.

“Kenapa? Siapa lagi yang bisa mas tunjuk selain adik sendiri? Apa kamu tidak ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi?”

“Bukan begitu mas, aku sudah terlanjur senang bekerja di tempat yang sekarang. Butuh adaptasi lagi jika harus pindah tempat kerja.”

“Jangan khawatir, di tempat yang baru nanti kamu tidak sendirian. Ada Rivan yang nanti akan membimbingmu. Ya, sekalian menambah pengalaman. Proyek ini anggaplah uji coba bagimu. Gimana? Masih belum berminat?”

Kata-kata mas Damar membuat bulu kudukku merinding. Mas Rivandy yang akan membimbingku? mendengar namanya saja membuatku gemetar apalagi harus sering bertemu? Kepalaku mendadak pening.

“Apa harus aku mas?” tanyaku putus asa.

“Kamu kenapa sih sebenarnya? Tujuan mas baik untuk kamu. Sejak lama mas ingin kamu bekerja di tempat mas. Orang lain aja mas pekerjakan, masak saudara sendiri nggak? Kan masuk akal mas ingin kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi.”

Tubuhku membeku. Langit-langit ruangan serasa runtuh menimpaku. Dadaku rasanya sesak sulit untuk bernafas. Sebenarnya ini tawaran yang harus aku sambut dengan suka cita. Bekerja di perusahaan mas Damar tentu lebih baik daripada tempat kerjaku yang sekarang. Hanya seorang mas Rivandy yang membuat pikiranku kacau. Antara menerima atau menolak keinginan mas Damar.

“Aku pertimbangkan dulu, mas..” kataku akhirnya.

“Lebih cepat lebih baik. Minggu depan proyek itu udah mulai jalan, Dena.”

Aku mengangguk pasrah lalu beranjak meninggalkan ruangan mas Damar. Pikiranku makin kalut. Benarkah Mas Damar sangat mengharapkan aku bekerja di perusahaannya ataukah ini taktik agar aku lebih sering bertemu dengan mas Rivandy? Dua hal yang kebetulan tapi saling berkaitan. Teringat kejadian dulu saat aku hendak dijodohkan dengan teman kerja mas Damar. Saat itu mas Damar juga sedang menjalin kerja sama. Mungkinkah kejadian masa lalu terulang kembali?

“Dena..”

Suara mbak Mia memanggilku. Aku berhenti di anak tangga, urung melangkah. Kakak iparku itu mendekat lalu merangkulku.

“Lusa acara lamaran Viola. Dena bisa ijin nggak masuk kerja?”

“Aku usahakan, mbak. Mudah-mudahan bisa..”

“Ehmm, begini. Sebenarnya, mas mu ingin acara lamaran Viola dirangkaikan juga dengan lamaran mas Rivan.”

“Ma..ma..maksud mbak?” tanyaku bingung.

“Loh, kan kemarin Dena udah ketemu dengan mas Rivan. Dena setuju kan nikah dengan mas Rivan?”

“Ka..kata siapa, mbak?” jantungku serasa berhenti berdetak.

“Kata mas mu. Mbak sih senang aja kalau Dena dan Viola bisa nikah bareng. Itu kalau Dena setuju, terpisah juga nggak apa-apa. Cuma untuk lamaran ini, menurut mas mu di percepat lebih baik.”

“Kata siapa Dena setuju menikah dengan mas Rivandy, mbak?”

Mbak Mia tertegun. Kaget mendengar ucapanku.

“Kamu nggak mau nikah sama mas Rivan? Aduh, Dena padahal mas mu udah senang banget. Sehabis ketemu dengan mas Rivan di kantornya, mas mu langsung telpon mbak katanya kamu setuju. Jadi....jadi ini gimana? Sebaiknya Dena tenangkan pikiran dulu. Mas mu jangan diberitahu. Mbak khawatir mas mu merasa dipermainkan.”

“Sebenarnya masalah ini yang ingin Dena ceritakan. Bisa kita bicara di tempat lain, mbak?”

“Kalo gitu  ayo kita ke teras belakang aja.”

Aku dan mbak Mia lalu beriringan menuju teras belakang. Terlihat jelas rasa cemas terpancar dari wajah kakak iparku itu.  Kurasakan tangannya yang semula hangat mendadak dingin saat menggenggam jemariku.

Kami duduk di kursi jati yang menghadap taman. Mbak Mia menatapku lekat, tegang memulai pembicaraan denganku. Kulihat berulang kali dia menghela nafas sebelum berbicara.

“Terus terang, mbak kaget banget Dena. Mbak tidak menyangka, Dena menolak mas Rivan padahal untuk kriteria calon suami, mas Rivan itu udah sangat pas.”

“Aku bukan menolak, mbak..”

“Lalu ucapan kamu tadi apa maksudnya?”

Kutarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan kekuatan. Sudah waktunya aku berbagi beban yang selama ini kutanggung sendiri. Aku tidak mungkin menyimpan sendiri kegundahan dalam hatiku. Semoga mbak Mia bisa memberikan solusi atas masalahku.


(Bersambung)

Sumber gambar  disini


 

0 komentar:

Posting Komentar