Hujan masih mengguyur deras ketika kami
berlari menuju ruko yang ada di dekat restoran. Farhan memarkir motornya di
tempat itu. Kukibaskan air di lenganku ketika kami tiba sementara Farhan
menaruh mantel di atas motornya lalu melihatku.
“Maafkan aku sudah ikut campur masalah
kalian.” Ucapnya seraya berdiri di sampingku.
“Tapi aku ingin jawaban yang jujur,
Dena. Aku tahu apa yang kamu ucapkan tadi bukan yang sebenarnya. Perkataanmu
hanya untuk menyelamatkan harga diriku di depan lelaki itu.”
Kupejamkan mataku. Ucapan Farhan
benar, aku tidak ingin mempermalukan dirinya di depan mas Rivandy.
“Itu benar perasaanku”
“Aku meragukannya. Sejak awal menjadi
pacarmu, aku tahu perasaanmu. Jangan berpura-pura mencintaiku, Dena. Terlihat
baik tapi menyakitkan..”
Kulirik Farhan yang termangu memandang
jalan raya. Ada rasa sedih yang merasuk dalam hatiku. Melihat pakaiannya yang
basah serta tatapannya yang menerawang, aku benar-benar tidak tega melukai
hatinya.
Kualihkan pandanganku. Aku makin
bingung. Pikiranku berkecamuk.
“Andai aku jadi dirimu, aku akan
memilihnya. Memilih berada disamping orang yang kamu cintai akan lebih
membahagiakan..”
Aku tercengang. Ucapan Farhan
terdengar seperti nasehat namun ada nada putus asa dibaliknya.
“Farhan, aku sudah memilihmu. Aku
tidak ingin kamu cemas atau meragukan perasaanku..”
Pemuda itu tersenyum.
“Oh,ya? Hanya Tuhan yang tahu, kemana
hati akan berlabuh, Dena. Hanya Tuhan. Aku bahkan dirimu, tak bisa menentukan
sebelum akad terucap..”
“Jadi aku harus bagaimana? Apa kamu
rela kalau aku memilihnya tadi? Apa itu yang kamu inginkan?” tanyaku kesal. Aku
tidak suka mendengar ucapannya.
“Aku hanya ingin kamu jujur dengan
hatimu. Perbuatanmu tadi sama saja melukaiku..”
“Aku memilihmu. Apa itu belum cukup?” mataku
mulai dipenuhi embun.
“Jawab aku. Apa benar kamu
mencintaiku?”
Aku tak mampu menjawabnya. Saat
didepan mas Rivandy, aku begitu yakin dan bersemangat mengungkapkan perasaanku.
Tapi sekarang seolah ada beban berat yang menghimpit dadaku untuk mengucapkan
kata-kata itu.
“Yang terjadi tadi, kamu bukan
memikirkan diriku tapi ingin membuktikan bahwa dirimu bisa melupakan lelaki
itu. Benarkan? Kamu tidak ingin mengakui perasaan yang masih ada dalam hatimu.
Jangan marah, sebagai orang luar aku bisa melihat jelas hal itu..”
“Sekian lama masih mengingatnya,
mustahil karena diriku kamu kehilangan rasa cinta padanya. Aku bukan
merendahkan diriku, Dena. Jika aku dirimu, akan sulit melupakan orang yang
benar-benar kamu cintai.”
Aku terenyuh. Dalam hati aku berharap
Farhan tak meneruskan kata-katanya. Aku tidak sanggup jika harus
meninggalkannya.
“Jangan mendesakku. Saat ini aku hanya
memikirkanmu, bukan mas Rivandy. Jangan memintaku meninggalkanmu..” kuseka
airmataku. Farhan merangkulku. Mendekapku erat. Airmataku kian deras mengalir.
“Aku juga tidak ingin kehilanganmu,
Dena. Aku sangat takut andai kamu benar-benar menerima lamaran lelaki itu. Aku
juga tidak bisa memaksakan keadaan kalau memang kamu tidak mencintaiku. Tapi
aku berjanji jika diberi kesempatan, aku akan membuatmu melupakan lelaki itu. ”
Aku tidak berkata-kata lagi. Ucapan
Farhan membuatku tersentuh. Setelah dua hari mengabaikanku, pemuda ini hadir
dengan sikap yang lembut. Aku merasa nyaman berada di sampingnya. Hatiku masih
terasa sakit bila mengingat mas Rivandy. Bagaimana keadaannya? Baru sekejap
berpisah, aku sudah merindukannya...
***
Pagi ini aku masuk kerja tanpa
semangat seperti biasanya. Kejadian semalam masih membekas dan membuatku tidak
nyenyak tidur. Ucapan mas Rivandy dan Farhan hadir bergantian dan terus
terngiang dalam benakku. Aku tak bisa memberitahu mas Rivandy tentang
perasaaanku begitu juga terhadap Farhan.
Aku masih bingung dengan keputusanku meski semalam aku memilih bersama
Farhan.
“Semua terserah Dena. Mas tidak ingin
Dena terpaksa menerima Rivan, kalau tidak setuju katakan saja.”
Teringat kata-kata mas Damar sebelum
aku berangkat kerja. Kakakku itu benar-benar telah berubah. Sangat bijak dan
pengertian. Tapi sikapnya ini justru membuatku semakin gelisah. Bagaimana jika
dia tahu aku benar-benar menolak lamaran mas Rivandy? Masihkah dia sebijak ini?
“Kamu baik-baik aja?” terdengar suara
yang sangat aku kenal.
Aku menoleh. Farhan menyodorkan gelas
berisi teh. Aku menerimanya. Masih hangat, sangat pas dengan tubuhku yang
dingin saat ini. Hujan semalam masih menyisakan hawa dingin.
“Makasih..”
“Tidurmu nyenyak semalam?” Farhan
duduk di sebelahku.
“Aku tidak bisa tidur..”
“Sama. Aku juga gelisah sepanjang
malam. Aku memikirkan hubungan kita..Ehmm bagaimana kalau kita menikah saja?”
“Apa? Menikah?” tanyaku kaget. Farhan
menggiyakkan dengan matanya yang berbinar.
“Kalau kita menikah, tidak ada lagi
yang akan mengusik hubungan kita. Bagaimana?”
“Kenapa harus menikah?”
“Tentu saja kita akan menikah, bukan?
Atau jangan-jangan kamu tidak berniat menikah denganku. Apa benar seperti itu?”
“Kamu yakin menikahi aku? Tidak ragu
dengan perasaanku saat ini?”
“Justru karena itu kita harus menikah
secepatnya atau paling tidak aku melamarmu. Seperti ini kita tidak akan tenang
apalagi ada seseorang yang nekad untuk terus mengejarmu...”
Aku meletakkan gelas di atas meja. Perasaanku
makin kacau mendengar ide mendadak dari Farhan. Pemuda itu ternyata belum paham
juga. Bagaimana aku bisa menikah saat ini jika hatiku masih bimbang? Aku bahkan
tak tahu kemana perasaanku ini hendak berlabuh.
****
Malamnya, mas Damar memanggilku ke
ruang kerjanya. Sejak tiba di rumah dan mendapat pesan dari mbak Mia, aku makin
gelisah. Apakah mas Rivandy sudah memberitahu kejadian semalam pada mas Damar?
Aku makin panik.
Tapi senyuman mas Damar mengendurkan
rasa cemas dalam hatiku. Kakakku itu terlihat sangat bahagia. Tak ada
sedikitpun gurat kemarahan terpancar dari wajahnya. Aku bernafas lega.
“Tadi siang mas ketemu sama Rivan. Sepertinya
dia benar-benar menyukaimu. Mas berharap kamu juga mempunyai perasaan yang sama
dengannya.”
Aku menelan ludah. Kata pembuka yang
membuatku khawatir.
“Kami ngobrol lama tentang kamu,
tentang pekerjaan. Mas tiba-tiba kepikiran untuk menjadikanmu karyawan di
perusahaan mas. Begini Dena, karena perusahaan mas dan Rivan terlibat dalam
satu proyek, gimana kalau kamu yang mewakili perusahaan untuk mengawasi
jalannya proyek itu. Tidak ada orang lain yang mas anggap pantas untuk
menduduki posisi itu selain dirimu. Bagaimana? Kamu setuju?”
Aku terdiam. Aku tidak keberatan untuk
keluar dari tempat kerjaku yang sekarang lalu bekerja di tempat mas Damar, tapi
itu artinya aku akan sering bertemu dengan mas Rivandy. Bukankah ini sama saja
dengan memancing kemarahan Farhan? Pemuda itu jelas tidak setuju jika aku
sering bertemu dengan mas Rivandy. Aku juga tidak ingin menimbulkan masalah
lagi di antara kami.
“Apa tidak ada orang lain mas, yang
bisa mas tunjuk selain aku?” tanyaku hati-hati. Aku tidak ingin kakakku itu
tersinggung lalu marah padaku. Mas Damar menatap heran.
“Kenapa? Siapa lagi yang bisa mas
tunjuk selain adik sendiri? Apa kamu tidak ingin mendapat pekerjaan yang lebih
baik lagi?”
“Bukan begitu mas, aku sudah terlanjur
senang bekerja di tempat yang sekarang. Butuh adaptasi lagi jika harus pindah
tempat kerja.”
“Jangan khawatir, di tempat yang baru
nanti kamu tidak sendirian. Ada Rivan yang nanti akan membimbingmu. Ya,
sekalian menambah pengalaman. Proyek ini anggaplah uji coba bagimu. Gimana?
Masih belum berminat?”
Kata-kata mas Damar membuat bulu
kudukku merinding. Mas Rivandy yang akan membimbingku? mendengar namanya saja
membuatku gemetar apalagi harus sering bertemu? Kepalaku mendadak pening.
“Apa harus aku mas?” tanyaku putus
asa.
“Kamu kenapa sih sebenarnya? Tujuan
mas baik untuk kamu. Sejak lama mas ingin kamu bekerja di tempat mas. Orang
lain aja mas pekerjakan, masak saudara sendiri nggak? Kan masuk akal mas ingin
kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi.”
Tubuhku membeku. Langit-langit ruangan
serasa runtuh menimpaku. Dadaku rasanya sesak sulit untuk bernafas. Sebenarnya
ini tawaran yang harus aku sambut dengan suka cita. Bekerja di perusahaan mas
Damar tentu lebih baik daripada tempat kerjaku yang sekarang. Hanya seorang mas
Rivandy yang membuat pikiranku kacau. Antara menerima atau menolak keinginan
mas Damar.
“Aku pertimbangkan dulu, mas..” kataku
akhirnya.
“Lebih cepat lebih baik. Minggu depan
proyek itu udah mulai jalan, Dena.”
Aku mengangguk pasrah lalu beranjak
meninggalkan ruangan mas Damar. Pikiranku makin kalut. Benarkah Mas Damar
sangat mengharapkan aku bekerja di perusahaannya ataukah ini taktik agar aku
lebih sering bertemu dengan mas Rivandy? Dua hal yang kebetulan tapi saling berkaitan.
Teringat kejadian dulu saat aku hendak dijodohkan dengan teman kerja mas Damar.
Saat itu mas Damar juga sedang menjalin kerja sama. Mungkinkah kejadian masa
lalu terulang kembali?
“Dena..”
Suara mbak Mia memanggilku. Aku
berhenti di anak tangga, urung melangkah. Kakak iparku itu mendekat lalu
merangkulku.
“Lusa acara lamaran Viola. Dena bisa
ijin nggak masuk kerja?”
“Aku usahakan, mbak. Mudah-mudahan
bisa..”
“Ehmm, begini. Sebenarnya, mas mu ingin
acara lamaran Viola dirangkaikan juga dengan lamaran mas Rivan.”
“Ma..ma..maksud mbak?” tanyaku
bingung.
“Loh, kan kemarin Dena udah ketemu
dengan mas Rivan. Dena setuju kan nikah dengan mas Rivan?”
“Ka..kata siapa, mbak?” jantungku
serasa berhenti berdetak.
“Kata mas mu. Mbak sih senang aja
kalau Dena dan Viola bisa nikah bareng. Itu kalau Dena setuju, terpisah juga
nggak apa-apa. Cuma untuk lamaran ini, menurut mas mu di percepat lebih baik.”
“Kata siapa Dena setuju menikah dengan
mas Rivandy, mbak?”
Mbak Mia tertegun. Kaget mendengar
ucapanku.
“Kamu nggak mau nikah sama mas Rivan? Aduh,
Dena padahal mas mu udah senang banget. Sehabis ketemu dengan mas Rivan di
kantornya, mas mu langsung telpon mbak katanya kamu setuju. Jadi....jadi ini
gimana? Sebaiknya Dena tenangkan pikiran dulu. Mas mu jangan diberitahu. Mbak khawatir
mas mu merasa dipermainkan.”
“Sebenarnya masalah ini yang ingin Dena
ceritakan. Bisa kita bicara di tempat lain, mbak?”
“Kalo gitu ayo kita ke teras belakang aja.”
Aku dan mbak Mia lalu beriringan
menuju teras belakang. Terlihat jelas rasa cemas terpancar dari wajah kakak
iparku itu. Kurasakan tangannya yang
semula hangat mendadak dingin saat menggenggam jemariku.
Kami duduk di kursi jati yang
menghadap taman. Mbak Mia menatapku lekat, tegang memulai pembicaraan denganku.
Kulihat berulang kali dia menghela nafas sebelum berbicara.
“Terus terang, mbak kaget banget Dena.
Mbak tidak menyangka, Dena menolak mas Rivan padahal untuk kriteria calon
suami, mas Rivan itu udah sangat pas.”
“Aku bukan menolak, mbak..”
“Lalu ucapan kamu tadi apa maksudnya?”
Kutarik nafas dalam-dalam untuk
mengumpulkan kekuatan. Sudah waktunya aku berbagi beban yang selama ini
kutanggung sendiri. Aku tidak mungkin menyimpan sendiri kegundahan dalam hatiku.
Semoga mbak Mia bisa memberikan solusi atas masalahku.
(Bersambung)


0 komentar:
Posting Komentar