Sejak
kejadian malam itu, mas Rivandy seperti lenyap di telan bumi. Dia tidak lagi
hadir memberikan les. Beberapa kali aku coba menghubungi handphonenya tapi
tidak aktif. Aku benar-benar kehilangan dirinya bahkan bayangannya. Aku mencari
di tempat-tempat yang biasa kami kunjungi tapi hasilnya tetap saja aku tak
menemukannya meski berulang-ulang datang ke tempat yang sama.
Aku
seperti orang linglung, seperti anak ayam yang kehilangan induk. Aku tak tahu
mesti melakukan apa lagi untuk menemukan jejaknya. Di kampusnya juga sama, dia
tak lagi kuliah di tempat itu. Aku benar-benar bingung. Apakah aku yang telah
berbuat salah hingga mas Rivan tersinggung dan sakit hati? Tapi apa yang telah
aku lakukan? Aku merasa tak melakukan sesuatu yang salah?
Aku patah
hati yang sangat parah. Syukurlah aku masih bisa naik kelas padahal saat itu
semangat belajarku benar-benar drop. Berat badanku susut beberapa kilo hingga
mama ketakutan melihatku. Perasaan terluka itu terbawa hingga sekarang bahkan
ketika aku menerima Farhan sebagai kekasihku.
Sekarang
saat luka itu masih kurasakan getirnya, mas Rivandy hadir dengan niat yang
sangat mulia, melamarku. Kata yang seharusnya membuatku bahagia namun kurasakan
seperti mengorek luka lama yang ingin aku sembuhkan. Dulu dia pergi ketika
seharusnya menggenggam jemariku, menjadikan aku kekasihnya. Aku tidak pernah
berani bermimpi dia akan kembali untuk memiliki hatiku.
Aku
terlanjur mengatakan setuju pada mas Damar. Pasti kakakku itu akan heran dan
menanyakan alasan jika aku meralatnya.. Aku tidak mungkin mengatakan jika aku
dan mas Rivan sudah saling kenal sebelumnya. Mas Damar pasti akan lebih senang
lagi dan kemungkinan akan terus menasehatiku agar menerima mas Rivan.
Jika aku
memberitahukan bahwa mas Rivan pernah membuatku patah hati, mas Damar
pasti akan langsung ill feel pada pemuda itu. Padahal di sudut
terdalam hatiku, aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin tahu mengapa dia
meninggalkanku tanpa sedikitpun penjelasan. Rasa penasaran yang membuat hidupku
terasa hambar karena tak lagi percaya pada cinta meski berusaha aku hilangkan.
“Dena.
Bangun sayang, udah subuh. Kenapa Dena tidur di sini?”
Suara mama
membangunkanku. Rupanya semalam aku tidak sempat lagi balik ke tempat tidur.
Aku merapatkan selimutku, rasanya masih malas untuk beranjak.
“Sholat
dulu, sayang.” Mama menyentuh lenganku. Aku mengerjapkan mataku lalu
merentangkan tangan.
“Dena
masih ngantuk, ma.”
“Tapi ini
udah subuh sayang, udah waktunya sholat. Ayo, keburu lewat waktunya.”
Akhirnya
dengan langkah gontai aku masuk ke dalam kamar terus menuju kamar mandi,
berwudhu lalu sholat. Meski masih tersisa rasa kantuk, aku tak bisa melanjutkan
tidur karena harus masuk kerja pagi ini.
****
“Kenapa
matamu?” tegur Farhan yang menjemputku di depan toko. Pasti dia heran melihat
mataku yang sembab. Saat bercermin tadi pagi aku juga sudah menyadarinya, hanya
saja aku tidak mau bolos kerja hari ini karena alasan mata.
“Semalam
tidak bisa tidur.” Jawabku sambil melangkah masuk menuju gudang belakang.
Jawabanku ternyata masih mengundang tanya, Farhan menyentuh lenganku.
“Kamu
kenapa? Semalam aku telpon tidak di angkat? Kenapa sih?”
“Aku nggak
bisa tidur, Farhan..”
“Tapi
kenapa? Kamu ada masalah?”
Aku
melanjutkan langkahku. Kuletakkan tas di dalam laci meja.
“Rekan kerja
mas Damar mau melamarku..” Kataku sambil membuka catatan inventaris barang. Aku
tidak ingin menyembunyikan masalah ini dari Farhan. Cepat atau lambat dia pasti
akan tahu.
“Hah?
Ka..ka..mu nggak terima lamarannya kan?” sekilas kulirik Farhan yang nampak
mulai gelisah.
“Kami
bahkan belum ketemu.”
“Maksudku,
apa kamu setuju dengan lamarannya?”
“Aku tidak
tahu.”
“Dena..
kita kan sedang pacaran saat ini. Kalau aku tahu kamu ingin cepat menikah, aku
juga bisa melamarmu.”
“Aku hanya
ingin kamu tahu, Farhan. Aku tidak mau menyembunyikan hal ini. Soal keputusan
aku menerimanya atau tidak, aku juga belum bisa memastikan.”
“Lalu
hubungan kita kamu anggap apa? Aku serius sama kamu, Dena. Aku juga ingin kita
menikah. Kamu pikir aku tidak berniat untuk menikahimu?”
“Lelaki
itu cintaku di masa lalu..”
Tak ada
suara. Mungkin Farhan kaget mendengar perkataanku.
“Mantan
pacarmu?”
“Bukan.
Dulu aku sangat mencintainya..”
“Lalu
sekarang? Apa kamu masih mencintainya?”
Aku
terdiam. Bingung menjelaskan perasaanku pada Farhan.
“Jawab,
Dena. Kalau seandainya kamu masih mencintainya, lalu perasaanmu padaku apa
namanya?”
“Tolong
beri kesempatan aku untuk mencari jawabnya, Farhan. Aku sedang bingung saat
ini.”
“Aku
sekarang tahu, mengapa sebelumnya kamu selalu terlihat bingung jika aku minta
kejelasan hubungan kita. Ternyata ini penyebabnya..”
“Farhan,
aku hanya minta waktu. Semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan dirimu.”
“Oh, ya.
Kamu bingung karena harus mencampakan aku kan? Kapan kamu tahu akan di
jodohkan? Sebelum kita jadian atau setelahnya?” tekanan suara Farhan penuh
emosi.
“Kenapa
pertanyaanmu seperti itu?”
“Jawab
saja, sebelum atau setelahnya?”
“Aku tahu
sebelum kita jadian..”
“Seharusnya
kamu memikirkan ini sebelum menerimaku. Toh kita jadian baru saja. Aku tidak perlu
melambungkan angan terlalu jauh kalau hanya untuk kamu jatuhkan kembali. Aku
kecewa, Dena. Kecewa karena ternyata hanya kau jadikan cadangan.”
“Aku tidak
menjadikanmu cadangan, Farhan. Kenapa kamu berpikiran seperti itu?”
“Lalu apa
namanya jika kemudian kamu menerima lamarannya. Aku sebagai cadangan bukan?
Seandainya kamu tidak setuju, masih ada aku yang menantimu. Benar begitu kan?”
“Aku hanya
ingin memastikan perasaanku saja, Farhan.”
“Cukup.
Teman-teman udah datang semuanya. Aku tidak ingin memancing perhatian mereka.
Aku pergi dulu..”
Aku
terduduk lemas sambil menatap tubuh Farhan yang terus menjauh. Kutangkupkan
tanganku menutupi wajahku. Mataku telah di penuhi embun. Aku sedih karena
ternyata sikap Farhan tak seperti yang aku harapkan. Aku tidak menyangka niatku
berbagi dengannya malah membuatnya terluka. Bagaimanapun aku harus jujur
padanya tentang perasaanku. Tentang kebingunganku saat ini. Aku tidak mungkin
menegaskan perasaanku padanya tanpa pertemuan dengan mas Rivandy. Aku harus
memastikan hatiku saat ini agar bisa menentukan hendak kemana akan kulabuhkan
cintaku.
Apakah aku
yang telah salah mengambil sikap? Tapi Farhan tidak tahu kalau aku juga tidak
pernah sedikitpun berniat menerima perjodohan ini. Aku bahkan dengan yakin
menerima Farhan sebagai kekasihku. Tapi keputusanku untuk menerimanya sebelum
aku tahu kalau lelaki yang akan dikenalkan mas Damar padaku, adalah mas
Rivandy. Seseorang di masa lalu yang pernah membuatku jatuh cinta bahkan hingga
kini.
Hari ini
kurasakan masalah yang menimpaku makin sempurna dengan kemarahan Farhan. Lelaki
itu mengabaikanku sepanjang hari. Jangankan berbicara, menoleh padaku pun
tidak. Jika ada keperluan denganku maka dia akan meminta tolong teman untuk
menyampaikan padaku. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan sambil berusaha
menenangkan diri. Keadaan seperti ini cepat atau lambat pasti akan terjadi.
Farhan harus siap menerimanya.
****
Dua hari
sejak aku berdebat dengan Farhan, tak ada tanda-tanda perdamaian dari pemuda
itu. Sikapnya masih saja sama, tidak peduli padaku. Keadaan kami memancing
keheranan dari teman-teman tapi kuabaikan. Aku hanya menjawab semua baik-baik
saja. Tidak ada yang perlu aku lakukan sebelum bertemu dengan mas Rivandy dan
memastikan hatiku.
“Sudah
siap, Dena?” Mbak Mia muncul di kamar.
“Iya,
mbak.”
“Turunlah,
mas Rivan sudah menunggumu.”
Kurasakan
debar jantungku berdetak sangat cepat saat mengikuti langkah mbak Mia menuju
ruang tamu. Aku seperti terbawa kembali ke masa lalu. Detik demi detik yang
terlewati menggiring ingatanku akan sosok mas Rivandy. Seperti apa rupa dia
sekarang ini? Masihkah sama dengan beberapa tahun silam? Masihkah sikapnya
sedingin di masa lalu?
“Dena..”
mbak Mia menahan langkahku sebelum mencapai anak tangga.
“Mbak
tidak ingin kamu merasa terpaksa. Jika tidak setuju, katakan saja. Semua butuh
proses. Inilah yang mbak ingin kamu lakukan sekarang. Jangan memutuskan sesuatu
tanpa pertimbangan. Tujuan mas mu hanya ingin memberikan yang terbaik untuk
kamu. Tapi semua keputusan kembali kepada Dena. Jangan berpikir kami
memaksamu.”
“Iya,
mbak. Aku tahu itu..”
Aku
melangkah sambil terus berdoa dalam hati semoga di beri sikap tenang selama
bersama mas Rivandy. Belum bertemu saja, air mataku rasanya seolah ingin
berjatuhan seperti hujan deras yang sedang turun malam ini.
“Nah, ini
adikku, mas Rivan. Kenalkan..” suara mas Damar terdengar.
Aku terus
menunduk dan tak berani melihat mas Rivandy. Pelan-pelan aku mengangkat wajahku
menatap jemarinya yang terulur, ada desiran halus dalam hatiku. Perlahan terus
mengarah pada wajahnya. Mata kami bertemu. Episode masa lalu terurai tapi
mungkin hanya aku yang masih mengingatnya. Senyum yang hadir di wajah mas
Rivandy seperti hendak mengubur kejadian masa lalu. Apakah dia benar-benar
telah melupakan apa yang telah dia lakukan padaku dulu?


0 komentar:
Posting Komentar