Senin, 17 Juni 2013

Impian Dena #19

0




Sejak kejadian malam itu, mas Rivandy seperti lenyap di telan bumi. Dia tidak lagi hadir memberikan les. Beberapa kali aku coba menghubungi handphonenya tapi tidak aktif. Aku benar-benar kehilangan dirinya bahkan bayangannya. Aku mencari di tempat-tempat yang biasa kami kunjungi tapi hasilnya tetap saja aku tak menemukannya meski berulang-ulang datang ke tempat yang sama.

Aku seperti orang linglung, seperti anak ayam yang kehilangan induk. Aku tak tahu mesti melakukan apa lagi untuk menemukan jejaknya. Di kampusnya juga sama, dia tak lagi kuliah di tempat itu. Aku benar-benar bingung. Apakah aku yang telah berbuat salah hingga mas Rivan tersinggung dan sakit hati? Tapi apa yang telah aku lakukan? Aku merasa tak melakukan sesuatu yang salah?

Aku patah hati yang sangat parah. Syukurlah aku masih bisa naik kelas padahal saat itu semangat belajarku benar-benar drop. Berat badanku susut beberapa kilo hingga mama ketakutan melihatku. Perasaan terluka itu terbawa hingga sekarang bahkan ketika aku  menerima Farhan sebagai kekasihku.

Sekarang saat luka itu masih kurasakan getirnya, mas Rivandy hadir dengan niat yang sangat mulia, melamarku. Kata yang seharusnya membuatku bahagia namun kurasakan seperti mengorek luka lama yang ingin aku sembuhkan. Dulu dia pergi ketika seharusnya menggenggam jemariku, menjadikan aku kekasihnya. Aku tidak pernah berani bermimpi dia akan kembali untuk memiliki hatiku. 

Aku terlanjur mengatakan setuju pada mas Damar. Pasti kakakku itu akan heran dan menanyakan alasan jika aku meralatnya.. Aku tidak mungkin mengatakan jika aku dan mas Rivan sudah saling kenal sebelumnya. Mas Damar pasti akan lebih senang lagi dan kemungkinan akan terus menasehatiku agar menerima mas Rivan.

Jika aku memberitahukan bahwa mas Rivan pernah membuatku patah hati,  mas Damar pasti  akan langsung ill feel pada pemuda itu. Padahal di sudut terdalam hatiku, aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin tahu mengapa  dia meninggalkanku tanpa sedikitpun penjelasan. Rasa penasaran yang membuat hidupku terasa hambar karena tak lagi percaya pada cinta meski berusaha aku hilangkan.

“Dena. Bangun sayang, udah subuh. Kenapa Dena tidur di sini?”

Suara mama membangunkanku. Rupanya semalam aku tidak sempat lagi balik ke tempat tidur. Aku merapatkan selimutku, rasanya masih malas untuk beranjak.

“Sholat dulu, sayang.” Mama menyentuh lenganku. Aku mengerjapkan mataku lalu merentangkan tangan.

“Dena masih ngantuk, ma.”

“Tapi ini udah subuh sayang, udah waktunya sholat. Ayo, keburu lewat waktunya.” 

Akhirnya dengan langkah gontai aku masuk ke dalam kamar terus menuju kamar mandi, berwudhu lalu sholat. Meski masih tersisa rasa kantuk, aku tak bisa melanjutkan tidur karena harus masuk kerja pagi ini.

**** 

“Kenapa matamu?” tegur Farhan yang menjemputku di depan toko. Pasti dia heran melihat mataku yang sembab. Saat bercermin tadi pagi aku juga sudah menyadarinya, hanya saja aku tidak mau bolos kerja hari ini karena alasan mata.

“Semalam tidak bisa tidur.” Jawabku sambil melangkah masuk menuju gudang belakang. Jawabanku ternyata masih mengundang tanya, Farhan menyentuh lenganku.

“Kamu kenapa? Semalam aku telpon tidak di angkat? Kenapa sih?”

“Aku nggak bisa tidur, Farhan..”

“Tapi kenapa? Kamu ada masalah?”

Aku melanjutkan langkahku. Kuletakkan tas di dalam laci meja.

“Rekan kerja mas Damar mau melamarku..” Kataku sambil membuka catatan inventaris barang. Aku tidak ingin menyembunyikan masalah ini dari Farhan. Cepat atau lambat dia pasti akan tahu.

“Hah? Ka..ka..mu nggak terima lamarannya kan?” sekilas kulirik Farhan yang nampak mulai gelisah.

“Kami bahkan belum ketemu.”

“Maksudku, apa kamu setuju dengan lamarannya?”

“Aku tidak tahu.”

“Dena.. kita kan sedang pacaran saat ini. Kalau aku tahu kamu ingin cepat menikah, aku juga bisa melamarmu.” 

“Aku hanya ingin kamu tahu, Farhan. Aku tidak mau menyembunyikan hal ini. Soal keputusan aku menerimanya atau tidak, aku juga belum bisa memastikan.”

“Lalu hubungan kita kamu anggap apa? Aku serius sama kamu, Dena. Aku juga ingin kita menikah. Kamu pikir aku tidak berniat  untuk menikahimu?”

“Lelaki itu cintaku di masa lalu..”

Tak ada suara. Mungkin Farhan kaget mendengar perkataanku. 

“Mantan pacarmu?”
“Bukan. Dulu aku sangat mencintainya..”

“Lalu sekarang? Apa kamu masih mencintainya?”

Aku terdiam. Bingung menjelaskan perasaanku pada Farhan.

“Jawab, Dena. Kalau seandainya kamu masih mencintainya, lalu perasaanmu padaku apa namanya?”

“Tolong beri kesempatan aku untuk mencari jawabnya, Farhan. Aku sedang bingung saat ini.”

“Aku sekarang tahu, mengapa sebelumnya kamu selalu terlihat bingung jika aku minta kejelasan hubungan kita. Ternyata ini penyebabnya..”

“Farhan, aku hanya minta waktu. Semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan dirimu.”

“Oh, ya. Kamu bingung karena harus mencampakan aku kan? Kapan kamu tahu akan di jodohkan? Sebelum kita jadian atau setelahnya?” tekanan suara Farhan penuh emosi.

“Kenapa pertanyaanmu seperti itu?”

“Jawab saja, sebelum atau setelahnya?”

“Aku tahu sebelum kita jadian..”

“Seharusnya kamu memikirkan ini sebelum menerimaku. Toh kita jadian baru saja. Aku tidak perlu melambungkan angan terlalu jauh kalau hanya untuk kamu jatuhkan kembali. Aku kecewa, Dena. Kecewa karena ternyata hanya kau jadikan cadangan.”

“Aku tidak menjadikanmu cadangan, Farhan. Kenapa kamu berpikiran seperti itu?”

“Lalu apa namanya jika kemudian kamu menerima lamarannya. Aku sebagai cadangan bukan? Seandainya kamu tidak setuju, masih ada aku yang menantimu. Benar begitu kan?”
“Aku hanya ingin memastikan perasaanku saja, Farhan.”

“Cukup. Teman-teman udah datang semuanya. Aku tidak ingin memancing perhatian mereka. Aku pergi dulu..”

Aku terduduk lemas sambil menatap tubuh Farhan yang terus menjauh. Kutangkupkan tanganku menutupi wajahku. Mataku telah di penuhi embun. Aku sedih karena ternyata sikap Farhan tak seperti yang aku harapkan. Aku tidak menyangka niatku berbagi dengannya malah membuatnya terluka. Bagaimanapun aku harus jujur padanya tentang perasaanku. Tentang kebingunganku saat ini. Aku tidak mungkin menegaskan perasaanku padanya tanpa pertemuan dengan mas Rivandy. Aku harus memastikan hatiku saat ini agar bisa menentukan hendak kemana akan kulabuhkan cintaku.

Apakah aku yang telah salah mengambil sikap? Tapi Farhan tidak tahu kalau aku juga tidak pernah sedikitpun berniat menerima perjodohan ini. Aku bahkan dengan yakin menerima Farhan sebagai kekasihku. Tapi keputusanku untuk menerimanya sebelum aku tahu kalau lelaki yang akan dikenalkan mas Damar padaku, adalah mas Rivandy. Seseorang di masa lalu yang pernah membuatku jatuh cinta bahkan hingga kini.

Hari ini kurasakan masalah yang menimpaku makin sempurna dengan kemarahan Farhan. Lelaki itu mengabaikanku sepanjang hari. Jangankan berbicara, menoleh padaku pun tidak. Jika ada keperluan denganku maka dia akan meminta tolong teman untuk menyampaikan padaku. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan sambil berusaha menenangkan diri. Keadaan seperti ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Farhan harus siap menerimanya.

**** 

Dua hari sejak aku berdebat dengan Farhan, tak ada tanda-tanda perdamaian dari pemuda itu. Sikapnya masih saja sama, tidak peduli padaku. Keadaan kami memancing keheranan dari teman-teman tapi kuabaikan. Aku hanya menjawab semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu aku lakukan sebelum bertemu dengan mas Rivandy dan memastikan hatiku.

“Sudah siap, Dena?” Mbak Mia muncul di kamar.

“Iya, mbak.”

“Turunlah, mas Rivan sudah menunggumu.”

Kurasakan debar jantungku berdetak sangat cepat saat mengikuti langkah mbak Mia menuju ruang tamu. Aku seperti terbawa kembali ke masa lalu. Detik demi detik yang terlewati menggiring ingatanku akan sosok mas Rivandy. Seperti apa rupa dia sekarang ini? Masihkah sama dengan beberapa tahun silam? Masihkah sikapnya sedingin di masa lalu?

“Dena..” mbak Mia menahan langkahku sebelum mencapai anak tangga.

“Mbak tidak ingin kamu merasa terpaksa. Jika tidak setuju, katakan saja. Semua butuh proses. Inilah yang mbak ingin kamu lakukan sekarang. Jangan memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan. Tujuan mas mu hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Tapi semua keputusan kembali kepada Dena. Jangan berpikir kami memaksamu.”

“Iya, mbak. Aku tahu itu..”

Aku melangkah sambil terus berdoa dalam hati semoga di beri sikap tenang selama bersama mas Rivandy. Belum bertemu saja, air mataku rasanya seolah ingin berjatuhan seperti hujan  deras yang sedang turun malam ini.

“Nah, ini adikku, mas Rivan. Kenalkan..” suara mas Damar terdengar.

Aku terus menunduk dan tak berani melihat mas Rivandy. Pelan-pelan aku mengangkat wajahku menatap jemarinya yang terulur, ada desiran halus dalam hatiku. Perlahan terus mengarah pada wajahnya. Mata kami bertemu. Episode masa lalu terurai tapi mungkin hanya aku yang masih mengingatnya. Senyum yang hadir di wajah mas Rivandy seperti hendak mengubur kejadian masa lalu. Apakah dia benar-benar telah melupakan apa yang telah dia lakukan padaku dulu?

(Bersambung)

Sumber gambar  disini




 
 

0 komentar:

Posting Komentar