Minggu, 16 Juni 2013

Impian Dena #18

0





Makan malam yang penuh rasa kekeluargaan. Kami bercanda, tertawa sambil menikmati hidangan yang tersedia. Melihat sosok mas Damar sekarang, rasanya aku melupakan kejadian saat di rumah sakit ketika papa di rawat dan mas Damar bersikap tidak ramah. Mungkin saat itu, mas Damar sedang pusing hingga tak bisa mengontrol sikapnya padaku. Atau juga pemikiran mas Damar tentang perjodohanku tempo hari membuatnya sadar untuk tidak lagi memaksakan kehendaknya.

“Ehm, Dena. Ntar setelah makan, jangan dulu naik ke atas ya, ada yang mau mas omongin.”

Aku tertegun. Teringat dengan ucapan mama mengenai rekan kerja mas Damar yang akan dikenalkan padaku. Apakah mas Damar akan membicarakan hal itu?

Selesai makan malam, aku mengikuti mas Damar ke ruang kerjanya. Setelah duduk, mas Damar memeriksa laptopnya sejenak lalu menatapku.

“Mama dan papa mungkin udah cerita ke Dena, kalau ada seseorang yang pengen mas kenalkan. Mas sangat berharap Dena menerimanya tapi semua tetap kembali pada keputusan kamu sendiri, menerima atau tidak.”

“Iya, mas..”

“Usianya masih muda sih, hanya saja dia udah berhasil dalam bisnisnya dan itu membuat mas kagum sama dia. Selain itu mas sangat suka saat dia bertanya tentang kamu ketika melihat fotomu yang mas pajang di kantor. Sangat antusias dan bersemangat.”

“Namanya siapa, mas?”

“Namanya Rivandy, Cuma mas biasa memanggilnya dengan sebutan Ivan..”

Hatiku bergetar mendengar nama itu. Seperti nama seseorang yang aku kenal di masa lalu. Seseorang yang membuatku jatuh cinta, bahkan rasa itu masih ada hingga sekarang. Tiap kali mengingat namanya, hatiku selalu sakit.

“Ini fotonya. Mas tidak mau kamu ketemu tanpa mengenal nama dan wajahnya. Semoga kamu suka dan lebih suka lagi setelah bertemu.”

Mas Damar menyodorkan lembaran foto. Aku menerima dan tanganku seketika gemetar saat melihat wajah Rivan. Aliran darah dalam tubuhku serasa terhenti. Bahkan mungkin detak jantungku.

“Bagaimana? Kamu suka? Foto biasanya beda dengan saat kita ketemu orangnya langsung. Terkadang di foto biasa saja, pas ketemu orangnya ternyata luar biasa. Jadi saran mas, sebaiknya kamu ketemu dulu. Kenalan, berteman. Dia sih maunya langsung melamar kamu saja. Cuma mas ingat dengan kejadian tempo hari. Mas serahkan semua keputusan sama Dena. Apa yang terbaik menurut kamu, ya lakukan saja.”

Mulutku terkatup dan rasanya tak mampu untuk berbicara. Aku hanya terdiam mendengar ucapan mas Damar. Kusodorkan kembali foto Rivan dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku hanya menjawab iya hingga mas Damar tersenyum senang melihatku. Kakakku itu tidak perlu tahu apa yang sedang bergemuruh dalam hatiku. Bayangan masa lalu seolah kembali hadir di pelupuk mataku.

Hingga tengah malam aku tak bisa memejamkan mata. Aku beringsut dari pembaringan dan meninggalkan papa dan mama yang telah terlelap. Sambil berselimut aku duduk di lantai teras kamar. Memeluk lututku sambil menahan tangis yang rasanya menyesakkan dadaku. Kerinduan yang masih ada seperti tersiram hujan yang membuat pucuk-pucuk daun dalam hatiku kembali mekar.

Lelaki itu, kenapa dia hadir kembali setelah sekian lama tak ada kabar berita? Meninggalkanku dengan seribu tanda tanya. Dalam kebingungan, dalam rasa cinta yang tak menemukan jawabnya. Kini setelah sekian lama, dia tiba-tiba muncul dengan niat untuk melamarku. Mengapa baru sekarang? Dan mengapa dulu dia pergi tanpa alasan yang jelas?

Kuseka bulir-bulir air mata yang membasahi kedua mataku. Aku hanya bisa terisak mengingat kejadian di masa lalu. Bayangan episode kisahku bersama Rivan seolah layar hidup yang terpajang di depan mataku. Makin menambah rasa pilu dalam hatiku.

Dulu, saat aku baru kelas dua sma, ada kegiatan les tambahan yang kami ikuti. Sebenarnya waktu itu aku ikut les, jujur saja, bukan karena tertarik dengan mata pelajarannya. Aku ikut karena dibujuk teman-teman, kabar yang aku dengar, kakak yang memberikan les sangat tampan namanya Rivandy.

Benar saja, saat bertemu dengan pengajarnya, aku langsung terpana. Sosok lelaki impianku seperti hadir ke dunia nyata. Aku benar-benar terpesona hingga tak pernah absen dari les yang dia berikan. Setiap malam aku selalu berkhayal. Membayangkan menjadi kekasih mas Rivandy. Walau ada sedikit rasa kecewa karena yang kudengar dia telah memiliki kekasih. Aku maklum hal itu. Pria setampan dia, bagaimana mungkin tidak memiliki kekasih?

Hingga suatu hari, tanteku dari pihak mama, mengalami kecelakaan dan harus di rawat di rumah sakit. Karena tak memiliki anak, aku dan mama bergantian menjaga. Keluarga dari suami tante juga sesekali mengantikan kami menunggu di rumah sakit. Di rumah sakit inilah aku mengenal seorang gadis. Namanya Tiara. Dia mengalami kecelakaan hingga terpaksa kakinya harus di amputasi.

Aku sangat iba melihatnya. Masih muda dan sangat cantik, sayang sekali harus kehilangan kedua kakinya. Tapi gadis itu sangat tegar. Meski kadang-kadang kulihat matanya berkaca-kaca tapi sedetik kemudian dia akan tersenyum menyadari perasaan iba yang hadir dari orang-orang yang kebetulan melihatnya.

Tapi anehnya, tak ada yang datang menjenguknya. Hanya seorang ibu yang setia menemani yang kemudian aku tahu bukan sanak keluarganya. Ibu itu adalah pembantu di rumahnya. Kemana orang tua Tiara? Mengapa tak pernah sekalipun mereka menengok anak mereka? Perasaan heran yang lambat laun menjadi hal biasa karena aku makin akrab dengannya.

“Sudah punya pacar ya, Dena?” pertanyaan Tiara membuatku tersipu. Seperti biasa sepulang sekolah aku menggantikan tugas mama menemani tante di rumah sakit.

“Belum, mbak.” Jawabku.

“Biasanya anak seusia kamu, ada seseorang yang jadi idola. Seperti aku dulu. Ada ya?”

Aku tertawa teringat mas Rivandy.

“Ada mbak.”

“Siapa dia? Kalau Dena tidak keberatan untuk berbagi.”

Mulailah aku bercerita tentang mas Rivandy. Sosoknya serta kegiatan yang di lakukannya di sekolah kami. Aku juga memperlihatkan foto Rivandy yang ada di hapeku pada Tiara. Matanya membulat kaget saat melihat foto itu. Aku yakin dia juga kagum melihat wajah mas Rivandy.

“Dena menyukainya?”

“Iya, mbak. Hanya suka sih. Cowok kuliahan seperti dia mana tertarik sama kita anak sekolahan. Aku dengar dia juga udah punya pacar.”

“Dia sendiri gimana perhatiannya ke kamu?”

“Biasa aja, mbak. Apalagi akhir-akhir ini, mas Rivan seperti kurang ramah pada kami. Dia makin jarang tersenyum. Wajahnya setiap saat hanya muram dan suka melamun. Kadang dia lupa dengan apa yang baru saja dia ajarkan pada kami.”

Tiara terdiam sejenak. Pikirannya seperti menerawang jauh.

“Nanti deh, mbak ajarkan gimana caranya mendekati cowok seperti Rivan itu. Kalau memang Dena menyukainya, silahkan saja praktekkan saran mbak. Tapi kalau hanya kagum sementara, ya nggak usah.”

“Makasih banyak, mbak! Aku suka sekali sama mas Rivandy. Semoga dia putus dengan pacarnya dan mau jadi pacarku.” pintaku penuh semangat. Tiara hanya tertawa mendengar ucapanku. Doaku mungkin terlalu kejam tapi doa apalagi yang bisa aku panjatkan selain mengharapkan dia menjadi jomblo?

Sejak hari itu aku mulai memperaktekkan saran dari Tiara. Benar saja, tidak butuh waktu yang lama, hanya dua minggu aku merasakan perubahan sikap mas Rivandy padaku meski di depan kelas dia terlihat biasa saja. Dia juga meminta nomor hapeku. Sesuatu yang makin membuatku yakin jika saran Tiara ada hasilnya. Aku bertahan tidak menghubunginya, menunggu mas Rivandy lebih dulu menelponku.

Suatu malam, saat aku hendak beranjak ke peraduan. Hapeku berdering. Aku melompat kegirangan ketika membaca nama yang tertera di layar hape. Nama mas Rivandy! Kutenangkan perasaan sebelum berbicara.

“Malam Dena...” suara merdu dari seberang membuat hatiku bergetar.

“Ma..ma..lam mas Rivan..” jawabku gugup. Aku tak bisa duduk hingga harus berjalan-jalan di dalam ruangan agar bisa menenangkan diri.

“Lagi ngapain?” pertanyaan yang sangat aku rindukan.

“Baru selesai belajar mas..”

“Oww, udah mau tidur ya?” aku mengangguk namun mendadak aku tersadar.

“Be..be..lum mas..” aku sangat takut jika mas Rivan memutuskan pembicaraan jika tahu aku akan tidur.

“Ini sudah jam sepuluh malam. Jangan biasakan diri begadang. Nggak baik untuk kesehatan. Tidurlah. Sampai ketemu besok ya..”

“Iya, mas.”

“Malam Dena..”

“Malam, mas..”

Telpon terputus. Aku melompat kegirangan. Menari-nari menirukan gerakan burung yang terbang kesana kemari. Akhirnya aku malah tak bisa tidur. Hatiku yang gembira membuat rasa kantuk menghilang entah kemana. Rasanya aku tak sabar menunggu esok. Hingga aku tak sadar tertidur. Aku bahkan bermimpi bertemu dengan mas Rivandy. Mimpi yang mungkin hadir karena aku terus memikirkan pemuda tampan itu.

Hubungan kami dari sekedar murid dan pengajar les, berubah menjadi teman. Mas Rivandy sering mengajakku ikut serta setiap ada kegiatan yang dilakukannya. Mungkin dia ingin memberikan contoh padaku. Menemani ke perpustakaan kota, ke toko buku, galery lukisan, berjalan-jalan mencari suvenir atau kerajinan tangan yang menarik untuk di koleksi.

Aku tahu apa yang membuatku jatuh cinta pada pemuda itu. Senyumnya serta pandangan matanya yang kurasakan sangat tulus bukan basa-basi atau sekedar menyenangkan orang lain. Aku bisa merasakan itu dan kian hari rasa kagum menjadi simpati entah kapan menjadi cinta aku sendiri tidak dapat memastikannya.

Mungkin bagi orang lain penilaianku ini tidak objektif karena di landasi rasa cinta. Melihatnya mengingatkanku pada telaga yang ada di dekat rumah nenekku. Aku suka dirinya karena serupa telaga yang membuatku tenang dan nyaman meski terasa dingin. Yah, jujur saja di luar rasa kagum padanya, ada satu sikap yang membuatku harus maklum. Mas Rivandy pendiam, acuh bahkan sangat dingin. Meski di dalam kelas dia sering tersenyum tapi itu hanya sebatas kelas.

Aku bahkan nyaris menyerah ketika di awal pertemanan kami, seolah hanya aku yang tidak bisu. Aku bukan perempuan cerewet atau suka ngobrol berlama-lama tapi berada didekatnya menjadikan sikapku berubah drastis. Aku terbiasa mendengar. Rasanya tidak betah bersamanya yang hanya diam sambil membaca buku. Atau ketika menemaninya ke toko buku, dia hanya asyik berbincang dengan buku-buku itu, bukan denganku!

Tapi kekuatan cinta memang luar biasa. Pelan-pelan aku membiasakan diri masuk dalam kehidupannya. Aku berusaha menahan diri untuk tetap diam dan mulai bersikap seperti dirinya. Kembali ke sifat asliku. Lama-lama aku terbiasa. Bersamanya bukan lagi hal menyiksa. Aku mulai suka membaca buku seperti dirinya. Mulai merasakan asyiknya mengetahui kisah-kisah dari buku yang aku baca.

Suatu hari di toko buku,

“Dena, kamu mau jadi pacarku?”

“Apa?” Aku berpaling dari sinopsis novel yang sedang aku baca, berusaha menyembunyikan keterkejutanku. Untuk ukuran toko buku yang lengang saat ini, suaranya yang berbisik sangat jelas terdengar.

“Kita pacaran saja.” Ucapnya lalu berjalan menuju kasir. Aku terpaku sambil terus memandangnya. Ucapannya seperti ultimatum yang harus aku ikuti. Apakah perasaanku sangat jelas terbaca?

“Ayo pulang. Kamu tentu tidak akan menginap di sini kan?”

Aku tergagap, sekejap dia sudah kembali tanpa kusadari. Aku mengikuti langkahnya dengan pikiran menerawang. Ucapannya tadi apakah hanya bercanda atau serius? Apakah tidak memalukan jika aku menanyakannya? Ataukah sebaiknya aku diamkan saja menunggu pernyataan ulang darinya?

Sepanjang jalan mas Rivandy hanya diam membisu, aku juga sungkan untuk untuk memulai percakapan. Pikiranku masih di penuhi ucapannya saat di toko buku.

“Dena, apakah diriku sangat penting bagimu?” akhirnya mas Rivandy bersuara juga meski terlontar pertanyaan yang membuatku bingung.

“Maksud mas Rivan?”

“Lebih baik kita pacaran, bukankah ini tujuanmu berteman denganku?”

Aku terperangah. Tenggorokanku rasanya tercekat. Kering. Leherku mendadak kaku.

“Mas Rivan melihat aku seperti itu?” tanyaku dengan suara tertahan. Kurasakan wajahku bersemu merah karena malu. Padahal beberapa saat yang lalu, aku nyaris tersanjung ketika mas Rivan mengusulkan agar kami pacaran. Mendadak langkahnya terhenti. Di antara lalu lalang orang, pemuda itu menatapku membuatku kikuk.

“Kita pacaran saja, agar rasa penasaranmu hilang. Aku tahu sejak awal kau mendekatiku, bukan karena murni tertarik padaku. Benarkan? Kau hanya penasaran. Aku akhirnya jadi penasaran juga, siapa dia yang menyuruhmu mendekatiku?!?!”

Tekanan suara pada akhir kalimat membuatku merinding. Ini bukan malam Jum’at tapi aku tiba-tiba merasa takut melihat sinar matanya yang berkilat menahan amarah.

“Mengapa mas Rivan berpikiran seperti itu? Aku tidak mengerti.”

“Jangan pura-pura! Aku tahu ada seseorang yang menjadi alasan hingga kau mendekatiku. Iya, kan? Aku tahu. Kamu hanya tinggal menjawab ya atau tidak.”

“Bukan begitu...”

“Jawab saja, ya atau tidak.” Mas Rivan memotong ucapanku.

Aku tidak tahan di cecar dengan pertanyaan. Kedua mataku telah basah dengan air mata.

“Kamu tidak menjawab, padahal tanpa mendengar darimu, aku telah tahu siapa yang telah mengutusmu. Tolong katakan pada wanita itu, jangan berusaha jadi malaikat karena dia juga manusia!”

Selesai berkata, mas Rivan  kemudian berbalik lalu melangkah cepat meninggalkanku. Aku hanya bisa menatap dirinya yang semakin jauh dengan air mata berderai. Hatiku sakit sekali hingga tak memperdulikan para pejalan kaki. Kuseka air mata setelah keterkejutanku sedikit hilang. Perlahan aku melangkah ke pinggiran jalan kemudian menahan angkot trayek rumahku.

Sepanjang perjalanan aku tak bisa menepiskan wajah mas Rivan yang penuh amarah. Ada apa dengan pemuda itu? Aku bahkan berharap ini hanya mimpi. Mengapa sikapnya sangat aneh. Seperti bukan mas Rivan yang biasa aku kenal.



(Bersambung)




 

0 komentar:

Posting Komentar