Makan malam yang penuh rasa kekeluargaan.
Kami bercanda, tertawa sambil menikmati hidangan yang tersedia. Melihat sosok
mas Damar sekarang, rasanya aku melupakan kejadian saat di rumah sakit ketika
papa di rawat dan mas Damar bersikap tidak ramah. Mungkin saat itu, mas Damar
sedang pusing hingga tak bisa mengontrol sikapnya padaku. Atau juga pemikiran
mas Damar tentang perjodohanku tempo hari membuatnya sadar untuk tidak lagi
memaksakan kehendaknya.
“Ehm, Dena. Ntar setelah makan, jangan
dulu naik ke atas ya, ada yang mau mas omongin.”
Aku tertegun. Teringat dengan ucapan
mama mengenai rekan kerja mas Damar yang akan dikenalkan padaku. Apakah mas
Damar akan membicarakan hal itu?
Selesai makan malam, aku mengikuti mas
Damar ke ruang kerjanya. Setelah duduk, mas Damar memeriksa laptopnya sejenak
lalu menatapku.
“Mama dan papa mungkin udah cerita ke
Dena, kalau ada seseorang yang pengen mas kenalkan. Mas sangat berharap Dena
menerimanya tapi semua tetap kembali pada keputusan kamu sendiri, menerima atau
tidak.”
“Iya, mas..”
“Usianya masih muda sih, hanya saja
dia udah berhasil dalam bisnisnya dan itu membuat mas kagum sama dia. Selain
itu mas sangat suka saat dia bertanya tentang kamu ketika melihat fotomu yang
mas pajang di kantor. Sangat antusias dan bersemangat.”
“Namanya siapa, mas?”
“Namanya Rivandy, Cuma mas biasa
memanggilnya dengan sebutan Ivan..”
Hatiku bergetar mendengar nama itu.
Seperti nama seseorang yang aku kenal di masa lalu. Seseorang yang membuatku
jatuh cinta, bahkan rasa itu masih ada hingga sekarang. Tiap kali mengingat
namanya, hatiku selalu sakit.
“Ini fotonya. Mas tidak mau kamu
ketemu tanpa mengenal nama dan wajahnya. Semoga kamu suka dan lebih suka lagi
setelah bertemu.”
Mas Damar menyodorkan lembaran foto.
Aku menerima dan tanganku seketika gemetar saat melihat wajah Rivan. Aliran
darah dalam tubuhku serasa terhenti. Bahkan mungkin detak jantungku.
“Bagaimana? Kamu suka? Foto biasanya
beda dengan saat kita ketemu orangnya langsung. Terkadang di foto biasa saja,
pas ketemu orangnya ternyata luar biasa. Jadi saran mas, sebaiknya kamu ketemu
dulu. Kenalan, berteman. Dia sih maunya langsung melamar kamu saja. Cuma mas
ingat dengan kejadian tempo hari. Mas serahkan semua keputusan sama Dena. Apa
yang terbaik menurut kamu, ya lakukan saja.”
Mulutku terkatup dan rasanya tak mampu
untuk berbicara. Aku hanya terdiam mendengar ucapan mas Damar. Kusodorkan kembali
foto Rivan dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku hanya menjawab iya hingga
mas Damar tersenyum senang melihatku. Kakakku itu tidak perlu tahu apa yang
sedang bergemuruh dalam hatiku. Bayangan masa lalu seolah kembali hadir di
pelupuk mataku.
Hingga tengah malam aku tak bisa
memejamkan mata. Aku beringsut dari pembaringan dan meninggalkan papa dan mama
yang telah terlelap. Sambil berselimut aku duduk di lantai teras kamar. Memeluk
lututku sambil menahan tangis yang rasanya menyesakkan dadaku. Kerinduan yang
masih ada seperti tersiram hujan yang membuat pucuk-pucuk daun dalam hatiku
kembali mekar.
Lelaki itu, kenapa dia hadir kembali
setelah sekian lama tak ada kabar berita? Meninggalkanku dengan seribu tanda
tanya. Dalam kebingungan, dalam rasa cinta yang tak menemukan jawabnya. Kini
setelah sekian lama, dia tiba-tiba muncul dengan niat untuk melamarku. Mengapa
baru sekarang? Dan mengapa dulu dia pergi tanpa alasan yang jelas?
Kuseka bulir-bulir air mata yang
membasahi kedua mataku. Aku hanya bisa terisak mengingat kejadian di masa lalu.
Bayangan episode kisahku bersama Rivan seolah layar hidup yang terpajang di
depan mataku. Makin menambah rasa pilu dalam hatiku.
Dulu, saat aku baru kelas dua sma, ada
kegiatan les tambahan yang kami ikuti. Sebenarnya waktu itu aku ikut les, jujur
saja, bukan karena tertarik dengan mata pelajarannya. Aku ikut karena dibujuk
teman-teman, kabar yang aku dengar, kakak yang memberikan les sangat tampan
namanya Rivandy.
Benar saja, saat bertemu dengan
pengajarnya, aku langsung terpana. Sosok lelaki impianku seperti hadir ke dunia
nyata. Aku benar-benar terpesona hingga tak pernah absen dari les yang dia
berikan. Setiap malam aku selalu berkhayal. Membayangkan menjadi kekasih mas
Rivandy. Walau ada sedikit rasa kecewa karena yang kudengar dia telah memiliki
kekasih. Aku maklum hal itu. Pria setampan dia, bagaimana mungkin tidak
memiliki kekasih?
Hingga suatu hari, tanteku dari pihak
mama, mengalami kecelakaan dan harus di rawat di rumah sakit. Karena tak
memiliki anak, aku dan mama bergantian menjaga. Keluarga dari suami tante juga
sesekali mengantikan kami menunggu di rumah sakit. Di rumah sakit inilah aku
mengenal seorang gadis. Namanya Tiara. Dia mengalami kecelakaan hingga terpaksa
kakinya harus di amputasi.
Aku sangat iba melihatnya. Masih muda
dan sangat cantik, sayang sekali harus kehilangan kedua kakinya. Tapi gadis itu
sangat tegar. Meski kadang-kadang kulihat matanya berkaca-kaca tapi sedetik
kemudian dia akan tersenyum menyadari perasaan iba yang hadir dari orang-orang
yang kebetulan melihatnya.
Tapi anehnya, tak ada yang datang
menjenguknya. Hanya seorang ibu yang setia menemani yang kemudian aku tahu
bukan sanak keluarganya. Ibu itu adalah pembantu di rumahnya. Kemana orang tua
Tiara? Mengapa tak pernah sekalipun mereka menengok anak mereka? Perasaan heran
yang lambat laun menjadi hal biasa karena aku makin akrab dengannya.
“Sudah punya pacar ya, Dena?”
pertanyaan Tiara membuatku tersipu. Seperti biasa sepulang sekolah aku
menggantikan tugas mama menemani tante di rumah sakit.
“Belum, mbak.” Jawabku.
“Biasanya anak seusia kamu, ada
seseorang yang jadi idola. Seperti aku dulu. Ada ya?”
Aku tertawa teringat mas Rivandy.
“Ada mbak.”
“Siapa dia? Kalau Dena tidak keberatan
untuk berbagi.”
Mulailah aku bercerita tentang mas Rivandy.
Sosoknya serta kegiatan yang di lakukannya di sekolah kami. Aku juga
memperlihatkan foto Rivandy yang ada di hapeku pada Tiara. Matanya membulat
kaget saat melihat foto itu. Aku yakin dia juga kagum melihat wajah mas
Rivandy.
“Dena menyukainya?”
“Iya, mbak. Hanya suka sih. Cowok
kuliahan seperti dia mana tertarik sama kita anak sekolahan. Aku dengar dia
juga udah punya pacar.”
“Dia sendiri gimana perhatiannya ke
kamu?”
“Biasa aja, mbak. Apalagi akhir-akhir
ini, mas Rivan seperti kurang ramah pada kami. Dia makin jarang tersenyum. Wajahnya
setiap saat hanya muram dan suka melamun. Kadang dia lupa dengan apa yang baru
saja dia ajarkan pada kami.”
Tiara terdiam sejenak. Pikirannya
seperti menerawang jauh.
“Nanti deh, mbak ajarkan gimana
caranya mendekati cowok seperti Rivan itu. Kalau memang Dena menyukainya,
silahkan saja praktekkan saran mbak. Tapi kalau hanya kagum sementara, ya nggak
usah.”
“Makasih banyak, mbak! Aku suka sekali
sama mas Rivandy. Semoga dia putus dengan pacarnya dan mau jadi pacarku.” pintaku
penuh semangat. Tiara hanya tertawa mendengar ucapanku. Doaku mungkin terlalu
kejam tapi doa apalagi yang bisa aku panjatkan selain mengharapkan dia menjadi
jomblo?
Sejak hari itu aku mulai
memperaktekkan saran dari Tiara. Benar saja, tidak butuh waktu yang lama, hanya
dua minggu aku merasakan perubahan sikap mas Rivandy padaku meski di depan
kelas dia terlihat biasa saja. Dia juga meminta nomor hapeku. Sesuatu yang
makin membuatku yakin jika saran Tiara ada hasilnya. Aku bertahan tidak
menghubunginya, menunggu mas Rivandy lebih dulu menelponku.
Suatu malam, saat aku hendak beranjak
ke peraduan. Hapeku berdering. Aku melompat kegirangan ketika membaca nama yang
tertera di layar hape. Nama mas Rivandy! Kutenangkan perasaan sebelum berbicara.
“Malam Dena...” suara merdu dari
seberang membuat hatiku bergetar.
“Ma..ma..lam mas Rivan..” jawabku
gugup. Aku tak bisa duduk hingga harus berjalan-jalan di dalam ruangan agar bisa
menenangkan diri.
“Lagi ngapain?” pertanyaan yang sangat
aku rindukan.
“Baru selesai belajar mas..”
“Oww, udah mau tidur ya?” aku
mengangguk namun mendadak aku tersadar.
“Be..be..lum mas..” aku sangat takut
jika mas Rivan memutuskan pembicaraan jika tahu aku akan tidur.
“Ini sudah jam sepuluh malam. Jangan
biasakan diri begadang. Nggak baik untuk kesehatan. Tidurlah. Sampai ketemu
besok ya..”
“Iya, mas.”
“Malam Dena..”
“Malam, mas..”
Telpon terputus. Aku melompat
kegirangan. Menari-nari menirukan gerakan burung yang terbang kesana kemari.
Akhirnya aku malah tak bisa tidur. Hatiku yang gembira membuat rasa kantuk
menghilang entah kemana. Rasanya aku tak sabar menunggu esok. Hingga aku tak
sadar tertidur. Aku bahkan bermimpi bertemu dengan mas Rivandy. Mimpi yang mungkin
hadir karena aku terus memikirkan pemuda tampan itu.
Hubungan kami dari sekedar murid dan
pengajar les, berubah menjadi teman. Mas Rivandy sering mengajakku ikut serta
setiap ada kegiatan yang dilakukannya. Mungkin dia ingin memberikan contoh
padaku. Menemani ke perpustakaan kota, ke toko buku, galery lukisan, berjalan-jalan
mencari suvenir atau kerajinan tangan yang menarik untuk di koleksi.
Aku tahu apa yang membuatku jatuh
cinta pada pemuda itu. Senyumnya serta pandangan matanya yang kurasakan sangat
tulus bukan basa-basi atau sekedar menyenangkan orang lain. Aku bisa merasakan
itu dan kian hari rasa kagum menjadi simpati entah kapan menjadi cinta aku
sendiri tidak dapat memastikannya.
Mungkin bagi orang lain penilaianku
ini tidak objektif karena di landasi rasa cinta. Melihatnya mengingatkanku pada
telaga yang ada di dekat rumah nenekku. Aku suka dirinya karena serupa telaga
yang membuatku tenang dan nyaman meski terasa dingin. Yah, jujur saja di luar
rasa kagum padanya, ada satu sikap yang membuatku harus maklum. Mas Rivandy pendiam,
acuh bahkan sangat dingin. Meski di dalam kelas dia sering tersenyum tapi itu
hanya sebatas kelas.
Aku bahkan nyaris menyerah ketika di
awal pertemanan kami, seolah hanya aku yang tidak bisu. Aku bukan perempuan
cerewet atau suka ngobrol berlama-lama tapi berada didekatnya menjadikan
sikapku berubah drastis. Aku terbiasa mendengar. Rasanya tidak betah bersamanya
yang hanya diam sambil membaca buku. Atau ketika menemaninya ke toko buku, dia
hanya asyik berbincang dengan buku-buku itu, bukan denganku!
Tapi kekuatan cinta memang luar biasa.
Pelan-pelan aku membiasakan diri masuk dalam kehidupannya. Aku berusaha menahan
diri untuk tetap diam dan mulai bersikap seperti dirinya. Kembali ke sifat
asliku. Lama-lama aku terbiasa. Bersamanya bukan lagi hal menyiksa. Aku mulai
suka membaca buku seperti dirinya. Mulai merasakan asyiknya mengetahui
kisah-kisah dari buku yang aku baca.
Suatu hari di toko buku,
“Dena, kamu mau jadi pacarku?”
“Apa?” Aku berpaling dari sinopsis
novel yang sedang aku baca, berusaha menyembunyikan keterkejutanku. Untuk
ukuran toko buku yang lengang saat ini, suaranya yang berbisik sangat jelas
terdengar.
“Kita pacaran saja.” Ucapnya lalu
berjalan menuju kasir. Aku terpaku sambil terus memandangnya. Ucapannya seperti
ultimatum yang harus aku ikuti. Apakah perasaanku sangat jelas terbaca?
“Ayo pulang. Kamu tentu tidak akan
menginap di sini kan?”
Aku tergagap, sekejap dia sudah
kembali tanpa kusadari. Aku mengikuti langkahnya dengan pikiran menerawang.
Ucapannya tadi apakah hanya bercanda atau serius? Apakah tidak memalukan jika
aku menanyakannya? Ataukah sebaiknya aku diamkan saja menunggu pernyataan ulang
darinya?
Sepanjang jalan mas Rivandy hanya diam
membisu, aku juga sungkan untuk untuk memulai percakapan. Pikiranku masih di
penuhi ucapannya saat di toko buku.
“Dena, apakah diriku sangat penting
bagimu?” akhirnya mas Rivandy bersuara juga meski terlontar pertanyaan yang
membuatku bingung.
“Maksud mas Rivan?”
“Lebih baik kita pacaran, bukankah ini
tujuanmu berteman denganku?”
Aku terperangah. Tenggorokanku rasanya
tercekat. Kering. Leherku mendadak kaku.
“Mas Rivan melihat aku seperti itu?”
tanyaku dengan suara tertahan. Kurasakan wajahku bersemu merah karena malu.
Padahal beberapa saat yang lalu, aku nyaris tersanjung ketika mas Rivan
mengusulkan agar kami pacaran. Mendadak langkahnya terhenti. Di antara lalu
lalang orang, pemuda itu menatapku membuatku kikuk.
“Kita pacaran saja, agar rasa
penasaranmu hilang. Aku tahu sejak awal kau mendekatiku, bukan karena murni
tertarik padaku. Benarkan? Kau hanya penasaran. Aku akhirnya jadi penasaran
juga, siapa dia yang menyuruhmu mendekatiku?!?!”
Tekanan suara pada akhir kalimat membuatku
merinding. Ini bukan malam Jum’at tapi aku tiba-tiba merasa takut melihat sinar
matanya yang berkilat menahan amarah.
“Mengapa mas Rivan berpikiran seperti
itu? Aku tidak mengerti.”
“Jangan pura-pura! Aku tahu ada
seseorang yang menjadi alasan hingga kau mendekatiku. Iya, kan? Aku tahu. Kamu
hanya tinggal menjawab ya atau tidak.”
“Bukan begitu...”
“Jawab saja, ya atau tidak.” Mas Rivan
memotong ucapanku.
Aku tidak tahan di cecar dengan
pertanyaan. Kedua mataku telah basah dengan air mata.
“Kamu tidak menjawab, padahal tanpa
mendengar darimu, aku telah tahu siapa yang telah mengutusmu. Tolong katakan
pada wanita itu, jangan berusaha jadi malaikat karena dia juga manusia!”
Selesai berkata, mas Rivan kemudian berbalik lalu melangkah cepat
meninggalkanku. Aku hanya bisa menatap dirinya yang semakin jauh dengan air
mata berderai. Hatiku sakit sekali hingga tak memperdulikan para pejalan kaki.
Kuseka air mata setelah keterkejutanku sedikit hilang. Perlahan aku melangkah
ke pinggiran jalan kemudian menahan angkot trayek rumahku.
Sepanjang perjalanan aku tak bisa
menepiskan wajah mas Rivan yang penuh amarah. Ada apa dengan pemuda itu? Aku bahkan
berharap ini hanya mimpi. Mengapa sikapnya sangat aneh. Seperti bukan mas Rivan
yang biasa aku kenal.
(Bersambung)


0 komentar:
Posting Komentar