Jumat, 14 Juni 2013

Impian Dena # 17

0





Pagi yang dingin. Hujan rintik menyambutku saat aku buru-buru keluar dari rumah mas Damar. Saat berangkat tadi, hanya Ratna yang kulihat sibuk membersihkan ruangan. Gadis itu sekarang sangat ramah padaku. Mungkin dia benar-benar yakin jika aku adalah adik mas Damar. Aku tersenyum membalas sapaannya.

“Jika sempat, pulanglah cepat. Semalam mas mu mencarimu tapi kamu udah keburu tidur.”

Pesan mama sebelum aku keluar kamar.

Aku memang belum bertemu mas Damar dan mbak Mia sejak semalam. Ketika melintas di ruang tengah, aku berharap bertemu salah seorang di antara mereka. Tapi tampaknya itu hanya harapanku. Ruang tengah dan ruang tamu masih lengang. Aku tak bisa menunggu karena harus segera masuk kerja.

“Pagi Dena!” sapa Radit ketika aku tiba di tempat kerja. Suaranya mirip iklan yang biasa aku lihat.

“Pagi juga.” Balasku lalu meletakkan tas di lemari. Aku bergegas ke ruangan lain, mencari Farhan.

“Farhan nggak masuk hari ini, dia ijin sakit.” Kembali Radit yang bersuara mengagetkanku. Pemuda itu seperti tahu apa yang aku pikirkan.

“Kok bisa sakit? Kemarin dia baik-baik aja.” kataku.

“Namanya sakit ya nggak bisa di atur, neng! Gimana sih?” sahutnya sambil menepuk bahuku.

Aku kembali ke tempatku. Membuka laci meja dan mengeluarkan buku inventaris barang. Tanganku bergerak lamban seperti pikiranku yang mengembara, memikirkan Farhan. Kenapa dia bisa sakit? Sakit memang tidak bisa di tebak datangnya, tapi bukankah kemarin dia tampak sehat? Aneh? Dia sakit apa sebenarnya?

Aku coba mengirim sms tapi tidak ada balasan. Juga ketika aku menelpon, hape tidak di angkat. Aku makin cemas. Bukan kebiasaan Farhan tidak masuk kerja kalau hanya sakit biasa. Apakah sakitnya benar-benar parah?

“Jangan melamun terus, Dena. Nih, siapa yang mesan barang ini? Aku kan pesan yang lain?” lagi lagi Radit yang menegurku ketika aktivitas kerja sedang berlangsung.

“Jangan khawatir, Farhan tidak parah kok. Dia hanya sakit cinta hehehehhehe..”

“Apa? Sembarangan!” kataku sewot. Radit makin tertawa ngakak. Rupanya dia mengerjaiku membuatku kaget mengira telah salah mengirim barang ke bagian pemesanan. Padahal itu hanya akan-akalannya saja untuk menggodaku.

Perasaan cemas terus menghantuiku hingga jam makan siang. Aku terus mengirim sms dan mencoba menelpon saat ada kesempatan. Tapi tetap saja tak ada balasan dari Farhan. Mataku tak lepas menatap jam tangan, berharap waktu segera berlalu dan aku bisa segera ke rumah Farhan untuk menengoknya. Aneh, mengapa aku sangat gelisah memikirkan pemuda itu? Apakah rasa cemas yang hadir saat ini karena aku mencintainya? Ataukah murni karena dia seorang teman yang sangat baik padaku?

“Kata Radit, kamu terus mencariku, benar ya?” aku menoleh dari tumpukan barang di depanku. Suara yang sangat aku kenal. Seraut wajah menatap dengan matanya yang tersenyum. Aku mendadak tak bisa berkata-kata. Rasanya bahagia melihat Farhan tiba-tiba muncul di depanku. Aku menunduk. Aneh mengapa tiba-tiba aku merasa malu pada Farhan. Mungkin aku berusaha menyembunyikan rona bahagia yang tampak jelas di wajahku.

Farhan duduk di sebelahku.

“Benar yang Radit katakan?” Farhan menyentuh lenganku.

“Emang dia cerita apa?”

“Katanya kamu gelisah dengar aku sakit? apa benar seperti itu?”

“Aku khawatir karena kemarin kamu baik-baik aja trus aku sms kamu juga nggak balas, di telpon nggak di angkat. Aku pikir sakitmu parah.”

“Aku bahagia banget, ternyata ketidak hadiranku bisa membuatmu cemas juga hehehe..”

“Kenapa aku sms nggak di balas? Kamu kan bisa balas singkat aja biar aku nggak khawatir..”

Ku lirik Farhan yang tersenyum saja menatapku sementara terdengar siutan berkali-kali di sertai tawa dari teman-teman. Pasti itu ulah Radit yang berniat menggoda kami.

“Hahahaha aku sengaja. Senang aja lihat sms sama tepon kamu yang nongol terus di hapeku..”

Aku pura-pura cemberut.

“Kalo nggak sakit, ngapain jam segini kamu baru nongol? Perasaan kemarin kamu nggak lembur deh.”

“Aku ada tugas dari bos, bos nelpon semalam. Tadi pagi aku langsung kerjakan tugas itu, setelah kelar baru aku kesini.”

“Tugas apaan?”

“Adalah..namanya juga tugas..eehm..gimana perasaan kamu sekarang? Senang nggak liat aku nggak sakit?” suara Farhan sedikit pelan dan lembut.

“Liat kamu nggak sakit aku senang pastinya..”

“Trus apa jawaban kamu, aku udah nggak sabaran pengen dengar keputusan kamu.”

Aku terdiam.

“Tuh kan, giliran di tanya pasti nggak bisa jawab. Kamu suka aku apa nggak sih? Susah amat berpikirnya..” Farhan menyandarkan tubuhnya pada lemari besi.

“Sepertinya...sepertinya...” jawabku terbata.

Tubuh Farhan agak maju, menatap lekat wajahku.

“Sepertinya apa?”

“Sepertinya aku masih harus berpikir..”

Farhan mengeluh panjang.

“Kamu pikirin apa sih? Apa susahnya bilang ya atau tidak?”

“Karena aku mulai merasa menyukaimu..” Ucapanku  membuatku terkejut sendiri. Farhan memegang tanganku, menatap lekat wajahku. Pandangannya sangat lembut.

“Jadi? Jawabanmu ya atau tidak?”

“Mungkin ya..”

“Kok mungkin sih, yang tegas dong..”

“Iya..”

“Yesssss...” Farhan melompat kegirangan. Aku makin menyembunyikan diriku di antara deretan barang. Rasanya malu melihat tingkah Farhan yang melompat riang. Teman-teman yang menyaksikan tingkah Farhan tak dapat menahan tawa.

“Ok, aku ke ruanganku dulu ya, kamu nggak usah cemas lagi. Aku baik-baik aja kok.”

Farhan berdiri lalu melangkah menuju ruangannya. Aku melihatnya sambil tersenyum. Tiba-tiba dia berbalik melihatku. Posisiku yang tengah menatapnya tertangkap basah dan menghadirkan senyum di wajahnya. Aku buru-buru menunduk, rasanya malu ketahuan menatapnya. Melihat Farhan saat ini menghadirkan rasa bahagia dalam hatiku. Ada rasa rindu ingin melihatnya padahal aku baru saja bertemu dengannya.

Saat jam pulang kerja, aku sengaja menunggu Farhan di pinggiran jalan. Lama menunggu dia tidak muncul juga padahal biasanya selang beberapa menit setelah aku keluar, pasti dia akan muncul menawarkan tumpangan di motornya. Kemana dia? Apa ada tugas lagi dari bos? Pikirku.

Handphoneku berdering bunyi pesan. Dari Farhan.

Dena aku anterin Etha ya, mendadak keponakannya kecelakaan

Aku menatap layar hapeku. Membaca berulang-ulang pesan yang dikirim Farhan. Keponakan Etha kecelakaan? Lalu mengapa Farhan yang mengantarnya? Bukankah masih banyak teman kerja yang lain, yang juga memiliki kendaraan? bukan hanya Farhan seorang? Entah mengapa tiba-tiba hadir perasaan tidak suka dalam hatiku. Apa karena Etha yang di antar Farhan? Mantan kekasihnya? Apakah itu artinya aku cemburu pada Etha?

Aku termenung. Bingung dengan perasaanku sendiri hingga aku mengabaikan angkot yang lewat di depanku. Aku terus teringat pesan Farhan dan ucapan Etha padaku tempo hari yang masih mengharapkan Farhan menjadi kekasihnya. Ataukah, jangan-jangan ini taktik yang tengah dijalankan Etha agar bisa dekat dengan Farhan dan menjalin kembali hubungan mereka yang terputus?

Aku menyebut nama Allah berulang-ulang, tersadar dari pikiran khilafku. Mengapa aku tiba-tiba berpikiran buruk pada orang lain? Tidak seharusnya aku mencurigai Etha apalagi Farhan. Bagaimana seandainya aku dalam posisi seperti Etha dan kebetulan hanya Farhan yang bisa di mintai tolong? Mungkin hanya kebetulan saja mereka bersama apalagi Farhan tipe orang yang suka menolong. Dia tentu akan sigap saat melihat Etha mengalami masalah.

Akhirnya setelah pikiranku tenang, aku menahan angkot. Aku harus menyingkirkan pikiran buruk tentang Farhan. Masih banyak persoalan yang menantiku saat ini. Pulang ke rumah mengingatkanku pada rencana mas Damar yang berniat mengenalkanku pada rekan kerjanya. Ehm, seperti mengulang masa lalu saja. Semoga kali ini jika aku menolak, mas Damar tidak akan marah padaku.

***

Situasi yang sama aku temui lagi. Tadi pagi saat berangkat kerja, suasana rumah sangat lengang. Sekarang saat kembali dari tempat kerja, rumah mas Damar juga tetap lengang. Di dapur yang ku temui hanya Ratna dan seorang lagi pembantu mas Damar yang belum aku tahu namanya. Papa dan mama sepertinya betah di kamar. Keadaan papa yang membuatnya tak leluasa keluar dari kamar selain hanya duduk di teras kamar. Memandang situasi di luar dari lantai dua.

Sehabis mandi, aku berjalan-jalan mengitari ruangan demi ruangan di dalam rumah mas Damar. Keadaan mas Damar memang sangat berubah drastis. Mungkin itu sebabnya papa tidak ingin meninggalkan rumah ini.

“Keadaan papa tidak sama lagi seperti dulu, Dena..” terngiang ucapan mama malam itu.

“Biaya yang dikeluarkan papamu saat sakit sangat banyak dan itu bukan berhenti saat itu juga. Hingga sekarang papa harus rajin check up karena sebenarnya papamu masih sakit.”

“Tapi kenapa kita harus tinggal di rumah ini, ma? Rasanya tidak leluasa meski mas Damar saudara sendiri. Kenapa kita nggak beli rumah atau kontrak rumah aja, ma?”

“Sayang, papa dan mama tidak punya pilihan. Mas mu mungkin saja bisa membelikan kita rumah tapi papa dan mama sungkan untuk meminta. Sudah terlalu banyak pengorbanan mas mu. Mama tidak ingin banyak menuntut kecuali mas mu sendiri yang berniat membelikan rumah untuk kita.”

Apa yang dikatakan mama benar. Aku mungkin yang terkesan kurang bersyukur atas apa yang telah dilakukan mas Damar pada kami. Tapi tetap saja meski rumah ini sangat mewah, perasaan tidak nyaman terus menghinggapiku. Serasa ada yang kurang ataukah itu hanya perasaanku saja karena masih teringat dengan kejadian masa lalu? Semoga ini hanya trauma masa lalu yang menghadirkan rasa gelisah.

Adzan maghrib terdengar, aku tersadar dari lamunan dan beranjak dari teras samping. Nampak Ratna menyalakan lampu taman dan teras.

“Tuan sama nyonya udah pulang, ya mbak?” tanyaku. Dia menggeleng sambil tersenyum.

“Belum mbak, mungkin jam sembilan baru balik.”

Aku terus berjalan naik ke lantai dua dengan perasaan gamang. Orang-orang di rumah ini sangat sibuk dengan berbagai aktivitas. Mungkin hal yang biasa bagi mereka. Aku saja yang merasa aneh karena  baru saja bergabung dan belum terbiasa dengan kebiasaan mereka. Sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini. Andai bukan papa dan mama yang aku pikirkan, rasanya aku ingin kembali ke rumah Siska. Aku tidak mungkin memaksa papa dan mama. Mereka pasti sudah memikirkan keputusan untuk terus menetap di rumah mas Damar.

Selepas Isya, mbak Mia muncul di kamar papa.

“Assalamu Alaikum, ma, pa. Makan malamnya mau di anterin ke sini, ma?” tanya mbak Mia sambil mendekati mama.

“Dena makan di bawah aja, ya. Makan bareng. Kebetulan mas mu juga cepat pulang malam ini.”

“Anterin aja, Mia. Papamu nggak bisa turun, sekalian mama makan di sini juga. Biar Dena aja yang ke bawah.”

Aku mengikuti mbak Mia turun ke ruang makan.

“Mbak minta maaf baru ada kesempatan ngobrol sama kamu. Kemarin sibuk banget terima telpon. Eh, si Ratna nggak berani bicara kalau kamu yang ada di depan gerbang. Dia nunggu sampai mbak selesai. Dasar, bikin mbak kesal aja..”

“Nggak apa-apa, mbak. Dia baru lihat aku sih, wajar kalau hati-hati..”

Mbak Mia mengangguk sambil menepuk-nepuk bahuku.

“Yang penting sekarang kamu udah ada di sini. Papa dan mama nggak perlu khawatir lagi sama kamu. Janji ya, jangan pergi lagi..”

Kami tiba di ruang makan. Nampak mas Damar duduk bersama ke dua putrinya. Aku mendekati mas Damar, mencium tangannya.

“Nah, Viola dan Nayla, ayo salaman sama tante Dena.” Tegur mbak Mia pada kedua putrinya.

Kedua keponakanku itu tersenyum lalu mendekatiku. Kami bersalaman tak lupa mereka mencium tanganku. Aku terharu menerima perlakuan dari mereka. Benar-benar berbeda dari masa lalu. Sepertinya mas Damar dan keluarganya sudah berubah. Mungkin ini seperti yang pernah dikatakan mbak Mia kalau dia dan kedua putrinya merasa sungkan karena mengingat masa lalu. Awal pernikahan yang tidak mendapat restu dari mama dan papa membuatnya canggung berbaur dengan kami.



  ( Bersambung )



0 komentar:

Posting Komentar