Pagi yang dingin. Hujan rintik
menyambutku saat aku buru-buru keluar dari rumah mas Damar. Saat berangkat
tadi, hanya Ratna yang kulihat sibuk membersihkan ruangan. Gadis itu sekarang
sangat ramah padaku. Mungkin dia benar-benar yakin jika aku adalah adik mas
Damar. Aku tersenyum membalas sapaannya.
“Jika sempat, pulanglah cepat. Semalam
mas mu mencarimu tapi kamu udah keburu tidur.”
Pesan mama sebelum aku keluar kamar.
Aku memang belum bertemu mas Damar dan
mbak Mia sejak semalam. Ketika melintas di ruang tengah, aku berharap bertemu
salah seorang di antara mereka. Tapi tampaknya itu hanya harapanku. Ruang
tengah dan ruang tamu masih lengang. Aku tak bisa menunggu karena harus segera
masuk kerja.
“Pagi Dena!” sapa Radit ketika aku tiba
di tempat kerja. Suaranya mirip iklan yang biasa aku lihat.
“Pagi juga.” Balasku lalu meletakkan
tas di lemari. Aku bergegas ke ruangan lain, mencari Farhan.
“Farhan nggak masuk hari ini, dia ijin
sakit.” Kembali Radit yang bersuara mengagetkanku. Pemuda itu seperti tahu apa
yang aku pikirkan.
“Kok bisa sakit? Kemarin dia baik-baik
aja.” kataku.
“Namanya sakit ya nggak bisa di atur,
neng! Gimana sih?” sahutnya sambil menepuk bahuku.
Aku kembali ke tempatku. Membuka laci
meja dan mengeluarkan buku inventaris barang. Tanganku bergerak lamban seperti
pikiranku yang mengembara, memikirkan Farhan. Kenapa dia bisa sakit? Sakit
memang tidak bisa di tebak datangnya, tapi bukankah kemarin dia tampak sehat?
Aneh? Dia sakit apa sebenarnya?
Aku coba mengirim sms tapi tidak ada
balasan. Juga ketika aku menelpon, hape tidak di angkat. Aku makin cemas. Bukan
kebiasaan Farhan tidak masuk kerja kalau hanya sakit biasa. Apakah sakitnya
benar-benar parah?
“Jangan melamun terus, Dena. Nih,
siapa yang mesan barang ini? Aku kan pesan yang lain?” lagi lagi Radit yang
menegurku ketika aktivitas kerja sedang berlangsung.
“Jangan khawatir, Farhan tidak parah
kok. Dia hanya sakit cinta hehehehhehe..”
“Apa? Sembarangan!” kataku sewot.
Radit makin tertawa ngakak. Rupanya dia mengerjaiku membuatku kaget mengira
telah salah mengirim barang ke bagian pemesanan. Padahal itu hanya
akan-akalannya saja untuk menggodaku.
Perasaan cemas terus menghantuiku
hingga jam makan siang. Aku terus mengirim sms dan mencoba menelpon saat ada
kesempatan. Tapi tetap saja tak ada balasan dari Farhan. Mataku tak lepas
menatap jam tangan, berharap waktu segera berlalu dan aku bisa segera ke rumah
Farhan untuk menengoknya. Aneh, mengapa aku sangat gelisah memikirkan pemuda
itu? Apakah rasa cemas yang hadir saat ini karena aku mencintainya? Ataukah
murni karena dia seorang teman yang sangat baik padaku?
“Kata Radit, kamu terus mencariku,
benar ya?” aku menoleh dari tumpukan barang di depanku. Suara yang sangat aku
kenal. Seraut wajah menatap dengan matanya yang tersenyum. Aku mendadak tak
bisa berkata-kata. Rasanya bahagia melihat Farhan tiba-tiba muncul di depanku.
Aku menunduk. Aneh mengapa tiba-tiba aku merasa malu pada Farhan. Mungkin aku
berusaha menyembunyikan rona bahagia yang tampak jelas di wajahku.
Farhan duduk di sebelahku.
“Benar yang Radit katakan?” Farhan
menyentuh lenganku.
“Emang dia cerita apa?”
“Katanya kamu gelisah dengar aku
sakit? apa benar seperti itu?”
“Aku khawatir karena kemarin kamu
baik-baik aja trus aku sms kamu juga nggak balas, di telpon nggak di angkat. Aku
pikir sakitmu parah.”
“Aku bahagia banget, ternyata ketidak
hadiranku bisa membuatmu cemas juga hehehe..”
“Kenapa aku sms nggak di balas? Kamu
kan bisa balas singkat aja biar aku nggak khawatir..”
Ku lirik Farhan yang tersenyum saja
menatapku sementara terdengar siutan berkali-kali di sertai tawa dari
teman-teman. Pasti itu ulah Radit yang berniat menggoda kami.
“Hahahaha aku sengaja. Senang aja
lihat sms sama tepon kamu yang nongol terus di hapeku..”
Aku pura-pura cemberut.
“Kalo nggak sakit, ngapain jam segini
kamu baru nongol? Perasaan kemarin kamu nggak lembur deh.”
“Aku ada tugas dari bos, bos nelpon
semalam. Tadi pagi aku langsung kerjakan tugas itu, setelah kelar baru aku
kesini.”
“Tugas apaan?”
“Adalah..namanya juga
tugas..eehm..gimana perasaan kamu sekarang? Senang nggak liat aku nggak sakit?”
suara Farhan sedikit pelan dan lembut.
“Liat kamu nggak sakit aku senang
pastinya..”
“Trus apa jawaban kamu, aku udah nggak
sabaran pengen dengar keputusan kamu.”
Aku terdiam.
“Tuh kan, giliran di tanya pasti nggak
bisa jawab. Kamu suka aku apa nggak sih? Susah amat berpikirnya..” Farhan
menyandarkan tubuhnya pada lemari besi.
“Sepertinya...sepertinya...” jawabku
terbata.
Tubuh Farhan agak maju, menatap lekat
wajahku.
“Sepertinya apa?”
“Sepertinya aku masih harus berpikir..”
Farhan mengeluh panjang.
“Kamu pikirin apa sih? Apa susahnya
bilang ya atau tidak?”
“Karena aku mulai merasa menyukaimu..”
Ucapanku membuatku terkejut sendiri. Farhan memegang tanganku, menatap lekat
wajahku. Pandangannya sangat lembut.
“Jadi? Jawabanmu ya atau tidak?”
“Mungkin ya..”
“Kok mungkin sih, yang tegas dong..”
“Iya..”
“Yesssss...” Farhan melompat
kegirangan. Aku makin menyembunyikan diriku di antara deretan barang. Rasanya
malu melihat tingkah Farhan yang melompat riang. Teman-teman yang menyaksikan
tingkah Farhan tak dapat menahan tawa.
“Ok, aku ke ruanganku dulu ya, kamu
nggak usah cemas lagi. Aku baik-baik aja kok.”
Farhan berdiri lalu melangkah menuju
ruangannya. Aku melihatnya sambil tersenyum. Tiba-tiba dia berbalik melihatku. Posisiku
yang tengah menatapnya tertangkap basah dan menghadirkan senyum di wajahnya.
Aku buru-buru menunduk, rasanya malu ketahuan menatapnya. Melihat Farhan saat
ini menghadirkan rasa bahagia dalam hatiku. Ada rasa rindu ingin melihatnya
padahal aku baru saja bertemu dengannya.
Saat jam pulang kerja, aku sengaja
menunggu Farhan di pinggiran jalan. Lama menunggu dia tidak muncul juga padahal
biasanya selang beberapa menit setelah aku keluar, pasti dia akan muncul
menawarkan tumpangan di motornya. Kemana dia? Apa ada tugas lagi dari bos?
Pikirku.
Handphoneku berdering bunyi pesan.
Dari Farhan.
Dena aku anterin Etha ya, mendadak
keponakannya kecelakaan
Aku menatap layar hapeku. Membaca
berulang-ulang pesan yang dikirim Farhan. Keponakan Etha kecelakaan? Lalu
mengapa Farhan yang mengantarnya? Bukankah masih banyak teman kerja yang lain,
yang juga memiliki kendaraan? bukan hanya Farhan seorang? Entah mengapa
tiba-tiba hadir perasaan tidak suka dalam hatiku. Apa karena Etha yang di antar
Farhan? Mantan kekasihnya? Apakah itu artinya aku cemburu pada Etha?
Aku termenung. Bingung dengan
perasaanku sendiri hingga aku mengabaikan angkot yang lewat di depanku. Aku
terus teringat pesan Farhan dan ucapan Etha padaku tempo hari yang masih
mengharapkan Farhan menjadi kekasihnya. Ataukah, jangan-jangan ini taktik yang
tengah dijalankan Etha agar bisa dekat dengan Farhan dan menjalin kembali
hubungan mereka yang terputus?
Aku menyebut nama Allah
berulang-ulang, tersadar dari pikiran khilafku. Mengapa aku tiba-tiba
berpikiran buruk pada orang lain? Tidak seharusnya aku mencurigai Etha apalagi
Farhan. Bagaimana seandainya aku dalam posisi seperti Etha dan kebetulan hanya
Farhan yang bisa di mintai tolong? Mungkin hanya kebetulan saja mereka bersama
apalagi Farhan tipe orang yang suka menolong. Dia tentu akan sigap saat melihat
Etha mengalami masalah.
Akhirnya setelah pikiranku tenang, aku
menahan angkot. Aku harus menyingkirkan pikiran buruk tentang Farhan. Masih
banyak persoalan yang menantiku saat ini. Pulang ke rumah mengingatkanku pada
rencana mas Damar yang berniat mengenalkanku pada rekan kerjanya. Ehm, seperti
mengulang masa lalu saja. Semoga kali ini jika aku menolak, mas Damar tidak
akan marah padaku.
***
Situasi yang sama aku temui lagi. Tadi
pagi saat berangkat kerja, suasana rumah sangat lengang. Sekarang saat kembali
dari tempat kerja, rumah mas Damar juga tetap lengang. Di dapur yang ku temui
hanya Ratna dan seorang lagi pembantu mas Damar yang belum aku tahu namanya. Papa
dan mama sepertinya betah di kamar. Keadaan papa yang membuatnya tak leluasa
keluar dari kamar selain hanya duduk di teras kamar. Memandang situasi di luar
dari lantai dua.
Sehabis mandi, aku berjalan-jalan
mengitari ruangan demi ruangan di dalam rumah mas Damar. Keadaan mas Damar
memang sangat berubah drastis. Mungkin itu sebabnya papa tidak ingin
meninggalkan rumah ini.
“Keadaan papa tidak sama lagi seperti
dulu, Dena..” terngiang ucapan mama malam itu.
“Biaya yang dikeluarkan papamu saat
sakit sangat banyak dan itu bukan berhenti saat itu juga. Hingga sekarang papa
harus rajin check up karena sebenarnya papamu masih sakit.”
“Tapi kenapa kita harus tinggal di
rumah ini, ma? Rasanya tidak leluasa meski mas Damar saudara sendiri. Kenapa
kita nggak beli rumah atau kontrak rumah aja, ma?”
“Sayang, papa dan mama tidak punya
pilihan. Mas mu mungkin saja bisa membelikan kita rumah tapi papa dan mama
sungkan untuk meminta. Sudah terlalu banyak pengorbanan mas mu. Mama tidak
ingin banyak menuntut kecuali mas mu sendiri yang berniat membelikan rumah
untuk kita.”
Apa yang dikatakan mama benar. Aku
mungkin yang terkesan kurang bersyukur atas apa yang telah dilakukan mas Damar
pada kami. Tapi tetap saja meski rumah ini sangat mewah, perasaan tidak nyaman
terus menghinggapiku. Serasa ada yang kurang ataukah itu hanya perasaanku saja
karena masih teringat dengan kejadian masa lalu? Semoga ini hanya trauma masa
lalu yang menghadirkan rasa gelisah.
Adzan maghrib terdengar, aku tersadar
dari lamunan dan beranjak dari teras samping. Nampak Ratna menyalakan lampu
taman dan teras.
“Tuan sama nyonya udah pulang, ya
mbak?” tanyaku. Dia menggeleng sambil tersenyum.
“Belum mbak, mungkin jam sembilan baru
balik.”
Aku terus berjalan naik ke lantai dua
dengan perasaan gamang. Orang-orang di rumah ini sangat sibuk dengan berbagai
aktivitas. Mungkin hal yang biasa bagi mereka. Aku saja yang merasa aneh
karena baru saja bergabung dan belum
terbiasa dengan kebiasaan mereka. Sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini.
Andai bukan papa dan mama yang aku pikirkan, rasanya aku ingin kembali ke rumah
Siska. Aku tidak mungkin memaksa papa dan mama. Mereka pasti sudah memikirkan
keputusan untuk terus menetap di rumah mas Damar.
Selepas Isya, mbak Mia muncul di kamar
papa.
“Assalamu Alaikum, ma, pa. Makan
malamnya mau di anterin ke sini, ma?” tanya mbak Mia sambil mendekati mama.
“Dena makan di bawah aja, ya. Makan
bareng. Kebetulan mas mu juga cepat pulang malam ini.”
“Anterin aja, Mia. Papamu nggak bisa
turun, sekalian mama makan di sini juga. Biar Dena aja yang ke bawah.”
Aku mengikuti mbak Mia turun ke ruang
makan.
“Mbak minta maaf baru ada kesempatan
ngobrol sama kamu. Kemarin sibuk banget terima telpon. Eh, si Ratna nggak berani
bicara kalau kamu yang ada di depan gerbang. Dia nunggu sampai mbak selesai.
Dasar, bikin mbak kesal aja..”
“Nggak apa-apa, mbak. Dia baru lihat
aku sih, wajar kalau hati-hati..”
Mbak Mia mengangguk sambil
menepuk-nepuk bahuku.
“Yang penting sekarang kamu udah ada
di sini. Papa dan mama nggak perlu khawatir lagi sama kamu. Janji ya, jangan
pergi lagi..”
Kami tiba di ruang makan. Nampak mas
Damar duduk bersama ke dua putrinya. Aku mendekati mas Damar, mencium
tangannya.
“Nah, Viola dan Nayla, ayo salaman
sama tante Dena.” Tegur mbak Mia pada kedua putrinya.
Kedua keponakanku itu tersenyum lalu
mendekatiku. Kami bersalaman tak lupa mereka mencium tanganku. Aku terharu
menerima perlakuan dari mereka. Benar-benar berbeda dari masa lalu. Sepertinya
mas Damar dan keluarganya sudah berubah. Mungkin ini seperti yang pernah
dikatakan mbak Mia kalau dia dan kedua putrinya merasa sungkan karena mengingat
masa lalu. Awal pernikahan yang tidak mendapat restu dari mama dan papa
membuatnya canggung berbaur dengan kami.
( Bersambung )


0 komentar:
Posting Komentar