
Gubrak! Jingga jatuh pingsan persis di depan mata si kakak, Asih yang hanya bisa terpaku lalu memandang Inin.
“Aduh,
kang Inin! Liat-liat atuh kalo mau kabarin berita..” keluhnya sambil
berusaha mengangkat adiknya, Jingga. Inin masih terlihat bingung.
“Kang Inin! Kok berdiri aja, sih? Bantuin dong. Adikku ini kan badannya lumayan..”
Inin
lalu bergerak, berusaha memapah Jingga yang lunglai tak sadarkan diri.
Tubuhnya dibaringkan di kursi panjang. Asih lalu ke kamar mengambil
minyak kayu putih.
“Maaf,mbak Asih. Saya keburu panik soalnya..”
“Panik sih panik, tapi kalo ibu kades sampai koit, gimana? Kang Inin mau tanggung jawab?”
Inin tertunduk seolah menyesali tindakannya.
“Kang
Inin dapat kabar dari mana kalo Kembang mau melahirkan anak pak Kades?”
tanya Asih sambil mengoleskan minyak kayu putih di kening Jingga.
“Itu mbak, barusan kang El terima telpon dari neng Kembang, katanya nunggu melahirkan dulu baru bisa kembali ke Rangkat..”
“Jangan
sembarangan menyebarkan berita kalau belum tentu kebenarannya kang
Inin. Ini menyangkut kades Rangkat. Nama baiknya harus kita jaga. Kang
Inin selidiki dulu, cek dan ricek ke sumber yang bisa di percaya..”
“Baik, mbak Asih. Saya selidiki sampai tuntas kabar ini, biar nggak simpang siur.”
****
Beberapa hari kemudian Inin menemui Asih di kantor desa. Wajahnya tenang dan sangat menyakinkan.
“Kali
ini beritanya bukan sembarang berita, mbak Asih. Ini benar-benar nyata,
up to date, breaking news, kata orang..” Inin mulai bercuap-cuap.
“Apa beritanya?”
“Ini bukan sekedar berita tapi disertai dengan gambar sebagai pembuktian kalo tempo hari yang saya dengar itu bener adanya.”
“Iya,
beritanya apa?” Asih mulai tidak sabaran. Wajar dia ikut panik. Selama
beberapa hari menemani Jingga yang stress dan banjir air mata, dia juga
harus meredam pertengkaran dari pasangan suami istri itu yang setiap
saat bisa meledak karena Jingga terlanjur percaya dengan kabar yang
disampaikan Inin.
Inin membuka tas lalu mengeluarkan foto ukuran 10 R.
“Saya harap mbak Asih lega dengan berita yang saya sampaikan kali ini.”
“Apa beritanya?”
“Mbak Asih janji jika setelah ini, saya bisa ke rumah nengok neng Vianna ya?”
“Ih kang Inin, apa hubungannya? Kalo mau ketemu Vianna, datang aja. Gitu aja kok repot?”
Asih tersenyum geli mendengar syarat yang diajukan Inin.
Inin
terlihat lega lalu menyodorkan foto yang sejak tadi belum juga dia
perlihatkan pada Asih. Dengan cepat wakades Rangkat itu menyambar foto
yang membuatnya penasaran. Matanya membelalak kaget.
“Masya
Allah, jadi benar ya, Kembang udah melahirkan? Dan benar bayi itu anak
pak kades Ibay? adik iparku sendiri? suami dede Jingga? menantu ayah
Windu dan mas Yayok?”
Inin mengangguk membenarkan. Asih
seketika shock, tubuhnya bersandar pada sandaran kursi. Terbayang wajah
Jingga yang bakal murka jika melihat foto Ibay tengah menggendong bayi
sementara di sampingnya Kembang tersenyum sangat manis.
======================Silahkan dilanjutkan===========================



0 komentar:
Posting Komentar