“Ada apa, bun? Kok keliatannya lesu banget?”
Vianna
menyambut bundanya, Asih yang terlihat tak bersemangat. Biasanya
sepulang dari kantor desa, banyak kisah menarik yang bakal di dengar
Vianna dan Aya. Tapi kali ini tidak. Jangankan sepatah kata, sinar
kehidupan seolah hilang dari wajah bundanya.
Perempuan paruh baya itu berulang-ulang menghela nafas seperti hendak melepaskan beban yang menghimpit rongga dada.
“Bunda kesal banget, Anna.” Ungkap Asih akhirnya.
“Kenapa, bunda? Apa ada yang menyakiti bunda?”
“Bukan.
Bunda kesal dengan prilaku orang-orang yang datang ke desa kita.
Orang-orang yang ingin menarik simpati warga. Selama ini tidak ada yang
benar-benar peduli.”
“Siapa bunda?”
“Orang-orang
itu, yang hanya memanfaatkan suara warga untuk kepentingan mereka.
Setiap ada pilkada, pemilihan caleg, gubernur atau presiden, semuanya
seolah berebutan mengunjungi desa kita. Menawarkan janji-janji perbaikan
inilah, perbaikan itulah, gratis biaya ini, gratis biaya itu. Tapi
buktinya, jalan di desa kita yang tersentuh aspal, hanya beberapa ratus
meter, selebihnya swadaya warga. Dulu mas Hans bolak-balik ke propinsi
buat ngurus, sekarang mas Ibay juga. Sama aja hasilnya. Kita di minta
bersabar nunggu anggaran. Sabar sampai kapan? Tuh jalan aspal udah mulai
hancur lagi..”
Vianna terdiam. Niat untuk curhat pada
bunda tercinta urung dilakukannya. Dia sungkan menyela keluhan bundanya
tentang perbaikan desa, meski sesekali menimpali, dia lebih banyak hanya
mendengarkan saja.
****
Malam menyelimuti desa
Rangkat. Senyap datang bersama kabut dingin berhembus cepat dari
pegunungan. Gunung naras dalam kegelapan tampak kokoh di bawah temaram
sinar rembulan. Sesekali terdengar kentongan pertanda malam semakin
larut. Kehidupan seolah terhenti. Warga desa Rangkat terlelap merajut
mimpi dalam balutan rasa dingin.
Kecuali.....
Neng Vianna, akang minta maaf, tak bisa memejamkan mata, cemas menanti jawaban neng...
Vianna
berbalik membelakangi kakaknya, Aya yang sedang tertidur pulas. Pesan
sms dari Inin membuatnya gelisah. Bingung hendak memberikan jawaban.
Lama gadis itu berpikir sebelum akhirnya memencet tombol hape,
Aku masih bingung, kang. Bunda belum tahu hal ini, aku tidak ingin bunda salah paham...
Balasan sms dari Inin sangat cepat.
Akang hanya ingin tahu perasaan neng sama akang, bukan nanyain bunda Asih...
Tapi selama ini bunda mengira akang menyukai kak Aya, sama sepertiku...
Itu mah cuma pikiran neng Vianna saja.
Akang sabar ya, aku butuh waktu untuk memutuskan..
Berat
batin Vianna saat harus mengirim pesan yang terakhir namun tak ada
pilihan lain selain meminta Inin untuk menunggu. Vianna telah berusaha
untuk berbicara dari hati ke hati dengan bundanya tapi kesempatan itu
belum juga datang.
Sejak tiba dari kantor desa, Asih telah
disibukkan dengan kegiatan di rumah. Belum lagi tugas dari kantor yang
sengaja dikerjakan di rumah membuat Vianna sungkan untuk mengutarakan
permasalahan yang sekarang tengah dia alami. Mulutnya terkatup tiap kali
hendak berbicara atau ketika Asih menegur karena heran melihat putrinya
itu hanya terpaku menatapnya.
Vianna hanya bisa merenung
sendiri di teras hingga masuk ke kamar untuk tidur walau yang terjadi
tidak demikian. Dia hanya menatap langit-langit kamar hingga terdengar
bunyi kentongan sebanyak tiga kali. Gadis itu tersadar dan buru-buru
mematikan hape untuk selanjutnya memejamkan mata, mencoba untuk
menenangkan diri lalu tidur.
Sementara itu sayup-sayup
terdengar suara nyanyian dari pos ronda. Lirih. Kadang hilang berganti
suara jangkrik dan burung malam. Si pemilik suara itu kemudian
berbaring, menyandarkan kepala pada kedua tangannya. Tatapan matanya
menerawang menembus langit, menatap rembulan.
“Neng Vianna, kok hapenya di matiin. Akang nggak bisa tidur nih...”
=========================== Silahkan dilanjutkan ===============================
Untuk melihat postingan yang lain silahkan klik di https://www.facebook.com/groups/desarangkat/doc/529868297076747/


0 komentar:
Posting Komentar