Jumat, 07 Juni 2013

[ECR] Hati Yang Menunggu

0





“Ada apa, bun? Kok keliatannya lesu banget?”

Vianna menyambut bundanya, Asih yang terlihat tak bersemangat. Biasanya sepulang dari kantor desa, banyak kisah menarik yang bakal di dengar Vianna dan Aya. Tapi kali ini tidak. Jangankan sepatah kata, sinar kehidupan seolah hilang dari wajah bundanya.

Perempuan paruh baya itu berulang-ulang menghela nafas seperti hendak melepaskan beban yang menghimpit rongga dada.

“Bunda kesal banget, Anna.” Ungkap Asih akhirnya.

“Kenapa, bunda? Apa ada yang menyakiti bunda?”

“Bukan. Bunda kesal dengan prilaku orang-orang yang datang ke desa kita. Orang-orang yang ingin menarik simpati warga. Selama ini tidak ada yang benar-benar peduli.”

“Siapa bunda?”

“Orang-orang itu, yang hanya memanfaatkan suara warga untuk kepentingan mereka. Setiap ada pilkada, pemilihan caleg, gubernur atau presiden, semuanya seolah berebutan mengunjungi desa kita. Menawarkan janji-janji perbaikan inilah, perbaikan itulah, gratis biaya ini, gratis biaya itu. Tapi buktinya, jalan di desa kita yang tersentuh aspal, hanya beberapa ratus meter, selebihnya swadaya warga. Dulu mas Hans bolak-balik ke propinsi buat ngurus, sekarang mas Ibay juga. Sama aja hasilnya. Kita di minta bersabar nunggu anggaran. Sabar sampai kapan? Tuh jalan aspal udah mulai hancur lagi..”

Vianna terdiam. Niat untuk curhat pada bunda tercinta urung dilakukannya. Dia sungkan menyela keluhan bundanya tentang perbaikan desa, meski sesekali menimpali, dia lebih banyak hanya mendengarkan saja.

****
Malam menyelimuti desa Rangkat. Senyap datang bersama kabut dingin berhembus cepat dari pegunungan. Gunung naras dalam kegelapan tampak kokoh di bawah temaram sinar rembulan. Sesekali terdengar kentongan pertanda malam semakin larut. Kehidupan seolah terhenti. Warga desa Rangkat terlelap merajut  mimpi dalam balutan rasa dingin.

Kecuali.....

Neng Vianna, akang minta maaf, tak bisa memejamkan mata, cemas menanti jawaban neng...

Vianna berbalik membelakangi kakaknya, Aya yang sedang tertidur pulas. Pesan sms dari Inin membuatnya gelisah. Bingung hendak memberikan jawaban. Lama  gadis itu berpikir sebelum akhirnya memencet tombol hape,

Aku masih bingung, kang. Bunda  belum tahu hal ini, aku tidak ingin bunda salah paham...

Balasan sms dari Inin sangat cepat.

Akang hanya ingin tahu perasaan neng sama akang, bukan nanyain bunda Asih...

Tapi selama ini bunda mengira akang menyukai kak Aya, sama sepertiku...

Itu mah cuma pikiran neng Vianna saja.

Akang sabar ya, aku butuh waktu untuk memutuskan..

Berat batin Vianna saat harus mengirim pesan yang terakhir namun tak ada pilihan lain selain meminta Inin untuk menunggu. Vianna telah berusaha untuk berbicara dari hati ke hati dengan bundanya tapi kesempatan itu belum juga datang.

Sejak tiba dari kantor desa, Asih telah disibukkan dengan kegiatan di rumah. Belum lagi tugas dari kantor yang sengaja dikerjakan di rumah membuat Vianna sungkan untuk mengutarakan permasalahan yang sekarang tengah dia alami. Mulutnya terkatup tiap kali hendak berbicara atau ketika Asih menegur karena heran melihat putrinya itu hanya terpaku menatapnya.

Vianna hanya bisa merenung sendiri di teras hingga masuk ke kamar untuk tidur walau yang terjadi tidak demikian. Dia hanya menatap langit-langit kamar hingga terdengar bunyi kentongan sebanyak tiga kali. Gadis itu tersadar dan buru-buru mematikan hape untuk selanjutnya memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan diri lalu tidur.

Sementara itu sayup-sayup terdengar suara nyanyian dari pos ronda. Lirih. Kadang hilang berganti  suara jangkrik dan burung malam. Si pemilik suara itu kemudian berbaring, menyandarkan kepala pada kedua tangannya. Tatapan matanya menerawang menembus  langit, menatap rembulan.

“Neng Vianna, kok hapenya di matiin. Akang nggak bisa tidur nih...”

=========================== Silahkan dilanjutkan ===============================

Untuk melihat postingan yang lain silahkan klik di https://www.facebook.com/groups/desarangkat/doc/529868297076747/


0 komentar:

Posting Komentar