Hari berikutnya tetap saja sama. Dino tetap dengan kebiasaannya. Aku bahkan mulai bosan dan tak menangggapi lagi setiap dia menyapa. Kuanggap dia angin lalu, sesuatu yang tidak perlu aku anggap karena menurutku, sikapnya sangat merendahkanku. Perlakuannya membuatku merasa seperti anak kecil. Bukankah hanya anak kecil yang dipanggil dengan kata-kata gombal?
“Berapa lama perginya, Nilam?” tanya mama saat aku merapikan pakaian dalam koper. Aku menatap mama sekilas namun dengan cepat aku melihatnya kembali. Mama nampak pucat. Jaket lusuh kesukaannya menempel erat di tubuhnya. Kuletakkan pakaian lalu mendekati mama yang berdiri sempoyongan di pintu.
“Mama sakit? Kalo mama sakit, aku nggak usah pergi saja..” kataku cemas.
“Pergi saja, sayang. Penyakit mama ini biasa, ntar juga sembuh sendiri.” Mama mencoba tersenyum meski nampak terlalu dipaksakan.
Aku makin khawatir, bagaimana mungkin aku meninggalkan mama dalam kondisi sakit seperti ini?
“Katamu pelatihan itu sangat penting untuk promosi jabatan. Hanya kamu seorang yang di utus mewakili kantormu. Sebaiknya kamu pergi saja. Ini kesempatan baik anakku. Jangan kamu sia-siakan.”
Aku memeluk mama dengan mata berkaca-kaca. Mama selalu baik dan penuh pengertian, meski didera penyakit dia tetap tidak ingin kami merasa khawatir.
“Pergilah, toh kalo terjadi sesuatu sama mama, kamu bisa datang kapan saja. Tempatnya tidak jauh kan? Hanya beberapa kilo meter saja dari rumah kita.”
Aku mengangguk.
“Iya, ma. Janji ya ma, panggil aku jika terjadi sesuatu..” mama mengelus rambutku dengan penuh kasih. Aku balas mencium pipinya, pipi yang keriput dan tak lagi montok, namun aku selalu merindukan untuk bisa menciumnya.
***
Tempat pelatihan ternyata dipindahkan dari pusat kota ke daerah pinggiran yang lebih jauh. Saat panitia memberitahu kami, aku langsung shock. Aku cemas mengingat keadaan mama. Bagaimana aku bisa cepat pulang jika tempat pelatihan sangat jauh?
“Kamu kenapa, Nilam? Nggak bisa tidur ya?” tegur Viona, teman dari kabupaten lain. Aku mulai akrab saat proses perpindahan berlangsung. Bergantian aku dan dia saling mengawasi barang-barang kami.
Aku berbalik. Dalam kamar ini hanya kami berdua, dengan dua tempat tidur kecil. Dibanding tempat pelatihan sebelumnya, kamar di tempat ini lebih leluasa. Kami tidak perlu berdesak-desakan dalam satu kamar. Panitia mungkin salah perkiraan karena itu mereka segera mengubah lokasi pelatihan demi kenyamanan para peserta.
“Mamaku sakit. Aku khawatir banget..”
“Oh, ya. Aku turut prihatin. Kamu berdoa saja semoga sakit mamamu nggak parah.”
Aku mengangguk tapi tetap saja rasa khawatir itu ada.
Tapi ternyata kekhawatiranku tidak terjadi. Dua minggu menjalani pelatihan tak ada kabar dari rumah yang membuatku harus meninggalkan tempat pelatihan. Bahkan ketika aku bertemu dengan mama di rumah. Mama terlihat membaik meski tetap harus berbaring di tempat tidur.
Kupeluk mama dengan perasaan haru dan rindu. Ku usap keningnya dengan mataku yang basah.
“Jangan nangis sayang, mama nggak apa-apa kok. Nih, udah baikan..” ucap mama lalu menghapus bulir embun yang menetes di pipiku. Aku memeluk mama sambil menangis. Rasa bersalah membuatku enggan melepaskan pelukan. Aku benar-benar merasa bersalah karena sudah meninggalkan mama. Dilema yang tak bisa aku hindari.
“Jangan menangis lagi, mama udah baikan kok..”
Suara mama membuatku lega. Setidaknya wajah mama tidak lagi pucat seperti sebelumnya.
***
Pulang dari kantor, aku heran karena tidak seperti biasanya, Dino absen dari depan kamar kostnya. Biasanya dia ada di sana menyapaku, membuatku kesal tapi kok kali ini dia hilang? Aneh?. Lho kenapa aku sekarang mencarinya? Bukankah sebelumnya aku jengah dan kesal dengan semua bentuk perhatiaannya?
( Bersambung )


0 komentar:
Posting Komentar