=======================================================================
Malam telah larut, kedua putriku telah tertidur pulas. Hanya aku seorang yang masih duduk memeluk guling. Tubuhku diam bersandar namun pikiranku mengembara. Jauh ke ibu kota kecamatan, tempat restoran siap saji, dimana tadi aku bertemu dia, lelaki masa lalu.
Aku kaget dan gugup, tak percaya ketika dia menyapaku. Dia tersenyum lalu duduk di sebelahku. Kami kemudian berbincang. Ternyata dia masih mengingat kebersamaan kami yang dulu padahal semuanya telah lama berlalu.
Aku makin kagum padanya. Dia banyak berubah, semakin dewasa, semakin tampan dan menarik. Tapi aku hanya bisa mengagumi dalam hati. Statusku sebagai istri dan ibu dari dua putri membatasi diriku untuk sekedar mengingat masa lalu kami.
Masih terngiang dalam benakku, meski tersenyum namun sekilas aku merasa tatapannya sangat sedih saat kukenalkan kedua putriku. Entah mengapa. Aku juga sungkan untuk bertanya. Aku larut dalam kebahagiaan semu saat menyadari kebersamaan kami.
Meski sekejap, namun kehadirannya telah melengkapi kebahagiaan kami. Dia tiba-tiba hadir ketika kami benar-benar membutuhkan figur seorang ayah dan suami. Dia, lelaki masa lalu, entah kapan akan bertemu lagi. Semoga di tahun yang baru nanti, aku dan kedua anakku akan menemukan kebahagiaan yang nyata, saat lelaki yang sesungguhnya kami rindukan benar-benar kembali.
***
0 komentar:
Posting Komentar