Aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan rasa penasaran. Aku juga heran mengapa malah memikirkan anak itu. Tidak seharusnya aku memikirkan dia. Akhirnya aku membuang jauh-jauh pikiran tentangnya. Sekarang yang harus aku perhatikan adalah mama yang sedang sakit. Aku malah memikirkan Dino yang tidak peduli pada mama.
Kusingkap gorden pintu kamar dan pandanganku seketika beku. Nampak di depanku, Dino sedang menyuapi mama dengan sepiring bubur. Sejenak aku terpaku demi melihat perhatian Dino yang sangat sabar dan lembut pada mama. Mama sesekali tertawa dan tersenyum penuh kasih. Apakah penglihatanku tak salah. Benarkah dia adalah Dino?
Aku melangkah masuk sambil mengucapkan salam, kukecup kening mama. Dino nampak kaget melihatku. Dia meletakkan bubur lalu beranjak dari kursi kemudian berdiri menjauh. Aku lalu duduk di sisi pembaringan, kusentuh jemari mama.
“Mama udah baikan?” tanyaku sambil melihat sekilas bubur yang masih tersisa di atas meja. Sepengetahuanku, tadi pagi aku tidak membuat bubur ayam untuk mama, tapi yang aku lihat sekarang, bubur yang ada di piring di atas meja adalah bubur ayam. Namun keherananku kupendam saja.
“Iya, sayang. Tadi nak Dino memasakkan bubur ayam untuk mama, mama kepengen sekali makan bubur ayam. Ternyata nak Dino pintar masak..”
Tenggorokanku terasa tercekat. Aku ingin menoleh melihat Dino tapi leherku kurasakan kaku.
“Akh, tante bisa aja. Aku biasa lihat mama buatin kami bubur ayam, jadi ya kalo kangen sama mama, iseng-iseng aku buat sendiri. Lumayan untuk pengobat rindu..”
“Tapi bener kok, rasanya enak banget. Kamu coba deh, Nilam. Mama nggak nyangka, Dino pintar masak. Ternyata dia bisa masak yang lain juga. Sewaktu kamu pelatihan dua minggu, Dino yang merawat mama di sini. Buat macam-macam masakan untuk mama. Kalo nggak ada Dino yang telaten merawat mama, pasti mama udah masuk rumah sakit.”
Aku terperangah mendengar ucapan mama. Tanpa bisa menahan keterkejutanku, aku menoleh melihatnya. Di saat yang bersamaan, Dino ternyata tengah menatapku. Pandangan kami bertemu sesaat namun kemudian aku mengalihkan tatapanku pada mama. Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Meski hanya sekilas melihat mata Dino, pesan yang tersirat dari matanya membuat batinku tak tenang.
Dino kemudian pamit. Kini gantian aku yang menyuapi mama.
“Sebenarnya waktu mama sakit, mama pengen menghubungi kamu, tapi Dino melarang. Katanya, kasihan kalo harus ganggu kamu. Dino bilang dia udah biasa ngurus neneknya yang sakit sewaktu di kampung. Anak itu benar-benar baik, Nilam. Waktu mama lagi parah-parahnya dia nggak masuk kuliah loh selama seminggu. Bahkan dia gelar tikar di lantai biar bisa menemani mama di kamar ini.”
Aku terdiam mendengar ucapan mama. Pujian mama membuat pikiranku berkecamuk. Benarkah penilaianku selama ini tentang Dino? Ataukah aku yang tidak mengenalnya dengan baik lalu terlanjur menganggap sikapnya selama ini buruk?
Selepas Isya, Dino datang lagi menjenguk mama. Dia menyapaku saat aku keluar dari kamar mama. Nyaris tubuh kami bersentuhan andai Dino tidak buru-buru mundur. Kubalas sapaannya dengan senyuman lalu terus ke dapur. Sebenarnya niatku keluar kamar adalah untuk mengambil air minum untuk mama, namun kehadiran Dino membuatku urung kembali. Aku duduk di kursi makan, sambil melihat jarum jam dinding yang terus bergerak.
“Mbak Nilam!” suara Dino mengagetkanku. Aku menoleh.
“Tante mau minum..”
Aku tersadar, segera ku sorongkan mug yang tadi sudah kusiapkan untuk mama. Dino menerimanya lalu berbalik.
“Dino!” panggilku pelan sambil menatapnya.
“Ada apa, mbak?”
“Terima kasih sudah merawat mama, aku juga minta maaf jika sikapku selama ini kurang bersahabat..”
“Sama-sama mbak Nilam, tapi sikap mbak yang mana ya? Selama ini aku merasa mbak baik padaku, mbak selalu tersenyum ramah. Apanya yang kurang bersahabat?”
Aku grogi mendengar kata-kata Dino.
“Aku ngerti mbak sibuk dengan kerjaan, tentu saja tidak bisa seperti yang lain. Oh, ya aku ke kamar tante dulu, mbak.”
Dino meninggalkanku. Syukurlah dia segera pergi, andai dia masih bertahan, mungkin wajahku yang bersemu merah akan terlihat olehnya.
( Bersambung )


0 komentar:
Posting Komentar