Senin, 20 Agustus 2012

Impian Dena #10

0

 

Tiba di rumah sakit aku hanya berani berada di bawah pohon. Duduk di bangku kecil milik penjual bakso yang kebetulan mangkal di tempat tersebut. Aku takut untuk masuk ke dalam dan mencari tahu tentang papa. Bagaimana kalau tiba-tiba saja salah seorang kakakku muncul dan melihatku? Sikap mereka beberapa waktu yang lalu sudah menegaskan jika mereka tidak suka dengan kedatanganku.

“Dena?!” seseorang menepuk pundakku dari belakang membuatku berbalik. Mataku nyaris meloncat saking kagetnya melihat siapa yang menegurku. Mbak Mia!

“Mbak Mia?” rasanya kikuk berhadapan dengan seseorang yang selama ini kuanggap mengacuhkanku. Mbak Mia tersenyum tak nampak perasaan sungkan melihatku.

“Kenapa tidak masuk ke dalam? Sudah lama kamu duduk di sini?” tanyanya sambil menyentuh pundakku. Sikapnya membuatku nyaris tak percaya. Mbak Mia yang acuh bisa sedemikian akrab denganku?

“Lumayan lama, mbak.” Jawabku.

Mbak Mia menarik tanganku menuju koridor rumah sakit. Di sana ada deretan kursi untuk pengunjung hingga kami leluasa untuk duduk dan berbicara.

“Dena, mbak minta maaf atas sikap mas Damar padamu tempo hari. Mbak senang bisa ketemu kamu hari ini. Banyak hal yang perlu kita bicarakan untuk meluruskan masalah. Selama ini mbak ingin bicara denganmu tapi mas Damar melarang. Aku tahu dia marah padamu bukan karena benci tapi karena dia tidak sanggup untuk bersikap keras. Dia sayang padamu demikian juga dengan kakak-kakakmu yang lain. Kesalahan pahaman ini harus di selesaikan jika kita ingin papa segera sembuh. Papa tertekan batinnya karena sangat menyayangi kamu, Dena.”

Mataku mulai basah. Ku usap dengan jemariku. Ucapan mbak Mia membuatku terharu.

“Mbak minta maaf jika selama ini sikap mbak menurutmu kurang baik. Terus terang tidak ada maksud seperti itu. Dalam keluargamu, mbak ini hanya menantu. Meski mas Damar anak tertua bukan berarti mbak bisa bertindak tanpa persetujuan mas Damar. Apalagi kamu tahu, pernikahan kami dulu tidak direstui papa dan mama. Butuh waktu bagi mbak untuk menyesuaikan diri dan memahami keinginan papa dan mama.

Kita bertemu dalam rentang waktu yang sangat lama. Mbak tahu papa dan mama serta kamu mungkin merasa canggung. Demikian juga dengan mbak dan anak-anak. Mbak takut salah bersikap hingga papa dan mama makin membenarkan ketidak setujuannya akan pilihan mas Damar padaku. Situasi ini membuat kita saling canggung dan saling menarik diri untuk kenyamanan bersama.”

Aku menyimak tanpa sedikitpun bersuara.

“Soal keinginan mas Damar, papa dan mama untuk menjodohkan kamu dengan pilihan mereka sebenarnya itu atas saranku. Ini tidak ada kaitannya dengan bisnis mas Damar. Tapi sekarang kamu tidak perlu khawatir. Sejak kamu pergi dan menghilang, kami banyak memikirkan tentang keputusan tersebut. Akhirnya mas  Damar meminta masalah ini di tunda dulu hingga kita tenang dan bisa berpikir jernih.

Tapi papa terlanjur sedih. Papa merasa bersalah karena telah bermaksud menjodohkan kamu dengan seseorang tanpa persetujuanmu. Rasa bersalah membuat papa akhirnya jatuh sakit. Terlebih karena kamu adalah anak perempuan satu-satunya dan bungsu dalam keluarga. Kepergianmu untuk mencari hidup dan menjalani kehidupan diluar pengawasan papa membuat papa stress. Papa khawatir setiap kali menonton acara kriminal di tivi. Hingga akhirnya penyakit jantung papa kumat dan di rawat di rumah sakit ini.”

Mbak Mia merangkulku. Airmataku kembali menetes.

“Jika bertemu dengan mas Damar, kamu diam saja ya. Jangan membantah setiap ucapannya. Kakakmu itu sangat menyayangimu. Hanya pola pikir perempuan dan laki-laki itu berbeda. Apa yang menurut kita penting belum tentu penting bagi mereka. Hal yang berat bisa saja ringan dalam pandangan mereka. Kita perempuan mengandalkan rasa sementara laki-laki mengandalkan logika. Saat kamu mendengar ucapan kakakku, mbak yakin kamu akan paham dengan maksud dan tujuan kami padamu.”

“Iya, mbak. Saat ini aku ingin tahu keadaan mama dan papa. Terutama papa aku sangat ingin melihatnya.”

“Sekarang kamu bisa masuk dan melihat. Kamu jangan khawatir, mama juga baik-baik saja.”

“Mama ada di dalam juga?”

“Tidak. Mama istrahat di rumah. Mbak Leli yang kebetulan kebagian jaga hari ini.”

Mbak Mia menyebutkan nama salah seorang iparku. Mbak Leli adalah istri mas Darmo, kakakku yang ke tiga.

Kami berjalan beriringan menuju ruangan perawatan papa. Tidak seperti kedatanganku yang pertama kali, perasaanku tidak setegang dulu. Mungkin karena sudah mendengar langsung penjelasan dari mbak Mia tentang kesalahpahaman yang terjadi di antara kami.

Mbak Leli menyambutku dengan penuh haru. Dia memelukku sambil berlinang air mata. Sikap mereka berdua membuatku takjub. Apakah benar yang diucapkan mbak Mia padaku, jika mereka, menantu-menantu hanya ingin menunjukkan bakti mereka pada suami. Mereka tidak ingin memberi perhatian lebih karena tidak ingin terlibat masalah dengan suami mereka.

“Tadi papa terbangun kemudian tidur lagi. Bagaimana keadaanmu? maaf tempo hari mbak tidak bisa berbuat banyak.” Mbak Leli berbicara pelan. Dia berdiri di sampingku. Kami berdua menatap papa yang tertidur pulas sementara mbak Mia membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang.

“Nggak apa-apa, mbak. Mbak Mia sudah menceritakan semuanya. Bagaimana keadaan papa? Apa kata dokter?”

“Papa mulai membaik. Ini semua karena mas Damar mulai membicarakan dan meminta papa untuk tenang dan tidak mengkhawatirkan dirimu. Papa jadi tenang dan berangsur-angsur membaik. Mama juga sudah bisa tidur dengan nyenyak. Selama ini papa dan mama menganggap, kami mengabaikanmu hingga mereka cemas karena kamu perempuan dan berada bebas di luar tanpa pengawasan keluarga.”

“Syukurlah.”

Hapeku berdering membuatku pamit dan berlari keluar ruangan.

“Halo, Siska? Ada apa?” suara tangis Siska dari seberang mengagetkanku dan membuatku panik.

“Dena, kamu dimana? bisakah kita ketemu sekarang?”

Aku menutup telpon dan segera masuk ruangan. Setelah mohon pamit dan tak lupa mencium kening papa, aku meninggalkan rumah sakit. Sengaja kali ini aku naik taksi bukan angkot. Kondisi Siska yang histeris membuatku harus segera berada di rumahnya.

Tiba di rumah Siska, setengah berlari aku terus menuju kamarnya. Nampak Siska menangis di atas pembaringan. Dia memelukku begitu aku duduk di dekatnya. Sambil terisak dia hanya menyebut nama Kembara berulang-ulang.

“Kembara tadi datang kemari, dia meminta pernikahan kami di tunda.....” suara Siska terdengar putus asa. Aku juga shock mendengarnya meski aku tahu alasan di balik penundaan tersebut. Tak tahan air mataku ikut menetes.

“Apa alasannya, Sis?” Siska merenggangkan pelukannya. Kusentuh jemarinya dan menggenggamnya erat. Tangan Siska sangat dingin. Nampak kecemasan di wajahnya hingga dia tak sanggup untuk berbicara.

“Aku hamil, Dena..” air mata Siska deras mengalir.

“Dengan Kembara?” Siska menggeleng pelan. Tubuhnya bergetar menahan kesedihan.

“Bukan. Gilang..” Aku terperangah.

“Lalu mengapa kamu tidak minta Gilang untuk bertanggung jawab?”

“Bagaimana aku meminta pertanggung jawabannya. Dia malah meminta aku untuk mengugurkan kandunganku. Gilang mau bertanggung jawab setelah aku bersikeras ingin melahirkan anak ini. Tapi aku jadi berubah pikiran dan tidak mau bersuamikan dia. Bagaimana kelak rumah tangga kami jika dia jadi kepala rumah tangga?”

“Tapi dia kan pacarmu dan ayah dari bayimu? Sudah sepantasnya dia yang menikahimu?”

“Aku tidak mau, Dena. Aku baru tahu kalau dia ternyata temperamental dan suka memukul. Andai aku tidak bekerja dan punya penghasilan tentu dia sudah semena-mena padaku. Karena ingin modal usaha dia jadi berubah pikiran untuk menikahiku. Itulah mengapa aku menolaknya. Dia sama sekali tidak memikirkan aku dan bayi yang sedang aku kandung. Di kepalanya hanya bagaimana cara mendapatkan uang hingga harus barter dengan pertanggung jawaban. Padahal itu adalah kewajibannya tidak seharusnya dia mencampur adukkan dengan segala kepentingan. Aku sedang mengandung anaknya, bukannya kasihan malah memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan dari masalah ini.”

“Kamu sudah menjelaskan pada Kembara?”

“Iya. Tapi Kembara tidak bisa menerima alasanku. Aku paham dia pasti sulit menerima kenyataan ini. Aku hanya meminta belas kasihan darinya tapi dia malah marah. Menurutnya tidak sepantasnya aku memanfaatkan dia karena rasa cintanya padaku. Aku tidak tahu lagi harus membujuk dengan cara seperti apa. Dia pasti sangat kecewa..”

Siska menghapus air matanya.

“Seandainya ada yang bisa aku lakukan untukmu. Terus terang aku juga bingung. Aku tidak tahu jalan keluar seperti apa yang baik bagimu. Kamu tidak ingin menerima Gilang namun kita juga tak bisa memaksa Kembara untuk jadi suami dan ayah bagi anakmu. Kecuali dia dengan rela mengambil alih tanggung jawab Gilang karena alasan cinta tapi apakah dia bersedia?”

“Padahal rencana pernikahan kami sudah di ketahui keluarga.” Ucap Siska dengan air mata yang terus menetes.

Aku terdiam mendengar ucapan Siska. Dalam hati aku menyesali tindakannya. Seharusnya dia jujur pada Kembara bukan malah menyembunyikan dan menunggu hingga hari pernikahan. Kembara pasti terluka dan kecewa menerima kenyataan jika gadis yang di cintai dan dirindukannya bertahun-tahun ternyata malah memanfaatkan perasaan cintanya.

“Aku tidak tahu apakah Siska mencintaiku atau hanya mencari calon ayah untuk bayinya dan menyelamatkannya dari rasa malu..” suara Kembara terdengar dari seberang. Aku sengaja menelponnya malam ini untuk mendengar penjelasan darinya.

Suara Kembara terdengar lesu dan berat. Beberapa kali dia menghela nafas.

“Padahal aku sangat mencintainya, Dena. Tapi dia membuatku kecewa..”

“Alasan Siska, apakah itu tidak membuatmu tersentuh?”

“Entahlah. Saat ini aku bingung dan tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Menurutku ini bukan masalahku, ini masalah Siska dan Gilang. Aku tidak ada di dalamnya. Bagaimana seandainya aku tidak hadir dalam kehidupan Siska? Apakah dia masih menolak Gilang untuk bertanggung jawab? Itu belum tentu.

Apapun alasan Gilang, setidaknya dia mau bertanggung jawab. Kita hanya mendengar penjelasan dari Siska bukan dari Gilang. Aku mencintai Siska dan bersedia melakukan apapun untuknya tapi ini berbeda.

Apapun masalah mereka diatas semuanya ada bayi yang sedang di kandung Siska. Andai Gilang tidak ingin bertanggung jawab, aku bisa saja menerima Siska apapun keadaannya. Kalau aku tidak menarik diri saat ini, Siska akan terus mengabaikan keinginan Gilang. Padahal Gilang adalah ayah dari bayinya. Seharusnya dia memikirkan masa depan anaknya.”

Aku termenung mendengar ucapan Kembara. Penjelasannya membuatku tak mampu berbicara lebih jauh untuk membujuknya. Dia punya hak untuk membatalkan pernikahan dan alasannya masuk akal. Namun Siska sahabatku, aku tidak tega melihatnya dalam kesulitan seperti ini. Apa yang harus aku lakukan untuk membantunya?

( Bersambung )


0 komentar:

Posting Komentar