Minggu, 06 Mei 2012

[Tiga Wanita] Sebuah Keputusan # 3 #

0



gambar www.google.com

Aku masuk ke dalam kamar. Wajah Niar dan Jen sudah seperti kapas. Putih.Pucat. Mereka menarik selimut membungkus tubuh mereka hingga sebatas dada. Kulihat jam yang ada di atas meja rias. Sekarang sudah jam dua malam.

Besok kita keluar dari rumah ini. Aku bisa mati berdiri kalau tinggal lebih lama disini” ucap Niar sambil menatapku. Jen juga menatapku. Setelah mematikan lampu,aku naik ke tempat tidur. Aku ikut berbaring di samping mereka.

Tapi alasan kita ke pak lurah apa? Kita bilang rumah ini berhantu? Apa pak lurah tidak tersinggung nantinya. Pak lurah yang tawarkan kita rumah ini. Pasti beliau tidak enak hati kalau kita bilang di sini angker.” Kataku kemudian setelah aku memakai selimut. Jen menutup wajahnya dengan selimut.

Kita keluar saja, Hastin. Demi menjaga perasaan pak lurah kita harus rela ketakutan setiap saat? Setiap malam melihat hantu? “ Jen menimpali kata-kataku. Aku terdiam. Dua temanku menginginkan kami keluar dari rumah ini. Aku terpaksa mengikuti mereka. Tidak mungkin aku tinggal seorang diri disini. Tapi alasan apa yang nanti aku utarakan ke pak lurah? Setelah itu kami harus tinggal di mana? Rasanya belum hilang lelah saat kami pindah ke sini, sekarang kami harus keluar lagi dan mencari rumah baru.

*

Aku terbangun ke esokan paginya. Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela menyentuh selimutku. Aku bangun lalu duduk di pembaringan. Kulihat jam meja. Sudah jam delapan. Kami tidak shalat subuh! Kubangunkan Jen dan Niar.

Bangun! Jen! Niar! Sekarang jam delapan. Kita nggak sholat subuh, kita kesiangan?!” teriakku. Jen dan Niar tidak bergerak.

Aku lupa pasang alarm. Tadi malam kita juga ketakutan. Hari ini kita absen dulu. Aku masih ngantuk, Tin” suara Jen yang pelan dan agak parau karena baru bangun terdengar dari balik selimut yang menutupi wajahnya.

Kita harus cepat mandi, kita kan mau ketemu pak lurah” kata-kataku ternyata mujarab juga. Saat mendengar aku menyebut pak lurah, Jen dan Niar langsung membuka selimutnya.

Iya. Kita mau ke kelurahan” Jen bangun dan bergerak menuju meja rias. Dia menatap wajahnya lalu menjepit rambutnya dengan jepitan rambut. Aku turun perlahan dari tempat tidur lalu melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu. Kusingkap kain jendela. Sinar terang memenuhi ruang tamu setelah tadi agak gelap.

Setelah itu aku ke dapur. Melihat kondisi sekarang, rasanya tidak percaya kalau semalam kami melalui malam yang menyeramkan. Aku melihat kamar kosong itu. Rasa penasaran masih menari-nari dalam pikiranku. Pelan-pelan aku melangkah mendekati kamar itu. Tanpa jendela membuat ruangan ini terlihat gelap. Saat aku berdiri di depan pintu butuh beberapa detik agar aku bisa menyesuaikan pandangan mataku dari terang ke gelap. Didalam ternyata kosong. Aku melihat lebih seksama. Tak ada apa-apa didalam. Kenapa kamar ini terkesan angker?

Aku jadi lega. Ketakutan kami tidak beralasan. Mungkin karena terlalu takut membuat kami memikirkan hal-hal yang menyeramkan. Aku berbalik dengan senyum di wajahku. Teman-teman pasti tidak akan takut lagi kalau aku beritahu mereka yang sebenarnya. Baru saja hendak berbalik sebuah suara memanggilku.

Flo..kamukah itu nak?” aku bergidik. Suara itu persis di belakangku. Bukankah tadi tidak ada orang? Kenapa sekarang ada suara? Badanku merinding. Angin sepoi-sepoi tiba-tiba menyentuh kulitku. Hembusannya terasa seperti air es yang membuat bulu kuduk merinding.

Flo..?” Suara itu kembali memanggilku dengan nama yang lain. Aku takut. Tapi juga penasaran. Refleks aku berbalik dengan kesiapan mental untuk melihat apapun yang ada didepanku. Mataku sudah siap melihat yang mengerikan. Kurasakan mataku menjadi panas dan berair saat aku melihat sesuatu yang ada didepanku. Seorang wanita cantik. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya.Aku tahu yang aku hadapi bukan manusia karena dia masih bisa tersenyum saat lehernya tergantung di seutas tali yang terikat di balok kamar di bawah plafon yang sedikit terbuka.Wanita itu terus melambaikan tangannya memanggilku. Aku bertahan tak melangkah sedikitpun. Tanganku berpegangan di tembok pintu.

Flo..kemarilah…” wanita itu memanggilku lagi. Aku tahu aku tidak menggerakkan kakiku, tapi kenapa jarakku dengan wanita itu semakin lama semakin dekat? Aku melihat kesamping, tanganku tidak lagi berpegangan pada tembok pintu. Kenapa aku bisa bergerak? Aku ketakutan. Badanku bergetar karena gemetar. Wajah wanita itu juga jadi berubah. Semula dia terlihat cantik tapi sekarang wajahnya begitu menakutkan. Tengkorak wajahnya terlihat. Dia juga tidak lagi tersenyum.

Jangan kira kau bisa bebas setelah membunuh mami, Flo…hi..hi…hiii mami akan selalu melihatmu..hi..hi…hiii….” aku sekuat tenaga berusaha menahan gerakan tubuhku yang semakin dekat dengan wanita itu. Tapi tiba-tiba dia sudah menyentuh tanganku. Tubuhku kurasakan melayang ikut bersamanya. Aku melihat lantai kamar di bawah. Mengapa lantai itu terlihat jauh?. Wanita itu menarik tanganku dengan kuat. Hingga dalam sekejap aku sudah berhadapan dengan wajahnya.

Lihat wajah mami Flo…apa kamu senang? Mami tidak cantik lagi. Tentu pacar mami tidak akan tertarik lagi sama mami. Dia tentu akan memilihmu. Tapi mami tidak akan membiarkan kamu merebut pacar mami. Mami akan membuatmu sama dengan mami hi..hi..hii….”

Wanita itu tiba-tiba mencekik leherku. Aku tidak bisa melepaskan tangannya. Kurasakan leherku mulai terasa sakit karena tangannya sebagian berupa tengkorak. Lama-lama aku merasa sulit bernafas.

Lepaskan…lepaskan..aku..lepaskan….” wanita itu terus mencekikku. Aku terus memohon tapi dia tidak juga melepaskan tangannya. Dia malah tertawa dan tawanya terdengar lebih mengerikan.

Hastin..Hastin,,!” tiba-tiba aku mendengar suara memanggilku. Aku merasa mendapat kekuatan. Dengan segenap tenaga aku melepaskan tangan wanita itu. Dia terkejut dan sangat marah. Aku terjatuh ke lantai. Dia berteriak memanggilku tapi aku terus berlari keluar dari kamar. Masih kudengar suara tangisannya disertai tawa yang membuat bulu kuduk merinding.

Aku terus berlari.

Hastin!” seseorang menggerakkan badanku. Aku membuka mata. Nampak Jen dan Niar yang menatapku dengan cemas.

Kamu mimpi?” tanya Niar yang masih menatapku. Aku masih memulihkan kesadaranku. Rasanya tadi aku sedang berlari, kenapa tiba-tiba aku ada di tempat tidur?

Tin, kamu mimpi ya? Mimpi yang serem? Syukurlah kamu sudah bangun, kami kaget karena kamu berteriak-teriak.” Jen menyentuh lenganku.

Teriakanmu seperti alarm. Membangunkan kami untuk sholat Subuh.” Niar ikut berbicara.

Aku bangun dan duduk bersandar bantal.

Syukurlah cuma mimpi” gumamku. Tangan wanita itu masih terasa mencekik leherku. Mengapa aku bisa mimpi seperti itu? Apa karena aku terlalu memikirkan kamar kosong yang didekat dapur?ataukah itu semacam petunjuk agar aku memeriksa kamar itu? Aku lalu beringsut dan turun dari tempat tidur. Dengan sempoyongan aku berjalan mendekati pintu. Jen dan Niar mengikutiku tapi mereka tidak lagi memegang lenganku.

Kami bertiga jalan terpisah. Tak ada yang saling berpegangan. Saat sampai di dapur aku membuka pintu belakang. Niar dan Jen lebih dulu keluar. Aku berdiri beberapa saat menatap kamar kosong itu. Benarkah kamar itu menyimpan misteri? Kalau semua hanya mimpi, kenapa terlihat begitu nyata?. Kamar itu malah membuatku makin penasaran. Aku akan memeriksanya besok saat langit sudah terang. Sekarang aku mau sholat dulu. Rasanya lega mengetahui semua yang aku alami tadi hanya sebuah mimpi.

*

Matahari pagi bersinar dengan cerahnya. Aku bersiap hendak masuk kamar mandi sewaktu ujung mataku melihat sesuatu. Aku berbalik. Pandangan mataku tertuju ke atas tembok pembatas. Dibelakang tembok pembatas itu ada pohon kapuk. Di ranting pohon kapuk itu ada kain putih yang tersangkut. Kain itu menjuntai, bergerak perlahan seiring hembusan angin. Aku menuruni tangga teras belakang lalu berjalan mendekati tembok pembatas.

Apakah kain ini yang kami liat semalam? Kalau melihat benda putih yang melintas semalam memang ada kemiripian. Apa karena semalam cuaca gelap dan angin berhembus jadi terlihat kain ini seperti terbang? Kalau kain ini yang kami lihat semalam berarti satu misteri terpecahkan. Tapi suara kriik dan duk itu serta suara hiii itu berasal dari mana?

Hastin! Kamu liat apa?!” teriak Niar dari arah teras. Aku berbalik. Niar dan Jen sedang berdiri di teras. Aku berjalan mendekati mereka.

Liat apa?”

Bayangan putih yang kita liat semalam, aku curiga kain putih itu. Bentuknya mirip. Coba kalian perhatikan. Kita terlalu ketakutan semalam, jadi kita tidak melihat lagi dengan jelas kalau itu hanya sebuah kain” Niar dan Jen mengikuti arah telunjukku. Mereka memperhatikan kain itu.

Tapi suara itu? Asalnya dari mana?” Aku memandang mereka bergantian.

Entahlah. Aku merasa kalau suara yang kita dengar juga mungkin bukan berasal dari hal-hal yang menakutkan” Aku melangkah ke kamar mandi. Hari ini kami berencana ke kantor lurah. Kami akan bermohon lagi untuk pindah. Aku masih bingung memikirkan alasan kami pindah. Semoga pak lurah memberikan solusi untuk memecahkan masalah kami. Tapi apakah pak lurah akan percaya kalau kami katakan tentang rumah yang angker? Tapi benarkah rumah ini angker? Kain itu sudah jadi  bukti kalau kami salah melihat benda putih yang terbang. Bagaimana dengan mimpiku? Apakah itu bisa jadi alasan kalau rumah ini angker? Apakah keputusan kami tidak terlalu terburu-buru?*******

Bersambung…..   5  6   8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  26  27  28 29


0 komentar:

Posting Komentar