Aku
masuk ke dalam kamar. Wajah Niar dan Jen sudah seperti kapas.
Putih.Pucat. Mereka menarik selimut membungkus tubuh mereka hingga
sebatas dada. Kulihat jam yang ada di atas meja rias. Sekarang sudah jam
dua malam.
“ Besok
kita keluar dari rumah ini. Aku bisa mati berdiri kalau tinggal lebih
lama disini” ucap Niar sambil menatapku. Jen juga menatapku. Setelah
mematikan lampu,aku naik ke tempat tidur. Aku ikut berbaring di samping
mereka.
“ Tapi
alasan kita ke pak lurah apa? Kita bilang rumah ini berhantu? Apa pak
lurah tidak tersinggung nantinya. Pak lurah yang tawarkan kita rumah
ini. Pasti beliau tidak enak hati kalau kita bilang di sini angker.”
Kataku kemudian setelah aku memakai selimut. Jen menutup wajahnya dengan
selimut.
“ Kita
keluar saja, Hastin. Demi menjaga perasaan pak lurah kita harus rela
ketakutan setiap saat? Setiap malam melihat hantu? “ Jen menimpali
kata-kataku. Aku terdiam. Dua temanku menginginkan kami keluar dari
rumah ini. Aku terpaksa mengikuti mereka. Tidak mungkin aku tinggal
seorang diri disini. Tapi alasan apa yang nanti aku utarakan ke pak
lurah? Setelah itu kami harus tinggal di mana? Rasanya belum hilang
lelah saat kami pindah ke sini, sekarang kami harus keluar lagi dan
mencari rumah baru.
*
Aku
terbangun ke esokan paginya. Sinar matahari masuk melalui celah-celah
jendela menyentuh selimutku. Aku bangun lalu duduk di pembaringan.
Kulihat jam meja. Sudah jam delapan. Kami tidak shalat subuh!
Kubangunkan Jen dan Niar.
“ Bangun! Jen! Niar! Sekarang jam delapan. Kita nggak sholat subuh, kita kesiangan?!” teriakku. Jen dan Niar tidak bergerak.
“ Aku
lupa pasang alarm. Tadi malam kita juga ketakutan. Hari ini kita absen
dulu. Aku masih ngantuk, Tin” suara Jen yang pelan dan agak parau karena
baru bangun terdengar dari balik selimut yang menutupi wajahnya.
“ Kita
harus cepat mandi, kita kan mau ketemu pak lurah” kata-kataku ternyata
mujarab juga. Saat mendengar aku menyebut pak lurah, Jen dan Niar
langsung membuka selimutnya.
“ Iya.
Kita mau ke kelurahan” Jen bangun dan bergerak menuju meja rias. Dia
menatap wajahnya lalu menjepit rambutnya dengan jepitan rambut. Aku
turun perlahan dari tempat tidur lalu melangkah keluar dari kamar menuju
ruang tamu. Kusingkap kain jendela. Sinar terang memenuhi ruang tamu
setelah tadi agak gelap.
Setelah
itu aku ke dapur. Melihat kondisi sekarang, rasanya tidak percaya kalau
semalam kami melalui malam yang menyeramkan. Aku melihat kamar kosong
itu. Rasa penasaran masih menari-nari dalam pikiranku. Pelan-pelan aku
melangkah mendekati kamar itu. Tanpa jendela membuat ruangan ini
terlihat gelap. Saat aku berdiri di depan pintu butuh beberapa detik
agar aku bisa menyesuaikan pandangan mataku dari terang ke gelap.
Didalam ternyata kosong. Aku melihat lebih seksama. Tak ada apa-apa
didalam. Kenapa kamar ini terkesan angker?
Aku
jadi lega. Ketakutan kami tidak beralasan. Mungkin karena terlalu takut
membuat kami memikirkan hal-hal yang menyeramkan. Aku berbalik dengan
senyum di wajahku. Teman-teman pasti tidak akan takut lagi kalau aku
beritahu mereka yang sebenarnya. Baru saja hendak berbalik sebuah suara
memanggilku.
“ Flo..kamukah
itu nak?” aku bergidik. Suara itu persis di belakangku. Bukankah tadi
tidak ada orang? Kenapa sekarang ada suara? Badanku merinding. Angin
sepoi-sepoi tiba-tiba menyentuh kulitku. Hembusannya terasa seperti air
es yang membuat bulu kuduk merinding.
“ Flo..?”
Suara itu kembali memanggilku dengan nama yang lain. Aku takut. Tapi
juga penasaran. Refleks aku berbalik dengan kesiapan mental untuk
melihat apapun yang ada didepanku. Mataku sudah siap melihat yang
mengerikan. Kurasakan mataku menjadi panas dan berair saat aku melihat
sesuatu yang ada didepanku. Seorang wanita cantik. Dia tersenyum sambil
melambaikan tangannya.Aku tahu yang aku hadapi bukan manusia karena dia
masih bisa tersenyum saat lehernya tergantung di seutas tali yang
terikat di balok kamar di bawah plafon yang sedikit terbuka.Wanita itu
terus melambaikan tangannya memanggilku. Aku bertahan tak melangkah
sedikitpun. Tanganku berpegangan di tembok pintu.
“ Flo..kemarilah…”
wanita itu memanggilku lagi. Aku tahu aku tidak menggerakkan kakiku,
tapi kenapa jarakku dengan wanita itu semakin lama semakin dekat? Aku
melihat kesamping, tanganku tidak lagi berpegangan pada tembok pintu.
Kenapa aku bisa bergerak? Aku ketakutan. Badanku bergetar karena
gemetar. Wajah wanita itu juga jadi berubah. Semula dia terlihat cantik
tapi sekarang wajahnya begitu menakutkan. Tengkorak wajahnya terlihat.
Dia juga tidak lagi tersenyum.
“ Jangan
kira kau bisa bebas setelah membunuh mami, Flo…hi..hi…hiii mami akan
selalu melihatmu..hi..hi…hiii….” aku sekuat tenaga berusaha menahan
gerakan tubuhku yang semakin dekat dengan wanita itu. Tapi tiba-tiba dia
sudah menyentuh tanganku. Tubuhku kurasakan melayang ikut bersamanya.
Aku melihat lantai kamar di bawah. Mengapa lantai itu terlihat jauh?.
Wanita itu menarik tanganku dengan kuat. Hingga dalam sekejap aku sudah
berhadapan dengan wajahnya.
“ Lihat
wajah mami Flo…apa kamu senang? Mami tidak cantik lagi. Tentu pacar
mami tidak akan tertarik lagi sama mami. Dia tentu akan memilihmu. Tapi
mami tidak akan membiarkan kamu merebut pacar mami. Mami akan membuatmu
sama dengan mami hi..hi..hii….”
Wanita
itu tiba-tiba mencekik leherku. Aku tidak bisa melepaskan tangannya.
Kurasakan leherku mulai terasa sakit karena tangannya sebagian berupa
tengkorak. Lama-lama aku merasa sulit bernafas.
“ Lepaskan…lepaskan..aku..lepaskan….”
wanita itu terus mencekikku. Aku terus memohon tapi dia tidak juga
melepaskan tangannya. Dia malah tertawa dan tawanya terdengar lebih
mengerikan.
“ Hastin..Hastin,,!”
tiba-tiba aku mendengar suara memanggilku. Aku merasa mendapat
kekuatan. Dengan segenap tenaga aku melepaskan tangan wanita itu. Dia
terkejut dan sangat marah. Aku terjatuh ke lantai. Dia berteriak
memanggilku tapi aku terus berlari keluar dari kamar. Masih kudengar
suara tangisannya disertai tawa yang membuat bulu kuduk merinding.
Aku terus berlari.
“ Hastin!” seseorang menggerakkan badanku. Aku membuka mata. Nampak Jen dan Niar yang menatapku dengan cemas.
“ Kamu
mimpi?” tanya Niar yang masih menatapku. Aku masih memulihkan
kesadaranku. Rasanya tadi aku sedang berlari, kenapa tiba-tiba aku ada
di tempat tidur?
“ Tin,
kamu mimpi ya? Mimpi yang serem? Syukurlah kamu sudah bangun, kami
kaget karena kamu berteriak-teriak.” Jen menyentuh lenganku.
“ Teriakanmu seperti alarm. Membangunkan kami untuk sholat Subuh.” Niar ikut berbicara.
Aku bangun dan duduk bersandar bantal.
“ Syukurlah
cuma mimpi” gumamku. Tangan wanita itu masih terasa mencekik leherku.
Mengapa aku bisa mimpi seperti itu? Apa karena aku terlalu memikirkan
kamar kosong yang didekat dapur?ataukah itu semacam petunjuk agar aku
memeriksa kamar itu? Aku lalu beringsut dan turun dari tempat tidur.
Dengan sempoyongan aku berjalan mendekati pintu. Jen dan Niar
mengikutiku tapi mereka tidak lagi memegang lenganku.
Kami
bertiga jalan terpisah. Tak ada yang saling berpegangan. Saat sampai di
dapur aku membuka pintu belakang. Niar dan Jen lebih dulu keluar. Aku
berdiri beberapa saat menatap kamar kosong itu. Benarkah kamar itu
menyimpan misteri? Kalau semua hanya mimpi, kenapa terlihat begitu
nyata?. Kamar itu malah membuatku makin penasaran. Aku akan memeriksanya
besok saat langit sudah terang. Sekarang aku mau sholat dulu. Rasanya
lega mengetahui semua yang aku alami tadi hanya sebuah mimpi.
*
Matahari
pagi bersinar dengan cerahnya. Aku bersiap hendak masuk kamar mandi
sewaktu ujung mataku melihat sesuatu. Aku berbalik. Pandangan mataku
tertuju ke atas tembok pembatas. Dibelakang tembok pembatas itu ada
pohon kapuk. Di ranting pohon kapuk itu ada kain putih yang tersangkut.
Kain itu menjuntai, bergerak perlahan seiring hembusan angin. Aku
menuruni tangga teras belakang lalu berjalan mendekati tembok pembatas.
Apakah
kain ini yang kami liat semalam? Kalau melihat benda putih yang
melintas semalam memang ada kemiripian. Apa karena semalam cuaca gelap
dan angin berhembus jadi terlihat kain ini seperti terbang? Kalau kain
ini yang kami lihat semalam berarti satu misteri terpecahkan. Tapi suara
kriik dan duk itu serta suara hiii itu berasal dari mana?
“ Hastin!
Kamu liat apa?!” teriak Niar dari arah teras. Aku berbalik. Niar dan
Jen sedang berdiri di teras. Aku berjalan mendekati mereka.
“ Liat apa?”
“ Bayangan
putih yang kita liat semalam, aku curiga kain putih itu. Bentuknya
mirip. Coba kalian perhatikan. Kita terlalu ketakutan semalam, jadi kita
tidak melihat lagi dengan jelas kalau itu hanya sebuah kain” Niar dan
Jen mengikuti arah telunjukku. Mereka memperhatikan kain itu.
“ Tapi suara itu? Asalnya dari mana?” Aku memandang mereka bergantian.
“ Entahlah.
Aku merasa kalau suara yang kita dengar juga mungkin bukan berasal dari
hal-hal yang menakutkan” Aku melangkah ke kamar mandi. Hari ini kami
berencana ke kantor lurah. Kami akan bermohon lagi untuk pindah. Aku
masih bingung memikirkan alasan kami pindah. Semoga pak lurah memberikan
solusi untuk memecahkan masalah kami. Tapi apakah pak lurah akan
percaya kalau kami katakan tentang rumah yang angker? Tapi benarkah
rumah ini angker? Kain itu sudah jadi bukti kalau kami salah melihat
benda putih yang terbang. Bagaimana dengan mimpiku? Apakah itu bisa jadi
alasan kalau rumah ini angker? Apakah keputusan kami tidak terlalu
terburu-buru?*******
0 komentar:
Posting Komentar