Malam, bukan malam Jumat. Baru juga jam
sembilan. Tapi sejak tadi di angkot hidungku terus mencium aroma
kemboja. Meski gelisah, pikiranku tidak mengarah ke hal-hal yang
menakutkan.
Aroma kemboja kian menyengat namun
kulihat semua penumpang bersikap biasa saja. Tenang dan tidak
terpengaruh dengan aroma tersebut.
“ Mungkin saja bunga Kemboja sedang mekar..” batinku menghibur diri.
Satu persatu penumpang turun. Kini aku hanya berdua dengan sopir di depan.
“ Stop, pak!” teriakku menghentikan kendaraan. Aku turun dan membayar ongkos angkot.
“ Kok cuma segini, mbak?” tanya sopir.
“ Bayar angkot kan memang segitu?” kataku bingung.
“ Lho, mbak kan turun berdua dengan nenek yang tadi..”
Aku terperangah. Berdua? Bukankah aku penumpang terakhir? Aku sendiri saja. Mengapa ada nenek-nenek yang turun bersamaku?
Aku teringat wangi Kemboja. Buku kudukku merinding. Segera ku bayar ongkos angkot lalu berlari pulang ke rumah.
Aku baru tenang setelah tiba di dalam
rumah. Malam yang menyeramkan. Ternyata ada makhluk halus bersamaku di
atas angkot. Aku makin gemetar. Kuteguk air minum untuk menenangkan
diri.
Tiba-tiba aku mencium wangi kemboja!
====
0 komentar:
Posting Komentar