Senin, 07 Mei 2012

[Tiga Wanita] Catatan Dalam Handphone #8#

0



gambar www.google.com



Niar menepuk pundakku. Tadi untuk sesaat aku memandangi mereka kemudian aku berbalik tapi tetap berdiri di teras. Pikiranku berkecamuk. Entah harus memulai darimana. Memberitahu kedua temanku apakah tidak akan menimbulkan kepanikan? Bagaimana aku mengetahui maksud dari mas Idham kalau keadaan lebih dulu heboh.

“ Aku menemani pak Suwandi antar undangan, Jen bareng pak Salim. Kamu bagaimana?” tanya Niar. Aku diam. Tidak tahu mau memberikan jawaban seperti apa. Saat ini yang ada dalam kepalaku bukan lagi urusan undangan. Aku memikirkan mas Idham. Dimana dia sekarang?

“ Kalian yang berangkat. Aku mau pulang dulu” kataku lalu melangkah meninggalkan mereka.

“ Tin, ntar aku sms tempat kita kumpul!” teriak Jen. Aku mengangguk lalu berjalan tergesa menuju jalan raya. Aku menahan angkot. Aku tidak ingin Jen dan Niar tahu ketakutanku. Aku ingin secepatnya tiba di rumah. Entah mengapa perasaanku tidak tenang sejak aku tahu mas Idham sudah dipecat. Untunglah laju angkot ini lumayan cepat hingga aku cepat tiba dirumah.

Begitu turun dari angkot, aku berlari melewati halaman. Tiba diteras ku rogoh tasku untuk mencari kunci rumah. Agak lama karena kunci itu terselip di dalam tas bersama dengan benda-benda yang lain.

Tapi aneh saat aku memasukkan kunci kelubangnya ternyata pintu tidak terkunci. Aku mencoba mengingat apakah tadi pagi aku lupa mengunci pintu? Tapi aku yakin sudah mengunci pintu. Aku masih ingat dengan jelas. Lalu mengapa pintu ini tidak terkunci?

Kusentuh gagang pintu, kugerakkan. Pintu terbuka perlahan. Mataku langsung mengitari ruangan. Kupastikan tak ada barang-barang yang hilang. Aku melangkah cepat menuju kamar. Kuperiksa laci meja, kubuka lemari. Barang-barang kami aman. Aku bernafas lega.

Aku keluar dari kamar. Tujuanku adalah kamar mas Idham. Walau terganggu dengan berita tentangnya tapi tetap saja aku khawatir. Aku harus memeriksa kamarnya. Tanpa ragu aku membuka pintu kamarnya. Tak banyak barang yang mas Idham bawa. Tapi aku tetap harus memastikan kalau semua barang-barangnya aman. Kembali aku lega karena barang-barang mas Idham terlihat rapi.

Aku keluar dari kamar mas Idham dengan kelegaan yang sama saat aku keluar dari kamarku. Tapi saat aku hendak menutup pintu kembali. Terdengar bunyi dering handphone. Entah dari mana asalnya tapi terdengar begitu dekat. Aku tidak memeriksa tasku karena aku tahu nada dering handphoneku. Ini terdengar beda. Lalu suara handphone siapa? Suaranya terdengar berasal dari dalam rumah. Sangat dekat. Aku fokus mendengarkan suara handphone itu. Suaranya tidak berhenti. Terus berdering memecah kesunyian rumah.

Aku melangkah ke dapur. Suara dering handphone itu makin jelas. Aku ikuti. Ternyata suara itu berasal dari kamar kosong dekat dapur. Makin dekat makin jelas terdengar. Aku menyalakan lampu dapur agar sinarnya bisa menerangi kamar itu walau hanya sebatas pintu kamar. Aku melangkah menuju kamar kosong lalu berdiri di tengah pintu.

Mataku kutajamkan memandang kedalam. Suara handphone itu belum berhenti. Tidak sulit mencarinya karena handphone itu memancarkan sinar. Aku mendekati handphone itu dengan debar jantung berpacu cepat. Bulu kudukku merinding. Ini adalah kamar yang menurutku seram tapi terpaksa aku harus masuk. Handphone itu tergeletak di lantai. Aku bertanya-tanya siap pemilik handphone ini. Kenapa bisa dia melupakan handphonenya.?Yang juga membuatku heran. Kenapa dia tidak mencarinya? Handphone itu bergetar dalam genggamanku. Dengan cepat aku melangkah keluar dari kamar kosong. Aku terus menuju ruang tamu. Rasanya aku tidak bernafas berada dikamar kosong itu sendirian. Seperti ada yang mencekik leherku. Entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku saja karena pernah bermimpi seram tentang kamar itu.

Tiba diruang tamu kuperhatikan layar handphone itu. Aneh. Kenapa layarnya terlihat tulisan Calling Idham. Handphone ini milik siapa? Kutekan tombol hijau untuk menerima. Kudekatkan di telingaku.

“ Hallo..hallo siapa ini? Tolong jangan matikan handphonenya. Itu handphone saya. Beritahu posisi kamu dimana? Kalau kamu bersedia mengembalikan handphone itu, saya akan beri kamu uang berapapun yang kamu minta. Anggap sebagai ucapan terima kasih dari saya. Tolong kembalikan handphone saya. Hallo ..halo..”

Aku menekan tombol merah. Ternyata handphone ini milik mas Idham. Suara yang baru saja menelpon adalah suara mas Idham. Kenapa handphone ini bisa tertinggal di kamar itu? Mungkin semalam mas Idham tidak sengaja menjatuhkannya lalu sekarang mencarinya seolah handphone itu terjatuh di luar rumah. Tapi aneh. Kalau melihat handphone ini. Harganya mungkin kisaran tiga jutaan. Tapi kenapa mas Idham akan memberikan hadiah sesuai permintaan si penemu, berapapun jumlah yang diminta. Aku sering mendengar orang kehilangan handphone. Satu hal yang seringkali mereka sesalkan adalah nomor mereka sudah diketahui banyak orang. Mereka juga kehilangan nomor teman-teman atau orang yang mereka kenal. Katanya itu tidak bisa dinilai dengan uang. Apa karena itu mas Idham mau memberikan hadiah yang lebih untuk orang yang menemukan handphonenya?

Aku duduk di sofa. Kuperhatikan handphone mas Idham. Aku mencari tulisan Menu lalu mencari pengatur suara agar handphone tidak berbunyi saat di hubungi. Kalau saja keadaan normal tak ada masalah dengan mas Idham, tak ada kecurigaan yang mengarah padanya. Maka pantang bagiku membuka handphone milik orang lain. Aku tidak suka mengutak-atik barang yang bukan milikku. Tapi saat ini aku ingin tahu. Aku penasaran. Lebih tepatnya mungkin mencurigai mas Idham menyimpan rahasia yang berhubungan dengan rumah ini. Anehnya tanganku lebih dulu bergerak sebelum ada komando dari hatiku. Aku membuka fitur-fitur yang ada didalamnya. Kubuka pesan yang masuk. Ada dua pesan. Setelah aku baca ternyata hanya pesan biasa.

Aku masuk ke fitur lain, sama saja tak ada yang penting. Tapi mataku terbelalak begitu aku masuk ke fitur catatan. Kubaca satu persatu. Disitu terbaca target-target yang akan dicapai mas Idham. Rasanya nafasku terhenti waktu aku membaca kalimatnya satu persatu. Benarkah ini target mas Idham. Benarkah dia orang seperti itu? Kenapa begitu berbeda antara wajah dengan perbuatan? Sosok kalem ternyata menyimpan niat yang jahat. Keringat dingin kurasakan di kulitku. Mungkin karena aku gugup dan tak percaya dengan apa yang baru saja aku baca.

Tiba-tiba pintu terbuka. Mataku membelalak melihat siapa yang membuka pintu. Mas Idham!. Mas Idham juga terlihat kaget melihatku. Tapi hanya sekejap. Dia bisa kembali dengan senyumannya yang menawan. Sementara aku masih gugup. Aku gemetar karena tanganku masih menggenggam handphone milik mas Idham. Kugerakkan tanganku agak kebelakang agar handphone tak terlihat. Sementara mas Idham terus maju mendekatiku. Detak jantungku makin tak beraturan. Aku berdoa semoga saja mas Idham menghentikan langkahnya. Kalau dia terus maju, maka handphone itu akan terlihat. Tapi mas Idham terus melangkah. Terus mendekatiku. Kurasakan mataku tak berkedip menatapnya. ****

Bersambung….

0 komentar:

Posting Komentar