Niar menepuk pundakku. Tadi untuk sesaat aku memandangi mereka kemudian
aku berbalik tapi tetap berdiri di teras. Pikiranku berkecamuk. Entah
harus memulai darimana. Memberitahu kedua temanku apakah tidak akan
menimbulkan kepanikan? Bagaimana aku mengetahui maksud dari mas Idham
kalau keadaan lebih dulu heboh.
“ Aku menemani pak Suwandi antar undangan, Jen bareng
pak Salim. Kamu bagaimana?” tanya Niar. Aku diam. Tidak tahu mau
memberikan jawaban seperti apa. Saat ini yang ada dalam kepalaku bukan
lagi urusan undangan. Aku memikirkan mas Idham. Dimana dia sekarang?
“ Kalian yang berangkat. Aku mau pulang dulu” kataku lalu melangkah meninggalkan mereka.
“
Tin, ntar aku sms tempat kita kumpul!” teriak Jen. Aku mengangguk lalu
berjalan tergesa menuju jalan raya. Aku menahan angkot. Aku tidak ingin
Jen dan Niar tahu ketakutanku. Aku ingin secepatnya tiba di rumah. Entah
mengapa perasaanku tidak tenang sejak aku tahu mas Idham sudah dipecat.
Untunglah laju angkot ini lumayan cepat hingga aku cepat tiba dirumah.
Begitu
turun dari angkot, aku berlari melewati halaman. Tiba diteras ku rogoh
tasku untuk mencari kunci rumah. Agak lama karena kunci itu terselip di
dalam tas bersama dengan benda-benda yang lain.
Tapi
aneh saat aku memasukkan kunci kelubangnya ternyata pintu tidak
terkunci. Aku mencoba mengingat apakah tadi pagi aku lupa mengunci
pintu? Tapi aku yakin sudah mengunci pintu. Aku masih ingat dengan
jelas. Lalu mengapa pintu ini tidak terkunci?
Kusentuh
gagang pintu, kugerakkan. Pintu terbuka perlahan. Mataku langsung
mengitari ruangan. Kupastikan tak ada barang-barang yang hilang. Aku
melangkah cepat menuju kamar. Kuperiksa laci meja, kubuka lemari.
Barang-barang kami aman. Aku bernafas lega.
Aku
keluar dari kamar. Tujuanku adalah kamar mas Idham. Walau terganggu
dengan berita tentangnya tapi tetap saja aku khawatir. Aku harus
memeriksa kamarnya. Tanpa ragu aku membuka pintu kamarnya. Tak banyak
barang yang mas Idham bawa. Tapi aku tetap harus memastikan kalau semua
barang-barangnya aman. Kembali aku lega karena barang-barang mas Idham
terlihat rapi.
Aku
keluar dari kamar mas Idham dengan kelegaan yang sama saat aku keluar
dari kamarku. Tapi saat aku hendak menutup pintu kembali. Terdengar
bunyi dering handphone. Entah dari mana asalnya tapi terdengar begitu
dekat. Aku tidak memeriksa tasku karena aku tahu nada dering
handphoneku. Ini terdengar beda. Lalu suara handphone siapa? Suaranya
terdengar berasal dari dalam rumah. Sangat dekat. Aku fokus mendengarkan
suara handphone itu. Suaranya tidak berhenti. Terus berdering memecah
kesunyian rumah.
Aku
melangkah ke dapur. Suara dering handphone itu makin jelas. Aku ikuti.
Ternyata suara itu berasal dari kamar kosong dekat dapur. Makin dekat
makin jelas terdengar. Aku menyalakan lampu dapur agar sinarnya bisa
menerangi kamar itu walau hanya sebatas pintu kamar. Aku melangkah
menuju kamar kosong lalu berdiri di tengah pintu.
Mataku
kutajamkan memandang kedalam. Suara handphone itu belum berhenti. Tidak
sulit mencarinya karena handphone itu memancarkan sinar. Aku
mendekati handphone itu dengan debar jantung berpacu cepat. Bulu
kudukku merinding. Ini adalah kamar yang menurutku seram tapi terpaksa
aku harus masuk. Handphone itu tergeletak di lantai. Aku bertanya-tanya
siap pemilik handphone ini. Kenapa bisa dia melupakan handphonenya.?Yang
juga membuatku heran. Kenapa dia tidak mencarinya? Handphone itu
bergetar dalam genggamanku. Dengan cepat aku melangkah keluar dari kamar
kosong. Aku terus menuju ruang tamu. Rasanya aku tidak bernafas berada
dikamar kosong itu sendirian. Seperti ada yang mencekik leherku.
Entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku saja karena pernah bermimpi seram tentang kamar itu.
Tiba diruang tamu kuperhatikan layar handphone itu. Aneh. Kenapa layarnya terlihat tulisan Calling Idham. Handphone ini milik siapa? Kutekan tombol hijau untuk menerima. Kudekatkan di telingaku.
“
Hallo..hallo siapa ini? Tolong jangan matikan handphonenya. Itu
handphone saya. Beritahu posisi kamu dimana? Kalau kamu bersedia
mengembalikan handphone itu, saya akan beri kamu uang berapapun yang
kamu minta. Anggap sebagai ucapan terima kasih dari saya. Tolong
kembalikan handphone saya. Hallo ..halo..”
Aku
menekan tombol merah. Ternyata handphone ini milik mas Idham. Suara
yang baru saja menelpon adalah suara mas Idham. Kenapa handphone ini
bisa tertinggal di kamar itu? Mungkin semalam mas Idham tidak
sengaja menjatuhkannya lalu sekarang mencarinya seolah handphone itu
terjatuh di luar rumah. Tapi aneh. Kalau melihat handphone ini. Harganya
mungkin kisaran tiga jutaan. Tapi kenapa mas Idham akan memberikan
hadiah sesuai permintaan si penemu, berapapun jumlah yang diminta. Aku
sering mendengar orang kehilangan handphone. Satu hal yang seringkali
mereka sesalkan adalah nomor mereka sudah diketahui banyak orang. Mereka
juga kehilangan nomor teman-teman atau orang yang mereka kenal. Katanya
itu tidak bisa dinilai dengan uang. Apa karena itu mas Idham mau
memberikan hadiah yang lebih untuk orang yang menemukan handphonenya?
Aku
duduk di sofa. Kuperhatikan handphone mas Idham. Aku mencari tulisan
Menu lalu mencari pengatur suara agar handphone tidak berbunyi saat di
hubungi. Kalau saja keadaan normal tak ada masalah dengan
mas Idham, tak ada kecurigaan yang mengarah padanya. Maka pantang bagiku
membuka handphone milik orang lain. Aku tidak suka mengutak-atik barang
yang bukan milikku. Tapi saat ini aku ingin tahu. Aku penasaran. Lebih
tepatnya mungkin mencurigai mas Idham menyimpan rahasia yang berhubungan
dengan rumah ini. Anehnya tanganku lebih dulu bergerak sebelum ada
komando dari hatiku. Aku membuka fitur-fitur yang ada didalamnya. Kubuka pesan yang masuk. Ada dua pesan. Setelah aku baca ternyata hanya pesan biasa.
Aku
masuk ke fitur lain, sama saja tak ada yang penting. Tapi mataku
terbelalak begitu aku masuk ke fitur catatan. Kubaca satu persatu.
Disitu terbaca target-target yang akan dicapai mas Idham. Rasanya
nafasku terhenti waktu aku membaca kalimatnya satu persatu. Benarkah ini
target mas Idham. Benarkah dia orang seperti itu? Kenapa begitu berbeda
antara wajah dengan perbuatan? Sosok kalem ternyata menyimpan niat yang
jahat. Keringat dingin kurasakan di kulitku. Mungkin karena aku gugup
dan tak percaya dengan apa yang baru saja aku baca.
Tiba-tiba
pintu terbuka. Mataku membelalak melihat siapa yang membuka pintu. Mas
Idham!. Mas Idham juga terlihat kaget melihatku. Tapi hanya sekejap. Dia
bisa kembali dengan senyumannya yang menawan. Sementara aku masih
gugup. Aku gemetar karena tanganku masih menggenggam handphone milik mas
Idham. Kugerakkan tanganku agak kebelakang agar handphone tak terlihat.
Sementara mas Idham terus maju mendekatiku. Detak jantungku makin tak
beraturan. Aku berdoa semoga saja mas Idham menghentikan langkahnya.
Kalau dia terus maju, maka handphone itu akan terlihat. Tapi mas Idham
terus melangkah. Terus mendekatiku. Kurasakan mataku tak berkedip
menatapnya. ****
Bersambung….
0 komentar:
Posting Komentar