Senin, 07 Mei 2012

[Tiga Wanita] Hati Yang Terluka #9#

0



gambar www.google.com

Dalam kepalaku seperti ada jam yang berdetak. Telingaku mendengarnya sangat keras. Tik tak tik tak seirama dengan langkah kaki mas Idham. Tiga puluh detik lagi. Mas Idham benar-benar akan ada di sampingku. Aku tidak bisa menyembunyikan handphonenya yang ukurannya lumayan besar. Tasku juga terlanjur ada di kursi seberang. Aku tidak bisa mengambilnya. Itu sama saja dengan aku mempercepat datangnya bahaya. Karena dengan berdiri semua bisa saja terjadi.Tak ada pilihan bagiku selain berdoa semoga terjadi keajaiban yang mengubah keadaan.

Tiba-tiba handphone mas Idham berbunyi. Aku seperti ditarik dari dalam lubang tempat binatang buas tengah menatapku sebagai hidangan mereka. Senyum putus asa hadir di wajahku. Aku selamat. Mas Idham buru-buru merogoh kantongnya untuk mengambil handphone. Dia tetap berdiri di dekatku. Seolah tak peduli ada aku yang akan mendengarkan pembicaraannya.

Hallo, kamu Do? Bagaimana disana? Sudah kamu kendalikan?” telingaku kurasakan berubah jadi telinga keledai. Sangat panjang. Aku sudah siap untuk mendengarkan setiap detil pembicaraan mas Idham. Aku tahu jika tiba waktunya setiap orang pasti akan meminta bukti dariku. Jadi mulai sekarang sekecil apapun informasi itu, harus aku simpan. Tak ada yang lebih berharga dari bukti nyata. Bukan sekedar ucapan atau prasangka.

Baguslah. Kalau saya belum semuanya. Masih saya usahakan. Teman-teman yang lain bagaimana? Mereka sudah bergerak? Hati-hati jangan sampai ketahuan” kata mas Idham. Dia terlihat gelisah. Sesekali dia melihatku. Aku jadi mengalihkan pandangan tiap kali mata kami bertemu. Padahal aku melihatnya untuk mencari celah agar aku bisa mengamakan handphone yang ada di tanganku. Tapi tetap saja terasa sulit karena matanya lebih banyak menatapku.

Saya lagi ada problem. Handphone saya hilang nggak tahu jatuh dimana. Kamu tahu sendiri handphone itu sangat berharga. Saya dalam bahaya kalau sampai ada yang menemukan dan membaca isinya”

Tiba-tiba mas Idham berjalan dengan cepat menuju ke belakang. Dia terus berbicara dengan temannya. Sepertinya dia teringat sesuatu. Kesempatan ini aku manfaatkan dengan mengambil tasku. Aku berlari masuk ke kamar. Handphone itu aku letakkan di bawah lemari. Pesan dari mama yang selalu aku ingat. Simpanlah benda-benda berharga di tempat yang tidak menimbulkan niat orang untuk memeriksanya. Dibawah lemari. Aku hanya siaga jika mas Idham mencurigai kami,maka kamar kami adalah sasaran empuk untuk dia obrak-abrik.

Ketukan di pintu mengagetkanku. Suara mas Idham terdengar memanggil-manggil namaku. Aku berdiri. Melihat wajahku di cermin. Mengatur nafas senormal mungkin. Aku tidak boleh terlihat seperti pencuri ayam yang tertangkap. Begitu pucat. Aku harus kuat. Menjadi detektif dadakan sepertinya menjadi pilihanku saat ini. Aku tidak boleh berhenti.

Mbak Hastin” suara mas Idham terdengar lagi. Setengah berlari aku menuju ke pintu. Dengan sekali gerakan tangan, pintu terbuka. Mas Idham terlihat begitu putus asa.

Ya, mas. Ada apa?” tanyaku. Suaraku datar. Perjuangan berat untuk menghilangkan rasa gugupku.

Maaf sebelumnya. Tapi apa mbak nggak liat handphone? Handphone saya hilang.Mungkin mbak melihatnya.”

Nggak mas. Mas darimana? Coba ingat-ingat lagi” Aku keluar kamar. Tidak lupa aku menutup pintu. Mas Idham masih berdiri didepanku.

Tadi saya kebelakang, mungkin hilang di sana. Tapi sudah saya periksa, handphone itu tidak ada”

Sudah diperiksa lagi mas?” aku menampakkan wajah khawatir. Andai mas Idham tahu handphonenya sedang istrahat di bawah lemari.

Sudah. Tidak ada. Tadi ada yang menerimanya. Makanya saya curiga handphone itu sudah di tangan orang.”

Mas Idham masih terlihat gelisah. Aku segera minta pamit untuk menyusul teman-teman. Tak lupa aku masuk ke kamar dan mengoffkan handphone mas Idham. Kuatur lagi letaknya agar benar-benar aman.

**

Malamnya aku berdiam di kamar. Niar dan Jen sedang ada ruang tamu. Mereka sedang mengerjakan laporan kegiatan kelompok kami. Niar dan Jen tidak tahu aku sedang memeriksa handphone mas Idham. Pemiliknya sendiri entah dimana. Sejak tadi siang kami berpisah, aku tidak bertemu lagi dengannya hingga malam ini. Aku mengirim data-data dihandphone mas Idham ke handphoneku. Tak lupa kuhapus jejak, agar tak ada bukti nomor handpohoneku tertinggal dihandphonenya.

Niar dan Jen tiba-tiba berhamburan masuk kedalam kamar. Aku yang tak menyangka mereka akan masuk, hanya bisa menarik bantal untuk menutup handphone. Mereka berteriak ketakutan. Jen mengunci pintu. Niar naik ketempat tidur. Dia langsung memeluk gulingnya.

Kalian kenapa?” mereka hanya menatapku dengan wajah ketakutan. Kertas-kertas mereka juga ikut terbawa ke atas tempat tidur.

Diluar hujan. Gerimis tapi sepertinya bakal deras”

Kenapa kalau hujan?” tanyaku heran.

Kamu lupa? Malam saat kita mendengar suara mengerikan itu? Itukan sementara hujan..” aku jadi ingat. Aku berniat ke belakang untuk memastikan kecurigaanku akan suara-suara aneh yag kami dengarkan beberapa malam yang lalu. Tanpa sadar aku melepaskan bantal yang menutupi pahaku. Handphone mas Idham terjatuh dengan mulus seperti melewati jalan tol. Lepas. Meluncur ringan. Mata Jen dan Niar seperti melihat benda angkasa yang jatuh dari langit. Aku tak bisa bersuara. Aku tahu isi pikiran mereka. Pasti mereka heran melihat handphone itu. Mereka kenal betul dengan handphoneku. Aku kalah cepat dengan Jen yang mengambil handphone itu.

Handphone baru ya? Kog nggak bilang-bilang mau beli?” aku baru saja mau menjawab dengan berbagai alasan. Tapi Jen dengan lincah sudah membuka handphone itu. Matanya membelalak melihat layar handphone. Nama Idham lengkap dengan foto dirinya yang menyegarkan mata membuat Jen terkesima. Jen yang memang sudah fall in love terlihat begitu bahagia. Dia mencium handphone itu dengan penuh perasaan. Niar hanya tertawa melihatnya. Sementara aku tidak bisa tersenyum. Aku tahu setelah ini mereka berdua akan mengajukan pertanyaan. Mereka pantas untuk curiga. Padahal aku belum  siap untuk menceritakan hal yang sebenarnya.

Kenapa handphone ini bisa ada sama kamu?” nada dalam suara Jen seperti cemburu. Dia menatapku menanti jawaban. Tatapannya seperti ingin menegaskan kalau dia menyukai Idham. Aku seharusnya tahu hal itu karena dia sudah pernah mengatakannya.

Itu..itu..” susah payah aku berusaha untuk bicara. Baru kali ini aku tidak bisa berbicara dengan lancar. Aku bingung untuk menjelaskan. Niar dan Jen menanti jawabanku.

Akhirnya di bawah guyuran hujan yang menyentuh genteng rumah, malam ini aku menceritakan masalahku. Kecurigaanku terhadap mas Idham. Hal-hal yang aku alami. Apa yang aku temukan hingga timbul kecurigaan terhadap mas Idham. Jen dan Niar mendengarkan tanpa sedikitpun menyela ucapanku. Mereka diam. Menatapku dengan rasa penasaran. Terlebih Jen. Kulihat matanya berkaca-kaca. Mungkin dia menyadari cintanya akan patah di tengah jalan setelah mengetahui tentang mas Idham. Aku bisa merasakan kesedihannya tapi lebih baik dia tahu sekarang daripada nanti, saat dia sudah memupuk cintanya setinggi gunung, lalu tiba-tiba jatuh.

Tengah malam aku terbangun. Kulihat Jen duduk di pinggir tempat tidur. Kudengar isaknya. Dia menangis. Aku sengaja tak menegurnya. Kubiarkan dia dengan perasaannya. Biarlah dia menangis malam ini. Semoga esok dia bisa menerima kenyataan.****

bersambung…

0 komentar:

Posting Komentar