Dalam
kepalaku seperti ada jam yang berdetak. Telingaku mendengarnya sangat
keras. Tik tak tik tak seirama dengan langkah kaki mas Idham. Tiga puluh
detik lagi. Mas Idham benar-benar akan ada di sampingku. Aku tidak bisa
menyembunyikan handphonenya yang ukurannya lumayan besar. Tasku juga
terlanjur ada di kursi seberang. Aku tidak bisa mengambilnya. Itu sama
saja dengan aku mempercepat datangnya bahaya. Karena dengan berdiri
semua bisa saja terjadi.Tak ada pilihan bagiku selain berdoa semoga
terjadi keajaiban yang mengubah keadaan.
Tiba-tiba
handphone mas Idham berbunyi. Aku seperti ditarik dari dalam lubang
tempat binatang buas tengah menatapku sebagai hidangan mereka. Senyum
putus asa hadir di wajahku. Aku selamat. Mas Idham buru-buru merogoh
kantongnya untuk mengambil handphone. Dia tetap berdiri di dekatku.
Seolah tak peduli ada aku yang akan mendengarkan pembicaraannya.
“ Hallo,
kamu Do? Bagaimana disana? Sudah kamu kendalikan?” telingaku kurasakan
berubah jadi telinga keledai. Sangat panjang. Aku sudah siap untuk
mendengarkan setiap detil pembicaraan mas Idham. Aku tahu jika tiba
waktunya setiap orang pasti akan meminta bukti dariku. Jadi mulai
sekarang sekecil apapun informasi itu, harus aku simpan. Tak ada yang
lebih berharga dari bukti nyata. Bukan sekedar ucapan atau prasangka.
“ Baguslah.
Kalau saya belum semuanya. Masih saya usahakan. Teman-teman yang lain
bagaimana? Mereka sudah bergerak? Hati-hati jangan sampai ketahuan” kata
mas Idham. Dia terlihat gelisah. Sesekali dia melihatku. Aku jadi
mengalihkan pandangan tiap kali mata kami bertemu. Padahal aku
melihatnya untuk mencari celah agar aku bisa mengamakan handphone yang
ada di tanganku. Tapi tetap saja terasa sulit karena matanya lebih
banyak menatapku.
“ Saya
lagi ada problem. Handphone saya hilang nggak tahu jatuh dimana. Kamu
tahu sendiri handphone itu sangat berharga. Saya dalam bahaya kalau
sampai ada yang menemukan dan membaca isinya”
Tiba-tiba
mas Idham berjalan dengan cepat menuju ke belakang. Dia terus berbicara
dengan temannya. Sepertinya dia teringat sesuatu. Kesempatan ini aku
manfaatkan dengan mengambil tasku. Aku berlari masuk ke kamar. Handphone
itu aku letakkan di bawah lemari. Pesan dari mama yang selalu aku
ingat. Simpanlah benda-benda berharga di tempat yang tidak menimbulkan
niat orang untuk memeriksanya. Dibawah lemari. Aku hanya siaga jika mas
Idham mencurigai kami,maka kamar kami adalah sasaran empuk untuk dia
obrak-abrik.
Ketukan
di pintu mengagetkanku. Suara mas Idham terdengar memanggil-manggil
namaku. Aku berdiri. Melihat wajahku di cermin. Mengatur nafas senormal
mungkin. Aku tidak boleh terlihat seperti pencuri ayam yang tertangkap.
Begitu pucat. Aku harus kuat. Menjadi detektif dadakan sepertinya
menjadi pilihanku saat ini. Aku tidak boleh berhenti.
“ Mbak
Hastin” suara mas Idham terdengar lagi. Setengah berlari aku menuju ke
pintu. Dengan sekali gerakan tangan, pintu terbuka. Mas Idham terlihat
begitu putus asa.
“ Ya, mas. Ada apa?” tanyaku. Suaraku datar. Perjuangan berat untuk menghilangkan rasa gugupku.
“ Maaf sebelumnya. Tapi apa mbak nggak liat handphone? Handphone saya hilang.Mungkin mbak melihatnya.”
“ Nggak
mas. Mas darimana? Coba ingat-ingat lagi” Aku keluar kamar. Tidak lupa
aku menutup pintu. Mas Idham masih berdiri didepanku.
“Tadi saya kebelakang, mungkin hilang di sana. Tapi sudah saya periksa, handphone itu tidak ada”
“ Sudah diperiksa lagi mas?” aku menampakkan wajah khawatir. Andai mas Idham tahu handphonenya sedang istrahat di bawah lemari.
“ Sudah. Tidak ada. Tadi ada yang menerimanya. Makanya saya curiga handphone itu sudah di tangan orang.”
Mas
Idham masih terlihat gelisah. Aku segera minta pamit untuk menyusul
teman-teman. Tak lupa aku masuk ke kamar dan mengoffkan handphone mas
Idham. Kuatur lagi letaknya agar benar-benar aman.
**
Malamnya
aku berdiam di kamar. Niar dan Jen sedang ada ruang tamu. Mereka sedang
mengerjakan laporan kegiatan kelompok kami. Niar dan Jen tidak tahu aku
sedang memeriksa handphone mas Idham. Pemiliknya sendiri entah dimana.
Sejak tadi siang kami berpisah, aku tidak bertemu lagi dengannya hingga
malam ini. Aku mengirim data-data dihandphone mas Idham ke handphoneku.
Tak lupa kuhapus jejak, agar tak ada bukti nomor handpohoneku tertinggal
dihandphonenya.
Niar
dan Jen tiba-tiba berhamburan masuk kedalam kamar. Aku yang tak
menyangka mereka akan masuk, hanya bisa menarik bantal untuk menutup
handphone. Mereka berteriak ketakutan. Jen mengunci pintu. Niar naik
ketempat tidur. Dia langsung memeluk gulingnya.
“ Kalian kenapa?” mereka hanya menatapku dengan wajah ketakutan. Kertas-kertas mereka juga ikut terbawa ke atas tempat tidur.
“ Diluar hujan. Gerimis tapi sepertinya bakal deras”
“ Kenapa kalau hujan?” tanyaku heran.
“ Kamu
lupa? Malam saat kita mendengar suara mengerikan itu? Itukan sementara
hujan..” aku jadi ingat. Aku berniat ke belakang untuk memastikan
kecurigaanku akan suara-suara aneh yag kami dengarkan beberapa malam
yang lalu. Tanpa sadar aku melepaskan bantal yang menutupi pahaku.
Handphone mas Idham terjatuh dengan mulus seperti melewati jalan tol.
Lepas. Meluncur ringan. Mata Jen dan Niar seperti melihat benda angkasa
yang jatuh dari langit. Aku tak bisa bersuara. Aku tahu isi pikiran
mereka. Pasti mereka heran melihat handphone itu. Mereka kenal betul
dengan handphoneku. Aku kalah cepat dengan Jen yang mengambil handphone
itu.
“ Handphone
baru ya? Kog nggak bilang-bilang mau beli?” aku baru saja mau menjawab
dengan berbagai alasan. Tapi Jen dengan lincah sudah membuka handphone
itu. Matanya membelalak melihat layar handphone. Nama Idham lengkap
dengan foto dirinya yang menyegarkan mata membuat Jen terkesima. Jen
yang memang sudah fall in love terlihat begitu bahagia. Dia mencium
handphone itu dengan penuh perasaan. Niar hanya tertawa melihatnya.
Sementara aku tidak bisa tersenyum. Aku tahu setelah ini mereka berdua
akan mengajukan pertanyaan. Mereka pantas untuk curiga. Padahal aku
belum siap untuk menceritakan hal yang sebenarnya.
“ Kenapa
handphone ini bisa ada sama kamu?” nada dalam suara Jen seperti
cemburu. Dia menatapku menanti jawaban. Tatapannya seperti ingin
menegaskan kalau dia menyukai Idham. Aku seharusnya tahu hal itu karena
dia sudah pernah mengatakannya.
“Itu..itu..”
susah payah aku berusaha untuk bicara. Baru kali ini aku tidak bisa
berbicara dengan lancar. Aku bingung untuk menjelaskan. Niar dan Jen
menanti jawabanku.
Akhirnya
di bawah guyuran hujan yang menyentuh genteng rumah, malam ini aku
menceritakan masalahku. Kecurigaanku terhadap mas Idham. Hal-hal yang
aku alami. Apa yang aku temukan hingga timbul kecurigaan terhadap mas
Idham. Jen dan Niar mendengarkan tanpa sedikitpun menyela ucapanku.
Mereka diam. Menatapku dengan rasa penasaran. Terlebih Jen. Kulihat
matanya berkaca-kaca. Mungkin dia menyadari cintanya akan patah di
tengah jalan setelah mengetahui tentang mas Idham. Aku bisa merasakan
kesedihannya tapi lebih baik dia tahu sekarang daripada nanti, saat dia
sudah memupuk cintanya setinggi gunung, lalu tiba-tiba jatuh.
Tengah
malam aku terbangun. Kulihat Jen duduk di pinggir tempat tidur.
Kudengar isaknya. Dia menangis. Aku sengaja tak menegurnya. Kubiarkan
dia dengan perasaannya. Biarlah dia menangis malam ini. Semoga esok dia
bisa menerima kenyataan.****
bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar