Senin, 07 Mei 2012

[Tiga Wanita] Curiga Vs Cinta #13#

0

 

Pak Suhendar masih mengenakan baju ungu yang sama saat mengikuti sosialisasi tadi. Itu artinya dia tidak kembali ke hotel. Wajahnya terlihat kusut seperti memendam masalah yang sangat berat. Sambil berjalan dia menatapku tapi kali ini tak ada senyuman. Benar-benar wajah yang muram. Hatiku bergetar saat melihatnya. Getaran itu makin kencang saat kulihat tatapan matanya begitu sendu. Oh, cinta dalam hatiku haruskah engkau mati sebelum benar-benar bersemi?

“ Assalamu Alaikum” ucap pak Suhendar begitu kakinya menyentuh teras. Aku segera berdiri. Kubalas salamnya dengan sedikit gugup.

“ Wa alaikum salam. Silahkan masuk, pak.” Kataku mempersilahkan pak Suhendar masuk ke dalam rumah. Pak Suhendar terdiam beberapa saat didepan pintu. Dia termenung menatap ke dalam ruangan. Aku memperhatikannya dengan perasaan heran. Seolah sadar aku tengah memperhatikannya, Pak Suhendar segera masuk ke dalam rumah. Tak ada pembicaraan seperti kebiasaannya. Saat duduk di sofa sikap Pak Suhendar tetap sama. Dia malah mengambil handphonenya yang tiba-tiba berbunyi. Sepertinya sebuah pesan yang masuk karena Pak Suhendar memperhatikan agak lama layar monitornya. Aku berdiri dan menuju kamar untuk memanggil Jen dan Niar.

Kedua temanku ternyata sedang berbaring di tempat tidur. Mungkin mereka kelelahan sehabis mempersiapkan acara sosialisasi. Mereka memperhatikan saat aku masuk.

“ Cepat bangun! Ada Pak Suhendar di luar” kataku.

“ Apa?? “ ucap mereka bersamaan. Jen dan Niar terburu-buru bangun dan merapikan diri mereka di depan cermin.

“ Dari tadi datangnya?” tanya Niar sambil menyisir rambutnya.

“ Nggak, baru saja. Ayo cepat. “

Kami keluar keruang tamu tapi Pak Suhendar tidak ada. Kemana dia?

“ Katamu ada Pak Suhendar. Sekarang mana?” tanya Niar. Aku segera keluar ke teras mencarinya tapi tetap tak menemukan Pak Suhendar. Aku lihat mobilnya masih ada di halaman, berarti Pak Suhendar belum pulang. Lalu orangnya sekarang di mana? Kenapa tiba-tiba menghilang?

“ Kalian mencari siapa?” suara Pak Suhendar tiba-tiba mengagetkan kami. Dia muncul dari dalam rumah. Serentak kami berbalik ke belakang.

“ Bapak dari mana?” tanyaku.

“ Dari belakang, kebelet mau buang air. Lho, kenapa kalian masih berdiri di luar? Ayo masuk. Ada yang ingin saya tanyakan sama kalian”

Kami bertiga kemudian masuk ke ruang tamu lalu duduk berdempetan di sofa menghadap Pak Suhendar. Pandangan kami sama. Semua tertuju ke Pak Suhendar. Pak Suhendar melihat kami sambil menghela nafas perlahan seperti ingin melepas beban yang ada dalam dirinya.

“ Saya dengar Idham sempat tinggal bersama kalian. Apa selama bersama kalian, tidak ada hal-hal yang dia ceritakan? Tentang kantor misalnya.”

“ Tidak ada, pak. Mas Idham terlihat sibuk” aku menjawab.

“ Sama sekali tidak ada? Jadi kalian tidak tahu kalau dia punya niat jahat terhadap kantor?”

“ Oh, kalau itu Hastin yang tahu. Dia bahkan punya Handphone mas Idham” aku langsung terbatuk karena kaget. Aku tidak menyangka Niar akan mengatakan tentang handphone itu. Dengan cepat kuinjak kakinya. Niar mengeluh sakit sambil menatapku. Kulihat Pak Suhendar masih bingung menatap kami.

“ Soal niat jahatnya kita semua juga tahu, Pak. Kalau handpohone sudah diambil sama mas Idham” Kataku cepat sebelum Niar melanjutkan kata-kata ajaibnya. Kupaksakan bibirku untuk tersenyum. Aku tahu senyumku pasti tampak aneh. Alis Pak Suhendar kulihat terangkat. Mungkin dia penasaran dengan kata-kata Niar. Dalam hati rasanya aku ingin menutup mulut Niar agar tidak bersuara yang mengerikan lagi.

“ Benarkah? Jadi handphone Idham sempet ada sama kamu? Kamu nggak sempet periksa isinya?”

“ Nggak pak, nggak sempet. Keburu diambil mas Idham” kulihat bayangan kepala kedua temanku bergerak menatapku. Mirip dengan kejadian tempo hari saat kami berhadapan dengan pak lurah. Aku berdoa semoga kali ini juga temanku tetap jadi orang yang bisu. Tak usah menimpali apapun yang aku katakan. Karena kalau mereka terus berkicau, aku akan terjebak. Pasti Pak Suhendar akan mencurigai aku menyimpan handphone mas Idham. Aku berusaha tenang. Untuk beberapa saat kedepan semoga jantungku kuat.

“ Sayang sekali. Padahal handphone itu bisa jadi bukti” keluh pak Suhendar. Sudut hatiku terasa sakit saat melihat raut wajahnya yang putus asa. Maafkan aku Pak Suhendar. Perasaanku padamu tidak berubah. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan rasa dihatiku. Kalau mengikuti rasaku maka aku tidak akan membiarkan wajahmu berubah kusut karena masalah ini. Aku juga tidak akan membela mas Idham karena aku tidak ada rasa khusus padanya. Ini murni hanya ingin meletakkan kebenaran pada tempatnya. Bagaimana aku bisa menuduh seseorang bersalah dan menganggap seseorang benar hanya karena melihat posisinya? Menganggap mas Idham salah karena dia ditangkap polisi dan menganggap Pak Suhendar benar karena dia tidak di tahan. Aku hanya perlu bertemu dengan mas Idham. Secepatnya.

“ Apa mas Idham masih ditahan kalau tidak ada bukti dia bersalah?” tanyaku kemudian setelah kami terdiam beberapa saat. Rasanya tidak nyaman berdiam diri. Niar juga yang semula bersuara jadi lebih banyak diam. Jen jangan ditanyakan hatinya saat ini. Raganya memang ada bersama kami, tapi soal pikiran aku jamin pikirannya sedang mengembara mencari mas Idham. Cinta Jen memang luar biasa. Dalam matanya mas Idham tetap lelaki yang membuatnya jatuh cinta padahal mas Idham sudah terbukti ditangkap polisi. Apakah perasaanku juga demikian terhadap Pak Suhendar?

“ Kalau dalam tempo tiga hari tidak ada bukti, Idham akan di bebaskan. Makanya saya nggak pulang dulu ke Jakarta. Saya juga masih terus mengecek usaha teman-teman di Jakarta. Apa mereka bisa menemukan bukti-bukti baru. Mudah-mudahan usaha mereka berhasil”

Tenggorokanku kurasakan kering. Teringat kata-kata mas Idham yang memohon agar aku percaya padanya. Melihat kegigihan pak Suhendar, aku jadi mencurigai sesuatu telah terjadi diantara mereka. Apakah ini murni masalah perusahaan atau malah persaingan dua orang lelaki? Entah apa yang menjadi masalah mereka tapi aku merasakan demikian.

“ Sudah hampir maghrib. Saya permisi dulu. Karena masih lama juga disini, mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi. Oh, ya kalian datang juga ketempat teman kalian di kelurahan lain. Ya, itung-itung saling berbagi pengalaman karena tiap kelurahan tentu lain masalahnya” Ucap Pak Suhendar sambil berdiri. Kami bertiga juga mengikutinya berdiri.

“ Iya, pak. Mudah-mudahan ada kesempatan, soalnya sekarang masih sibuk”

“ Jangan sibuk terus. Berbagi pengalaman itu penting loh. Bisa juga komunikasi lewat handphone. Jangan setiap ada masalah, kantor pusat terus yang dihubungi. Biasanya kalau ada masalah, kantor pusat memberikan jalan keluar. Tapi kalian juga harus bisa memberikan info itu kesemua teman kalian. Bayangkan saja kalau tiap kelurahan melaporkan hal yang sama. Kan buang waktu kalau harus menghubungi kalian satu persatu.” Kami hanya mengangguk-angguk mendengar kata-kata Pak Suhendar. Aku yakin dalam kepala kami saat ini, tidak ada ditempat ini. Kami bertiga memikirkan hal yang sama, mas Idham. Aku yakin itu.

Suara Adzan magrib terdengar saat mobil Pak Suhendar meninggalkan halaman rumah. Separuh jiwaku rasanya terbang ikut bersamanya.  Niar seperti cepat tanggap dengan keadaanku. Dia memelukku dari belakang.

“ Sabarlah, semua akan berlalu bersama waktu. Dunia tidak selebar daun kelor, akan ada yang datang padamu membawa cinta yang tidak pernah kamu sangka” Aku ternyuh mendengar kata-kata Niar. Temanku ini pintar sekali menasehati orang, tapi diri sendiri tidak mau mendengarkan nasehat.

“ Eh, mana Jen?” aku sedikit kaget karena Jen tiba-tiba hilang diantara kami. Aku hendak masuk ke dalam rumah saat Niar menarik tanganku.

“ Niar. Udah magrib” protesku karena kukira dia bercanda.

“ Bentar. Baru juga Adzan. Aku tadi tidak protes saat kakiku kamu injak. Tapi aku tahu pasti ada gajah dibalik batu sampai kamu tega menginjak kaki temanmu sendiri”

Tatapan Niar penuh selidik. Temanku ini kalau tidak sedang tulalit begitu menakutkan. Indra keenamnya selalu bekerja dengan baik. Aku terpaksa menyerah. Kulepaskan tangannya dari tanganku.

“ Nanti selepas magrib aku cerita. Aku bukan mau menyimpan rahasia dengan kalian. Percayalah semua akan aku jelaskan kalau waktunya tepat”

“ Kapan?” Niar terus mengejarku dengan pertanyaan. Sementara aku terus melangkah menuju ke belakang untuk mengambil air wudhu. Sempat kulihat kekamar, Jen masih telengkup di tempat tidur. Anak itu benar-benar terluka sangat parah.

“ Niar, liat tuh.” Aku menunjuk Jen dengan daguku.

“ Panggil dia biar kita wudhu bareng dan sholat bareng. Malam ini aku rasa ada dua orang yang patah hati.”

“ Oke, bos. Tapi kapan kamu cerita?” aku melototkan mataku. Niar nyengir masuk ke kamar. Aku terus kebelakang. Tapi tiba dipintu dapur aku tercengang. Pintu ini masih terkunci. Kami memang menguncinya setiap akan keluar dan sejak tadi kami belum sempat kebelakang. Kalau pintu ini terkunci, kenapa Pak Suhendar mengatakan dia dari belakang untuk buang air kecil? Seharusnya dia meminta kami membuka pintu. Lalu bagaimana dia kebelakang sementara pintu ini tidak bisa dibuka? Benarkah dia kebelakang untuk buang air kecil?

Aku masih berdiri dengan keheranan yang tinggi. Tak sengaja aku melihat sekilas kamar kosong yang dekat dapur. Pintu kamar itu sudah kami tutup dengan triplek. Untuk mencegah ketakutan kami yang kian bertambah setiap saat. Dengan adanya triplek itu bisa mengurangi sedikit rasa takut dihati kami tiap kali kami hendak kebelakang.

Aku menajamkan pandangku. Sepertinya ada yang aneh. Aku mendekati kamar kosong itu. Makin dekat makin jelas kulihat seperti ada sesuatu yang berubah. Kupegang triplek itu. Triplek terbuka. Hanya satu paku yang lemah menyangganya. Seingatku saat menutup pintu dengan triplek kami menancapkan paku di banyak sisi. Lalu kenapa yang tertinggal hanya satu. Itupun hanya menyangga dengan lemah bagian atas. Siapa yang sudah membukanya? apakah Pak Suhendar yang telah membukanya? tapi untuk apa? apa urusannya dia dengan kamar kosong itu? haruskah aku mencurigai Pak Suhendar? apa itu tidak terlalu berlebihan? tapi kenapa tadi Pak Suhendar harus berbohong?

“ Tin, bikin apa? Katanya mau sholat kok malah kesitu?” suara Niar mengangetkanku. Aku keluar. Kututup kembali pintu dengan triplek itu lalu berjalan mendekati Niar dan Jen. Dalam kepalaku kini makin banyak teka-teki yang harus aku pecahkan. Sayangnya dalam teka-teki itu hadir seseorang yang akhir-akhir ini membuat hatiku bergetar saat didekatnya.****

Bersambung…

0 komentar:

Posting Komentar