Acara
sosialisasi berlangsung hingga pukul tiga siang. Banyaknya pertanyaan
membuat acara berlangsung lebih lama dari yang ditentukan. Selama acara
aku memperhatikan pak Suhendar. Memang jika dibandingkan dengan mas
Idham, pak Suhendar masih kalah. Tapi kalau melihat kedewasaan bersikap,
aku lebih memilih pak Suhendar. Pak Suhendar orangnya tenang. Senyum
tidak pernah lepas dari wajahnya. Wajah yang begitu bercahaya pertanda
keimanan yang kuat. Aku yang berada disampingnya tidak menyimak acara
dengan baik. Hanya warna bajunya yang terus membayang di sudut mataku.
Beberapa kali tanpa sadar aku menatapnya. Aku tidak tahu apakah pak
Suhendar menyadari aku tengah menatapnya.
“ Jangan
terpesona. Wajahnya memang masih muda tapi ekornya udah dua, dia sudah
punya anak loh” bisik Niar saat ada kesempatan mendatangiku karena ada
sesuatu yang ingin dia tanyakan. Rupanya Niar bisa menebak rasa dalam
tatapanku. Aku tersentak mendengar kata-katanya. Konsentrasiku hilang.
Untunglah ketika tiba giliranku berbicara, aku tidak lupa kata-kata yang
hendak aku sampaikan.
Selesai
acara, saat kami masih beramah tamah dengan beberapa orang, pandanganku
tetap mencari sosok pak Suhendar. Tadi aku lihat dia tengah berbincang
dengan pak lurah tapi kemudian aku tak melihat lagi sosoknya diantara
kerumunan orang dalam ruangan.
“
Kita pulang sekarang?” tanya Niar yang tiba-tiba sudah ada disampingku.
Aku tidak melihatnya mendekat karena sejak tadi aku mencari pak
Suhendar. Niar menyentuh lenganku.
“
Aku tak pernah melihatmu jatuh cinta atau kamu yang pandai
menyembunyikan rasa. Tapi sekalinya aku melihatmu terpanah asmara,
sasaranmu salah arah. Sadarlah,Tin. Jangan menyulam duka. Sakit tau” Aku
menatapnya.
“
Sudah cukup aku yang tidak bisa lepas dari seseorang yang terlalu
banyak berjanji. Aku tidak ingin kamu terperosok. Sekali kamu masuk,
maka akan susah untuk keluar. Biar aku saja yang merasakan sakitnya,
kamu jangan menemani aku.” Niar terus berkata-kata. Aku tidak bisa
menjawab sepatah katapun. Sudut hatiku mengatakan apa yang dia katakan
sangat benar. Niar sudah merasakan pahit getirnya memiliki kekasih yang
sudah menikah. Berulang kali dia ingin melepaskan diri tapi tetap saja
dia luluh manakala kekasihnya menelpon. Suara kekasihnya telah
melemahkan hati dan jiwanya hingga dia tidak bisa lagi lari. Mereka
menjalani hubungan yang terlarang. Entah sampai kapan Niar sendiri tak
bisa menebaknya.
Sampai
pulang ke rumah aku tidak bertemu lagi dengan pak Suhendar. Entah
kemana perginya pak Suhendar hingga mengucapkan kata pamit kepada kami
juga tak sempat.Niar dan Jen juga tidak tahu. Bukan
kebiasaan pak Suhendar meninggalkan kami tanpa ucapan terima kasih.
Biasanya beliau akan mengajak kami makan-makan di suatu tempat. Kami
juga biasa berbincang. Bertukar pikiran tentang kegiatan kami di
lapangan. Tapi kali ini semua itu tak ada.
Aku
tengah duduk di teras saat Handphoneku berbunyi. Bunyi pesan masuk. Aku
buka pesan yang masuk. Aku langsung terperanjat begitu melihat nama si
pengirim. Mas Idham!. Mengapa mas idham tiba-tiba mengirim sms? Aku kira
dia sudah melupakan kami. Tapi sekarang dia mengirim sms. Mengapa saat
aku memikirkan pak Suhendar justru sms mas idham yang datang dan membuat
jantungku berdebar. Walau debarannya berbeda tapi tetap saja membuatku
tidak tenang.
Mbak
Hastin, maaf sebelumnya tapi tolong jaga baik-baik handphone saya.
Jangan sampai jatuh ketangan orang lain. Saya percaya mbak Hastin bisa
menjaganya.
Aku
bersandar lesu di kursi kayu yang ada diteras. Jadi mas Idham tahu
kalau selama ini aku yang menyimpan handphonenya. Tapi sejak kapan dia
tahu? Apa sejak Jen mengatakan tanpa sengaja ketika siang itu kami
berada di kamar mas Idham? Ataukah mas Idham sudah tahu sejak hari
dimana aku menemukannya?Lalu mengapa sekarang dia malah memintaku untuk
menyimpannya bukan meminta kembali?
Aku menutup pesan itu setelah sekian lama kupandangi. Tapi tanganku langsung bergetar kaget karena
handphoneku berbunyi kembali. Bunyi panggilan. Pikiranku melintas
bayangan mas Idham. Apakah ini panggilan dari mas Idham lagi karena tadi
aku tidak membalas pesannya?
Dengan
cepat aku melihat layar handphone. Hatiku seperti tersiram air es saat
membaca nama yang tertera di layar handphone. Pak Suhendar!. Buru-buru
kutekan tombol hijau. Tak ada keraguan saat menerima telponnya. Mungkin
inilah kekuatan cinta. Semua tentangnya terasa begitu membahagiakan.
“ Hallo, Assalamu Alaikum..Hastin?” suara pak Suhendar sudah membuat tulang-tulangku terasa dingin.
“
Wa alaikum Salam, ya, pak. Ada apa?” Aku berusaha menormalkan suaraku.
Untunglah kedua temanku tidak ada. Niar dan Jen sejak tadi pergi ke
warung di depan jalan.Kalau mereka ada tentu mereka akan melihat wajahku
yang bersemu merah.
“Hastin,
ada yang ingin saya sampaikan sama kamu. Idham, kamu kenal Idham kan?
Nah, dia sudah tertangkap. Tapi menurut polisi, tidak ada bukti yang
bisa menahan dia dan komplotannya.” Aku terperangah. Jadi pak Suhendar
menelpon karena mas Idham? Jauh dari pikiranku. Tapi apa katanya tadi?
“ Maksud bapak, mas Idham sudah ditahan di kantor polisi?”
“
Iya. Makanya tadi saya langsung pergi karena dihubungi polisi. Kantor
merekomendasikan saya untuk mengurus kasus ini karena kebetulan saya
kemari. Tapi sayangnya tidak ada bukti yang bisa menahan mereka”
“ Sama sekali nggak ada bukti tertulis, pak?”
“
Nggak ada sama sekali. Mereka rupanya sangat cerdik. Maklum, mereka
mantan karyawan kantor kita juga, jadi mereka tahu bagaimana bertindak
tanpa meninggalkan jejak”
“
Jadi kelanjutan kasusnya bagaimana, pak?” aku dengar pak Suhendar
menghela nafas. Andai aku ada didepannya,mungkin aku bisa melihat
bagaimana ekpresinya saat ini.
“
Itulah, Hastin. Sekarang ini saya benar-benar pusing. Project kita
sedang jalan. Saya koordinator propinsi. Ada masalah seperti ini membuat
pikiran saya benar-benar kacau. Saya kira saat mendengar mereka
ditangkap, masalah sudah beres. Ternyata tidak semudah itu.Polisi tidak
bisa menahan mereka tanpa bukti. Mencari calon korban mereka juga tidak
mudah, karena brosur yang mereka sebarkan sama sekali tidak ada bedanya
dengan yang kita punya. Bagaimana kita harus menuntut mereka?”
Aku terenyuh mendengar kata-kata pak Suhendar. Apa benar kejadiannya seperti itu? Berarti mas Idham benar-benar cerdik.
“ Kecuali kalau ada bukti lain yang bisa kita pakai. Handphone Idham yang disita polisi tidak
ada info yang bisa ditemukan. Semua bersih. Mungkin dia sudah menghapus
semua data-data tentang kegiatannya. Begitu juga dengan laptopnya tidak
ada data-data tentang rencananya.”
Aku tiba-tiba teringat handphone mas Idham. Apakah handphone itu harus aku serahkan?
“
Seandainya ada satu bukti saja yang bisa menahannya. Sayang sekali.”
Kembali aku dengar keluhan Pak Suhendar. Keluhan dengan suaranya yang
membuat telingaku kaku.
Pak
Suhendar tak berkata-kata lagi. Dia menutup telpon tanpa mengatakan
kapan dia akan kembali ke Jakarta. Apakah itu artinya dia masih tinggal
di kota ini? Kalau mengikuti kata hatiku, aku senang dia
belum kembali ke Jakarta. Tapi kalau mengingat alasan dia tinggal, aku
jadi prihatin. Ini semua karena masalah mas Idham. Andai tidak ada
masalah itu mungkin Pak Suhendar tidak akan pusing seperti sekarang ini.
Tapi
akukan punya handphone mas Idham? Bukankah itu bisa jadi kunci agar mas
Idham bisa di tahan? Aku berdiri lalu bergegas masuk ke dalam rumah
menuju kamar. Kubuka lemari. Aku membuka lipatan pakaian. Mataku menatap
handphone milik mas Idham. Handphone ini harus aku berikan ke pak
Suhendar kalau aku ingin masalah ini cepat selesai. Hatiku mantap kini.
Handphone ini harus aku serahkan kalau aku ingin membebaskan Pak
Suhendar dari masalahnya. Sebaiknya aku menelpon pak Suhendar sekarang
biar dia bisa tenang, tidak mencemaskan masalah mas Idham lagi.
Aku
segera menutup pintu lemari begitu ku dengar suara Jen dan Niar
memasuki rumah. Sebaiknya aku ke teras saja untuk menelpon Pak Suhendar.
“ Tin, kamu sudah dengar belum?” tanya Niar yang masuk ke kamar dengan sekantung belanjaan. Jen berjalan masuk sambil sibuk mengutak-atik handphonenya.
“ Dengar apa?” aku balik bertanya.
“
Mas Idham sudah ditangkap! Tuh lihat si Jen sampe nggak brenti-brenti
megang handphonenya. Dia sedih banget” Niar mengecilkan suaranya.
Sementara Jen duduk di tempat tidur masih menatap handphonenya. Wajahnya
terlihat sendu. Aku hanya menatap kosong ke arahnya. Bagaimana ini? Aku
baru saja berniat menyerahkan handphone mas Idham ke Pak Suhendar.
Hanya aku yang tahu alasanku berbuat demikian. Selain untuk kepentingan
kantor, aku juga tidak ingin melihat wajah orang yang aku kagumi
bersedih karena beban masalah. Sementara jika aku menyerahkan handphone
tersebut, akan ada dua orang yang terluka. Pertama mas Idham dan yang
kedua Jen, sahabatku sendiri. Tapi rasa heran menusuk pikiranku.
Kalau mas Idham ditahan, kenapa dia masih bisa mengirim sms? Bukankah
saat ditahanan tidak ada yang boleh memegang alat komunikasi?
Handphone
berbunyi lagi. Aku segera keluar dari kamar. Aku tidak ingin
pembicaraanku terdengar Jen dan Niar. Sambil berjalan kulihat nama yang
menghubungiku. Mas Idham! Ada apa ini? Kenapa mas Idham masih
menghubungiku. Tidak cukupkah tadi dia mengirim pesan? Agak ragu
kuangkat telponnya, tentu saja setelah aku berada diteras dan menutup
pintu. Ini adalah pembicaraan rahasia. Kalaupun nanti aku menceritakan
pada Jen dan Niar itu berarti sudah melalui pemikiran yang matang.
“ Hallo” ucapku dengan suara kecil.
“
Hallo..Hastin..ini saya Idham. Kamu dengarkan saja karena saya tidak
banyak waktu. Berita yang kamu dengar tentang saya itu tidak benar.
Bukan saya yang ingin menghancurkan perusahaan tapi mas Hendar. Dia
orangnya.” Keningku berkerut. Ada apa ini? Kenapa mas Idham tiba-tiba
menuduh Pak Suhendar berniat jahat terhadap perusahaan?
“ Kalau kamu tidak percaya, saya merekam pembicaraan dengan
mas Hendar. Waktu itu dia mengajak saya untuk mengacaukan perusahaan.
Saya menolak. Sejak itu mas Hendar selalu membuat saya terlihat salah di
kantor. Puncaknya saya dipecat.Sudah ya, tin. Saya mohon dengarkan
dulu. Jaga baik-baik handphone saya. Itu bukti kalau saya tidak
bersalah”
Telpon
di tutup. Aku bahkan belum mengucapkan sepatah kata. Dengan lunglai aku
masuk ke dalam rumah. Kututup pintu ruang tamu. Tapi aku tidak segera
masuk ke kamar. Kubiarkan dulu hatiku tenang dengan duduk di sofa.
Kata-kata mas Idham membuatku ragu. Aku tidak sepenuhnya percaya. Tapi
suara mas Idham terdengar begitu memohon. Benarkah dia tidak bersalah?
Lalu perkataannya tentang Pak Suhendar? Apakah itu benar? Aku lebih
tidak percaya kalau menyangkut pak Suhendar. Apakah karena rasa suka
hingga mata hatiku tertutup? Kenapa aku ini? . Aku tidak mengenal mereka
berdua secara dekat. Lalu apa hakku untuk menghakimi mereka? Seharusnya
aku bijak mendengarkan mereka berdua bukan langsung menghakimi.
Aku
berjalan masuk ke kamar. Niar tengah sibuk menyusun barang-barang yang
tadi dibelinya sedangkan Jen berbaring sambil menutup wajahnya dengan
bantal. Aku tahu dia pasti menangis. Kubuka lemari lalu mengambil
handphone mas Idham. Niar mengacuhkanku. Mungkin dia sedang serius.
Tangannya sibuk menekan tombol kalkulator. Aku bernafas lega. Baguslah
kalau dia tidak menegurku. Aku sedang panik sekarang. Tak ingin
konsentrasiku terganggu hal-hal lain.
Tapi saat kakiku hampir sampai di pintu.
“
Tin, ibu warung di depan bilang rumah ini angker” kata Niar dengan
suara pelan. Refleks aku berbalik. Aku menatapnya dengan heran.
Bagaimana bisa Niar begitu tenang mengucapkan kata-kata seperti itu? Dia
kan penakut?
“ Memang rumah ini angker” kataku. Niar menatapku.
“
Aku takut mendengar kisah dari ibu itu. Datanglah kerumahnya. Dia punya
cerita yang bikin kamu merinding. Tadi saat ibu itu mau memulai cerita,
aku dan Jen pamit. Aku takut, Jen juga”
Aku
masih ingin bertanya lagi tapi ada hal super penting yang harus aku
kerjakan. Mendengarkan rekaman dalam handphone mas Idham. Aku kembali ke
teras. Sebelum membuka handphone mas Idham, aku menarik nafas panjang.
Aku harus siap mendengarkan kemungkinan terburuk. Ini tentang mas Idham
dan Pak Suhendar. Diantara mereka, siapakah yang harus aku percaya?
Kupasang
handphone ditelingaku. Menanti suara terdengar membuat jantungku
berpacu dengan cepat. Aku begitu tegang. Dan saat suara-suara itu
mengalir di pendengaranku, aku bisa merasakan kalau wajahku pucat.
Tanganku gemetar. Kuletakkan handphone mas Idham di kursi sebelah.
Tanganku tak sanggup memegangnya.
Saat
itulah sebuah mobil masuk ke halaman. Aku mengamati mobil itu. Darahku
kurasakan benar-benar berhenti saat melihat siapa yang turun dari mobil
itu. Pak Suhendar! Perlahan kuraih handphone mas Idham. Kusembunyikan
dalam saku rokku. Aku ingin melindunginya untuk saat ini.***
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar