
Aku, si gadis rumahan. Betah di rumah
dan di kamar. Setiap hari sehabis kuliah, aku berdiam diri di dalam
kamar. Bagiku, kamarku adalah surga. Tempat paling nyaman untuk istrahat
dan mencari ide untuk tulisan.
Sudah satu tahun ini aku menempati kamar
belakang yang sebelumnya adalah gudang. Ayah merenovasi gudang menjadi
kamar karena kedatangan sepupuku yang akan menempati kamarku. Awalnya
aku protes karena tidak suka pindah kamar. Selain itu kamar yang aku
tempati menurutku menyeramkan.
Dari perbincangan tetangga yang aku
dengar, persis di gudang, dulu ada sebuah makam. Entah makam siapa,
warga tidak mengenalnya. Hanya saja lokasi rumahku dulu adalah tempat
yang angker. Warga ketakutan jika harus melintas malam hari. Sekarang
meski situasi sudah berubah namun sebagian warga masih meyakini ada
makhluk penunggu di sekitar pohon mangga.
Dari rasa takut ternyata setelah
menempati kamar ini, aku malah merasa betah. Posisinya yang menjorok
keluar hingga berada tepat di bawah pohon mangga, membuat kamarku lebih
sejuk di banding kamar lain meski tidak ada fasilitas AC. Pendingin
alami, begitu aku menyebutnya.
Hampir setahun aku merasa nyaman dan
bahagia menjalani hidup. Tidak ada hal-hal aneh yang aku temui selama
menempati kamar ini. Namun akhir-akhir ini aku merasa sedikit terganggu
dengan ulah sepupuku, Kak Hidayat. Perubahan sikapnya membuatku gerah.
Dari pemuda kalem dan betah di rumah, dia berubah menjadi anak malam.
Sering pulang larut malam dan membangunkan aku.
Aku pernah protes padanya karena tidak
suka setiap malam harus membuka pintu untuknya. Aku juga tidak ingin
memberi kunci rumah. Ini adalah aturan di rumah kami.
“ Aku belum memberitahu ayah tentang
kelakuan kak Hidayat, jadi tolong jangan membuat kesabaranku habis..”
kataku saat kami sarapan. Kak Hidayat leluasa bersikap karena sudah dua
bulan ini, ayah dan ibu tidak tinggal bersama kami. Ayah di pindahkan ke
kabupaten lain hingga ibu juga jarang bersama kami.
Perkataanku di sambut kak hidayat dengan
sikap dingin. Sangat menyebalkan. Kedua adik perempuanku hanya bisa
diam melihat tingkahnya. Meski tidak suka namun mereka tidak ingin
memperlihatkan pada kak Hidayat. Hanya aku yang berani protes.
“ Kalau kamu keberatan aku mengetuk
jendela kamarmu, tolong berikan saja kunci rumah. Dengan begitu, kamu
bisa tidur nyenyak.” Aku melirik kesal.
“ Kenapa sih, kak Hidayat tidak mengerti
juga? Setiap malam pulang jam 2 malam. Kenapa kak Hidayat tidak kontrak
rumah saja di luar. Biar bisa bebas..” aku makin geram. Rasanya emosiku
sudah naik ke kepala. Kuhabiskan sarapanku lalu beranjak meninggalkan
meja makan. Kedua adikku menyusul.
“ Hei, Indah. Jaga ucapanmu. Kamu pikir
aku suka tinggal di rumah ini!” teriak kak Hidayat sambil menggebrak
meja. Langkahku terhenti. Aku berbalik. Wajah kak Hidayat merah padam
menahan amarah.
“ Kalau orang tuaku tidak memaksa, aku
tidak akan tinggal bersama kalian!” dia melangkah meninggalkan meja
makan menuju kamarnya. Kedua adikku mendekatiku. Aku tahu perasaan
mereka. Mereka sama kesalnya denganku.
“Kakak antar kalian ke sekolah. Jangan hiraukan manusia yang aneh itu..”
***
“ Tok..tok..tok..”
Bunyi ketukan di jendela kamarku
membangunkanku. Aku membuka mata dengan kesal. Sampai kapan kak Hidayat
akan menyiksaku! Jeritku dalam hati. Aku bersiap bangun ketika timbul
ide dalam kepalaku.
Aku tidak akan membuka pintu. Malam ini
kak Hidayat harus mendapat pelajaran. Dia tidak boleh seenaknya
memperlakukan aku. Kutarik selimut lalu kembali tidur. Tak kuhiraukan
suara ketukan di jendela kamarku. Aku tetap bertahan hingga suara
ketukan itu hilang.
Pagi hari, tak kutemukan sosok kak Hidayat. Kamarnya kosong. Aku tidak peduli. Sudah saatnya dia mengikuti aturan di rumah kami.
***
“ Tok..tok..tok..”
Aku tersentak kaget. Suara ketukan di
jendela kamarku terdengar lagi. Setelah seharian menghilang, kak Hidayat
malah muncul tengah malam. Kebiasaan buruknya belum juga berubah.
Seperti malam kemarin, aku bertahan tidak membuka pintu.
Pagi seperti kemarin, kak Hidayat juga tidak kembali ke rumah. Kamarnya tetap kosong.
***
Malam ini kembali aku terbangun karena
suara ketukan di jendela. Mengulang sikap yang sama, aku tetap tidak
peduli. Kutarik selimut dan kembali tidur. Semoga tindakanku ini membuat
kak Hidayat sadar dan mengubah kebiasaannya yang menyusahkan kami.
Pagi ini aku sengaja tidak ke kamarnya. Aku yakin dia belum pulang. Setelah sarapan aku bersiap mengantar adikku ke sekolah.
Setelah menutup pintu rumah, aku
mendorong motorku keluar dari teras. Seraut wajah yang akhir-akhir ini
membuatku kesal muncul dengan wajah kuyu. Kak Hidayat berjalan lesu
sambil menenteng ransel yang sudah tampak kumal.
Aku terus mendorong motorku dan tidak peduli padanya.
“ Bagaimana kabarmu? Tidak ada aku yang
mengganggu tiga malam ini, apa tidurmu nyenyak?” tegurnya sambil duduk
di tembok teras. Aku berhenti mendadak karena kesal. Ucapan kak Hidayat
seolah mengejekku.
“ Siapa bilang tidurku nyenyak! Bukankah
setiap malam kak Hidayat mengetuk jendela kamarku?”aku makin sewot
melihat wajahnya yang bingung.
“ Aku? Mengetuk jendela kamarmu?
Bagaimana bisa, aku pulang kampung. Nggak mungkin aku datang tiap malam
hanya untuk mengganggu kalian. Apa kamu tidak lihat ransel yang aku
bawa?”
Aku ragu namun melihat wajah kak Hidayat
yang tampak serius serta ransel yang biasa dia pakai jika pulang
kampung, sulit bagiku untuk tidak percaya padanya.
“ Benarkah? Jadi…..”
Aku tidak melanjutkan ucapanku. Aku jadi
takut mengingat tiga malam ini ada suara ketukan di jendela kamarku.
Jika bukan kak Hidayat yang melakukannya, lalu siapa? Aku merinding.
Rasanya tak sanggup menceritakan kisah tersebut.
===
0 komentar:
Posting Komentar