Rabu, 09 Mei 2012

Ketukan di Jendela Kamarku

0

 

Aku, si gadis rumahan. Betah di rumah dan di kamar. Setiap hari sehabis kuliah, aku berdiam diri di dalam kamar. Bagiku, kamarku adalah surga. Tempat paling nyaman untuk istrahat dan mencari ide untuk tulisan.

Sudah satu tahun ini aku menempati kamar belakang yang sebelumnya adalah gudang. Ayah merenovasi gudang menjadi kamar karena kedatangan sepupuku yang akan menempati kamarku. Awalnya aku protes karena  tidak suka pindah kamar. Selain itu kamar yang aku tempati menurutku menyeramkan.

Dari perbincangan tetangga yang aku dengar, persis di gudang, dulu ada sebuah makam. Entah makam siapa, warga tidak mengenalnya. Hanya saja lokasi rumahku dulu adalah tempat yang angker. Warga ketakutan jika harus melintas malam hari. Sekarang meski situasi sudah berubah namun sebagian warga masih meyakini ada makhluk penunggu di sekitar pohon mangga.

Dari rasa takut ternyata setelah menempati kamar ini, aku malah merasa betah. Posisinya yang menjorok keluar hingga berada tepat di bawah pohon mangga, membuat kamarku lebih sejuk di banding kamar lain meski tidak ada fasilitas AC. Pendingin alami, begitu aku menyebutnya.

Hampir setahun aku merasa nyaman dan bahagia menjalani hidup. Tidak ada hal-hal aneh yang aku temui selama menempati kamar ini. Namun akhir-akhir ini aku merasa sedikit terganggu dengan ulah sepupuku, Kak Hidayat. Perubahan sikapnya membuatku gerah. Dari pemuda kalem dan betah di rumah, dia berubah menjadi anak malam. Sering pulang larut malam dan membangunkan aku.

Aku pernah protes padanya karena tidak suka setiap malam harus membuka pintu untuknya. Aku juga tidak ingin memberi kunci rumah. Ini adalah aturan di rumah kami.

“ Aku belum memberitahu ayah tentang kelakuan kak Hidayat, jadi tolong jangan membuat kesabaranku habis..” kataku saat kami sarapan. Kak Hidayat leluasa bersikap karena sudah dua bulan ini, ayah dan ibu tidak tinggal bersama kami. Ayah di pindahkan ke kabupaten lain hingga ibu juga jarang bersama kami.

Perkataanku di sambut kak hidayat dengan sikap dingin. Sangat menyebalkan. Kedua adik perempuanku hanya bisa diam melihat tingkahnya. Meski tidak suka namun mereka tidak ingin memperlihatkan pada kak Hidayat. Hanya aku yang berani protes.

“ Kalau kamu keberatan aku mengetuk jendela kamarmu, tolong berikan saja kunci rumah. Dengan begitu, kamu bisa tidur nyenyak.” Aku melirik kesal.

“ Kenapa sih, kak Hidayat tidak mengerti juga? Setiap malam pulang jam 2 malam. Kenapa kak Hidayat tidak kontrak rumah saja di luar. Biar bisa bebas..” aku makin geram. Rasanya emosiku sudah naik ke kepala. Kuhabiskan sarapanku lalu beranjak meninggalkan meja makan. Kedua adikku menyusul.

“ Hei, Indah. Jaga ucapanmu. Kamu pikir aku suka tinggal di rumah ini!” teriak kak Hidayat sambil menggebrak meja. Langkahku terhenti. Aku berbalik. Wajah kak Hidayat merah padam menahan amarah.

“ Kalau orang tuaku tidak memaksa, aku tidak akan tinggal bersama kalian!” dia melangkah meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Kedua adikku mendekatiku. Aku tahu perasaan mereka. Mereka sama kesalnya denganku.

“Kakak antar kalian ke sekolah. Jangan hiraukan manusia yang aneh itu..”

***

“ Tok..tok..tok..”

Bunyi ketukan di jendela kamarku membangunkanku. Aku membuka mata dengan kesal. Sampai kapan kak Hidayat akan menyiksaku! Jeritku dalam hati. Aku bersiap bangun ketika timbul ide dalam kepalaku.

Aku tidak akan membuka pintu. Malam ini kak Hidayat harus mendapat pelajaran. Dia tidak boleh seenaknya memperlakukan aku. Kutarik selimut lalu kembali tidur. Tak kuhiraukan suara ketukan di jendela kamarku. Aku tetap bertahan hingga suara ketukan itu hilang.

Pagi hari, tak kutemukan sosok kak Hidayat. Kamarnya kosong. Aku tidak peduli. Sudah saatnya dia mengikuti aturan di rumah kami.

***

“ Tok..tok..tok..”

Aku tersentak kaget. Suara ketukan di jendela kamarku terdengar lagi. Setelah seharian menghilang, kak Hidayat malah muncul tengah malam. Kebiasaan buruknya belum juga berubah. Seperti malam kemarin, aku bertahan tidak membuka pintu.

Pagi seperti kemarin, kak Hidayat juga tidak kembali ke rumah. Kamarnya tetap kosong.

***

Malam ini kembali aku terbangun karena suara ketukan di jendela. Mengulang sikap yang sama, aku tetap tidak peduli. Kutarik selimut dan kembali tidur. Semoga tindakanku ini membuat kak Hidayat sadar dan mengubah kebiasaannya yang menyusahkan kami.

Pagi ini aku sengaja tidak ke kamarnya. Aku yakin dia belum pulang. Setelah sarapan aku bersiap mengantar adikku ke sekolah.

Setelah menutup pintu rumah, aku mendorong motorku keluar dari teras. Seraut wajah yang akhir-akhir ini membuatku kesal muncul dengan wajah kuyu. Kak Hidayat berjalan lesu sambil menenteng ransel yang sudah tampak kumal.

Aku terus mendorong motorku dan tidak peduli padanya.

“ Bagaimana kabarmu? Tidak ada aku yang mengganggu tiga malam ini, apa tidurmu nyenyak?” tegurnya sambil duduk di tembok teras. Aku berhenti mendadak karena kesal. Ucapan kak Hidayat seolah mengejekku.

“ Siapa bilang tidurku nyenyak! Bukankah setiap malam kak Hidayat mengetuk jendela kamarku?”aku makin sewot melihat wajahnya yang bingung.

“ Aku? Mengetuk jendela kamarmu? Bagaimana bisa, aku pulang kampung. Nggak mungkin aku datang tiap malam hanya untuk mengganggu kalian. Apa kamu tidak lihat ransel yang aku bawa?”

Aku ragu namun melihat wajah kak Hidayat yang tampak serius serta ransel yang biasa dia pakai jika pulang kampung, sulit bagiku untuk tidak percaya padanya.

“ Benarkah? Jadi…..”

Aku tidak melanjutkan ucapanku. Aku jadi takut mengingat tiga malam ini ada suara ketukan di jendela kamarku. Jika bukan kak Hidayat yang melakukannya, lalu siapa? Aku merinding. Rasanya tak sanggup menceritakan kisah tersebut.

===


0 komentar:

Posting Komentar