
Resahku yang sekian lama kuabaikan kini seolah menyadarkanku bahwa aku masih memiliki hati untuk mencinta. Hatiku masih terlalu lapang untuk ku jaga seorang diri. Aku butuh cinta bukan hanya dari seorang sahabat tapi juga kekasih, belahan hati yang menjadi penyempurna hidupku. Pelukan Wawan membawaku terbang jauh. Jauh sekali hingga aku terlupa, dunia nyata begitu rumit untuk kami jalani...
Aku tersentak kaget dan buru-buru melepaskan pelukan Wawan. Tubuhku gemetar merasakan pelukannya yang hangat.
“ Kamu bilang apa?”
Dia menatapku lembut dengan mata yang masih dihiasi embun.
“ Aku mencintaimu.”
Untuk sejenak aku tak bisa berkata-kata. Kesadaranku timbul hingga aku bersandar lemas di kursi.
“ Sebagai apa? Sahabat atau rasa dari seorang lelaki ke wanita? Lalu perasaanmu ke Poppy?”
Wawan masih menatapku.
“ Meski kamu tidak percaya. Aku mencintaimu seperti layaknya kekasih. Aku tahu apa yang akan kamu tanyakan. Kamu pasti tidak percaya mengapa aku bisa mencintai kalian berdua.”
Aku tak mengangguk namun membenarkan dalam hati. Wawan seolah membaca isi pikiranku.
“ Aku memilihmu untuk mencurahkan segala kegundahanku bukan tanpa alasan. Di mataku kalian berdua memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling menyempurnakan. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan mulai merasa takut kehilangan kalian berdua. Aku rasa, jauh sebelum Poppy mengungkapkan perasaannya, aku telah memiliki rasa itu. Sikap Poppy yang manja dan jenaka melengkapi sikapmu yang dewasa dan tegas. Kemandirianmu membuatku kagum. Paduan yang sempurna jika kalian adalah satu orang. Sayang sekali kalian terdiri dari dua orang yang tidak mungkin untuk aku miliki.”
Aku terpana mendengar uraian Wawan. Menjadi sahabatnya bertahun-tahun baru kali ini aku tahu apa yang dia pikirkan tentang kami berdua, aku dan Poppy. Ternyata cinta persahabatan kami telah berubah arah. Tak lagi murni persahabatan semata.
“ Rasa itu yang menahanku ketika aku tahu Poppy ternyata jatuh cinta padaku. Aku tak bisa menerimanya utuh karena separuh hatiku juga memilihmu. Karena itu hingga kini, Poppy masih belum tahu dan menganggap aku hanya mencintainya meski belum pernah secara langsung aku ungkapkan.”
“ Jangan lukai hati Poppy, Wan. Kasihan dia..” kataku menahan rasa pedih di hatiku. Wawan telah salah menilaiku. Menganggapku wanita mandiri bukan berarti aku tak butuh cinta. Aku juga bisa terluka. Ada rasa sesal mengapa aku tahu dia mencintai kami berdua. Lebih menyakitkan lagi karena aku juga memiliki rasa yang sama padanya.
“ Lalu bagaimana denganmu?” tatapan matanya seolah mengejarku.
“ Apanya?”
“ Bukankah kamu juga mencintaiku? Benarkan?”
Aku memalingkan wajahku. Berusaha menghindari tatapan matanya yang menghujam jantungku. Debar-debar di dadaku makin kencang.
“ Sebagai sahabat. Iya.” Kataku sambil berdoa agar di beri ketegaran. Aliran cinta di antara kami bertiga membuatku takut terhanyut dalam pusaran yang tak bermuara. Lebih baik aku menepi dan tak mengikuti kisah mereka. Membenahi hatiku mungkin butuh waktu tapi jika kami bertiga yang terluka maka itu akan menghancurkan kami.
“ Jangan membohongi hatimu, Regina. Sekarang aku tidak dalam kondisi untuk mendengar hal yang sia-sia. Aku sudah terlalu lelah dengan perasaanku. Jangan kamu tambah lagi. Percuma saja.”
Aku tak tahan lagi. Airmataku akhirnya menetes dan mengalir di kedua pipiku. Banyak hal yang membuatku sedih terutama karena aku tahu, Wawan yang menimbulkan benih-benih cinta di hatiku meski coba ku tepiskan ternyata memiliki rasa yang sama denganku. Hanya saja, dihatinya bukan hanya aku. Ada Poppy yang juga menjadi pemilik hatinya. Jika seperti ini, sanggupkah aku berbagi? Wajar jika Wawan sangat terluka dan tak bisa mengendalikan dirinya.
Wawan menarik kursi dan duduk di sebelahku. Lama dia terdiam hingga hanya isak tangisku yang terdengar.
“ Aku tak ingin kehilangan kalian berdua. Bukan saja karena kalian adalah sahabatku, tapi..aku benar-benar jatuh cinta pada kalian. Perasaan ini sangat menyiksaku.”
Aku menoleh melihatnya.
“ Aku rasa, akhir dari semua ini. Aku yang akan pergi.”
Aku membelalak. Tak menyangka Wawan akan mengucapkan kalimat mengerikan itu. Aku makin sedih mendengar ucapan Wawan. Aku juga tak ingin kehilangan dia. Aku tak bisa membayangkan melewati hari tanpa kehadirannya.
“ Apa maksudmu? Kamu akan meninggalkan kami?”
“ Iya.” Jawab Wawan dengan suara pelan. Rasa putus asa terpancar dari wajahnya.
“ Aku berharap hal yang tidak mungkin terwujud. Aku takut jika terus bersama kalian, aku justru makin terluka. Tak ada jalan keluar dari masalah ini karena aku yang tak bisa melepaskan salah satu dari kalian. Sebagai sahabat mungkin kalian bisa berbagi, tapi sebagai kekasih, apakah kalian sanggup?”
“ Haruskah kau pergi? Tidak bisakah kita menyelesaikan masalah ini tanpa salah seorang di antara kita yang pergi dan..tentu saja membawa luka..”
Wawan menggeleng cepat. Dia berdiri lalu melangkah dengan lesu menuju tangga. Namun di anak tangga dia menghentikan langkahnya.
“ Ini alasan hingga aku hanya memendamnya tanpa berbagi denganmu. Tak ada yang bisa menyelesaikan masalah kita selain aku sendiri..”
Aku hanya bisa menatap pasrah tubuhnya yang terus melangkah ke lantai atas. Seluruh hatiku berharap agar dia bisa berada di dekatku, di dekat kami. Namun semudah itukah jika di sana ada tiga hati yang menanti kepastian?
Lama aku duduk merenung di meja makan. Memikirkan masalah kami membuatku enggan beranjak ke kamar untuk bersiap ke kantor. Apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalah kami. Jika karena Poppy, aku rela untuk mundur dan membiarkannya hidup bahagia dengan cintanya.
Namun aku tak bisa memberi saran apapun karena bukan aku yang merasakan. Tentu berat bagi Wawan jika harus memutuskan melepaskan salah satu dari kami sementara di dalam hatinya dia mencintai kami berdua. Aku saja tak ingin kehilangan dia, begitu juga dengan Poppy.
“ Aku kekantor dulu, Regina..” suara Wawan mengagetkanku. Tampilannya rapi dengan kemeja biru. Wajahnya juga cerah tak nampak kesedihan yang tengah dia rasakan.
“ Bersiaplah ke kantor. Jangan merenung terlalu lama di sini.” Katanya lagi sambil menepuk bahuku.
Aku mengangguk dan hanya bisa memandangnya hingga hilang di balik pintu. Sesaat kemudian terdengar suara mobilnya perlahan meninggalkan halaman rumahku. Terasa hatiku ikut pergi bersamanya.
Pagi itu tak lagi indah dalam mataku. Pandanganku seolah menembus kaca jendela dan terus mengikuti bayang-bayang Wawan. Nampak sosoknya yang berwibawa dengan senyumnya yang menawan. Kusadari cinta di hatiku makin dalam untuknya. Perlahan airmataku kembali menetes.
( Bersambung)
0 komentar:
Posting Komentar