Jumat, 18 Mei 2012

Impian Dena #5#

0

 

Pesan sms dari Kembara mengajakku bertemu siang besok. Ku baca pesannya lalu sibuk menyiapkan makan malam. Sejak pulang, wajah Siska sangat murung. Aku membiarkan dan tak ingin menegurnya.

“ Siang tadi, Gilang mencariku.” Suara Siska membuatku menoleh. Aku  sedang mengatur makan malam di meja makan.

“ Gilang? Bukankah kalian sudah putus.” Dia mengangguk sambil menarik kursi.

“ Aku  baru saja menerima sms dari Kembara.” Kataku.

“ Benarkah? Kembara anak bu guru Bahasa kita kan?” aku mengangguk. Perhatian yang di luar dugaanku. Aku tak mengira Siska lebih mengingat Kembara daripada aku. Daya ingatnya ternyata luar biasa.

“ Kamu mengingatnya? Aku bahkan lupa saat dia mengenalkan diri.”

“ Kalian bertemu?” mata Siska membulat.

“ Kamu kenapa sih, Sis? Sejak aku menyebutkan nama Kembara, kamu kok begitu antusias?” tanyaku. Aku penasaran dengan sikapnya.

“ Kami dulu sempat pacaran terus nggak jelas apakah putus atau nggak. Kembara tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar. Aku pernah menelpon dan datang langsung ke rumahnya, tapi semuanya sia-sia. Dia tidak lagi peduli padaku. Akhirnya aku mengambil keputusan kalau hubungan kami sudah berakhir.”

Aku menyimak dan mulai paham ucapan Kembara saat bertemu denganku. Inikah maksud dari ucapannya tentang dia yang tak seharusnya mengenang masa lalu? Apakah karena Siska, Kembara akhirnya mencariku?

“ Aku heran saat dia mencariku. Sekarang aku tahu, Sis. Mungkin dia ingin bertemu denganmu.”

“ Tapi mengapa dia tidak langsung menemuiku, malah mencarimu..” Siska terlihat kecewa.

“ Besok siang, kami janjian bertemu. Kamu ada pesan-pesan khusus?”

Siska menyendok nasi ke dalam piringnya.

“ Andai dia ingin kembali, aku akan langsung menerimanya. Peduli amat dengan Gilang. Dia mau ke jurang atau ke laut terserah dia saja.”

Aku tertawa.

“ Cintamu ternyata masih untuk Kembara. Aku salut padamu..”

“ Kalau dia menanyakan aku, katakan saja. Jika dia benar-benar mencintaiku, segera saja melamarku. Aku tidak ingin pacaran lagi sekarang ini, pikiranku hanya menikah. Orang tuaku sudah menanyakan kabar hubunganku dengan Gilang. Mereka tidak tahu kalau kami sudah bubar.”

“ Baiklah. Pesanmu akan aku sampaikan.” Kataku dengan tawa tertahan.

***

“ Dia mengatakan seperti itu?”

Kembara melotot melihatku. Sejak menjelaskan panjang lebar tentang tujuannya mencariku, akhirnya dia mengakui juga jika masih mencintai Siska. Pesan Siska mengalir dari mulutku tanpa perlu ku edit.

“ Apa dia serius?” Wajah Kembara terlihat ragu. Aku meraih botol minuman lalu meneguknya sebelum menjawab.

“ Aku kenal sahabatku itu, Kembara. Meski kadang dia membuat keputusan yang dia sesali kemudian hari, namun urusan hati aku mengenalnya. Dia tidak akan mengucapkan kalimat seperti itu jika tidak dipikirkan matang-matang.”

“ Aku takut menemuinya karena mengira dia masih marah padaku. Aku ingin menjelaskan hubungan kami di masa  lalu, tapi aku ragu apakah dia masih mengingatku.”

“ Demi langit yang sebentar lagi turun hujan. Percayalah, dia mengingatmu hingga tujuh turunan.”

“ Baiklah. Kalau seperti ini, aku akan datang menemuinya. Setidaknya aku tidak ragu lagi.”

“ Jangan ragu, tetap semangat! Ok, aku duluan ya, mau kembali kerja. Semoga sukses dengan cinta kalian.”

Aku beranjak meninggalkan warung tempat aku dan Kembara janji bertemu. Awan hitam di langit membuatku berlari ke toko.

“ Ketemu siapa, Dena?” teguran Farhan menyambutku ketika tiba di pintu gudang.

“ Teman. Sekalian makan siang.” Jawabku. Aku terlupa dengan omongan Margaretha tentang Farhan yang seperti menaruh hati padaku. Dia membuntuti langkahku.

“ Pacar, ya?” tanya Farhan lagi. Aku berhenti di dekat rak barang lalu meraih pulpen dan buku.

“ Bukan, dia teman.” Kataku.

Tak sengaja aku menoleh dan pandanganku berpapasan dengan Etha yang diam mematung di sudut rak. Dia menatap tajam ke arah kami. Aku tiba-tiba tersadar dan teringat ucapannya beberapa hari yang lalu.

Aku lalu sibuk memeriksa stok barang, berharap Farhan menjauh dan tidak lagi mengajakku ngobrol. Namun ternyata Farhan seperti sudah menyiapkan rencana. Dia membawa buku dan pulpen untuk mencatat stok barang secara umum. Akhirnya meski ada pandangan tak nyaman dari Etha, aku terpaksa tak bisa menghindari Farhan. Kami berdua sama-sama mencatat stok barang meski tujuannya berbeda.

“ Sekarang kamu percaya dengan ucapanku?” Cegat Etha saat aku ke toilet. Rupanya dia mengawasiku dan langsung mengejarku. Sinar matanya nampak cemburu.

“ Ucapanmu yang mana?” tanyaku, pura-pura tidak mengerti. Aku tidak merasa terbebani hanya tidak nyaman bila di awasi oleh seseorang.

“ Tentang Farhan. Sejak tadi aku perhatikan, kalian berdua nampak asyik sendiri.”

“ Kami tidak asyik, Etha. Kami sedang bekerja.” Aku meralat ucapannya.

“ Tapi dia ada udang di balik batu padamu.”

“ Lalu kenapa kalau dia ada maksud seperti itu? Kamu kok jadi seperti cacing kepanasan? Terus terang aku tidak suka di awasi seperti tahanan yang siap kabur. Kami salah apa padamu? Soal hubunganmu dengan Farhan, itu masalahmu sendiri. Jangan libatkan aku dan pekerjaan ke dalam hubungan kalian.”

Aku meninggalkan Etha dengan rasa kesal. Entah mengapa akhir-akhir ini Etha begitu sensitif dan sering membuatku kesal. Sebagai teman dan hampir jadi sahabat, aku merasa sayang padanya. Hanya kadang sikapnya yang terlalu ikut campur dan mencurigai sesuatu membuatku tak suka.

“ Aku antar pulang ya, Dena.” Farhan berhenti dengan motornya tepat di depanku. Dalam balutan jaket hitam, dia nampak begitu menawan. Aku tersenyum miris sambil melihat sekeliling. Mataku mencari sosok Etha. Bukan karena takut padanya, aku hanya tidak suka melihat tatapan matanya seolah aku telah mencuri benda berharga miliknya.

“ Loh, kok malah diam dan melihat sekeliling? Mau aku antar pulang atau tidak?”

Aku akhirnya menggeleng. Bukan tanpa alasan aku menolak tawaran Farhan. Aku hanya tidak ingin terlibat perang di antara mereka. Wajah Farhan nampak kecewa dan membuatku nyaris luluh..

( Bersambung )



Part   6   8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  26  27  28 29

0 komentar:

Posting Komentar